Kutukan Sumber Daya Alam

Masuk kantor setelah liburan panjang Lebaran saya mendapati press release dari Forum Solidaritas Masyarakat Peduli Migas (FORTAS-MIGAS) di meja saya. Isinya mengenai sikap lembaga tersebut dalam menyambut rencana pembacaan Amar Putusan Mahkamah Konstitusi RI untuk perkara judicial review Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas Rabu mendatang.

Menurut FORTAS-MIGAS, sebaiknya UU Migas dicabut tanpa syarat dan tak perlu direvisi. Alasannya, UU Migas bertentangan dengan pasar 33 UUD 1945 karena kalau UU Migas diberlakukan maka nantinya penyelenggaraan industri migas akan ditangani oleh mekanisme pasar. Karena persaingan usaha yang sehat, wajar dan transparan sempurna tidak pernah ada, maka mekanisme pasar cenderung akan merugikan masyarakat awam.

Pers release tersebut mengingatkan saya pada tulisan Joseph E Stiglitz,  profesor Ilmu Ekonomi dari Universitas Columbia (AS) yang menerima Hadiah Nobel Ekonomi pada 2001. Dalam artikel tersebut Joseph menjelaskan sebuah gejala yang para ekonom sebut “kutukan sumber daya alam (resource curse)”. Dinamakan begitu karena, secara rata-rata, negara yang memiliki sumber daya alam (SDA) berlimpah mempunyai kinerja ekonomi yang lebih jelek daripada negara-negara yang memiliki SDA lebih sedikit.

Memang, tulis Stiglitz, di kalangan negara yang memiliki SDA berlimpah, beberapa di antaranya berkinerja lebih baik daripada negara yang lain. Stiglitz mencontohkan Indonesia dan Nigeria, dua negara yang perekonomiannya bergantung pada minyak bumi. Tiga puluh tahun lalu kedua negara ini memiliki pendapatan perkapita sebanding. Dewasa ini, pendapatan per kapita Indonesia lebih bagus daripada Nigeria. Hal yang sama juga berlaku di Sierra Leone dan Botswana, dua  negara yang kaya akan intan. Botswana mampu mencapai pertumbuhan ekonomi tahunan 8,7 persen dalam 30 tahun terakhir, sedangkan Sierra Leone terperangkap dalam perang saudara. Banyak negara kaya minyak di kawasan Timur Tengah gagal dalam program pembangunan ekonomi.

Para ekonom mengajukan tiga sebab lemahnya kinerja ekonomi negara yang kaya akan SDA:

Pertama, potensi SDA telah mengarahkan para pemimpin negara tersebut untuk memperoleh bagian lebih besar (daripada pelaku ekonomi lain), bukan memperbesar kue pembangunan. Upaya mereka memperoleh bagian yang lebih besar dari sumber daya alam sering mengarah ke perang saudara.

Kekayaan SDA sering kali mendorong pejabat hanya mencari rente, yakni memberi izin atau dukungan hukum bagi orang luar yang ingin menggarapnya. Bagi pemodal (dari luar) akan lebih murah menyuap pemerintah agar mereka bisa memanfaatkan SDA di negara tersebut dan membeli hasil SDA pada harga di bawah harga pasar daripada mengeluarkan biaya untuk membeli SDA tersebut pada harga pasar. Maka tidak mengejutkan kalau banyak pemodal melakukannya.

Kedua, secara alami harga komoditi hasil SDA umumnya fluktuatif. Dengan demikian mengelola fluktuasi harga SDA adalah pekerjaan sulit. Di sisi lain, para kreditor lebih suka memberikan kredit pada saat kondisi sebuah negara sedang bagus. Tetapi mereka menarik kembali dana mereka saat kondisi negara sedang buruk, misalnya ketika harga komoditi anjlog. Ini seperti adagium lama dalam perbankan: bank hanya meminjamkan uang kepada mereka yang sebenarnya tidak membutuhkan uang. Maka dari itu aktivitas ekonomi di negara yang kaya SDA lebih fluktuatif daripada harga komoditi.

Ketiga, SDA, termasuk minyak, memang bisa menjadi sumber kekayaan, tetapi SDA tersebut tidak secara otomatis menciptakan pekerjaan bagi penduduk setempat. Bahkan SDA bisa berdampak negatif pada sektor ekonomi lain. Sebagai contoh, uang masuk dari penjualan minyak sering mengarah ke apresiasi karensi (currency) negara tersebut, sebuah gejala yang disebut Penyalit Orang Belanda (Dutch Disease). Istilah ini muncul karena ketika Belanda menemukan cadangan minyak dan gas di Laut Utara, jumlah pengangguran di Belanda malah meningkat. Ini terjadi karena penguatan tajam mata uang Belanda akibat ledakan minyak, membuat produk produk manufaktur dan pertanian dari negara tersebut tidak kompetitif di dalam dan di luar negeri. Akibatnya ekspor melemah melemah dan produk domestik kalah bersaing dengan serbuan barang impor.

Kekayaan alami yang berlimpah sering menciptakan negara kaya tetapi penduduknya miskin. Dua pertiga rakyat Venezuela, negara dengan kandungan minyak terbesar di dunia, hidup dalam kemiskinan. Belakangan penduduk miskin tersebut menuntut agar sekelompok kecil penduduk, yang menikmati manfaat dari minyak, mulai berbagi keberuntungannya. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan Botswana. Proses pengambilan keputusan yang demokratis, berdasar mufakat dan transparan di Botswana memungkinkan kekayaan di negara tersebut dibelanjakan dengan benar dan terbagi secara lebih merata.

Beberapa negara, termasuk Indonesia dan Nigeria, menyisihkan dana dari hasil penjualan komoditi SDA untuk mengurangi fluktuasi pembangunan ekonomi. Tetapi kedua negara tidak bisa melawan bujukan kreditor yang diberikan pada tahun-tahun bagus, sehingga fluktuasi pembangunan ekonomi terus saja terjadi. Selain itu, Dutch Disease, merupakan konsekuensi yang lebih sulit diatasi, setidaknya oleh negara-negara miskin. Pemerintah Indonesia, misalnya, menggunakan durian runtuh (windfall profit) dari kenaikan harga minyak pada dekade 1970-an untuk membiayai program ekonomi rakyat. Beberapa negara Arab sukses mengelola windfall profit, yakni dengan menempatkan hasil penjualan minyak tetap berada di luar negeri dan membawa masuk secara bertahap beebrapa tahun kemudian. Kegagalan Indonesia dalam mengelola windfall profit, saya kira, terlihat dari banyaknya akun bank rahasia milik segelintir orang yang memfasilitasi korupsi dan merongrong pembangunan.

Tulisan Stiglitz menunjukkan menunjukkan bahwa kekayaan alam yang berlimpah tidak selalu berarti kutukan. Sepanjang dikelola dengan baik dan benar, SDA bisa menjadi berkah seperti yang terjadi di Botswana. Tulisan Stiglits juga menunjukkan bahwa dalam mengelola SDA, sedikitnya Indonesia lebih baik daripada Nigeria sekaligus menunjukkan kepada kita apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki cara kita mengelola SDA yang berlimpah.

Terkait dengan press release dari FORTAS MIGAS, para pengambil keputusan perlu mengkaji kembali apakah liberalisasi di sektor migas – dan sektor SDA lain — akan meningkatkan kutukan atau mampu mengubah kutukan menjadi berkah. Saya yakin satu hal: liberalisasi akan memberi berkah mereka yang siap bersaing. Persoalannya, apakah liberalisasi juga membawa manfaat bagi masyarakat dan apakah kita sudah siap bersaing dari segi permodalan, teknologi dan sumber daya manusia dengan pemain asing?

0 Responses to “Kutukan Sumber Daya Alam”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: