Real Estate Sebagai Ajang Investasi

Berinvestasi atau berspekulasi di bidang properti sudah dilakukan sejak zaman Sebelum Masehi. Salah satu spekulator yang tercatat sejarah adalah Marcus Licinius Crassus (115-53 SM), nama yang dapat Anda jumpai kalau menonton film Spartacus. 

Dalam kesehariannya, Crassus adalah seorang politisi yang menjadi anggota dari apa yang dinamakan Triumvirate Pertama. Triumvirat, adalah dewan atau komisi di Roma Kuno yang terdiri dari tiga orang. Istilah triumvirat khususnya untuk menyebut aliansi politik yang dibentuk pada tahun 60 SM oleh Pompey the Great, Julius Caesar, dan Marcus Crassus dengan tujuan memperkuat posisi mereka di senat melawan kekuatan kelompok opisisi. 

Sebelum membentuk triumvirat Crassus terlibat dalam perang saudara di Roma kuno yang berlangsung antara 83-82 SM. Ia berada di pihak Lucius Cornelius Sulla, pemimpin aristokrasi yang berperang melawan Gaius Marius yang memimpin partai revolusioner.

Karena kubu Gaius Marius kalah, properti milik Marius dan pengikutnya disita. Pada waktu itu Crassus membeli properti sitaan dengan harga murah dan kemudian dijual kembali dengan untung besar. Spekulasi tersebut menjadikannya orang terkaya di Roma pada waktu itu. Bandingkan dengan orang kaya baru di Indonesia setelah membeli aset sitaan yang semula berada dalam kelolaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang bermetamorfosa menjadi PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). 

Crassus kemudian menggunakan kekayaannya untuk mencapai tujuan politik dan mematahkan pemberontakan budak yang dipimpin oleh gladiator bernama Spartacus. Karena jasanya Crassus pada tahun 54 SM ditunjuk sebagai semacam gubernur di provinsi Syria.

Haus akan kemenangan, dia memerangi wilayah kiri kanannya sampai akhirnya ia tewas terbunuh pada tahun 53 SM dalam sebuah pertempuran.  

Spekulasi atau bisa dikatakan investasi di real estate mulai secara luas digunakan sebagai sarana menghimpun kekayaan sejak Zaman Pencerahan ketika hak real estate mulai dikenal di Inggris.

Sebelumnya di Zaman Pertengahan, yakni periode sejarah Eropa yang berlangsung antara akhir Zaman Klasik pada tahun 350 sampai munculnya gerakan renaisans pada tahun 1450, semua tanah menjadi milik raja.  Tanah milik raja tersebut dikelola dengan sistem manorialisme atau seignoralime.

Dalam sistem ini tanah dibagi menjadi dua bagian: yang satu menjadi hak pemilik dan satunya menjadi hak penggarap. Mekanismenya adalah sebagai berikut: raja menguasai sekitar 20% tanah dan menyerahkan hak atas 80% tanah sisanya kepada kaum bangsawan (baron) yang loyal kepada raja. Dalam praktek raja bebas mencabut hak atas tanah yang dikuasai baron. Selanjutnya para baron menguasai sebagian tanah dan menyerahkan sisanya kepada bangsawan rendah yang juga mengambil sebagian dan menyerahkan sisanya kepada petani. Petani dapat mengolah tanah dan hidup di atasnya tetapi untuk itu mereka harus memenuhi kewajiban tertentu seperti membayar iuran, menjalani dinas militer atau menjadi budak. Sebagai gantinya hak mereka atas tanah akan dilundungi.

Dengan perbedaan di sana-sini, praktek seperti inilah yang dapat dibaca dalam sejarah Eropa, khususnya selama Jaman Pertengahan.  Pengakuan atas hak real estate dipercaya muncul di Inggris, tepatnya pada tahun 1215 ketika kaum bangsawan berhasil memaksa Raja John menandatangani dokumen yang disebut Magna Carta yang terdiri dari 63 klausula.

Salah satu klausula dari Marga Carta menyatakan bahwa Raja tidak bisa mengubah hak para baron, termasuk hak atas tanah, tanpa persetujuan para baron. Hak tertsebut semula hanya berlaku untuk baron, kemudian meluas ke pembantu-pembantu baron dan orang terpandang di kota sehingga Magna Carta kemudian dipandang debagai deklarasi kemerdekaan bagi orang Inggris.

Minat atas real estate semakin besar dengan munculnya hak tanah yang sifatnya herediter, dalam arti bahwa hak tersebut dapat diwariskan. Hak seperti ini mulai dikenal tahun 1654 di Spanyol dan kemudian meluas di Eropa dan baru kemudian ke seluruh dunia.  

Di Indonesia pengakuan legal atas hak atas tanah mulai dikenal pada tahun 1870, ketika pemerintah Kolonial Belanda mengundangkan UU Agraria (Agrarische Wet) dan UU Gula (Suiker Wet). UU Agraria mengakui sistem hak milik Bumiputra atas tanah, tetapi melarang mereka mengalihkan hak atas tanah kepada orang asing.

UU tersebut juga membebaskan pemo­dal swasta menyewa tanah dan tenaga kerja. Semua tanah yang tidak merupakan hak milik Bumiputra dikuasai pemerintah yang dapat menyewakannya kepada swasta sampai 75 tahun.

UU agraria secara resmi mengakhiri sistem Tanam Pak­sa. Saat ini tanah dan rumah adalah komoditas murni, dalam arti bahwa semua orang  bisa membeli tanah berapapun.  

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa properti telah berabad-abad menjadi alat untuk mencapai kemakmuran. Meskipun banyak orang makmur yang kemudian membeli properti dengan alasan investasi atau status sosial. Minat berinvestasi di real estate terus berkembang sampai sekarang.

Sebuah polling oleh Kompas menyatakan bahwa pilihan pertama responden kalau memiliki uang lebih adalah berinvestasi di rumah/tanah (39,5%), tabungan/deposito 38%, saham 6,4%, tidak tahu 5,6%, mata uang asing 4,6%, simpan di rumah 3,7% dan perhiasan 2,2%.   

Menurut peraturan Departemen Keuangan yang mulai berlaku 1 Januari 2003 ada 13 jenis instrumen yang dapat menjadi pilihan investasi Dana Pensiun. Tiga di antaranya adalah tanah, bangunan dan tanah beserta bangunan.

Berdasarkan pada peraturan tersebut Dana Pensiun dilarang menginvestasikan lebih dari 15% dari total asetnya di ketiga instrumen tersebut. Jika investasi Dana Pensiun tersebut dalam tahun buku terakhir merugi, jumlah penempatan pada saham, surat utang, tanah, bangunan dan tanah beserta bangunan, tidak boleh melebihi 35% dari total investasi.  

Mengapa harus ada batasan soal investasi di tanah dan bangunan? Bukankah tanah dan bangunan adalah sarana investasi yang aman dan menguntungkan, atau setidaknya begitulah klaim pengembang ketika memasarkan proyek? Sebenarnya, pembatasan tersebut menyiratkan potensi risiko yang melekat pada real estate.

Apa keuntungan, kerugian dan risiko berinvestasi di real estate? Wah ini butuh jawaban panjang.

0 Responses to “Real Estate Sebagai Ajang Investasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: