Dampak Negatif Revolusi Uang!!

Kita sering meremehkan kartu kredit (KK). Berita tentang KK umumnya berisi fakta atau pandangan mengenai fungsinya sebagai alat pembayaran. Sering, KK disamakan dengan teknologi yang membuat hidup lebih nyaman seperti power windows pada mobil atau remote control bagi TV.
Sebenarnya KK mempunyai peran yang jauh lebih besar: KK juga mempengaruhi perekonomian global. Robert J Shiller, profesor Ilmu Ekonomi di Uiversitas Yale dan pengarang buku Irrational Exuberance and the New Financial Order: Risk in the 21st Century, menyebut dua peran penting KK. Pertama, sebagai pemacu kreativitas manusia. Kedua, pendorong globalisasi.
Untuk memahami peran KK, Shiller mengajak kita melihat dampak penemuan uang, pertama dalam bentuk koin di daerah Lydia (kini bagian dari Turki) pada abad ke-7 SM. Uang mewakili kemajuan penting peradaban manusia. Sebelum ada koin, perdagangan bergantung pada logam mulia. Ini merepotkan. Setiap transaksi membutuhkan logam mulia yang memaksa pedagang membawa alat potong dan alat timbang. Orang kebanyakan tidak memiliki alat-alat ini. Penggunaan logam mulia sebagai alat tukar juga mensyaratkan keahlian menilai kemurniannya. Namun, perdagangan barter pada zaman sebelum itu, jauh lebih merepotkan lagi.
Penemuan koin dan kemudian uang kertas memungkinkan terjadinya transaksi dalam volume kecil dan menciptakan banyak jenis bisnis baru. Orang dengan mudah membuka dan mengoperasikan restoran atau toko kelontong untuk melayani semua orang. Penemuan koin juga membantu menyebarkan pengetahuan. Dengan adanya koin, orang mudah menjual buku, sekolah dan kursus. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau penemuan koin terjadi di bagian dunia yang jauh sudah maju.
Meluasnya penggunaan uang akhirnya telah membantu membentuk stuktur ekonomi. Penemuan uang memungkinan pedagang tidak perlu membawa alat timbang dan alat potong logam, sehingga biaya transaksi bisa turun. Biaya transaksi lebih rendah berarti bahwa pertukaran dapat secara dramatis lebih cermat.
Penemuan KK, dan uang plastik termasuk kartu debit dan smart card, mempunyai dampak yang sama. KK membuat transaksi perdagangan melonjak luar biasa.
Sebenarnya, tidak sulit membayangkan orang terdorong menggunakan KK, yang mengizinkan pemegangnya berbelanja lebih dari 2 bulan pendapatannya. Misalnya Anda. Ketika sedang menonton teve Anda melihat ada great sale di supermarket yang biasa Anda kunjungi. Atau melalui koran Anda melihat iklan produk baru yang memang Anda ingin beli. Pasti iklan tersebut sangat buruk kalau Anda tidak tergoda oleh promosi tersebut.
Anda pada mulanya orang hanya ingin window shopping, tetapi tergoda dan kemudian tidak mampu menahan dorongan membeli. KK juga mendorong orang berbelanja lebih besar daripada seharusnya. Orang tidak menggesek KK untuk pembelian di pasar becek atau warung soto? Kalaupun ya berarti lebih berbahaya lagi. Pasalnya, ia harus menambah transaksi sampai batas minimum yang diperkenankan untuk pembayaran dengan KK. (Dulu orang menggunakan KK untuk membeli barang sekunder atau tersier, kini untuk barang konsumsi sehari-hari). At the end of the day, penggunaan KK menjadi kebiasaan. Sebagian dari mereka berkembang menjadi revolver, tipe konsumen KK mengeluarkan uang hari ini untuk membayar belanja dua tiga bulan lalu.
Menyusul uang plastik, kini berkembang uang elektronik. Perusahaan-perusahaan micropayment seperti Paypal, Yaga, Peppercoin dan BitPass, mampu menawarkan biaya transaksi yang jauh lebih murah daripada KK. Ini memungkinkan konsumen membeli barang atau jasa dengan nilai nominal kecil. Sebagai contoh, orang Klaten kini bisa membeli lagu iTunes seharga 99 sen dolar lewat internet. Apa yang iTunes jual adalah satu bentuk konten intelektual.
Penggunaan uang elektronik juga mensyaratkan adanya mekanisme transaksi yang berbasis pasar Internet. Ini akan mendorong orang fasih Internet. Dalam konteks ini, tidak mengherankan kalau negara-negara yang tergabung dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) akan membuat rencana perdagangan yang sifatnya paperless untuk menurunkan biaya transaksi. Strategi tersebut menyangkut inisiatif untuk mengharmonisasikan hukum domestrik dan prosedur bea cukai melaui pembentukan sistem informasi yang berbasis web.

Dampak Negatif
Uang plastik, khususnya KK, mulai dikenal di Indonesia sejak 1975 dan berkembang sangat pesat. Bank Indonesia (BI) mencatat per akhir Mei 2008 jumlah KK beredar adalah 10,324 juta kartu. Dengan data Asosiasi Kartu Kredit Indonesua (AKKI) bahwa jumlah nasabah KK adalah 4 juta, maka setiap nasabah memiliki rata-rata 2,5 KK. Dahsyatnya, nilai transaksi KK per Mei 2008 adalah IDR65,928 triliun, sedikit di atas capaian sepanjang tahun 2007 sebesar IDR65,BBB triliun. Kalau total kredit perbankan IDR1.137,70 triliun, maka pinjaman KK menyumbang 5,80% dari total kredit. Prosentasi ini meningkat pesar dari 2,28% tahun 2004.
Lonjakan porsi pinjaman KK dalam lima bulan pertama 2008 ini tampaknya perlu mendapat perhatian tambahan, khususnya dalam hal kolektibilitas. Ini menjadi lebih terasa kalau kita mengaitkan tagihan KK dengan lonjakan inflasi, khususnya akibat kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Jelas inflasi akan menggerogoti daya beli, dan daya bayar utang, konsumen. Dalam kondisi normal, mungkin bank (sebagai penerbit KK paling besar untuk tidak mengatakan hampir semuanya) akan mampu menahan tekanan KK. Masalahnya, karena pada saat yang sama perbankan juga menghadapi persoalan inflasi, maka serangan kecil dari KK pada saat perbankan lemah, dikhawatirkan menimbulkan risiko sistemik.
Kekhawatiran inilahyang awal tahun ini mulai mengemuka dalam jagad financial Amerika Serikat. Seperti dilaporkan Business Week Online pada 5 Desember 2007, ada tanda-tanda bahwa kekacauan dalam system perbankan AS akibat krisis subprime mortgage mulai merembes ke bisnis pembiayaan konsumen. Karena alasan ini lembaga pemeringkat Standard & Poor menurunkan outlook subindustri pembiayaan konsumen menjadi negatif.
Tanda-tanda tekanan KK terlihat dari lonjakan tunggakan tagihan kartu kredit dan charge-off (jumlah yang dihapusbukukan sebagai biaya utang macet) untuk kredir konsumen di luar pinjaman rumah. Menurut bank sentral AS, the Federal Reserve, charge-off atas KK dan konsumen lain mulai meningkat sejak triwulan 2007. Pertumbuhan pembiayaan konsumen juga mulai menurun. Survei oleh Discover Financial Services menunjukkan bahwa indeks keyakinan turun pada November 2007 dan kondisi keuangan konsumen merosot. Kondisi ini telah mendorong beberapa bank untuk melakukan penyisihan besar-besaran untuk utang buruk di bisnis pembiayaan konsumen. Bahkan, American Bankruptcy Institute, melaporkan lebih dari 800.000 penduduk Amerika mengajukan diri untuk bangkrut agar pada 2007. Angka pengajuan kebangkrutan per Februari 2008 naik 28% dari februari 2007.
Kekhawatiran dampak sistemik KK katrena banyak tagihan yang disekuritisasi dan efek turunannya banyak diperdagangkan di pasar financial. Krisis subprime mortgage juga terjadi karena banyak tagihan yang disekuritisasi. Sekuritisasi inilah yang membuat bisnis berputar jauh lebih cepat, sebelum akhirnya meledak menjadi krisis ketika beberapa pemain mulai kesuitn likuiditas untuk bertransaksi di pasar derivatif.

1 Response to “Dampak Negatif Revolusi Uang!!”


  1. 1 Thoyib December 23, 2009 at 11:04 pm

    Makash bgt atz informasiny. . .Brkat informasi ini membuat pengetahuan pembca brtmbh tnpa hruz susah2mencri buku d perpus. . .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: