Anak dan Harta Kita

Saya mulai menggunakan komputer pada usia 25 tahun, yakni ketika mulai bekerja selepas dari perguruan tinggi. Sepuluh tahun kemudian anak saya yang berusia 5 tahun sudah terampil mengggunakan komputer, entah untuk bermain game atau belajar membaca dan menulis.

Kasus ini hanyalah satu contoh bahwa generasi muda kita lebih beruntung dari pendahulunya. Saya mengamati bahwa secara finansial anak sekarang juga lebih beruntung daripada pendahulunya. Anak generasi sekarang kelihatannya memperoleh uang saku yang lebih besar dari orang tua mereka.

Hal ini misalnya tampak jelas, bahkan sampai ke kota-kota kecil, ketika remaja usia sekolah mengobrol melalui moblile phone. Di kota-kota besar saya mudah mendapati anak usia sekolah berbelanja pakaian bermerek di mal mewah dan makan di restoran mahal.

Indikasi lain adalah banyaknya iklan TV yang menjadikan remaja sebagai target pasar.  Tidak dapat dipungkiri bahwa kecenderungan orang tua memberikan uang berlebih kepada anak dapat menimbulkan malapetaka bagi anak. Salah satu analogi untuk menggambarkan hal tersebut, yakni Internet.

Bagi para profesional, Internet dapat mempermudah pekerjaan. Tetapi di tangan anak-anak Internet bisa berakibat buruk.  Ketika saya melihat banyak remaja usia sekolah membuka situs porno di warnet, saya menduga bahwa mereka memiliki akses ke internet, tetapi tidak diajarkan untuk apa saja sebaiknya internet digunakan.

Ini sama seperti orang tua memberi uang berlebih kepada anak tanpa membekali mereka cara menggunakan uang dengan benar. 

Banyak pakar bependapat bahwa selain memberi uang, orang tua hendaknya juga mengajarkan nilai dan ketrampilan mengelola uang kepada anak-anaknya. Nilai-nilai yang perlu diajarkan adalah bahwa uang tersebut diperoleh dengan bekerja keras dan sebaiknya digunakan dengan bijaksana.

Adapun keterampilan yang perlu orang tua ajarkan mencakup ketrampilan berbelanja dengan cerdik (smart spending), menyimpan dengan hati-hati (prudent saving), dan penganggaran yang seksama (careful budgeting).

Tanpa mengajarkan ketrampilan tersebut, orang tua sama saja telah melahirkan generasi pemboros.  Di dunia di mana materialisme menjadi norma umum dalam pergaulan, dan tekanan kelompok bermain (peer group) sangat kuat pada anak, uang berlebih di tangan anak-anak bisa menjerumuskan mereka ke perilaku yang menyimpang.

Dengan logika yang sama, orang tua juga perlu mengajarkan apa yang bisa dilakukan dengan Internet. Memberi anak-anak akses ke Internet tanpa memberi mereka pengetahuan untuk apa internet digunakan, bisa berarti menjerumuskan anak.

Pentingnya menanamkan kebiasaan finansial yang baik hendaklah jangan diremehkan. Anak memang bisa meniru sikap orang tuanya. Tetapi juga banyak orang tua yang bekerja keras dan sukses, tetapi semangat atau antusiasme tersebut tidak diwarisi anak-anaknya.

Bahkan, sering kali, ketika membangun kesuksesan orang tua sering terpaksa hanya memberikan sedikit perhatian kepada anaknya. Perwujudan cinta kasih orang tua hanya diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan anak, bahkan kalau orang tua meninggal (misalnya dengan membeli polis asuransi).  

Tetapi memberi terlalu banyak uang atau barang tanpa nilai yang benar dapat menjadi hal terburuk bagi mereka. Banyak contoh menunjukkan bahwa harta yang dikumpulkan dengan susah payah dihambur-hamburkan oleh anaknya.  

Lantas kapan sebaiknya orang tua mendidik anak soal pengelolaan keuangan? Tidak ada kata terlalu awal untuk mendidik anak soal uang dan menyiapkan mereka agar menjadi independen secara finansial.  

Menanamkan Nilai Luhur Kebanyakan orang tua ingin meninggalkan harta warisan kepada anak-anaknya atau orang lain yang dicintainya. Kebijaksanaan konvensional menyatakan bahwa keputusan tentang cara mendistribusikan harta kepada ahli waris akan sama pentingnya dengan cara menyimpan dan mengembangkan harta.

Meskipun dilandasi dengan niat baik warisan finansial berpotensi menimbulkan masalah bagi penerimanya. Cara membagi yang tidak adil, atau hadirnya ahli waris yang nakal sering membuat harta finansial menjadi sumber perpecahan keluarga.

Memberikan warisan tanpa ‘membekali nilai’ kepada ahli waris juga dapat berakibat buruk pada mereka.  

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membagi kekayaan. 

1. Berapa sebaiknya jumlah warisan? Warren Buffet, seorang fund manager dari AS pernah memberi nasehat bahwa sebaiknya orang tua meninggalkan cukup banyak harta sehingga anak-anak merasa dapat melakukan apa yang dia inginkan, tetapi tidak terlalu banyak sehingga mereka mampu untuk tidak melakukan apa-apa.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa jumlah warisan sebaiknya tidak berlebihan.

Ini ada alasannya. Pertama, harta pemberian cenderung mendorong konsumsi. Orang kaya umumnya membantu anak-anaknya jika mereka membeli rumah (atau barang bernilai tinggi lain) dengan harapan anaknya memiliki awal yang bagus dalam kehidupannya. Setelah itu mereka berharap anaknya akan mandiri secara finansial. Ini tidak selalu benar, khususnya kalau penerima pemberian tersebut tidak memiliki pendapatan yang tinggi, setidaknya saat membeli rumah, sehingga mereka membeli dengan harga atau biaya lebih tinggi dari kemampuan riel mereka. Ini dapat menciptakan konsumsi tinggi dan ketergantungan.  Kedua, penerima bantuan finansial cenderung menganggap pemberian tersebut sebagai penghasilannya sehingga membelanjakan uang seenaknya. Karena kebiasaan konsumsi, penerima mempunyai sedikit uang untuk investasi. Dalam merencanakan pembagian harta, Anda perlu mempertimbangkan gaya hidup anak Anda.  

2. Timing pemberitahuan dan penyerahan. Salah satu masalah dalam memberikan warisan adalah kapan memberitahu ahli waris tentang potensi warisannya? Jika mereka mengetahui terlalu awal, informasi tersebut dapat menghambat mereka menjadi orang dewasa yang mandiri.

Mereka terdorong untuk boros. Karena merasa pada akhirnya akan menerima. Mereka  berpikir “mengapa tidak mulai menikmatinya sekarang.” Bahkan mereka tidak ragu meminjam untuk membiayai gaya hidupnya. Namun, jika terlambat diberitahu, akankah kejutan seperti ini mempengaruhi kemampuan mereka memaksimalkan manfaat dari harta warisan?  

Jawaban atas dua pertanyaan tersebut tergantung pada seberapa bagus orang tua menanamkan rasa tanggung jawab pada anak Anda. Tetapi idealnya adalah ketika anak sudah mempunyai ketrampilan yang memadai dalam mengelola kekayaan, tahu nilai uang, dan dapat menghargai jerih payah orangtuanya.

Meninggalkan uang pada anak yang sudah mengerti nilai-nilai uang, umumnya akan berdampak positif karena anak akan bisa memanfaatkan kekayaan tersebut secara maksimal.

Sebaliknya, meninggalkan uang kepada anak tanpa menanamkan nilai-nilai uang dapat mengundang masalah besar.  

Kalau mempunyai harta dalam jumlah yang lebih besar daripada kemampuan anak mengelola, Anda bisa menciptakan nilai lain atas kekayaan Anda: menggunakannya untuk kepentingan sosial, seperti memberi bea siswa, menyumbang dana untuk memajukan ilmu pengetahuan, panti asuhan atau rumah sakit atau lembaga sosial lain.  

Harta yang berlebihan bisa menimbulkan dampak baik dan buruk. Jangan masuk ke kategori orang yang menjerumuskan orang-orang yang Anda cintai dengan harta warisan, meskipun Anda memberikannya dengan maksud baik dan mulia.

Memberikan kekayaan kepada anak adalah alami, tetapi memberikan kekayaan kepada masyarakat dapat menimbulkan kepuasan spiritual. Kekayaan sejati adalah yang dapat memberi dampak positif pada hidup kita, keluarga, dan masyarakat.

0 Responses to “Anak dan Harta Kita”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: