Skim Ponzi Merajalela

John Jacob Raskob, Chief Executive General Motors dan kepala Democratic National Committee, pengelola Partai Demokrat AS, menerbitkan artikel bertajuk “Everybody Ought to be Rich” di Ladies Home Journal. Dalam artikel yag terbit pada pertegahan 1929 itu,Raskob menyatakan bahwa warga Amerika dapat menjadi kaya dengan menginvestasikan USD15 seminggu di bursa saham.
Pandangan Raskop merupakan cerminan dari optimisme di AS bahwa booming pasar modal di AS yang mulai terjadi sejak awal 1920an akan abadi. Pelaku pasar modal menyebut periode ini the roaring twenties. Yang mendasari booming pasar modal waktu itu adalah lonjakan tajam laba emiten. Sebagai gambaran, sektor manufaktur AS pawa waktu itu tumbuh pesat dengan industri radio dan otomotif sebagai lokomotif pertumbuhan. Seorang ekonom mencatat bahwa dari 1923-1929 rata-rata output per buruh industri meningkat 32%, sedangkan selama periode yang sama rata-rata upah hanya meningkat 8%. Kondisi ini membuat pasar modal menjadi sangat atraktif bagi masyarakat.
Peningkatan pendapatan pribadi meningkatkan simpanan penduduk AS dan sebagian menggunakannya untuk berinvestasi di saham untuk menambah kekayaan. Maraknya bursa pada pertengahan 1920-an ini mendorong masuknya para spekulan. Masih belum puas lagi, beberapa pialang mengizinkan investor meminjam sebanyak 2/3 dari nilai saham yang mereka ingin beli. Hasilnya harga saham berkembang menjadi gelembung spekulatif karena kenaikan harga saham berada di luar daya dukung faktor fundamental.
Gelembung spekulatif tersebut akhirnya meletus pada 24 Oktober 1929.Mula-mula tidak ada pemodal yang membeli saham yang sudah sangat overpriced. Akibatnya banyak pemodal mulai panik dan menjual efek mereka dan keluar dari pasar sehingga harga saham berjatuhan. Penurunan harga ini mendorong pemodal lain keluar dari pasar dengan harapan mengurangi kerugian, aksi yang menekan harga saham ke bawah lagi. Perlu waktu belasan tahun bagi harga saham untuk pulih, karena ternyata crash bursa saham tersebut diikuti dengan apa yang kemudian dikenal dengan nama Depresi Akbar (great depression).
Sebenarnya minat penduduk AS menjadi kaya yang memacu gelembung spekulatif tidak hanya terjadi di bursa.
Pada periode yang sama berkembang apa yang kemudian dikenal dengan istilah Ponzi Skim. Istilah Skim Ponzi mengacu pada sebuah penipuan investasi di mana pemodal yang masuk lebih awal menikmati hasil tinggi dengan menggunakan dana dari investor yang masuk belakangan. Istilah Skim Ponzi berasal dari Charles Ponzi, pria kelahiran Italia yang tercatat sebagai salah satu penipu terbesar di AS.
Pada tahun 1920 Ponzi menawarkan peluang investasi di perbedaan nilai biaya pos di AS dalam bentuk perangko dan kupon pos di Eropa. Ponzi mengklaim laba bersih dari arbitrase, atau mencari untung dengan membeli aset yang sama dengan harga yang lebih murah di satu pasar dan segera menjual di pasar lain pada harga lebih besar, bisa mencapai 400%. Arbitrase bukan transaksi illegal. Dengan peluang ini Ponzi mampu menghimpun dana sampai puluhan juta USD, yang jauh dari daya dukung bisnisnya. Untuk mencapai omset tersebut Ponzi harus memperdagangkan 160 juta lembar kupon pos, padahal hanya ada sekitar 27,000 kupon pos yang beredar. Selain itu, overhead untuk menangani kupon pos tersebut akan melampaui laba kotor. Hasilnya bisa ditebak, tawaran investasi Ponzi berkembang menjadi gelembung dan kemudian meletus.
Di Florida AS pada periode yang sama juga berkembang gelembung spekulatif di industri property. Pada 1926, tanah yang dapat dibeli dengan harga USD800,000 dapat dalam tempo setahun dijual kembali pada harga USD4 juta sebelum menukik ke level dasar sebelum boom. Pada dasawarsa 1920-an, Florida menjadi pilihan utama bagi penduduk AS yang tidak suka udara dingin. Populasi tumbuh mantap dan perumahan tidak dapat memenuhi pertmintaan, menyebabkan harga membubung, dan dalam beberapa kasus naik 200% dan 300% dalam setahun. Perkembangan ini menarik speculator. Segera banyak sekali orang Florida yang menjadi pemodal atau agen real estate. Ketika kemudian tidak ada lagi “greater fool” yang membeli property yang sudah sangat overhargad, gelembung pun meletus.
Sebelum frase Skim Ponzi populer untuk menyebut skim investasi yang berpola piramida, dunia keuangan menggunakan istilah Tulipomania, yang dipandang sebagai gelembung spekulatif pertama yang tercatat dalam sejarah. Tulipmania atau tulipomania adalah satu periode di Zaman Keemasan Belanda ketika harga kontrak bonggol (bulb) tulip membubung sangat tinggi, sampai 4200 gulden sebelum kolaps tiba-tiba pada Februari 1637. Waktu itu pendapatan seorang buruh terampil di Belanda 300 gulden setahun.
Gelembug spekulatif besar kedua terjadi seabad setelah tulipomania, yakni atas saham perusahaan British South Sea Company pada awal abad ke-18, ketika Britain mengambil alih posisi Belanda sebagai raja di lautan. Pada waktu itu saham South Sea Company sempat diperdagangkan pada harga GBP1.000 sebelum mengalami crash hingga hampir tidak ada harganya. Pada waktu yang hampir bersamaan terjadi gelembung dan crash pada saham perusahaan British lain Mississippi Company.
Setelah itu semakin banyak Skim Ponzi yang dilakukan. Skim ponzi terjadi di perbankan dan fund management, khususnya hedge fund yang longgar aturannya. Skim Ponzi paling besar dari segi nilai dana yang hilang adalah yang dijalankan oleh Bernard Madoff, yang menelan kerugian sebesar USD50 miliar.
Jika Anda mencari data tentang Skim Ponzi di Encyclopedia Encarta, maka ilustrasi yang ditemukan adalah kasus Bank of Credit and Commerce International (BCCI), yang pernah menjadi skandal perbankan terbesar dalam sejarah. Melalui jaringan dan anak perusahaan di 60 negara, BCCI menipu deposan di seluruh dunia dengan membayar bunga kepada nasabah dengan menggunakan simpanan nasabah baru. Skandal BCCI melibatkan banyak tokoh, mulai dari miliuner Arab ke diktator di dunia ketiga dan pejabat teras di pemerintahan AS dan Inggris. Kartunis memelesetkan BCCI menjadi the Bank of Crooks and Criminals International.
BCCI adalah sebuah skema Ponzi karena dana dari lebih satu juta deposan dan sedikitnya 20 bank sentral, kebanyakan di negara sedang berkembang, dipindahkan atau dibayarkan jika perlu untuk menjaga kredibilitas di pasar finansial. Karena banyak dana yang hilang karena penggelapan atau pinjaman macet, deposan yang lambat menarik dana akan menderita rugi karena kas di bank tersebut keburu habis. BCCI kemudian dilikuidasi, dan cabangnya di Hong Kong dibeli Hong Kong Chinese Bank, anak perusahaan Grup Lippo.
Selain sering terjadi, Skim Ponzi juga menyebar ke semakin banyak negara. Di Indonesia Skim mulai terjadi di Indonesia sejak 1960-an dan korban tetap berjatuhan sampai sekarang karena pratik ini berjalan dalam berbagai bentuk dan beberapa di antaranya berkedok bisnis yang kasat mata. Sebagai contoh, pada 1960-an seorang pemilik empang di Parung dan Ciseeng, Bogor, menawarkan kerjasama dengan pemodal di Jakarta, namun ikan yang dihasilkan bernilai jauh lebih kecil daripada modal yang digaet. Banyak orang Indonesia juga menjadi korban Skim Ponzi yang dijalankan oleh PT Gee Cosmos Indonesia, yang melibatkan perdagangan barang-barang yang diiklankan di televisi Jepangseperti arloji, alat kecantikan, olahraga, rumah tangga sampai pembasmi serangga. Nilai investasi minimum dalam proyek ini IDR330.000 dengan peluang keuntungan 130 persen dalam waktu empat bulan, atau minimal modal kembali. Karena tidak bisa memenuhi kewajibannya, GCI diputus pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Skandal Ponzi serupa meledak tidak lama sebelumnya dan menyeret nama mantan orang nomor satu di kepolisian RI, meskipun yang bersangkutan membantah keterlibatannya.
Contoh lain Skim Ponzi di Tanah Air dijalankan PT Qurnia Segar Alam Raya (QSAR), yang menggunakan kedok usaha agrobisnis untuk 17 jenis komoditi dengan pola bagi hasil. Barang dagangan QSAR adalah kebun agribisnis di Sukabmi, Jawa Barat, yang nilainya jauh lebih kecil dibanding modal yang berhasil dihimpun. Dengan menjanjikan hasil investasi sekitar 10 persen sebulan, QSAR berhasil menghimpun sekitar 2.000 individu/lembaga dengan 6.800 akun senilai IDR467 miliar. Pejabat, istri pejabat dan sejumlah jenderal tercatat sebagai investor, termasuk Wakil Ketua DPR dan ketua DPP PPP, Tosari Widjaya yang mengaku investasinya jatuh tempo akhir 2001. Ia juga menanamkan dana PPP sebesar IDR5 miliar dan Induk Koperasi sebesar IDR1,5 miliar ke QSAR. Kunjungan Presiden Megawati, Wakil Presiden Hamzah Haz dan Ketua MPR Amien Rais pasti turut menebalkan keyakinan pemodal.
Cara lain yang digunakan dalam Skim Ponzi adalah dengan memanfaatkan metode pemasaran langsung (direct selling/DS) sebagai kedok. Secara harfiah, DS berarti penawaran produk yang dilakukan dari pintu ke pintu, melalui surat atau telefon dan transaksi yang terjadi berlangsung antara pembeli dan penjual tanpa saluran pemasaran seperti pengecer atau pedagang grosir. Sebagai bisnis, DS menawarkan peluang berwirausaha dan cocok bagi mereka yang berambisi memiliki bisnis sendiri tetapi mempunyai modal pas-pasan. Selain memperoleh komisi, DS melatih ketrampilan sebagai pebisnis: berkomunikasi. Sukses dalam DS tergantung pada kerja keras.
Mengapa Skim Ponzi terus terjadi setelah sekian banyak kasus? Karena selalu ada pemodal baru yang belum pernah mengalami, meskipun ada juga yang terantuk untuk beberapa kali. Hal terbaik yang bisa dilakukan orang untuk tidak turut menyumbang pada penciptaan gelembung spekulatif dan menjadi korban crash yang kemudian menyusul adalah dengan mendidik diri sendiri, selamu mencari informasi mendalam tentang tawaran investasi yang menghampiri.

4 Responses to “Skim Ponzi Merajalela”


  1. 1 Imbun February 9, 2011 at 6:43 am

    Artikel yang bagus dan menambah ilmu, tapi sayangnya kok bahasanya “aneh” yah?
    Kenapa Scheme diterjemahkan jadi Skim (yang sperti jenis susu), bukannya skema?
    Apalagi Ponsi, kan Ponzi nama orang jadi mestinya tidak diterjemahkan. (Kalau nama diterjemahkan seharusnya nama anda jadi Virgin One Cahyono kalau sedang nulis artikel in english… he he … peace)

    • 2 jec February 9, 2011 at 7:09 am

      Terima kasih atas komentarnya Pak. Kata Skim saya pakai karena menurut aturan yang berlaku, kata serapan ditulis seperti bunyinya. Aturan seperti ini juga berlaku di Malaysia. Bedanya di sana tegas penggunaannya, ada universiti, Kod (untuk code). Cuma di sini tidak tegas penerapan perat urannya. Tentang kata Ponsi, bapak benar. Saya salah tulis, yang benar tentu saja adalah Ponzi. akan segera saya ralat pak

  2. 3 luki January 8, 2015 at 1:21 am

    Makin kemari makin keren akema ponzi ini..
    Mudah2an artikel seperti ini bisa mengedukasi masyarakat..hanya satu yg tdk bisa diedukasi dalam investasi

    Greed

    Dan

    Fear

    Salam kenal,
    LK

    • 4 jec January 8, 2015 at 1:38 am

      meskipun greed dan fear sifatnya alami, tetapi bisa dikendalikan. greed dan fear yang tidak terkendali yang berbahaya.
      salam kenal juga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: