Harga Minyak, pertumbuhan ekonomi dan tata internasional

Sejarah mengajarkan bahwa kenaikan harga minyak adalah teman akrab resesi ekonomi. Keduanya berjalan searah. Ketika terjadi guncangan minyak pada 1973, ekonomi dunia tumbuh 2,2 persen. Pada 1979, ketika OPEC melakukan embargo minyak ke negara-negara pendukung pelengseran Shah Iran, ekonomi dunia hanya tumbuh 2,2 persen.
Menurut konsensus pelaku ekonomi dunia, resesi terjadi jika ekonomi global tumbuh di bawah 2,5% setahun. Sedangkan pertumbuhan di kisaran 2,6% dan 3.6% sering disebut sebagai “danger zone” — zona di bawah rata-rata dan di atas resesi.
Ketika harga minyak memuncak menjadi USD147,3 pada 11 Juli 2008, banyak kalangan memperkirakan datangnya lagi resesi global. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya 0,5%, turun dari sekitar 3,2% pada 2008.
Komentator global mengemukakan bahwa resesi tahun ini terasa lebih tajam daripada yang sudah-sudah karena beberapa alasan. Pertama, kondisi rawan. Dalam kondisi ekonomi normal, kenaikan harga tidak begitu menimbulkan masalah. Tetapi, jika terjadi saat daya beli lemah, kenaikan harga barang akan menurunkan konsumsi, yang pada gilirannya menurunkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Bahkan beberapa ekonom berpendapat bahwa lonjakan harga minyak saat ini bisa menyebabkan gejala ekonomi yang disebut stagflasi, yakni kondisi ketika laju inflasi tinggi disertai dengan penurunan pertumbuhan ekonomi.
Seperti kita ketahui, puncak harga minyak terjadi ketika ekonomi global sedang dilanda bencana tsunami keuangan yang episentrumnya adalah industri jasa keuangan di AS. Mula-mula tsunami ini menggerogoti AS, negara dengan ekonomi terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 21%, dan kemudian merambat ke Eropa dan negara maju lain. Pada 2009, ekonomi di negara maju diperkirakan banyak yang mengalami kontraksi ekonomi.
Kedua, dan alasan yang lebih kuat adalah, semakin banyak yang mempengaruhi kenaikan harga minyak. Faktor tersebut mulai dari gangguan produksi, kenaikan biaya pengolahan dan distribusi, perubahan kurs karena melemahnya USD yang menjadi satuan harga minyak, isu geopolitik, laporan keterbatasan pasokan, dan spekulasi yang berupaya aksi spekulan. Kebijakan pemerintah soal harga BBM kepada konsumen langsung juga bisa mempengaruhi permintaan.
Kenaikan harga minyak akan membuat harga barang lebih mahal. Ini karena minyak masih merupakan sumber energi utama dunia. Sedangkan energi adalah sumber daya yang mutlak diperlukan dalam mengeksploitasi sumber daya lain. Energi juga sangat dibutuhkan dalam transportasi baik barang maupun manusia.
Sebenarnya BBM diperdagangkan di dunia secara terbuka dan harganya sama. Namun harga yang dibayar konsumen berbeda dari satu negara ke negara lain. Beberapa negara mengenakan pajak tinggi untuk konsumsi BBM, sebaliknya beberapa negara penghasil minyak memberikan subsidi.
Banyaknya determinan harga minyak ini membuat harga menjadi sulit diprediksi. Analis komoditi, pejabat pemerintah dan bahkan gubernur OPEC meleset ketika membuat prediksi harga minyak. Harga minyak sering diibaratkan sebagai loosing ball dalam permainan basket, tidak terkendali dan gerakannya tidak menentu; atau wildcard dalam poker, yang sulit ditentukan nilainya.
Ketidakpastian harga minyak ini sering kali membuat pemerintah dan pelaku usaha sulit dalam membuat anggaran belanja, dan keputusan investasi. Jika belanja, investasi dan penggajian terhambat, aktivitas ekonomi pun akan terhambat.

Tata Internasional baru
Ilmuwan Politik AS George Friedman Dalam tulisannya, “The geopolitics of $130 oil” memprediksi bahwa ke depan harga akan berfluktuasi tetapi harga harga akan tetap lebih tinggi dari angka sebelum ada lonjakan apda 2004. Ini mengingat terus tumbuhnya permintaan dan cadangan yang masih meragukan. Kalau asumsi ini benar, maka dunia akan membentuk rezim geopolitik keempat sejak Perang Dunia II. Tiga rezim geopolitis sebelumnya adalah:
Pertama, Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Pada rezim ini fokusnya adalah keseimbangan militer antara kedua negeri, khususnya dalam keseimbangan nuklir. Selama periode ini, semua negara, dengan satu dan lain cara, mendefinisikan perilaku mereka dalam pengertian persaingan antara AS-US.
Kedua, ambruknya Dinding Berlin pada 1989 sampai peristiwa serangan teroris atas AS pada 11 September 2001 atau yang sering disebut 9/11. Selama rezim ini pusat perhatian dunia adalah pada pembangunan ekonomi dan kekuasaan politik-militer menjadi sekunder sedangkan kekuasaan ekonomi menjadi paling utama. Dalam periode inilah negara-negara komunis melakukan redefinisi perekonomian mereka, perekonomian Asia tumbuh dan kemudian kolaps, serta China tumbuh dramatis.
Ketiga, periode dari 9/11 sampai saat ini yang ditandai dengan semakin rumitnya perang AS melawan jihadist. Perang ini telah menggantikan dan meredefinisikan tata international secara dramatis. Menurut Friedman dampak Perang AS-jihadist pada tata internasional akan berkurang karena kehilangan dinamisme mengingat konflik ini tidak menarik negara baru ke dalamnua. Kedua, perang itu akan menjadi realitas yang sifatnya endemic dan tidak menimbulkan krisis global.
Dasar pemikiran dari munculnya rezim geopolitik keempat, papar Friedman, adalah karena keterkaitan antara uang dan kekuasaan. Kekayaan akan menciptakan kekuasaan politik dan militer, seperti halnya kekuasaan politik dan militer akan menciotakan kekuasaan ekonomi. Melonjaknya harga minyak akan memicu pergeseraan kekuasaan ekonomi yang pada gilirannya menciptakan perubahan tata internasional.
Menurut Friedman, rezim keempat ini masih belum jelas bentuknya karena sedang proses pembentukan. Yang jelas, tegasnya, dalam proses ini kekuatan yang akan muncul adalah negara yang mengekspor minyak dan menghasilkan uang yang jauh lebih besar daripada yang mereka butuhkan di dalam negeri. Venezuela, Indonesia dan Nigeria mungkin menerima manfaat dari kenaikan harga minyak, tetapi mereka menggunakan uangnya hasil penjualan minyak. Arab Saudi dan beberapa negara Teluk hanya membutuhkan sebagian petrodollar untuk kebutuhan domestik. Kini mereka memiliki petrodollar yang lebih dari cukup untuk banyak hal mulai dari mencapai stabilitas politik domestic, sampai mempengaruhi pemerintahan regional dan system ekonomi global. Kemampuan mengekspor dalam kondisi seller’s market seperti ini tidak hanya meningkatkan kemakmuran tetapi juga kemampuan untuk memaksa. Kemampuan untuk menentukan kemana mengekspor minyak berarti merupakan kekuasaan politik.
Sementara itu negara pengimpor minyak, termasuk negara maju sekarang, akan menurun pengaruhnya.

0 Responses to “Harga Minyak, pertumbuhan ekonomi dan tata internasional”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: