Manfaat Indeks Harga Saham

[Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional edisi Selasa, 29 May 2012]

Tulisan ini merupakan lanjutan dari jawaban atas pertanyaan Bob Atan tentang indeks harga saham.

Pak Bob, paparan dalam tulisan saya pekan lalu tentang berbagai indeks menunjukkan bahwa setiap indeks memiliki jumlah populasi saham yang berbeda. Sebagian indeks dihitung dengan memasukkan seluruh saham yang ada dan sebagian indeks dihitung dari sebagian saham yang diseleksi menurut kriteria tertentu. DJIA misalnya dihitung dengan metode sampling, yakni 30 jenis saham berkapitalisasi besar dan mewakili industri utama di Amerika Serikat. Itu mulai dari otomotif, telekomunikasi, pesawat terbang, restoran, komputer, eceran dan makanan. Indeks harga saham gabungan bursa Kuala Lumpur (Kuala Lupur Composite Index /KLCI) dibentuk dari 100 saham di papan utama bursa negeri jiran ini. Indeks yang dihitung dengan metode sampling banyak mendapat kritikan dalam hal representasi.

Selain berbeda dalam hal populasi saham, indeks harga saham dihitung dengan cara yang berbeda. Seperti kami singgung dalam tulisan terdahulu, IHSG dihitung dengan metode pembobotan menurut rata-rata tertimbang dari nilai pasar (market value weighted average).

Nah, teknisnya adalah sebagai berikut. Pertama, setiap saham dihitung bobotnya berdasarkan nilai pasar (jumlah saham dikalikan dengan harganya). Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar keseluruhan. Sebagai contoh, nilai kapitalisasi pasar PT Telkom adalah IDR187,488 triliun pada 22 Januari 2010, ketika nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI adalah IDR2.104,255 triliun. Dengan demikian bobot saham PT Telkom adalah 8.91 persen (kapitalisasi pasar Telkom : kapitalisasi pasar total).

Dengan pembobotan, perubahan IHSG sangat terpengaruh oleh saham berbobot besar. Sekitar 10 tahun lalu, ketika saham PT Telkom memiliki bobot sekitar 30 persen, perubahan harga saham Telkom akan berpengaruh besar pada IHSG. Bisa jadi, meskipun pada hari perdagangan tertentu lebih banyak saham yang turun harganya daripada yang naik, tetapi kalau saham Telkom dan beberapa blue chip naik, IHSG dapat bergerak naik. Begitu sebaliknya.

Pak Bob, metode penghitungan indeks dengan pembobotan nilai (value-weighted) seperti penghitungan IHSG di BEJ juga digunakan dalam penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (Kuala Lumpur Composite Index/KLCI) dan Tokyo Stock Price Index di bursa efek Tokyo, IHSG (composite index) di bursa efek New York, dan Standard & Poor 500. Namun populasi saham masing-masing indeks berbeda. KLCI dihitung dengan menggunakan 100 saham saja.

Dalam hal ini populasi saham yang menjadi komponen indeks diberi bobot yang dihitung dengan membagi kapitalisasi pasar saham tersebut dengan kapitalisasi pasar secara keseluruhan. Sebelum menghitung perubahan indeks terlebih dahulu skema ini menghitung nilai pasar total awal dari semua saham yang digunakan dan hasilnya menjadi nilai dasar dan bisa ditetapkan sebesar 100 atau 0. Perubahan harga dilihat dengan membagi nilai pasar pada waktu tertentu dengan nilai dasar. Hasilnya kemudian dikalikan dengan 100 persen.

Selain pembobotan berdasar nilai, indeks kadang dihitung dengan pembobotan berdasar harga (price-weighted scheme). Salah satu indeks yang dihitung dengan pembobotan harga adalah DJIA. Dari 30 saham yang masuk penghitungan, dibuat pembobotan berdasar pada harganya di pasar. Semakin besar harga, maka semakin besar bobotnya. Belakangan penghitungan DJIA menggunakan faktor pembagi yang nilainya pada 1993 adalah 0,46368499. Indeks lain yang dihitung dengan cara seperti ini adalah Nikkei-225, yang didasarkan pada rata-rata harga 225 saham di papan utama Bursa Saham Tokyo.

Di luar dua metode di atas, ada indeks yang dihitung tanpa pembobotan. Dalam hal ini, semua saham mempunyai bobot yang sama tidak peduli pada harga dan nilai pasarnya. Dengan kata lain saham seharga IDR10.000 sama bobotnya dengan saham berharga IDR1.000 dan saham dengan kapitalisasi Rp10 triliun sama bobotnya dengan saham berkapitalisasi IDR100 miliar.

Fungsi Lain Indeks Harga Saham

Tulisan pekan lalu menunjukkan bahwa indeks harga saham dibuat agar dapat menjadi indikator keuntungan bagi pemodal. Jika IHSG naik, maka secara teoritis dan secara umum kekayaan pemodal akan bertambah. Begitu sebaliknya. Jika IHSG menurun, maka berkurang pula kekayaan pemodal.

Dalam perkembangannya, indeks harga saham gabungan memiliki fungsi lain, seperti, pertama, sebagai tolok ukur (benchmark) kinerja investasi. Para pengelola reksa dana menggunakan indeks sebagai pembanding untuk kinerja portofolio yang mereka kelola.

Mereka pada umumnya berusaha untuk memperoleh hasil investasi yang lebih baik daripada indeks harga saham. Ini untuk membuktikan bahwa kerja keras mereka dalam memilih saham telah membawa perbedaan.

Kedua, sebagai fasilitas pembentukan portofolio pasif. Banyak fund manager menggunakan indeks sebagai model portofolio mereka. Model portofolio yang mengikuti indeks dilakukan oleh reksa dana indeks dan exchange-traded fund. Strategi berinvestasi meniru indeks disebut strategi investasi pasif.

Ketiga, sebagai alat untuk menghitung risiko sistematik, yakni risiko yang tidak dapat dimitigasi melalui manajemen risiko, termasuk diversifikasi. Para analis dan manajer portofolio, yang menggunakan model penetapan harga aktiva modal (capital asset pricing model/CAPM) dalam menghitung nilai intrinsik sebuah efek, menggunakan indeks untuk melihat risiko suatu efek yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. Risiko seperti ini dilihat dari seberapa besar perubahan harga sebuah efek menyimpang dari perubahan harga saham secara keseluruhan. Misalnya, jika saham A bergerak naik lima persen, dan IHSG naik dua persen, maka terlihat bahwa saham A lebih fluktuatif (dan dengan demikian lebih berisiko) daripada pasar (yang diwakili oleh IHSG).

Keempat, sebagai sarana mencari peluang investasi. Bagi para analis teknikal atau yang biasa disebut chartist, catatan indeks di masa lalu dapat digunakan untuk mencari peluang investasi. Caranya, mereka membuat grafik dengan membuat garis dari tiktik-titik indeks di masa lalu. Dari grafik ini mereka mencoba mengidentifikasi pola-pola dalam grafik.

Kelima, untuk melihat perkembangan ekonomi. Di pasar modal yang sudah maju dan efisien, seperti di Amerika Serikat, perubahan indeks harga saham menjadi salah satu unsur yang digunakan untuk menghitung leading indicator, indikator yang mendahului pergerakan ekonomi di sektor riil. Jika leading indicator meningkat, maka sektor riil akan meningkat nantinya.

Di pasar modal yang sedang berkembang, indeks harga saham belum dapat dijadikan unsur pembentuk leading indicator. Di pasar berkembang, transaksi di bursa belum mencerminkan kegiatan perekonomian seluruh negara. Di Indonesia misalnya, kontribusi saham sektor pertanian dalam kapitalisasi saham pasar secara keseluruhan masih kecil, jika dibandingkan kontribusi sektor pertanian pada produk domestik bruto. Di sisi lain, kontribusi sektor telekomunikasi di pasar saham jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kontribusi sektor ini dalam PDB. Akibatnya, kenaikan IHSG tidak selalu sejalan dengan kenaikan PDB.

Keenam, sarana mengembangkan produk instrumen investasi derivatif. Berdasar indeks LQ-45 misalnya, pelaku pasar menciptakan instrumen investasi derivatif seperti kontrak index berjangka (future index) LQ-45.

IHSG dan Indeks Saham Angelina Jolie

[Artikel ini pertama dipublikasikan di Harian Umum Jurnal Nasional pada Selasa, 22 May 2012]

Mas Jaka, mungkin pertanyaanku ini naif sekali ya. Begini Mas. Secara formula, bisa tidak diberikan contoh yang jelas bagaimana indeks harga saham gabungan (IHSG) terbentuk sehingga muncul, misalkan, angka 3.995. Misalkan pula yang go public hanya tiga perusahaan dengan jumlah sekian lembar saham dan masing-masing dijual dengan harga perdana Rp1.000. Dari ketiga perusahaan tersebut, bagaimana menjadi muncul IHSG? Sebetulnya apa fungsi indeks harga saham? Begitu saja dulu. Maaf, saya memang belum pernah mempelajarinya. Terima kasih sebelumnya.

Bob Atan, Jakarta Selatan

Continue reading ‘IHSG dan Indeks Saham Angelina Jolie’

Keuangan untuk Bujangan

[Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnas Nasional pada Selasa, 15 May 2012]

Pak Jaka, saya karyawan swasta yang masih membujang di usia hampir 40 tahun. Penghasilan saya lumayan bagus. Namun sering kali belum lagi habis bulan, saya harus menarik dana simpanan sehingga nilai simpanan saya tidak cukup banyak untuk membeli rumah sendiri di Jakarta. Kondisi ini sering melemahkan niat saya untuk berumah tangga. Saat ini saya kos dan pulang ke rumah orang tua di Bandung sedikitnya dua kali sebulan. Bagaimana saya harus memperbaiki kondisi ini?

Wardaya, Jakarta Selatan

Continue reading ‘Keuangan untuk Bujangan’

Money Game, Ponzi Scheme, MLM, and Scam

[Tulisan ini Pertama Kali Dipublikasikan di Jurnal Nasional | Selasa, 8 May 2012]

Pak Jaka, beberapa pekan lalu saya ditawari investasi CSM Bintang Indonesia. Sepintas potensi hasil dari investasi tersebut sangat menarik, dan terus terang itu cukup menggoda saya untuk ikut dalam investasi tersebut. Tetapi sampai saat ini saya belum menerimanya. Setelah membaca blog Bapak, saya jadi ingin minta pendapat, apakah menurut Pak Jaka CSM Bintang Indonesia termasuk dalam skim Ponzi atau bukan? Saya takut jangan-jangan baru beberapa bulan ikut, dan belum sempat balik modal, perusahaan tersebut sudah tutup dan kita tidak bisa menuntut ke mana-mana, walaupun saya juga rencananya cuma ikut dalam jumlah kecil saja. Mohon sarannya pak.

Terima kasih banyak sebelumnya.

Susilawati R, Jakarta Pusat

Continue reading ‘Money Game, Ponzi Scheme, MLM, and Scam’

JSST dan Potensi Kehancuran Finansial

[Tulisan ini pernah diunggah di blog ini, namun kemudian diblokir oleh wordpress. Namun karena beberapa permintaan, tulisan ini saya unggah lagi dengan menghapus nama yang membuat alarm di wordpress.com berdering sehingga menjadi alasan pemblokiran].   Continue reading ‘JSST dan Potensi Kehancuran Finansial’

Bootstrapping

[Tulisan ini pertama dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 1 May 2012]
Suhartono
PENGANTAR. Mulai awal Mei 2012 Suhartono, redaktur yang menangani sisipan Uang dan Bank mengundurkan diri dari Jurnal Nasional. Dalam surat elektronik akhir pekan lalu Tono (begitu dia biasa dipanggil) sudah pamitan. Dalam suratnya, Tono akan memenuhi obsesinya untuk menjadi pengusaha. Untuk itu dia saran agar usahanya sukses sehingga dia bisa menolong orang lain. Tulisan ini akan menyemangatinya.

Continue reading ‘Bootstrapping’

Ingin Menjadi Penulis

[Artikel ini pertama dipublikasikan di Jurnal Nasional | Selasa, 24 Apr 2012]

MAS Jaka, saya seorang wartawan dan ingin menjadi penulis novel atau tulisan nonfiksi yang bisa menunjukkan kemampuan dan idealisme saya. Pekerjaan sebagai wartawan sungguh menarik, tetapi pekerjaan tersebut belum menggunakan kemampuan terbaik saya. Bagaimana pandangan Mas Jaka dan menurut mas Jaka apa yang harus saya persiapan untuk bisa menjadi penulis freelance?

Doni, Jakarta Selatan

Continue reading ‘Ingin Menjadi Penulis’

Skim Ponzi dan MLM

[Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 10 Apr 2012]

MAS Jaka, saya baru-baru ini dihubungi saudara saya yang menawari sebuah peluang investasi yang menggunakan model bisnis multilevel marketing. Saya diminta menjadi member dan memasarkan produk mereka. Meskipun saudara saya memaparkan berbagai iming-iming, tetapi saya tidak tertarik untuk masuk. Masalahnya adalah bahwa saya mempunyai niat untuk membantu saudara karena saya merasa kasihan sama saudara saya. Bagaimana sebaiknya Mas Jaka? Terima kasih atas perhatiannya.

Nora, Jakarta Timur

Continue reading ‘Skim Ponzi dan MLM’

Membeli Rumah untuk Tabungan

[Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 3 Apr 2012]

PAK Jaka, saya seorang staf administrasi di sebuah perusahaan di Bogor. Belum lama ini saya membeli rumah dengan fasilitas Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang kini sedang dibangun. Nantinya saya akan mengontrakkan rumah tersebut dan saya tinggal di rumah orang tua. Saya mendengar dan yakin bahwa rumah adalah investasi yang aman dan menguntungkan. Bagaimana menurut pandangan bapak? Saya belum pernah belajar soal investasi selain dari artikel di media massa. Setelah menghabiskan simpanan untuk uang muka rumah, kini saya memiliki simpanan di bank sekitar Rp10 juta dan sulit bertambah karena saya harus membayar cicilan KPR dan memenuhi kebutuhan hidup. Sebaiknya diputar di mana ya biar memberikan hasil, karena bunganya kecil sekali.

Nina, Bogor

Continue reading ‘Membeli Rumah untuk Tabungan’

Inflasi Gaya Hidup

[Artikel ini pertama kali diterbitkan di Harian Jurnal Nasional pada Selasa, 27 Mar 2012]
PAK Jaka, sebagai pegawai negeri sipil saya tentu saja senang akan adanya kenaikan gaji April mendatang. Masalahnya adalah bahwa kenaikan gaji tersebut akan bersamaan dengan kenaikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Selain harus mengeluarkan tambahan uang untuk biaya transportasi, pasti harga-harga barang akan naik juga. Bagaimana sebaiknya menyiasati kenaikan harga tersebut?

Budi, Surakarta

Continue reading ‘Inflasi Gaya Hidup’

Next Page »


Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 19,738 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 20 other followers


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.