Rumah Kartu Amerika

Subprime mortgage di US adalah bagian dari Rumah Kartu Amerika. Maka, meskipun nilai pasarnya relatif kecil, krisis subprime mortgage mampu menimbulkan gejolak di pasar keuangan dunia.

 

Ada saatnya ketika terbukti benar tidak membawa kesenangan. Hal ini dirasakan oleh Joseph Stiglitz, pemenang nobel ekonomi, seperti yang ia paparkan dalam tulisannya berjudul America’s houses of cards untuk Project Syndicate. Dalam tulisannya itu, Stiglitz menyatakan bahwa selama beberapa tahun ia berpandangan bahwa ekonomi AS didukung oleh bubble di sektor perumahan.

(Encarta Dictionary mendefinisikan bubble sebagai lapisan tipis berbentuk bulat yang mengembang kalau diisi udara. Encarta juga mendefinisikan kata itu sebagai “rasa yakin atau aman nan palsu”. Sebagai kata kerja bubble berarti mengembang atau menggelembung).

Kata bubble ini menggambarkan harga rumah di AS yang terus membubung. Menurut Standard & Poor’s/Case-Shiller, indeks harga rumah di AS telah naik dalam pengertian rie (setelah memperhitungkan laju inflasi) sebesar 86% selama periode 1996 ke 2006. Harga rumah mulai turun pada akhir 2007. Sebuah riset menunjukkan bahwa rata-rata harga rumah di AS pada September 2007 turun menjadi USD211,700 dari USD217,000 dua bulan sebelumnya. Pada akhir 2006, harga rata-rata rumah di AS masih sebesar USD230,200.

Sebenarnya Stiglitz sudah lama percaya bahwa tidak ada bubble yang bisa terus mengembang selamanya. “That which is not sustainable will not be sustained,” tulisnya. Apa yang tidak berkelanjutan tidak akan berlanjut. Ia percaya sampai tahap tertentu, orang Amerika tidak akan mampu lagi membeli rumah yang harganya menggelembung.

Namun, sebagai ekonom Stiglitz mengaku tidak tahu kapan “hari penghitungan (day of reckoning) akan tiba. Bahkan ia tidak bisa mengidentifikasi event apa yang akan membuat bubble meletus. Tetapi ia percaya bahwa dampak negatif akan muncul secara bertahap, dan dalam jangka panjang konsekuensinya akan menyakitkan.

Banyak kalangan, setelah melihat adanya crash pasar subprime mortgage Juli 2007, merasa tidak khawatir karena itu hanya persoalan di sektor perumahan. Tetapi Stiglitz percaya bahwa pandangan ini mengabaikan peran kunci sektor perumahan dalam perekonomian AS dalam beberapa tahun terakhir. Stiglitz mencatat, investasi langsung di sektor real estate selama enam tahun terakhir telah membuat harga rumah membubung tinggi. Lonjakan harga rumah memberi orang Amerika keyakinan bahwa harga rumah akan terus naik. Ketika kemudian suku bunga meningkat, harga rumah tertekan. Dan permainan pun usai.

Cerita mikronya lebih dramatis. Stiglitz memaparkan, suku bunga rendah yang berlangsung sepanjang 2001, 2002 dan 2003 tidak mengarahkan orang Amerika untuk berinvestasi lebih banyak. Sebaliknya, uang mudah (easy money) malah memacu perekonomian dengan membujuk rumah tangga untuk melakukan refinancing mortgage mereka, mencari pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama yang  berbunga lebih tinggi.

Langkah refinancing ketika suku bunga menurun menguntungkan konsumen mortgage karena beban bunga mereka lebih rendah. Tetapi seringkali mereka mencari pinjaman yang nilainya lebih besar dari nilai pinjaman lama. Jika mereka menggunakan sisa dana untuk berinvestasi, maka neraca keuangan keluarga AS akan makin kuat. Tetapi tidak. Mereka menggunakan kelebihan dana untuk membiayai liburan atau aktivitas konsumtif lain.

Ini, tulis Stiglitz, tercermin dari tingkat simpanan rumah tangga Amerika beberapa tahun lalu berada di level terendah sejak terjadinya Resesi Akbar (Great Depression) pada awal 1930-an, yakni nol% atau bahkan negatrif. Artinya rumah tangga AS rata-rata lebih besar pasar daripada tiang.

Kemudian bank sentral AS yang khawatir tentang inflasi, mulai menaikkan suku bunga. Pada saat ini orang Amerika mulai menabung, sehingga tingkat tabungan menjadi sekitar 4% setahun terakhir (yang sebenarnya masih tergolong rendah untuk standard normal), permintaan agregat menjadi menurun. Dan dampak lanjutannya, ekonomi juga melemah. Naiknya suku bunga memiliki dampak negatif tersendiri. Banyak nasabah KPR yang kesulitan membayar cicilan.

Kreditur rakus (predatory lenders) kemudian muncul. Mereka menawarkan mortgage jenis baru kepada nasabah KPR yang sudah terjerat utang. Mereka menamakan pinjaman tersebut subprime, istilah baru yang tidak dikenali Encarta Encyclopedia. Tetapi kata itu berarti pinjaman pengganti pinjaman primer. Para lender menyadari bahwa nasabah jenis ini sebenarnya tidak layak menerima kredit. Mama mereka memungut bunga lebih tinggi untuk mencerminkan risiko yang lebih tinggi. Subprime mortgage biasanya memiliki bunga mengambang. Seringkali, predatory lender ini untuk dari biaya pengurusan dan kemudian menyita rumah yang menjadi agunan.

Kini kenyataan menerpa mereka. Media massa melaporkan kasus para peminjam yang pembayaran mortgage yang melampaui penghasilan mereka. Kemudian, globalisasi berperan. Apa yang terjadi di Amerika berdampak ke seluruh dunia. Yang sebenarnya terjadi, tulis Stiglitz, Amerika telah sukses mengemas mortgage bermasalah bernilai ratusan miliar dolar menjadi serangkaian instrumen investasi dan menjualnya ke seluruh dunia. Instrumen investasi itu mencakup derivatif yang semakin jauh dengan underlying assetnya sehingga tidak ada orang tang tahu persis seberapa buruk mereka terpengaruh. Bahkan, tidak ada pelaku pasar yang bisa merevaluasi harga derivatif dengan cepat. Dalam kondisi tidak pasti ini, pasar mengalami crash. Banyak pemodal, termasuk hudge fund dan reksa dana, menjual rugi derivatif yang mereka pegang. Bahkan banyak hedge fund yang ditutup. Sentimen negatif terhadap derivatif berbasis subprime mortgage, merembet ke pasar obligasi dan turunannya.

Tidak hanya itu, untuk menutup kerugian di derivatif ini banyak pemodal mengejar capital gain di bursa saham, termasuk di luar AS. Ditambah dengan aksi jual oleh hedge fund yang ditutup, maka bursa saham di seluruh dunia pun terkena imbas negatifnya. Lembaga di luar AS yang pertama kena dampak negatif krisis subprime mortgage adalah Northern Rock, penyalur KPR di Inggris.

Menghadapi tekanan jual ini, banyak pasar finansial yang percaya akan pasar bebas meninggalkan keyakinannya. Untuk kepentingan bersama, mereka memandang perlu bank sentral AS melakukan bailout. Tentu mereka tidak mengatakan langkah itu demi kepentingan mereka sendiri. Begitu juga, Departemen Keuangan AS (US Treasury) dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang mengingatkan pemerintah negara-negara Asia untuk menolong perusahaan selama krisis moneter waktu itu, mengabaikan ajarannya sendiri tentang efek moral hazard. Kedua lembaha itu membeli mortgage bernilai miliaran dolar dan menurunkan suku bunga.

Menurut Stiglitz, memang masuk akal kalau bank sentral (atau lembaga keuangan bentukan pemerintah AS seperti Fannie Mae) membeli derivatif yang memiliki underlying asset berupa mortgage untuk memberikan likuiditas ke pasar. Tetapi hendaknya mereka membeli secara transparan mereka membeli derivatif tersebut dari siapa agar publik tahu bahwa mereka tidak membayar harga atas keputusan investasi yang dibuat oleh mereka.

Dengan adanya bailout tersebut, banyak lembaga keuangan di AS tidak terpukul secara tajam seperti sebagaimana seharusnya kalau saja mereka tidak dibailout. Tetapi praktik pemberian kredit yang berlaku di AS tersebut merugikan masyarakat AS yang menjadi nasabah predatory lenders. Mereka inilah yang menurut Stiglitz perlu ditolong.

 

Membebani Ekonomo Global

Korban lain dari praktik tersebut adalah penduduk dunia. Sejauh ini dampak negatif tersebut dirasakan oleh komunitas pemodal portofolio di seluruh dunia. Krisis subprime mortgages AS ternyata telah menciptakan kekacauan di pasar keuangan dunia. Banyak perusahaan jasa keuangan yang terkait dengan subprime mortgage yang bangkrut. Banyak perusahaan besar bereputasi baik seperti Citigroup, Merril Lynch, dan UBS AG, terpaksa menelan kerugian dari investasinya di instrumen yang terkait dengan subprime mortgage.

Stephen Jen, managing director dan chief currency economist, dan Charles St-Arnaud, currency strategist, keduanya di Morgan Stanley yang berbasis di London menyatakan dampak krisis mortgage lebih dari itu. Dalam tulisannya untuk Project Syndicate, mereka menyatakan bahwa “biaya langsung” krisis subprime mortgage mungkin tidak begitu besar (sekitar USD100 miliar), tetapi ketidakpastian yang ditimbulkannya telah menyebabkan tekanan di pasar obligasi, pasar uang, pasar saham dan pasar karensi di seluruh dunia. “Tekanan itu jauh lebih kuat daripada dugaan kami semula,” tulis mereka.

Penerbitan collateralised debt obligations (CDO) turun menjadi USD17,3 miliar September, atau hanya seperempat dari rata-rata emisi bulanan dalam 12 bulan terakhir, menurut data dari JPMorgan Chase & Co. Jumlah CDO outstanding juga turun USD368,1 miliar, atau 17%, hingga mencapai angka terendah sejak August 2006 karena banyak emiten yang tutup.

Bahkan kini ada kekhawatiran bahwa krisis subprime mortgage di AS, ditambah dengan lonjakan harga minyak dunia, akan menekan pertumbuhan ekonomi global. Mula-mula karena krisis subprime mortgage akan melemahkan laju pertumbuhan ekonomi AS. IMF misalnya dalam World Economic Outlook yang dirilis pada Oktober 2007 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun 2008 menjadi 1,9% dari proyeksi semula 2,8%. Perlambatan ekonomi negara yang menjadi lokomotif ekonomi dunia ini akan mengerem laju pertumbuhan ekonomi negara lain. IMF memangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Uni Eropa tahun 2008 menjadi 2,1% menjadi 2,5%, dan  Jepang menjadi 1,7% dari proyeksi semula 2,0%. Secara keseluruhan IMF memproyeksikan pelemahan ekonomi global dari 5,2% menjadi 4,8%.

Beberapa ekonom di Indonesia merasa yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan turut melemah. Hal ini karena sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini adalah konsumsi dalam negeri. (Pernah dimuat di Majalah Stabilitas 24 November 2007).

0 Responses to “Rumah Kartu Amerika”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: