Teka Teki Karensi

Langkah China untuk memindahkan sebagian cadangan devisanya keluar dari US telah menyulut perang karensi. Bagaimana kelanjutannya? Professor Nouriel Roubini memaparkan apa mungkin terjadi ke depan.

Sejak awal 1980an, pemerintah US mempunyai kebijakan untuk menjaga karensinya (USD) kuat. Kalau USD kuat, daya belinya meningkat. Karena kebijakan itu pula saat ini sekitar 60% cadangan devisa internasional tersimpan dalam efek pemerintah US. Namun, selama beberapa tahun ini US mengharapkan agar USD tidak terlaku kuat, khususnya terhadap mata uang China, renmimbi (Kode ISO 4217: CNY, Chinese Yuan). Yuan adalah satu satuan renmimbi, yang setara dengan pound, satuan mata uang UK, Sterling (Kode ISO GBP). Bahkan, US telah berupaya keras agar CNY menguat terhadap USD.

Jelas, defisit perdagangan bilateralnya dengan China sikap mendorong aksi US tersebut. Memang, sejak 1990an China mencetak surplus perdagangan dan mampu mengakumulasi cadangan devisa besar, hingga  sebesar USD3 triliun saat ini. Di banyak negara, termasuk Indonesia pada saat boom minyak pada 1970an, banjir masuk devisa cenderung mendorong inflasi dan penguatan mata uang. Di China tidak. Dengan mematok (peg) CNY dengan USD sejak 1997-2005 dan mengontrol lalu lintas devisa, masuknya devisa tidak berdampak inflasionari. Akibatnya produk China tetap kompetitif sehingga ekspornya terus tumbuh.

Capaian China meresahkah US, yang mencatat deficit perdangan dengan China. Politisi US menilai CNY undervalued menurut ukuran purchasing power parity. Dan itu merugikan US. Menuduh China tidak wajar dengan kebijakan kurs lemah, US menekan agar CNY menguat terhadap USD. Atas tekanan US ini, China mengambangkan CNY pada Juli 2005. Akibatnya CNY menguat sekitar 20% terhadap USD dari Juni 2005 sampai Agustus 2008. Namun, khawatir tentang dampak negatif krisis finansial global terhadap ekspornya, China re-peg karensinya ke USD sejak Juli 2008. Hasilnya, CNY stabil terhadap USD, dan ekspor terus meningkat meskipun tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun secara resmi mengambangkan CNY, Negeri Panda ini menjaga kurs mata uangnya kompetitif dengan membatasi transaksi valas. Sejak Januari 2010 penduduk China membatasi penukaran mata uang sampai USD50.000 dan penukar harus datang ke bank untuk menyerahkan identitas. Meskipun CNY ditransaksikan di bursa berjangka, penyelesaiannya berlangsung tunai dengan kurs yang ditetapkan People’s Bank of China  (PBC), bank sentral China.

Dengan alasan bahwa lemahnya renminbi menyumbang ketimpangan global saat ini, US kembali menekan China agar mata uangnya menguat. Atas desakan ini, pada 19 Juni 2010, PBC menyatakan telah mengambangkan lagi CNY. Kabar ini disambut hangat pemimpin dunia termasuk Barack Obama, yang menyebut langkah itu konstruktif dan membantu penulihan ekonomi global. Namun, sampai awal November 2010, apresiasi CNY terhadap dollar sangat tipis. (lihat grafik). Tampaknya China keukeuh dengan posisinya, yakni menghindari dampak negatif penguatan CNY pada ekspor dan penyerapan tenaga kerja China. Apalagi, akibat krisis finansial global, pertumbuhan ekspor China pada 2009 melamban 34% dari angka 2008. Pada tujuh bulan pertama 2010, surplus perdagangan China adalah USD84 miliar, turun 21,2% dari level Januari-Juli 2009.

Bagi China, dan Negara lain, cadangan valas tidak hanya menjadi buffer menghadapi defisit perdagangan, tetapi juga dikelola untuk mengejar return maksimal. Untuk memitigasi risiko, China menyimpan devisanya dalam sekeranjang basket karensi, termasuk Yen Jepang dan Won Korea. Nah, salah satu langkah China dalam mencegah penguatan USD terhadap CNY adalah dengan memindahkan sebagian cadangan valasnya dari USD ke JPY dan WON. [Kalau membeli USD maka nilaiUSD dapat menguat CNY]. Aksi tersebut mendongkrak nilai JPY dan WON dan ini menganggu daya saing kedua Negara. Akhirnya Jepang dan Korea mengintervensi pasar dengan terus membeli USD agar karensi mereka tetap rendah.

Faktor US-China

Dalam tulisannya, Only the Weak Survive, untuk project Syndicate, Nouriel Roubini menulis bahwa reaksi Jepang dan Korea atas aksi China merupakan tembakan pertama yang menandai terjadinya perang karensi. Menurut Roubini, Professor di Stern School of Business di NYU, US, perang tersebut terjadi setelah gagalnya upaya global rebalancing oleh Negara yang mengalami deficit neraca berjalan seperti US di satu sisi dengan negara yang kelebihan simpanan dan mengalami surplus seperti China, Jepang, dan Jerman. Untuk menuju keseimbangan, Negara deficit perlu menurunkan nilai mata uangnya agar dapat meningatkan ekspor sehingga dapat menurunkan defisit. Di sisi lain, Negara surplus terus menahan apresiasi karensi mereka agar produk mereka tetap kompetitif agar ekonomi terus tumbuh. Mereka ini tidak mampu atau tidak mau mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan konsumsi domestik. Kini ada tarik ulur antara US yang mengalami Negara deficit  dan China yang mewakili negara surplus. Dan keduanya tidak ada yang mau mengalah. Masalahnya tentu saja adalah bahwa tidak semua karensi dapat lemah pada saat yang sama. Selain itu. tidak semua negara dapat meningkatkan ekspor secara bersamaan. Dengan kata lain, perang karensi/dagang bersifat zero-sum game: kemenangan satu Negara berarti kekalahan Negara lain.

Tahap perang berikutnya, papar Rubini, adalah quantitative easing (QE). BoJ sudah mengumumkan langkah itu, Bank of England (BoE) dan Fed hampir pasti akan mengikuti jejak. Dengan QE, pemerintah menurunkan suku bunga hingga hampir mencapai nol dengan menuang likuiditas ke perekonomian. Perang karensi akhirnya mengarah ke perang dagang. Jika China dan Negara surplus lain mencegah apresiasi karensi via intervensi, satu-satunya cara bagi negara defisit mencapai depresiasi adalah melalui deflasi dan menambah utang. Kalau ini terjadi maka akan ada resesi dunia, default utang pemerintah dan swasta di Negara deficit.

Skenario lain

Perseteruan US-China mungkin berakhir seperti yang terjadi pasa perseteruan US-Jepang pada 1980an. Takatoshi Ito, Professor Ilmu Ekonomi di University of Tokyo menulis bahwa pada 1980an, US dan Jepang berselisih soal perkembangan ekspor Jepang, yang menurut US adalah akibat rendahnya kurs JPY terhadap USD. Pada September 1985 Jepang tunduk pada tekanan bersama US, UK, Perancis dan Jerman Barat untuk menjual dollar untuk menurunkan kurs USD Akibatnya nilai Yen membubung dari JPY240/USD1 September 1985 menjadi JPY200/USD1 Desember. Masalah bagi Jepang muncul Maret 1986, ketika nilai JPY terus meningkat mencapai rekor JPY178/ USD1. Jepang menanggapi perkembangan ini dengan menurunkan suku bunga, dan membeli USD. Hasilnya, penurunan suku bunga menghambat arus masuk modal dan aliran USD mendorong inflasi. Ujungnya, Jepang mengalami periode malaise selama dasawarsa yang umum disebut lost decade.

Menurur Joseph E. Stiglitz dalam tulisannya, Unconventional Economic Wisdom, kekhawatiran Ito mungkin terjadi mengingat dilemma US. Untuk mendorong ekonomi, US perlu melemahkan USD. Namun pelemahan USD dapat menyebabkan pemodal lari dari US, yang pada glirannya akan memperlambat ekonomi dan semakin memperlemahg USD. Kebijakan US kemudian adalah menggunakan pedang mata ganda: melemahkan USD dengan memaksa pesaing memperkuat karensi mereka. Biasanya US menggunakan IMF sebagai perpanangan tangan. Namun IMF tidak memiliki kekuasaan atas China atau Negara surplus neraca berjalan lain.

Banyak komentator berpandangan bahwa sikap US terhadap China lebih dari persoalan isu karensi. Pasalnya, apresiasi CNY tidak akan membawa dampak signifikan bagi ketimpangan global. Lantas karena alasan apa? Mungkin US ingin menghambat China agar tidak menggeser posisinya sebagai Negara terbesar di dunia. Dengan pisisinya sebagai negera terbesar kedua, kalau ekonomi China terus tumbuh, sedangkan prospek ekonomi US suram, maka pergeseran posisi tampak semakin mendekati kenyataan.

 

0 Responses to “Teka Teki Karensi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: