The End of Financialization

Jumat, 17 Agustus 2007. Sebanyak 21 pemodal paling berpengaruh di Wall Street berkumpul untuk makan siang di rumah George Soros, di Southampton, Long Island, AS. Seperti yang dilaporkan Financial Times (30/1/2009), tamu-tamu Soros mencakup Julian Robertson, pendiri hedge fund Tiger Management; Donald Marron, mantan CEO PaineWebber dan kini bos Lightyear Capital; James Chanos, presiden Kynikos Associates, hedge fund dengan spesialisasi melakukan short sale saham; dan Byron Wien, chief investment strategist di Pequot Capital.
Sambil menyantap ikan bass, salad buah dan roti, para pemodal kakap itu membahas topik tunggal: apakah akan ada resesi. Mereka berkumpul setelah guncangan pertama dari gejala yang kemudian dikenal sebagai global credit crunch telah terasa beberapa minggu sebelumnya, ketika bank Perancis BNP Paribas membekukan redemsi dari tiga reksa dana yang dikelolanya dan bank-bank sentral mulai menyuntikkan likuiditi ke pasar uang dalam upaya agar tarnsaksi antar bank tetap lancar.
Pada waktu itu para pemodal kakap di atas memiliki konsensus: TIDAK ADA RESESI. Sebuah memo yang ditulis setelah makan siang, Wien, yang lama berteman dengan Soros, berbunyi: “Kesimpulannya adalah bahwa mungkin akan ada perlambatan ekonomi dan koreksi di pasar, tetapi tidak akan ada resesi atau bear market.”
Ada dua orang yang sebenarnya tidak sepaham dengan konsensus itu. Salah satunya adalah Soros, yang berusaha meyakinkan bahwa krisis keuangan global — yang telah dia ramalkan secara premature enam tahun sebelumnya – akhirnya telah berlangsung. Atas keyakinan ini, pada 2003 Soros mengubah kebijakan investasi hedfund kelolaannya, Quantum Funds menjadi “kurang agresif” dan mengubah namanya menjadi sebuah “endowment fund” yang menyerahkan dana kelolaan ke fund manager eksternal.
Kita mengetahui ada resesi di negara maju dan kita merasakan imbasnya sekarang. Pada Desember 2008, Biro Riset ekonomi Nasional (NBER) AS menyatakan bahwa AS sudah dalam resesi sejak Desember 2007 dan terus menurun dan belum ada tanda akan berakhir. Pada Januari 2009, pemenang Nobel ilmu Ekonomi Paul Krugman menulis bahwa resesi ini tampak seperti awal Great Depression kedua.
Resesi umumnya didefinisikan sebagai penurunan aktivitas ekonomi di banyak sektor yang secara agregat tercermin dari penurunan pertumbuhan ekonomi selama beberapa bulan, ada yang mendefinisikan perlambatan ekonomi selama dua triwulan. Di AS, lokomotif ekonomi dunia, resesi ditandai dengan peningkatan pengangguran dan gejala lain seperti anjlognya harga saham, dan tumbangnya banyak perusahaan jasa keuangan yang kemudian dilikuisisi, diakuisisi atau dinasionalisasi pada triwulan IV 2008. Tak pelak, gerbong-gerbongnya pun ikut terjerumus. Sepanjang tahun 2008, harga saham di bursa di seluruh dunia anjlok. Harga saham di negara berkembang seperti Indonesia, malah lebih parah daripada di negara maju. Penurunan paling tajam adalah bursa Reijkavik, (90%) karena negara itu nyaris bangkrut. Pendek kata, resesi di negara maju telah menimbulkan krisis ekonomi dunia.
Sekarang ini tetap menjadi persoalan umat manusia di seluruh dunia untuk menebak seberapa lama resesi di negara maju berakhir. Ada pandangan bahwa resesi sekarang bahkan belum sampai ke level dasar dan ada pandangan bahwa pertengahan tahun ini proses pemulihan akan mulai terjadi.
Menebak kapan resesi di negara maju akan berakhir sangatlah penting karena besarnya pengaruh resesi tersebut pada ekonomi nasional. Namun yang tidak kalah penting adalah melihat ke belakang mengapa resesi terjadi sekarang ini. Kalau bisa, kita mencegah agar hal yang sama tidak terjadi di Tanah Air.
Sebenarnya, seperti dapat dilihat di http://www.wikipedia.com, krisis ekonomi dunia mulai terasa pada Juli 2007 dengan terjadinya apa yang oleh media sebut sebagai “credit crunch” atau “credit crisis”, yakni ketika investor mulai kehilangan kepercayaan akan efek beragun mortgage di AS. Waktu itu TED spread, perbedaan antara suku bunga T-bill bertenor 3 bulan dan level LIBOR dengan tenor yang sama, mulai meningkat tajam. Oleh pelaku pasar uang global, TED spread dipandang sebagai indikator persepsi risiko kredit dalam perekonomian umum dan ini mendorong pemodal menarik dana dari pasar uang. Kondisi ini menyebabkan krisis likuiditi yang mendorong injeksi modal dalam jumlah substansial ke dalam pasar finansial oleh bank sentral AS dan Uni Eropa.
Banyak kalangan menyatakan bahwa akar krisis ekonomi global adalah ambruknya bisnis perumahan AS, akibat banyaknya penyaluran subprime mortgage. Namun analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa subprime mortgage hanyalah pemicu krisis. Krisis subprime mortgage di AS meledak pada saat kondisi sistem finansial AS rapuh karena apa yang disebut gejala finansialisasi.
Secara luas, finansialisasi dapat dipahami meluasnya peran sektor finansial, pasar finansial, aktor finansial dan lembaga fnansial dalam perekonomian domestik dan internasional. Dalam pengantar dalam buku terbitan tahun 2006 Finansialization and the World Economy, editor Gerald A. Epstein menulis bahwa banyak ilmuwan menggunakan istilah itu untuk arti yang lebih sempit: makin dominannya sistem keuangan berbasis pasar modal atas sistem finansial berbasis bank. Ada juga interpretasi sosiologis dan politis soal finansialisasi. Dalam bukunya yang terbit tahun 2006, American Theocracy: The Peril and Politics of Radical Religion, Oil, and Borrowed Money in the 21st Century, penulis dan komentator Amerika Kevin Phillips menampilkan finansialisasi sebagai “sebuah proses di mana layanan keuangan, yang ditafsirkan secara luas, mengambil alih peran dominan ekonomi, budaya, dan politik dalam perekonomian nasional.”
Finansialisasi di AS berakar pada kebangkitan Neoliberalisme dan doktrin pasar bebas Milton Friedman dan Chicago School of Economics, yang memberi basis ideologis dan teoretis bagi peningkatan deregulasi sistem finansial dan perbankan pada awal 1970an. Secara ringkas filsafat Friedman dan Chicago School berbunyi “pasar, kepemilikan swasta dan peran minimal pemerintah akan mencapai kesejahteraan maksimum.” Salah satu pendorong paling penting bagi bangkitnya finansialisasi adalah berakhirnya rezim kurs tetap dalam sistem Bretton Woods dan pencantolan USD ke emas pada Agustus 1971.
Berakhirnya rezim kurs tetap mendorong pelaku pasar berspekulasi di valuta asing sehingga pasar valas melonjak hebat. Di AS, nilai transaksi valas melonjak dari USD110,8 miliar pada 1970, atau 10,7% dari Gross Domestic Product AS, menjadi USD5,449 triliun pada 1980, atau 195,3% dari GDP. Berakhirnya rezim kurs bebas juga mendorong penciptaan Chicago Mercantile Exchange (CME) pada 1972 untuk memperdagangkan, antara lain kontrak berjangka valas. Reksa dana pasar uang (money market fund) pertama di dunia juga diciptakan di AS pada tahun 1971. Pasar financial lain menunjukkan ledakan pertumbuhan. Nilai transaksi di bursa saham AS tumbuh dari USD136,0 miliar atau 13,1% daru GDP AS tahun 1970, menjadi USD1,671 triliun atau 28,8% dari GDP AS pada 1990. Pada 2000, nilai transaksi di bursa saham AS adalah USD14,222 triliun, atau 144,9% dari GDP.
Dengan sistem fiat money – penciptaan uang tanpa dukungan komoditi – maka di AS dan negara lain maka setiap negara secara bebas menciptakan uang kertas. Sebuah riset menunjukkan bahwa bank sentral AS adalah pencetak uang fiat paling besar di dunia. Ironisnya, status AS berubah dari kreditur paling besar di dunia setelah Perang Dunia II menjadi debitur paling besar di dunia saat ini. Utang ini dilakukan bukan saja inidividu dan korporasi, tetapi juga negara.
Menurut Kevin Philips, kekuatan ekonomi terkemuka mengikuti kemajuan evolusioner: mula-mula pertanian, perikanan dan sejenisnya, kemudian perdagangan dan industri dan akhirnya keuangan. Philips menganggap bahwa finansialisasi ekonomi AS mengikuti pola yang sama yang menandai awal kehancuran Kerajaan Habsburg Spanyol abad ke-16, Kekaisaran Dagang Belanda pada abad ke-18, dan Kekaisaran Dagang British pada abad ke-19. Sejarah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi akan mendorong finansialisasi, tetapi ketika finansialisasi sampai ke ujungnya – yakni peran sektor finansial menjadi lebih dominan daripada sektor riel — maka perkembangan berikutnya adalah kehancuran ekonomi.
Akankah dominasi ekonomi AS akan hancur? Negara mana yang akan mendominasi dunia jika AS benar-benar tumbang? China yang sekarang mengalami booming dan menjadi kreditor AS terbesar saat ini?

1 Response to “The End of Financialization”


  1. 1 saefull2007 February 3, 2010 at 2:42 am

    investasi pasarvalas memang menjanjikan bos. main juga ke blog saya ya di http://infopasarvalas.blogspot.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: