Belajarlah Keuangan dari Charles Dickens

“Pendapatan tahunan 20 pound, pengeluaran tahunan 19,6 pound menghasilkan kebahagiaan. Penghasilan 20 pound, pengeluaran tahunan 20,6 pound menghasilkan penderitaan.”  

Kutipan tersebut dapat Anda baca dalam novel karya Charles Dickens berjudul David Coperfield yang terbit pertama kali tahun 1849. Novel ini berkisah tentang tokoh bernama David Coperfield, buruh pabrik yang bercita-cita ingin menjadi novelis.  

Sebenarnya David Coperfield menggambarkan perjalanan hidup Charles Dickens sendiri yang menjadi korban situasi. Charles Dickens lahir di Landport, Hampshire, Inggris ketika  revolusi industri sedang memperoleh momentumnya.

Ayah Charles, John, adalah juru tulis di kantor bendahara Angkatan Laut Inggris dengan gaji cukup bagus. Akan tetapi, John sering mempunyai masalah keuangan. Pasalnya, ia hidup bak pepatah: besar pasak daripada tiang.

Karena kebiasaan ini John ditahan di penjara khusus pengutang. Utang John bahkan lunas bahkan ketika ia menggunakan uang warisan yang ia terima dari ibunya untuk membayar sebagian utang. Ibu John mati saat John masih dalam penjara. Utang John bahkan belum melunasi utangnya ketika ia kemudian mati. 

Masalah yang dihadapi John merembet ke keturunannya, Charles, yang pada tahun 1824, saat Charles berusia 12 tahun, dipaksa bekerja  sebagai buruh pabrik selama beberapa bulan selama John di penjara.

Penderitaan David lebih besar lagi ketika ibunya yang janda kemudian kawin denan Mr. Murstone yang sangat kejam. Namun demikian, Charles akhirnya bisa sekolah sampai akademi, menjadi juru tulis dan kemudian menjadi wartawan sebelum akhirnya menjadi novelis.  

Pengalaman Charles Dickens dan keluarganya saya kira menjadi pelajaran berharga bagi bangsa dan penduduk Indonesia yang suka berutang. Tanpa kemampuan mengelola, maka pinjaman akan berubah menjadi kutukan, yang tidak hanya menyengsarakan diri sendiri, tetapi juga nenek moyang dan keturunan.  

Seperti kita tahu, sejak Orde Baru berkuasa pemerintah Indonesia sudah gemar berutang untuk menutupi kekurangan belanja negara, meskipun pada waktu itu Rezim Orde Baru mengatakan menganut anggaran berimbang.

Dalam pengertian sebenarnya, anggaran berimbang berarti bahwa jumlah pengeluaran negara sama dengan penerimaan. Kalau penerimaan berkurang, maka belanja harus berkurang.  

Seperti yang dikemukakan oleh Dickens, negara atau juga penduduk mestinya menggunakan rezim anggaran surplus, yang berarti bahwa pendapatan lebih besar dari pengeluaran. Sisa pendapatan sebaiknya disimpan untuk tujuan khusus atau sekadar jaga-jaga atau untuk investasi.

Beberapa negara Eropa yang makmur menggunakan rezim anggaran ini.   Kembali ke Indonesia, meskipun secara formal menggunakan rezim berimbang, tetapi kenyataannya Indonesia menggunakan rezim anggaran defisit sejak 1967. Caranya adalah dengan membukukan pinjaman asing sebagai penerimaan luar negeri.

Padahal pinjaman tersebut harusnya dianggap sebagai utang karena pinjaman tersebut harus dikembalikan dengan bunga, meskipun bunganya rendah. Bahkan pemerintah terus berutang meskipun sempat menikmati windfall alias durian runtuh selama terjadi krisis minyak pada dasawarsa 1970-an.

Pada waktu itu  lonjakan penerimaan dari penjualan minyak digunakan untuk membiayai berbagai proyek seperti  perumahan rakyat dan mega proyek di bidang teknologi.   Kini pemerintah Indonesia sudah terjebak dalam kutukan utang.

Sampai sekarang pemerintah harus terus berutang untuk sekadar menutupi kekurangan anggaran. Bisa dikatakan saat ini pemerintah sudah sampai taraf gali lubang tutup lubang, yakni harus berutang untuk membayar utang.

Bahkan kewajiban pemerintah sekarang ini sudah lebih besar daripada kekayaan. Dengan kata lain, dari kaca mata Neraca Keuangan Negara, maka Indonesia telah bangkrut.  Karena sudah begitu parahnya, maka masalah utang dan defisit anggaran ini harus menjadi keprihatinan seluruh masyarakat, agar bisa memberikan tekanan kepada pemerintah untuk tidak lagi berutang.

Pasalnya, seperti kata pujangga Roma Kuno Publilius Syrus yang hidup pada abad 1 SM, “Debt is the slavery of the free. Utang adalah perbudakan bagi orang-orang merdeka. 

Banyak bukti untuk membuktikan kebenaran pernyataan Publilius Syrus tersebut. Dewasa ini misalnya, bangsa Indonesia mempunyai utang luar negeri sekitar 125 miliar dolar, sekitar 60 persen di antaranya adalah utang pemerintah.

Akibatnya, setiap tahun pemerintah Indonesia menggunakan puluhan, bahkan ratusan triliun rupiah dana APBN untuk membayar utang. Ini baru setengah cerita. Karena pinjaman tersebut, pemerintah sering harus tunduk pada kemauan dan keinginan negara atau lembaga kreditur, dengan membuat kebijakan sesuai keinginan dan kepentingan mereka. Dengan bahasa lugas, Indonesia sekarang terjajah secara ekonomi.  

Beban utang juga bisa menurunkan daya saing produk. Karena produk dikembangkan dengan utang, maka harga barang yang dihasilkan juga lebih mahal karena mengandung unsur beban bunga.

Survey dari World Economic Forum beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa kualitas layanan lembaga pemerintah di negara Skandinavia umumnya tinggi karena negara tersebut menganut rezim anggaran surplus. 

Di sektor korporat, pinjaman berlebih dapat menimbulkan masalah. Utang memungkinkan eksekutif korporat mengelola investasi di luar pengetahuan, pengalaman dan kompetensi mereka. Jika sebuah perusahaan tumbuh secara organik, kemampuan manajer dapat diharapkan untuk berkembang secara gradual sesuai dengan aktivitas perusahaan.

Di Indonesia banyak orang yang hanya karena mempunyai akses ke sumber dana, tiba-tiba ingin menjadi konglomerat, dengan menjalankan berbagai proyek sekaligus. Karena usaha yang dikelola di luar kemampuannya, maka banyak konglomerat dadakan yang ambruk.  

Secara umum, kapasitas utang harus disesuaikan dengan kapasitas ekonomi, manajemen, legal dan budaya. Kapasitas ekonomi berkaitan dengan keberadaan bisnis dan proyek yang bagus. Jika sebuah proyek diperkirakan bisa menghasilkan imbalan yang lebih besar daripada beban bunga, maka layaklah proyek tersebut dibiayai dengan pinjaman.

Jangan membangun proyek hanya karena kita dipercaya meminjam dan proyek tersebut menciptakan lapangan kerja yang sifatnya sesaat.  Kapasitas manajemen berkaitan dengan keberadaan pebisnis dan manajer bagus yang akan mampu membuat keputusan dalam memilih dan mengawasi proyek.

Kapasitas legal mengacu pada keberadaan seperangkat aturan yang mampu secara efektif menegakkan isi kontrak injaman. Faktor budaya mencakup perlindungan dari negara akan hak-hak debitur dan kreditur dan keandalan pelaporan dan valuasi finansial.  

Bottomline dari tulisan ini adalah bahwa siapapun, termasuk pemerintah, tidak bisa secara terus menerus menumpuk pinjaman. Pemerintah sekarang perlu melihat lebih jauh, apakah memang melebarkan defisit adalah satu-satunya langkah agar APBN 2005 bisa memberikan stimulus bagi perekonomian.

Apakah tidak ada cara lain? Misalnya memangkas beban bunga obligasi, dengan melakukan non-cash redemption, sebagaimana dulu obligasi rekapitalisasi juga diterbitkan tanpa melibatkan uang tunai.  Menurut hemat kami, salah satu cara yang bisa dilakukan pemerintah sekarang adalah dengan membuat anggaran sesuai kemampuan. Artinya pemerintah tidak harus mencari pinjaman untuk membiayai belanja negara.

Langkah yang lebih baik adalah dengan mengefisienkan APBN yang ada agar tidak kebocoran anggaran terjadi sampai ke level yang dapat ditoleransi. Pemerintah sekarang juga perlu meninjau praktik “mengijon” dan “menggiring anggaran” yang selama ini dilakukan oleh pengusaha yang berkolaborasi dengan lembaga eksekutif dan bahkan badan legislatif sehingga memunculkan alokasi anggaran di sektor tertentu yang jauh berbeda dengan harapan banyak pihak terkait.  

Mr Scrooge alias Paman Gober Kembali ke Charles Dickens. Selain menampilkan tokoh David Copperfield yang bercita-cita menjadi novelis, Dickens juga menciptakan karakter novel yang muncul sebagai sosok homo economicus.

Dalam David Copperfield, juga ada sosok bernama Mr. Micawber yang bijaksana. Kutipan di atas merupakan nasehat karakter ini kepada David Copperfield. Tokoh rekaan Dickens yang mungkin Anda kenal adalah Mr Scrooge, nama singkat dari Ebenezer Scrooge dalam novelnya A Christmas Carol.

Karakter ini digambahkan sebagai sosok yang pelit, dan serakah. Nama ini kemudian digunakan dalam cerita kartun Donald Duck. Di Indonesia karakter Scrooge disebut sebagai Paman Gober.

1 Response to “Belajarlah Keuangan dari Charles Dickens”


  1. 1 charis April 18, 2007 at 4:15 am

    that’s good idea about our country’s problem em,em not just a problem but super massive problem oh that’s too hyperbole utang adl perbudakan org merdeka good


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: