Diversifikasi Reksa Dana

Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memiliki komitmen untuk mendorong penerbitan jenis reksa dana baru. Tahun ini misalnya, Bapepam-LK mendorong penerbitan exchange traded fund (ETF) dan KIK-Efek Beragun Aset (EBA).  “Tujuannya adalah agar investasi pemodal tidak terkonsentrasi ke produk-produk tertentu,” kata Djoko Hendratto, kepala biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK.  

Kalau terealisasi maka akan ada enam jenis reksa dana yang bisa menjadi pilihan pemodal. Sampai tahun 2004 masyarakat pemodal hanya mengenal empat jenis reksa dana di Indonesia: reksa dana pasar uang (RDPU), reksa dana pendapatan tetap (RDPT), reksa dana saham (RDS) dan reksa dana campuran (RDC). Namun pada tahun 2005 publik mulai mengenal reksa dana terproteksi (RDT) dan tahun 2006 reksa dana indeks (RDI).  

Djoko mengatakan, kalau aset reksa dana terkonsentrasi ke satu jenis reksa dana tertentu, maka industri dalam posisi bahaya. Hal ini, katanya, merupakan pelajaran pahit dari terjadinya gelombang redemption sepanjang pada tahun 2005 akibat adanya konsentrasi aset di RDPT.

Pada akhir tahun 2004 RDPT menyumbang Rp 85,036 triliun atau 84% dari total dana kelolaan (asset under management) sebesar Rp 100,987 triliun. Ketika iklim bisnis bergeser karena perubahan, atau tepatnya penurunan suku bunga, maka pemodal menarik dana mereka sehingga AUM reksa dana secara bertahap terpangkas hingga menjadi Rp 28,835 triliun.

Dampaknya, kekayaan pemodal reksa dana terpangkas dan pengelola reksa dana kehilangan potensi pendapatan berupa management fee.  Para pengelola reksa dana juga memandang ideal kalau mengelola uang pemodal yang tersebar secara merata ke semua jenis reksa dana.

Kiranya tidak ada pengelola reksa dana di Indonesia yang menyadari hal ini lebih baik daripada PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI). Bayangkan. Pada akhir tahun 2004, anak perusahaan PT Bank Mandiri Tbk ini berhasil menggalang dana masyarakat sampai Rp 24 triliun pada awal 2005.

 Sejalan dengan terjadinya gelombang redemption yang berlangsung sepanjang tahun, aset kelolaan MMI menyusut hingga menjadi hanya Rp 328 miliar pada akhir 2005.  

Kemudian dengan serangkaian inovasi, khususnya dengan menerbitkan serangkaian RDT, aset kelolaan MMI meningkat hampir 11 kali lipat menjadi Rp 2,5 triliun. Namun manajemen MMI tidak merasa sepenuhnya nyaman dengan prestasi ini. Pasalnya, sekitar 74,51 dari AUM tersebut terkumpul dalam reksa dana terproteksi.

Oleh katena itu memasuki tahun 2007 MMI mulai menerapkan strategi diversifikasi AUM.  Seperti dikemukakan Denny Rizal Thaher, direktur MMI yang menangani pengembangan produk, MMI tahun ini menargetkan AUM meningkat menjadi Rp 10 triliun. “Kami berharap reksa dana konvensional menyumbang sekitar 60% dari target AUM tahun ini, 30% di reksa dana terstruktur dan 10% di discretionary fund,” katanya dalam media gathering di Jakarta pada 17 Januari lalu. 

Untuk meningkatkan aset tersebut, tambah Denny, MMI tidak hanya mengandalkan pada reksa dana baru yang akan diterbitkan tahun ini, tetapi juga memasarkan 10 reksa dana konvensional yang saat ini dikelola MMI. Menurut MMI, perhatian pemodal sepanjang tahun 2006 terlalu fokus ke RDT yang menekankan keamanan investasi sehingga mereka kurang memberi perhatian ke reksa dana konvensional lain yang memiliki kinerja jauh lebih bagus daripada RDT. “Namun kami meluncurkan beberapa produk baru untuk memenuhi kebutuhan investor yang bermacam-macam,” katanya.  

Pentingnya Manajer Investasi mengelola aset yang tersebar ke semua reksa dana juag dikemukakan Putut Endro Andanawarih, direktur PT First State Investments Indonesia. “Kita juga perlu menurunkan risiko,” katanya. Oleh karena itu, First State tidak hanya memasarkan RDS saja tetapi juga reksa dana jenis lain.  

Diversifikasi bagi Pemodal menurut para pengelola dana, pemodal reksa dana tetap perlu melakukan diversifikasi. Sebastian Subba, chief  investment officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, mengatakan diversifikasi antar kelas aset diperlukan karena setiap aset kelas bisa bergerak ke arah berlawanan pada satu waktu. “Banyak nasabah kami juga menginginkan diversifikasi,” katanya seraya menjelaskan bahwa kebanyakan pemodal Manulife Dana Saham — salah satu RDS kelolaan PT MAMI yang menampilkan kinerja menawan — adalah pemodal yang ingin melakukan diversifikasi setelah memegang reksa dana jenis lain.  

Subba menambahkan, berbeda dengan yang terjadi di negara lain, pemodal di Indonesia tidak menjadikan RDS sebagai core holding sehingga di negara lain RDS pada umumnya memberikan kontribusi mayoritas ke total aset kelolaan reksa dana.   

Putut bahkan memandang perlu bagi pemodal untuk melakukan diversifikasi dalam satu jenis reksa dana. “Tetapi jangan terlalu banyak. Cukup dua atau tiga saja yang dipilih secara seksama,” katanya. Ia menjelaskan, pemodal hendaknya memandang manajer investasi sebagai kompetitor tetapi sebagai pelengkap. Sebab, kilahnya, masing-masing MI memiliki gaya investasi yang berbeda.

Bisa jadi, satu MI memiliki gaya investasi yang sangat agresif untuk mengejar return maksimal dan mengandung potensi risiko yang besar juga. Sedangkan MI lain mengelola RDS dengan gaya yang lebih konservatif.  Seperti Putut, Denny juga melihat adanya manfaat kalau pemodal melakukan diversifikasi di RDPT dengan membeli dua atau tiga RDPT.

Sebab masing-masing RDPT bisa jadi dikelola dengan cara yang berbeda. Denny menjelaskan, MMI mengelola dua RDPT yang memiliki gaya investasi berbeda. Salah satu di antaranya berorientasi jangka pendek.

Underlying asset RDPT ini terpusat pada obligasi yang memiliki durasi pendek dan sangat likuid. Tujuannya, kalau menghadapi redemption dalam jumlah besar MI bisa menjual obligasi tersebut dengan harga wajar dan cepat. Untuk obligasi tipe ini MMI hanya mengenakan biaya yang kecil sehingga cocok untuk nasabah yang berjangka pendek.  

Di sisi lain MMI juga mengelola sebuah RDPT yang berorientasi jangka panjang. Untuk mencegah terjadinya redemtion, RDPT tipe ini memungut biaya masuk dan keluar yang relatif besar. Underlying asset RDPT ini adalah obligasi berdurasi panjang dan obligasi korporat yang relatif kurang likuid. Dengan demikian MI bisa memaksimalkan return.  

Putut pada akhirnya juga menganjurkan pemodal memandang reksa dana sebagai sebuah kelas aset tersendiri. Dengan demikian pemilik dana juga perlu melakukan diversifikasi investasi ke kels aset lain seperti emas, properti atau memberi instrumen pasar modal secara langsung.

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah INVESTOR edisi 161)

0 Responses to “Diversifikasi Reksa Dana”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: