Mengikuti Gelombang Syariah Dunia

Sedikitnya 90% dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) senilai IDR4,699 triliun yang dijual pemerintah Agustus 2008 lalu dibeli oleh lembaga keuangan konvensional. Seperti dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rangka penerbitan SBSN Perdana pada 26 Agustus lalu, hal itu menunjukan investor tidak melihat jenis obligasinya, melainkan murni memperhitungan imbal hasilnya.
Ini tidak mengherankan. Fakta tersebut menegaskan tren yang terjadi di Asia Tenggara sebagaimana laporan Reuter pada tahun 2006 yang menyatakan bahwa kebanyakan asset syariah dipegang oleh non-muslim. Bahkan menurut laporan tersebut, di Malaysia, pusat keuangan syariah terbesar di Asia, kebanyakan pengguna layanan keuangan syariah adalah orang-orang yang tidak peduli jika investasi mereka patuh syariah Islam. Mereka masuk karena semata-mata bottom-line. Terutama karena perlakukan pajak, pada akhirnya, mereka mendapatkan manfaat yang lebih baik dari Keuangan Syariah daripada keuangan konvensional.
Dari sini, pandangan bahwa prospek keuangan syariah di Indonesia sangat cerah karena mayoritas penduduknya adalah muslim adalah sesat nalar. Kalau ada pelaku pasar yang menjadikan kesimpulan yang salah nalar ini sebagai pijakan untuk menggarap pasar, maka itu hanya akan membawa kekecewaan. Upaya untuk meningkatkan volume bisnis syariah haruslah ditujukan untuk para bottom line seekers. Mereka ini bisa non-muslim, bisa juga muslim.
Dari sudut pandang yang sama, maka rencana penerbitan sukuk pemerintah berdenominasi valuta asing yang akan ditebitkan pemerintah Oktober atau November tidak akan ada yang istimewa. Pemodal akan tetap mengharapkan yield yang kompetitif, mengingat soverign risk kita. Dengan demikian, keunggulan sukuk pemerintah syariah hanyalah dari segi keragaman pemodal. Sebagian dari pembeli mungkin pengusaha-pengusaha bersurban, yang karena keyakinannya enggan masuk ke sukuk pemerintah konvensional.
Tetapi itu baru kemungkinan. Beberapa hal dapat membuat harapan pemerintah untuk menarik masuk petrodollar tidak tercapai. Pertama, saat ini Dubai, satu dari tujuh kesultanan di Uni Emirat Arab, sedang mengembangkan diri menjadi hub keuangan syariah dunia. Untuk mendukung ambisi ini, Dubai diberitakan sedang berusaha mati-matian untuk menarik kembali petrodollar senilai USD1 triliun yang selama ini diinvestasikan di seluruh dunia. Kedua, ada kemungkinan Indonesia harus bersaing dengan United Kingdom (UK), sedang bersiap-siap untuk menerbitkan governmen sukuk. Kalau rencana ini terealisasi, maka UK akan menjadi negara Barat pertama yang menerbitkan sukuk pemerintah. Seperti Indonesia, pemerintahan United Kingdom (UK) ingin menarik dana Timur Tengah.
UK, atau tepatnya London, saat ini menjadi salah satu hub keuangan syariah di Eropa. Posisi ini diperkuat Maret lalu ketika pemerintah Bahrain memilih untuk mencatatkan sukuk pemerintahnya yang kedua senilai USD350 juta miliar di bursa efek London (LSE). Kerajaan di Telul ini mencatatkan sukuknya yang pertama di bursa efek Luxembourg pada 2004. Bahrain dipilih karena reputasi London. Emisi efek akan dapat menarik lebih banyak investor, khususnya di Eropa, jika efek tersebut dicatatkan di London. Benar. Lebih dari separoh emisi dibeli oleh pemodal Eropa dan sisanya dibeli oleh bank-bank yang berbasis di Timur Tengah. Dengan sovereign rating sekarang, maka “tawaran” Indonesia tidak lain adalah premi yield.
Salah satu kondisi yang mendukung Indonesia saat ini adalah kondisi pasar keuangan syariah internasional yang saat ini digambarkan sedang dalam periode keemasan dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Saat ini keuangan syariah menjadi buzzword di banyak pusat keuangan dunia saat ini.
Salah satu yang menggemakan buzzword tersebut adalah Moody’s Investors Services yang baru-baru ini merilis laporan tentang industri keuangan syariah Bertajuk, Frequently Asked Questions: Notable Trends in Global Islamic Finance, laporan itu antara lain menyatakan bahwa negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Gulf Cooperation Council (GCC) , demi mengimbangi sector swasta yang selama ini mendominasi bisnis keuangan syarah, telah mulai masuk ke pasar. Semakin banyak negara GCC yang menjadi mitra strategis di lembaga keuangan syariah (Islamic financial institution, IFI). Sebagai contoh, pemerintah Dubai kini memiliki saham pengendali di Noor Islamic Bank (NIB). Didirikan pada 2007, NIB bertekad akan menjadi IFI terbesar di dunia dalam lima tahun ke depan. Beberapa dana pension pemerintah memiliki 30% saham di Alinma Bank di Arab Saudi.
Menurut laporan ini, masuknya negara sebagai pemain akan mebuat lembaga keuangan syariah lebih mudah diterima masyarakat. “Jika pemerintah meningkatkan kepemilikannya di lembaga keuangan syariah, risiko nasabah memandang IFI tidak taat syariah agak berkurang,” ungkap laporan itu, yang juga menyatakan bahwa nilai bisnis syariah internasional saat ini adalah USD700.
Studi lain memperkirakan bahwa aktiva lembaga keuangan syariah dunia akan tumbuh 25% setahun sehingga menjadi menyentuh angka USD1,4 triliun pada tahun 2010. Arab Saudi, Malaysia dan UEA sementara memimpin masing-masing secara berurutan menguasai pasar 20%, 19%, dan 18%. Negara-negara lain seperti Bahrain, Qatar dan Turki masing-masing menguasai sekitar 9%, 4% dan 3% dari pasar. Indonesia belum masuk liga utama ini.
Menurut Moody’s, dari semua jenis layanan syariah, sukuk merupakan layanan yang paling cepat pertumbuhannya. Nilai sukuk tumbuh eksponensia dari hanya USD0,3 miliar pada 2000 menjadi USD47 miliar pada 2007 dan diperkirakan akan menjadi USD100 miliar menjelang akhir tahun 2008 dan menjadi USD200 miliar pada tahun 2010.
Semakin banyak negara yang menggara pasar ini. Di Eropa ada upaya dari Prancis untuk menjadikan Paris pesaing London, sebagai pusat keuagan syariah Eropa. Juli 2008 lalu Perancis mengumumkan kesiapannya untuk membereskan kendala yang menghambat keuangan syariah. Bahkan Menteri Keuangan Perancis Christine Lagarde telah memberikan briefing ke sejumlah pemodal dari Teluk bahwa mereka akan disambut dengan baik di Paris seperti mereka disambut di London atau di pusat keuangan lain.
Di asia, setelah Hong Kong dan Singapura masuk ke gelanggang syariah kini Jepang sudah menunjukkan minatnya. Hal ini terlihat pada Februari 2008 lalu, ketika berlangsung symposium mengenai perkembangan keuangan syariah di Tokyo yang diselenggarakan oleh Nikkei Inc. Siposium yang diikuti pejabat pemerintah dan swasta dari seluruh dunia itu dibuka oleh Gubernur bank sentral Jepang Toshihiko Fukui. Di mana posisi Jepang ke depan? Kini otoritas keuangan di Jepang sudah mengakui potensi bisnis syariah dan sedang mengupayakan amandemen UU Perbankan untuk memberi jalan bagi bank di Jepang berbisnis di layah syariah. Selama pemerintah melakukan amandemen, sektor swasta sudah mulai berrgerak. Daiwa Asset Management misalnya baru-baru ini menerbitkan ETF syariah dengan nama Daiwa FTSE Shariah Japan 100 di bursa efek Singapura.
Di tengah maraknya perkembangan ekonomi syariah muncul sebuah tulisan bertajuk The Fifth Generation Warfare oleh Dr. Rachel Ehrenfeld and Alyssa A. Lappen, yang menggambarkan Islamic finance sebagai “fifth-generation warfare (5GW). Intinya, kedua penulis menganggap perkembangan keuangan syariah selama ini merupakan fondasi and major funding source for the political, economic, and military initiatives of the global Islamic movement. “Shari’a finance is a new weapon in the arsenal of what might be termed fifth-generation warfare (5GW),” tulis kedua pakar tersebut.
Pandangan seperti ini perlu mendapat perhatian. Mungkin memang ada kelompok yang khawatir kalau keuangan syariah terlalu kuat, entah karena alasan ideology, atau alasan ekonomi. Di mana-mana pemain yang mapan tidak ingin terganggu. Maka sungguh naïf tanggapan Editor Global Islamic Finance Center, situs keuangan syariah Malaysia (http://gifc.blogspot.com/2008/07/fifth-generation-warfare-islamiphobia.html) atas pandangan seperti yang dikemukakan Ehrenfelt dan Lappen tersebut. Menurutnya, orang yang percaya bahwa keuangan syariah merupakan ancaman bagi Barat/AS perlu mendapat bantuan segera dari psikiatris.

0 Responses to “Mengikuti Gelombang Syariah Dunia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: