Bila RDPU Tak Lagi Aman

Reserve Primary Fund adalah reksa dana pasar uang (RDPU) pertama di dunia yang diterbitkan oleh Reserve Management Corporation (RMC), perusahaan manajemen investasi (PMI) yang didirikan pada tahun 1970. Selain mengelola Primary Fund, RMC juga mengelola 25 RDPU lain — sebagian ada yang bebas pajak, ada yang dirancang khusus pemodal lembaga dan pemodal ritel.
Sayangnya, RDPU yang sudah berusia lebih dari 30 tahun itu kini sedang dalam proses likuidasi. Seperti kemunculannya yang mendorong RDPU lain, proses kematian Reserve Primary Fund juga membawa kematian RDPU lain, termasuk 14 RDPU kelolaan RMC, dan mengguncang keyakinan pemodal AS.
Kisah tragis ini dimulai pada 16 September 2008 ketika Reserve Primary Fund (dengan kode RFIXX), salah satu RDPU terbesar di dunia, mengumumkan bahwa nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/UP) turun di nawah USD1, atau yang pelaku pasar sebut sebagai breaking the buck. Akibatnya RFIXX diterpa gelombang penjualan kembali (redemption) sehingga, dengan izin otoritas, redemsi akhirnya ditutup. Pada hari itu dana kelolaan (asset under management/AUM) RFIXX turun USD40 miliar menjadi USD23 miliar.
Penurunan NAB/UP RFIXX terjadi karena penurunan AUM ditambah dengan fakta bahwa RDPI tersebut memegang commercial paper (CP) terbitan Lehman Brothers senilai sekitar USD785 juta. Setelah Lehman Brothers mengajukan petisi bangkrut pada 15 September 2008, pengelola RFIXX memberi valuasi tidak bernilai untuk CP tersebut. Penurunan tajam AUM memicu dugaan bahwa manajemen memberikan tip kepada pemodal khusus untuk redeem menjelang pengumuman penurunan NAB/UP, tetapi dugaan itu dibantah RMC dan sebagai hal yang tidak masuk akal.
Sebenarnya, penurunan nilai sebesar 3 sen dollar tidak terlalu perlu dikeluhkan karena penurunan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kerugian yang diderita pemodal saham atau reksa dana saham.
Selama 12 bulan sampai 30 September 2008, indeks Dow Jones Industrials turun 22%. Pengelola reksa dana saham besar, termasuk Fidelity Investments dan Vanguard Group Inc., membukukan rata-rata kerugian sebesar 28% sepanjang tahun sampai 6 Oktober 2008, sekitar dua persen poin lebih buruk daripada indeks Standard & Poor’s 500. Rata-rata reksa dana obligasi, yang invest di surat utang berkualitas tinggi, turun 4,2% selama sembulan bulan pertana 2008. Depkeu mengumumkan sepanjang September 2008 pemodal menarik dana sekitar USD170 miliar dari RDPU selama periode tujuh hari.
Namun para pemodal di RMC tidak melihat dengan cara itu. Ketika NAB RFIXX broke the buck, kepercayaan mereka kepada RMC pun terkikis. Banyak pemodal menarik dana mereka di RDPU kelolaan RMC. RMC, salah satu pengelola RDPU terbesar di AS, sedang meminta persetujuan SEC agar dapat menunda pembayaran redemsi lebih lama dari tujuh hari standard setelah pemodal menyerahkan formulir redemsi.
Keputusan RMC untuk melikuidasi Primary Fund membuat pemodal di RDPU kelolaan RMC khawatir akan keamanan dana mereka. “Tidak ada yang memberi tahu saya kapan saya akan menerima kembali uang. Dua kali saya menelfon RMC, jawabannya sama: belum ada kabar,” ujar Eric Olsen, 44, seorang profesional software di Seattle, AS, yang menyimpan sebagian besar dana pensiun di Reserve US Treasury Fund. Olsen menambahkan kepercayaan berkurang dan dia berasumsi akan kehilangan uangnya jika reksa dana tersebut dilikuidasi.
Gelombang redemsi yang melanda Reserve Primary Fund merembet ke RDPU lain dan bahkan ke reksa dana jenis lain. Pada minggu pertama Oktober 2008 saja, pemodal menarik dana USD43,3 miliar dari reksa dana saham dan USD8,8 miliar dari reksa dana pendapatan tetap. Eksodus ini menyusul pencairan sebesar USD72,3 miliar bulan September, penjualan kembali paling banyak dalam satu bulan. Pada saat yang sama, pemodal menempatkan dana baru sebesar USD185,5 miliar di bank selama September. “Orang-orang ketakutan,” ujar Conrad Gann, CEO TrimTabs, sebuah lembaga riset di AS. “Pasar ini berbeda dengan pasar yang ada sebelumnya.”
Menurut Brian Reid, ekonom kepala Investment Company Institute, asosiasi industri reksa dana yang berbasis di Washington DC, redemsi di RDS mencapai 1,3% dari aktiva ekuiti. Selama crash tahun 1987, redemsi di RDS mencapai 3% dari AUM.
Pada 29 September 2008, RMC melikuidasi RFIXX dan mulai mengembalikan uang pemodal pada 13 Oktober 2008. Pada Kamis 9 Oktober 2008 RMC kembali mengumumkan penutupan 15 RDPU tanpa memberikan janji kapan dan berapa banyak pemodal dapat mengharapkan uang mereka.
Alasannya, kesulitan menjual aktiva. Untuk mengembalikan uang pemodal, para manager harus menjual portofolio mereka dan atau menunggu efek utang jangka pendek jatuh tempo, proses yang rumit karena volatilitas pasar, dan keengganan pemodal membeli efek yang bahkan menanggung risiko paling kecil. “Reksa dana akan melikuidasi aktiva secepat mungkin, tetapi tentu pemodal tidak ingin aktiva itu dijual pada harga sangat murah,” ujar RMC dalam sebuah pernyataan.
Salah satu RDPU kelolaan RMC yang dilikuidasi adalah Reserve US Government Fund, yang banyak berinvestasi di surat utang jangka pendek terbitan lembaga keuangan yang disponsori pemerintah federal AS, seperti Fannie Mae, Freddie Mac dan Ginnie Mae. Dalam kondisi normal, efek ini likuid dan aman. Efek ini menjadi tidak likuid setelah banyak RDPU menarik dana besar-besaran. Dengan keyakinan bahwa pemerintah AS akan mendukung efek tersebut, maka RMC bisa membayar pemodal penuh 100%, sama USD1.
RMC mengumumkan pernah mempertimbangkan untuk membagi aktiva yang dipegangnya langsung ke nasabah, tetapi terpaksa tidak dilakukan karena sejumlah kencala. Misalnya RMC membeli dalam denominasi sangat besar, sehingga pemecahan ke dalam nominal kecil akan memerlukan biata bagi reksa dana dan para pemodal. Dengan keyakinan dijamin pemerintah, maka akan dibayar penuh.

Tidak Lagi Aman
RDPU, juga dikenal dengan nama reksa dana stabilitas pokok (principal stability fund), berusaha membatasi potensi kerugian karena risiko kredit, risiko pasar dan risiko liquiditi. Berdasarkan Aturan 2a-7 UU Investasi, RDPU dibatasi untuk berinvestasi di instrumen utang berkualitas, beragam dan bertenor cepat, dengan rata-rata tenor investasi portofolio rata-rata 90 hari. Untuk menjaga pokok, RDPU juga dihitung setiap hari agar nilainya tetap USD1 dengan tujuan agar tidak rugi. Namun, kondisi pasar saat ini sangat luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Karena keamanan ini, banyak nasabah menggunakan RDPU selama beberapa dasawarsa seperti layaknnya rekening simpanan di bank. Selain impanan di bank dan Treasury bonds, RDPU dipandang sebagai tempat paling aman untuk menempatkan uang.
Peristiwa breaking the buck oleh RFIXX, menurut Mike McNamee, juru bicara Investment Company Institute, asosiasi perusahaan investasi AS, hanya kedua kali dalam 36-tahun sejarah RDPU. RDPU pertama yang break the buck adalah Community Bankers Fund (1994), yang menjual unitnya ke bank-bank komuniti kecil dari 1991 sampai September 1994. Waktu itu, hampir sepertiga aktiva RDPU ini diinvestasikan di derevatif surat utang berbunga mengambang atau structured notes, yang karena kondisi pasar menjadi illiquid. Akibatnya banyak efek yang nilainya di bawah nilai nominal selama krisis finansial. Vommunity Bankers Fund akhirnya membayar 96 sen untuk setiap UP yang seharusnya bernilai USD1.
Sebetulnya, apa yang banyak pemodal tidak sadari adalah sekitar 20 RDPU yang mengalami nasib serupa selama setahun terakhir, khususnya seteleh krisis subprime morrgage. Hanya saja, RDPU tersebut diselamatkan oleh perusahaan induk, yang menomboki sehingga NAB/UP tetap bertahan USD1. Langkah ini mendapar izin dari pengawas bursa AS, the Securities and Exchange Commission (SEC). Perusahaan yang sudah membailour RDPU mereka termasuk Allianz, Northern Trust Corp., Legg Mason Inc., SEI Investasi s Co., TD Ameritrade Holding, HSBC Holdings, Wells Fargo Co. dan STI Classic RD.
Tidak seperti RD ini, RMC tidak menemukan pendanaan pada saatnya. “SEC membiarkan perusahaan [mendukung RDPU mereka] sepanjang waktu, namun masih mempertahankannya sebagai instrument investasi yang aman,” ujar Mercer Bullard, presiden Fund Democracy dan asistan professor ilmu hukum di Universitas Mississippi. Bullard menambahkan, perusahaan yang membailout RDPU tidak mendapat penalti dari otoritas.
Mary Athridge, juru bicara Legg Mason, mengatakan setiap kali perusahaannya meminta izin untuk melakukan bailout, pihaknua menerbitkan press release dan berkomunikasi dengan pemodal. “Kami [juga] memberi panduan tenaga penjualan kami untuk menjawab pertanyaan dan meyakinkan pemodal bahwa NAB reksa dananya menjadi stabil dengan aksi tersebut,” ungkap dia. Bailout dilakukan karena ada larangan bahwa perusahaan tersebut tidak bisa membeli efek secara langsung dari reksa dana yang dikelolanya.
Krisis tersebut mengajarkan banuak hal kepada pemodal. Satu pelajaran penting, RDPU ternyata tidak seaman dugaan banyak pemodal. Jika pasar sedang bergejolak, diversificasi tidak selalu mencegah kerugian dalam jangka pendek.
Christine Benz, director of personal finance di Morningstar, kasus yang melanda RDPU menegaskan perlunya pemodal memberi perhatian pada risiko investasi meraka, termasuk di RDPU. “Kasus itu juga menunjukkan risikonya memburu yield.”
Christine menambahkan, Reserve Primary Fund memberikan yield selama 12-bulan yang berakhir pada 31 Agustus 2008 sebesar 4,04%, tertinggi di antara 2.100 lebih RDPU yang diriset oleh Morningstar. Rata-rata yield RDPI selama periode tersebut adalah 2,75%. Maka dari itu Christine menegaskan jika pemodal menemukan bahwa RDPU mereka memberikan yoeld lebih tinggi dari rata-rata, mereka harus menggali apa yang mendorong kinerja tersebut. “Jika rasio biaya tidak sangat rendah naming RDPU itu memberikan yield paling tinggi, itu bisa menjadi indikasi lebih besarnya risiko,” tulisnya.

Menuntut Keterbukaan
Dalam sebuah surat yang dikirim ke SEC Januari 2008, Fund Democracy, sebagai bagian dari satu kelompok yang mencakuo Federasi Konsumen Amerika dan asosiasi perencana keuangan AS, menyatakan bahwa praktik membiarkan RD dibailout dengan cara yang selama ini berlaku hanya menunda waktu untuk sebuah reksa dana mengalami “break the buck”. “SEC hendaknya mengambil langkan untuk menjamin bahwa kerusakan seperti itu terhadap kepercayaan pada RDPU diminimisasi. Kelompok ini menganjurkan agar RDPU terbuka dan melaporkan portofolio mereka ke regulator.
Bullard menambahkan, penyebab break the buck adalah RDPU menilai portofolio mereka secara tidak tepat dan “kemudian di balik layer mereka akan membailout reksa dana.” Dalam kasus Reserve Primary Fund, sebagai contoh, RDPT ini semuka membukukan surat utang Lehman Brothers Holdings pada nilai penuh sebesar USD785 juta. “Anda tidak bisa menjual surat utang tersebut di pasar pada nilai penuh [sebelum kehancurn Lehman],” ujar Bullard.
Setelah ada gelombang redemsi selama dua hari yang menguras aktivanya sebesar USD40 miliar pada 15 dan 16 September 2008, Reserve Primary Fund menurunkan nilainya menjadi nol sehingga NAB/UP turun menjadi 97 sen. Debbie Cunningham, CIO di Federated Investors Inc. (FII), menyatakan valuasi RMC berlebihan. “Efek itu diperdagangkan di pasar pada 20-30 sen [untuk setiap dollar],” tambah Cunningham.
Gelombang resemsi di RDPU membawa sedikit kebaikan, yakni mendorong industri lebih transparan. Sejak Reserve mengumumkan break the buck pada 16 September 2008, beberapa PMI telah mengambil langkan untuk meyakinkan pemodal bahwa RDPU portofolio investasi mereka aman. Invesco Ltd., Deutsche Bank dan Oppenheimer Fund adalah PMI yang mulai mengumumkan portofolio investasinya setiap hari di situs jejaringnya setiap hari.

Program Jaminan
Ketika RMC mengumumkan pada 16 September 2008 bahwa NAB/UP Reserve Primary Fund turun di bawah USD1, guncangan yang ditimbulkan begitu besar sehingga banyak pemodal menarik dana mereka sedikitnya USD120 miliar dari RDPU. Pemodal juga mulai menarik dana dari reksa dana jenis lain. Untuk menghentikan gelombang redemsi ini, Depkeu AS menyatakan siap memberikan jaminan sepanjang reksa dana mau membayar premi jaminan.
Jika banyak para fund manager sepakat dengan gagasan itu, para banker, khususnya dari bank kecil, protes bahwa langkah itu tidak fair. Mereka percaya, jika RDPU dijamin maka banyak nasabah deposan yang menarik dana dan menempatkan di RDPU. Depkeu AS kemudian menerapkan batas waktu untuk reksa dana yang masuk program penjaminan. Depkeu, melalui FDIC menaikkan batas simpanan di bank yang dijamin menjadi USD250.000 dari USD100.000 yang berlaku sejak tahun 1980.
Untuk membangun kepercayaan pemodal publik, pada 19 September 2008 Departemen Keuangan AS mengumumkan program untuk secara temporer menjamin RDPU sehinga NAB tidak akan turun di bawah USD1. Di bawah program ini, Depkeu AS akan menjamin keamanan RDPU yang bersedia mengikuti program dan membayar fee penjaminan. Hampir semua penerbit RDPU besar di AS kemudian berperan serta dalam program ini untuk mendukung RDPU yang memiliki AUM sekitar USD3,4 triliun. Beberapa RDPU tidak bisa mengikuti program ini karena tidak bisa memenuhi persyaratan NAB/UP minimum yang ditetapkan sebesar 99,5 sen sebelum tanggal 19 Sepptember. Beberapa RDPU yang berinvestasi di instrumen pasar uang berkualitas sangat bagus tidak mengikuti program penjaminan ini.
Untuk modal menjamin RDPU ini, Depkeu AS menggunakan dana stabilisasi bursa sebesar USD50 miliar. Untuk sementara garansi berlaku hanya untuk tiga bulan. Setelah itu, Depkeu akan mempertimbangkan kondisi pasar sebelum memutuskan apakah akan mengakiri penjaminan atau memperbaharui.
Namun perlindungan pemerintah tersebut bukan makan siang gratis. Perusahaan manajemen investasi (PMI) yang mengajukan permohonan akan dikenai premi penjaminan yang besarnya antara 0,01% dan 0,015%. Vanguard, sebagai contoh membayar premi sebesar USD1 untuk setiap aktiva senilai USD10.000 yang dipegangnya ketika pengelola RDPU itu berpartisipasi dalam program penjaminan.
Biaya ini akan diambil dari NAB yang ada, yang menggunakan dana nasabah. Pemodal akan membayar premi penjaminan, meskipun pemungutannya dilakukan terhadap reksa dana yang mengajukan aplokasi program penjaminan.
Jika ada RDPU yang mencatat broke the buck, jaminan diharapkan akan menghilangkan niat investor untuk secara tergesa-gesa menarik dananya dan dengan demikian mencegah fund managers dari menjual aktiva saat harga kurang menguntungkan.
Keputusan untuk membatasi program penjaminan pada akhir hari bisnis 19 September berasal dari kekhawatiran yang disuarakan ICI ke Depkeu AS atas potensi peralihan dana. Pada waktu itu, banyak pemodal institusional, yang memegang hampir dua-pertiha aktiva di RDPU, telah memindahkan uang dari RDPU umum ke RDPU yang lebih spesifik, yakni yang berinvestasi di efek utang terbitan pemerintah berjangka pendek.
Depkeu menyatakan optimis bahwa dengan dana USD50 miliar cukup untuk melindungi asset RDPU sebsat USD3,4 triliun. Keyakinan ini didasarkan karena tiga alasan:
Pertama. gelombang redemsi dan persoalan lain yang dihadapi RDPU utamanya disebabkan oleh kurang aktifnya pasar uang, khususnya pasar untuk efek beragun asset dan efek terbitan badan yang disponsori negara, yang dalam kondisi normal akan aman. Kedua, bank sentral AS, Federal Reserve, telah mengambil berbagai langkah untuk meningkatkan liquiditas. ketiga, RDPU diatur sangat ketat oleh lembaga pengawas AS, SEC dan beroperasi di bawah persyaratan ketat untuk likuiditas efek, kelaikan kredit emiten, dan diversificasi aset.
Jika sebuah RDPU yang digaransi tidak mampu menjaga NAB/UP tetap bernilai USD1.00 NAV, dan sponsornya memilih untuk tidak memberikan dukungan kredit, pengelola RDPU tersebut akan melaporkan ke program pemjaminan untuk melikuidasi RDPU tersebut. RDPU tersebut akan ditutup dan dilikuidasi. Program jaminan Depkeu akan membayar RDPU tersebut sebesar perbedaan antara USD1.00 NAV dalam 30 hari. Selanjutnya, RDPU tersebut yang akan membayarkan ke pemodal.
Asuransi dibayarkan untuk menggunakan dana $50 miliar Exchange Stabilization Fund, which was established in 1934. While fund companies are paying to participate in the insurance, costs will be passed along to consumers — possibly resulting in decreased yields. Depending on their size, fund companies have bought into the program at a cost of either 0.01% or 0.015% of assets. That cost will be passed on as a fund expense, which “may result in a modest increase in a fund’s expense ratio,” the company says.
Selain menawarkan program penjaminan, pemerintah federal AS melalui SEC berencana untuk merombak total Aturan 2a-7. “RDPU selama ini sudah stabil,” ujar Andrew J. Donohue, director SEC divisi MI, dalam sambutannya di depan angota ICI awal Oktober. “Modelnya akan ditingkatkan. Tujuan stabilitas, likuiditas, dan pendapatan kadang-kadang bisa berkonflik satu sama lain.”
Sebenarnya, tambah Donohue, “ada tiga kelompok pemodal RDPU: peredeem, pembeli dan pemodal. Adalah mudah untuk memberi penekanan pada saat stress pada satu tujuan pertama, dan bukan semua tujuan. Aturan 2a-7 harud dipikirkan ulang, meskipun aturan itu telah bekerja dengan baik selama 37 tahun.”
Salah satu kemungkianannya adalah merancang berbagai tipe RDPU yang bermaksud mencapai satu tujuan secara terpisah, tambah Donohue. SEC juga akan menetapkan satu batasa untuk redemsi. “Pemodal lembaga dapat menggerakkan banyak sekali uang. Hal ini dapat menimbulkan kerugian bagi para pemodal lain. Salah satu kelemahan dari Aturan tentang RDPU adalah tidak adanya “fokus nyata pada likuiditi,” ujar Donahue. d.
Keterbukaan dan risiko adalah bidang lain yang akan ditinjau ulang oleh SEC, dengan tujuan memberikan “informasi yang lebih baik dan tepat waktu tentang RDPU dan komposisi portofolio investasinya.” Akhirnya, SEC juga akan memeriksa apakah NAB USD1 atau NAB USD10 yang menjadi model harga yang lebih efisien; menjamin adanya simpan-pinjam efek yang berlangsung secara teratur pada saat pasartertekan untuk memberikan tambahan likuiditas; dan apakah kekuasaan dan pengawasan SEC diperluas kea kun manajemen kas yang selama ini tidak diatur dan baru-baru ini mengalamikendala investasi dan likuiditi yang sama seperti RDPU.
Sasaran Pemerintah bukan untuk mengambil alih pasar bebas tetapi menghapus “ekses dari masa lalu dan memulihkan ekuilibrium” melalui “pengawasan pengaturan yang berimbang,” kata Anthony Ryan, yang bertindak atas nama sekretarus keuangan domestic di Depkeu AS. Harapannya adalah merekayasa ulang pasar modal dan mengaturnya secara seksama sehingga pasar modal kembali bekerja secara kompetitif, inovatif dan efisien.
Menurut Ryan, Depkeu AS juga bermaksud untuk memperbaiki aturan dan struktur yang sudah ketinggalam zaman. “Mengingat keragaman pelaku pasar, inovasi konstan oleh praktisi pasar, semakin rumitnya instrument finansial dan konvergensi keperantaraan finansial dan platform perdagangan— semua dalam konteks global maka membangun sebuah struktur regulatori yang lebih kokoh dan lincah adalah sangat penting.”

0 Responses to “Bila RDPU Tak Lagi Aman”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: