Ekonomi Perang Amerika

Dunia mengenal AS sebagai negara yang suka berperang. Tiga penulis AS menggambarkannya.

Pada suatu sore di musim dingin di Indianapolis (AS), Jessica Hilligoss, seorang pegawai negeri di Departemen Pertahanan AS mengetik deretan panjang angka-angka dan surat-surat di komputer. Dia sedang membantu Angkatan Bersenjata AS mentransfer miliaran dollar yang dia tarik setiap minggu dari Federal Reserves, bank sentral AS, ke kontraktor, vendor, dan personil militer and sipil.

Hilligoss dan petugas administrasi lain duduk dalam barisan panjang kotak-kotak identik dan mengetik serangkaian angka-angka seolah tak berakhir. Pekerjaannya juga termasuk meneliti kuitansi-kuitansi untuk segala hal mulai dari proyek konstruksi sampai upah memotong rumput, dan menyetujui pembayaran. Dalam beberapa hari kemudian, satu jaringan komputer lain di balik pintu yang terkunci di basement gedung tersebut mendepositokan uang ke rekening bank si penerima.

          Dengan ukuran hampir 28 lapangan bola, pusat operasi berlantai tiga tersebut adalah gedung perkantoran terbesar ketiga pemerintah federal AS, setelah Pentagon dan Gedung Ronald Reagan. Pusat operasi tersebut mengeluarkan lebih dari USD104 miliar per tahun, dan menjadikannya lembaga pembayar paling besar di Dephan AS.

          Secara teoritis, ketika Hilligoss menyetujui pembayaran, Dephan AS hendaknya mampu dengan segera melacak kemana uang pergi dan untuk membiayai program apa. Ini untuk meyakinkan bahwa jumlah yang benar akan masuk ke rekening penerima yang benar pada waktu yang benar. Tetapi, yang terjadi bukan begitu.

          Sejak 2004, Pentagon telah membelanjakan USD16 miliar (sekitar IDR144 triliun) per tahun untuk memelihara dan memordenisasikan sistem bisnis militer, tetapi kebanyakan tidak dapat diandalkan. Anggaran pertahanan untuk 2007 adalah USD439,3 miliar, naik 48% dari 2001, di luar tambahan besar untuk pengeluaran perang di Irak dan Afganistan. Menurut regulator federal dan pejabat dan mantan pejabat Pentagon, proses akunting sudah begitu ketinggalan zaman dan ini cenderung menimbulkan kesalahan yang pada akhirnya mustahil untuk mengatakan kemana banyak uang tersebut kermuara. Kenyataannya, miliaran masih belum dipertanggungjawabkan. Masalah ini sudah begitu berakar sehingga, 18 tahun setelah Congress mewajibkan agensi-agensi federal diaudit, Pentagon masih belum bisa.

Selama tiga triwulan pertama 2007, pengeluaran AS senilai USD1,1 triliun belum diteliti dan didukung secara sebagaimana mestinya, menurut inspektur jenderal Dephan AS. Pada 2006, penarikan dan pembayaran Angkatan Darat (AD) senilai USD258,2 miliar dari akun utama AD tidak jelas. Ini seperti AD telah mengajukan pengeluaran miliaran dollar tanpa kuitansi.

          Untuk melindungi kartu turf mereka, AD, AL, AU dan Marinir terus mempertahankan sistem akunting yang kuno dan terpisah yang tidak memungkinkan adanya pelacakan pencairan, atau mendeteksi overbilling oleh kontraktor. Di fasilitas di Indianapolis, seperti di empat pusat operasi financial utama Dephan untuk operasi finansial, program akunting yang ada di satu gedung tidak bisa berbagi informasi tanpa upaya ekstra keras, seolah-olah kontrak, pembayaran, dan akunting tidak berkaitan satu sama lain.

          Setiap tahun, Pentagon mencoba menjustifikasi permintaan anggarannya di depan Congress dengan menyerahkan data financial tiga tahun: kinerja “aktual” selama tahun fiscal yang telah lewat plus proyeksi untuk tahun berjalan dan tahun depan. Karena kurangnya akunting yang dapat diandalkan, jumlahnya kebanyakan fiksional. Ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah pemerintah akan mampu memenuhi komitmennya untuk menutup belanja untuk kapal, pesawar dan senjata di darat yang melambung, khususnya karena ekspektasi pertumbunan belanja untuk Jeminan social, perawatan keseharan dan pemotongan pajak.

          Menurut David Walker, yang baru saja meninggalkan jabatannya sebagai kepala Kantor Akuntabilitas Pemerintah, kegagalan sistem kuno Pentagon untuk menjaga rekening pengeluaran menempatkan beberapa agensi Dephan dalah daftar program federal yang salah kelola dan cenderung digelapkan, diboroskan dan disalahgunakan.

          John Evans, pensiunan pejabat Pentagon yang mengawasi lebih dari setengah dari anggaran pertahanan, mengatakan bahwa semua ini hanya mendorong militer menyembunyikan belanja mereka. “Jika Anda ingin tahu berapa banyak pengeluaran mereka, Anda harus bertanya kepada mereka,” kata dia. “Mereka mengatakan, ‘mengapa kau ingin tahu?'”

          Sejak skandal pada 1985, yang mengungkap bahwa AL membayar USD640 untuk setiap kursi toilet pesawat, Congress, pemimpin militer, dan regulators telah sepakat bahwa system akunting internal Dephan adalah amburadul (in shambles). Yang mengejutkan adalah meluasnya masalag dan ketidakmampuan pemerintah membenahinya. Selama dua dekater terakhit, Pentagon telah berulang-ulang mencoba mendesain system computer baru untuk mengganti yang ada. Sampai sekarang, sistem finansial masih belum bagus seperti arahan kantor Menhankan.

          Pada pidato 10 September, 2001, Menhankam Donald Rumsfeld menekankan perlunya perombakan system keuangan Pentagon, yang diperkirakan dapat menghemat USD25 miliar setahun. “Itu bukan, pada akhirnya, tentang praktik bisnis, atau tujuannya adalah angka di bottom line. Itu tentang keamanan AS,” ujar Rumsfeld, beragumen bahwa pemborosan, salahkelola dan pemborosan di birokrasi akan menjauhkan senjata dari pasukan.

          Serangan teroris sehari sesudahnya mengalihkan perhatiannya. Meskipun Pentagon mengambil banyak prakarsa, termasuk membayar IBM USD250 juta untuk membantu merampingkan proses bisnis, baru pada 2005 Dephan meluncurkan reformasi finansial yang juga sama problematisnya seperti program sebelumnya. Sejak 9/11, kelemahan dalam system financial Pentagon lebih terlihat ketika belanja pertahanan telah melonjak mencapai rekor, dengan permintaan sebesar USD481,4 miliar untuk 2008. Selain itu, White House mendesakkan dana darurat yang tidak mengalami kajian congress sebesar USD287,2 miliar pada 2006 dan 2007.

          Pusat Indianapolis dan kantor penduku lain mestinya taat dengan mandate Congress untuk melacak berapa banyak setiap tahun dana darurat dibelanjakan Pemerintahan Bush dalam perang melawan terrorisme. Tetapi seorang pejabat senior dari Pusat Indianapolis, yang meminta namanya dirahasiakan, mengatakan sistemnya yang kuno tidak dapat digunakan untuk menghasilkan data seperti itu.

          Disfungsi tersebut sebagian karena kemerdekaan yang dinikmati setiap Angkatan secara tradisional. Pada 1990, Congress memperlakukan legislasi yang mewajibkan semua egensi federal untuk lolos dari audit independent. Setiap tahun, inspektur jenderal Dephan mengirimkan lusinan auditor ke pusat akunting dan financial militer. Setiap tahun, mereka melapor bahwa pekerjaan itu tidak bisa dilakukan. Catatan Dephan begiru berantakan dan kurang dokumentasi maka setiap usaha untuk membenahi akan sia-sia. Pada 2000, inspektor jenderal mengatakan kepada Congress bahwa para auditornya berhenti menghitung setelah menemukan USD2,3 trilliun pengeluaran tanpa dukungan.

          Pada 2002, Congress menyerah. Sampai Pentagon menata catatannya, audit komprehensif tidak akan dilakukan. Sebaliknya, Dephan menulis setiap tahun ke inspektor jenderal yang menyatakan bahwa sejumlah angka dalam laporan finansial tidak bisa didukung bukti. Tanpa audit, bukti lucu menunjukkan bahwa penggelapan oleh kontraktor bisa berlangsung selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi.

       Sejak 2005, Pentagon melakukan apa yang mereka sebut reformasi paling komprehensif. Undersecretary Defense Tina Jonas, yang kini menjadi chief financial officer dan comptroller Dephan, memimpin sebuah usaha untuk sekali lagi mengembangkan system informasi yang memungkinkan cek silang. Sayangnya, perancanaan yang kurang matang dan perlawanan internal menghambat upayanya. Jonas mengatakan bahwa pendekatannya sukses di delapan cabang kecil Pentagon, seperti Korps Insinyur AD. Namun, empat angkatan yang ada tetap tidak bisa diaudit.  

Tulisan di depan adalah ringkasan dari sebuah artikel bertajuk The Pentagon’s USD1 Trillion Problem, yang ditulis oleh Scot Paltrow, untuk laporan khusus di Portfolio.com edisi Mei 2008. Tulisan ini digunakan oleh Paul B. Farrell untuk mendukung teorinya bahwa ekonomi AS adalah ekonomi perang dalam kolomnya bertajuk ‘America’s Outrageous War Economy!’ yang dilansir pada 18 Agustus 2008. Farrel adalah penulis buku dan kolumnis tetap di marketwatch.com, situs di bawah naungan Dow Jones, Inc.

          Dalam kolom itu Paul B. Farrell menulis: Ekonomi Amerika adalah ekonomi perang. “Bukan ekonomi “manufacturing,” bukan ekonomi “pertanianl.” Bukan pula ekonomi “jasa,” dan bahkan bukan pula ekonomi “konsumen”.

Mari kita jujur dan secara resmi menyebutnya Ekonomi perang America yang kasar. Akui saja: kami secara diam-diam menyukai ekonomi perang. Inilah jawaban atas pertanyaan yang menggugah pikiran dari Jim Grant dalam tulisannya di bulan Juli di Wall Street Journal bertajuk “Why No Outrage?”  hanya ada satu jawaban: jauh di dalam hati, kita suka perang. Kita menginginkan perang. Kita membutuhkan perang, menikmati perang dan tumbuh dari perang.

Perang ada dalam gen kita. Perang merangsang benak ekonomi kita. Perang mendorong semangat kewirausawahanan kita. Perang menggetarkan jiwa Amerika. Akui saja, kita memiliki masalah cinta dengan perang. Selama ini dengan diam-diam, menurut default, kita memberi semangat pada pemimpin kami ketika mereka secara agresif meluaskan ekonomi perang.

Mengapa orang Amerika begitu bersemangat dan bersedia menyerahkan menyerahkan 54% dari pajak mereka ke mesin perang, yang menelan 47% dari total anggaran militer dunia? Mengapa ada lebih banyak orang sipil yang bekerja untuk kontraktor swasta dalam perang daripada jumlah total tentara yang terdaftar di Irak (180.000 dibanding 160,000), dengan biaya tambahan dari para pembayar pajak lebih dari USD200 miliar dan terus meningkat dari hari ke hari? Mengapa kita menganggukkan kepala “ya” ketika panglima tertinggi (commander-in-chief) dengan bangga mengatakan kepada kita bahwa dia adalah seorang “presiden perang” dan calon presiden dari partainya mendengungkan “bom, bom, bom Iran,” seolah-olah “perang” adalah sebuah lagu hit? Mengapa partrai democrat kita yang lemah membiarkan eksekutif yang tidak kompeten dan melakukan blunder menyembunyikan ratusan miliar biaya perang dalam anggaran tambahan yang tidak terus terang yang lebih jahat daripada transaksi dalam Enron yang di luar neraca?

           Mengapa 537 pemimpin terpilih di Washington memutar tata kelola ekonomi Amerika kepada 42.000 lobbyist yang rakus dan mementinkan diri sendiri? Dan mengapa awal tahun ini “presiden perang” menentang RUU GI yang baru, karena, seperti yang dia katakan, adalah militer bisa berhenti dan pergi ke akademi bukannya mendaftar lagi dalam perang; kini kita terus membayar para pejuang Pentagon bonus tinggi sehingga mereka dapat terus memperluas “Ekonomi perang Amerika” Mengapa? Karena kita diam-diam menyukai perang!

Kita telah kehilangan kompas moral: Kontras antara para pemimpin sekaramg dengan 56 penanda tangan Declaration of Independence pada 1776 mengguncang kesadaran kita. Kini gila perang mengalahkan moral. Selama Perang Revolusi para pemimpin kira mempertaruhkan jiwa dan harga mereka; banyak yang kehilangan keduanya.  

Dewasa ini berbeda: Terlalu sering tujuan utama para pemimpin kita bukan layanan masyarakat tetapi satu tiket untuk membangun kekayaan pribadi dalam “Ekonomi Perang” sering dengan hanya menjadi lobbyist bertarif mahal. Pada akhirnya, harga kerakusan kami mungkin adalah terjarinya apa yang diperingatkan oleh Kevin Phillips dalam Wealth and Democracy: “Kebanyakan negara besar, pada puncak kekuasaan ekonomi mereka, menjadi sombong dan melancarkan perang dengan biaya tinggi, memboroskan banyak sekali sumber daya, mengambil banyak utang, dan akhirnya mengubur dirinya sendiri.

Anda mungkin berpendapat: bukankah anggaran perang sebesar USD1,4 triliun adalah penting untuk pertahanan nasional dan keamanan dalam negeri? Tidakkah kita harus melindungi diri sendiri? Maafkan saja, sebab para pemimpin kita telah menurunkan prinsip terpuji tersebut menjadi slogan iklan. Mereka sedikit lebih dari alas an yang digunakan oleh elangelang perang untuk menyamarkan upaya membangun kekayaan dalam ekonomi perang.

           Amerika mungkin menjadi bom waktu yang sedang berdetak, tetapi kita lebih terancam oleh musuh di dalam daripada teroris eksternal, oleh mereka yang fanatic dengan ideology kiri dan kanan. Kebanyakan, kita diserang oleh para pemimpi terpilih kita yang termotivasi oleh kerakusan murni bukannya ideology. Mereka meneror kita, mencuci otak kita agar secara pasif membiarkan mereka mencuri uang kita untuk membiayai ekonomi perang, “lubang hitang” akhir dari korupsi dan eknomi merembes ke atas (trickle-up economics).

          Seberapa kuat mesin perang Pentagon? Triliuna dollar. Yang lebih buruk lagi: pola piker mereka kini terkunci jauh di dalam DNA kita, dalam kesadaran kolektif kami, dalam jiwa Amerika. Kecintaan kita akan perang diabadikan dalam tulisan-tulisan elang-elang perang seperti neocon Norman Podoretz, yang memandang Perang Irak sebagai peluncuran World War IV: The Long Struggle Against Islamofascism,” sebuah pengingat bahwa kita dapat menduduki Irak selama ratusan tahun. Bukunya, WW IV, juga mengingatkan kita tentang hari akhir yang apokaliptis “perang peradaban” yang diprediksi oleh para pemimpin agama baik Kristen maupun Islam dua tahun lalu. Ideologi ini memang ditantang oleh tulisan-tulisan seperti American Armageddon: How the Delusions of the Neoconservatives and the Christian Right Triggered the Descent of America — and Still Imperil Our Future karya Craig Unger. Sayangnya, tak satupun dari ancaman tersebut dapat dihilangkan dari benak kita. Triliunan dolar uang pajak kini sedang dibelanjakan  untuk menjaga mesin perang Pentagon secara agresif merencanakan dan memperluas perang, termasuk membelanjakan miliaran dollar untuk propaganda cuci otak orang Amerika agar ikut menyetujui Ekonomi Perang Amerika. Ya, mereka benar-benar mencintai perang, tetapi “rasa cinta” itu adalah racun bagi jiwa Amerika.

Selama beberapa dasawarsa, Washington telah mengibarkan bendera “pertahanan nasional” untuk memaksa publik mendukung Ekonomi Perang Amerika. Baca tulisan John Alic, Trillions for Military Technology: How the Pentagon Innovates and Why It Costs So Much.

Perang USD3 triliun

Pada 17 Maret lalu, Joseph Stiglitz, menulis artikel untuk project sindikate berjudul The Tiga Trillion Dollar War. Tulisan itu untuk menancai lima tahun invesai Barat yang dipimpin oleh AS pada 20 Maret ke Irak. Menurut Stiglitz, sekarang ini waktunya untuk melihat apa yang sudah terjadi. “Dalam buku kami Three Trillion Dollar War, Linda Bilmes (Harvard) dan saya secara konservatif memperkirakan biaya perang AS di Irak mencapai USD3 triliun, dan biaya yang ditanggung negara-negara lain juga sekitar USD3 triliun, jauh daru estimasi Pemerintahan Bush sebelum perang,” tulis Stiglitz.

Menurut Stiglitz, Tim Bush tidak hanya menyesatkan dunia tentang biaya perang yang mungkin, tetapi juga berusaha mengaburkan biaya perang ketika perang terus berlangsung. Ini tidak mengejutkan.

Bagaimanapun juga, Pemerintahan Bush berbohong tentang banyak hal, dari senjata pemusnah massal Saddam Hussein ke dugaan kaitannya dengan al-Qaeda. Sebenarnya, hanya setelah invasi yang dipimpin AS, Irak menjadi ladang pembinaan untuk teroris. Pemerintahan Bush mengatakan perang akan menelan biaya USD50 miliar. AS kini mengeluarkan sejumlah itu di Irak setiap tiga bulan. Untuk menempatkan angka itu ke dalam konteks: dengan seperenam dari biaya perang, AS bisa membuat sistem jaminan sosialnya berjalan selama setengah abad, tanpa memangkas manfaat atau menaikkan iuran.

           Lagipula, tambah Stiglitz, Pemerintahan Bush memotong pajak bagi orang kaya ketika AS pergi berperang, meskipun menjalankan deficit anggaran. Akibatnya, AS harus menggunakan belanja defisit – meminjam dari negara lain untuk membiayai perang. Ini merupakan perang pertama dalam sejarah Amerika yang tidak menuntut pengorbanan warga negara dalam bentuk pajak yang lebih tinggi; sebaliknya seluruh biaya perang dibebankan kepada generasi mendatang. Jika tidak ada perubahan, utang nasional AS — yang bernilai USD5,7 triliun ketika Bush menjadi presiden —akan menjadi USD2 triliun lebih tinggi karena perang (selain kenaikan sebesar USD800 miliar di bawah Bush sebelum perang).

Apakah ini karena inkopetensi atau ketidakjujuran? Hampir pasti keduanya, kata Stiglitz. Dengan akunting tunai berarti Pemerintahan Bush fokus pada biaya hari ini, bukan biaya masa depan, termasuk tunjangan cacat dan perawatan kesehatan bagi veteran.

         Pemerintahan Bush berusaha menjauhkan biaya perang dari publik. Berbagai kelompok veteran telah menggunakan UU Kebebasan Informasi untuk menemukan jumlah korban luka — 15 kali jumlah korban mati. Ada sekitar 52.000  veteran didiagnosa menderita sindroma stress paska Trauma. Amerika akan perlu memberikan tunjangan cacat ke sekitar 40% dari 1,65 juta pasukan yang sudah dikirim ke medan perang. Dan tentu saja, jumlahnya akan terus bertambah sepanjang perang terus berlangsung.

         Ideologi dan pencatutan uga menambah biaya perang. America sudah bertumpu pada kontraktor swasta, yang tidak murah. Seorang penjaga keamanan dapat menelan biaya lebih dari USD1.000 per hari, tidak termasyk asuransi jiwa dan cacat yang dibayar pemerintah. Ketika angka pengangguran Irak mencapai 60%, memperjakan Iraqis akan masuk akal; tetapi kontraktor itu lebih suka mengimpor buruh dari Nepal, Filipin dan negara-negara lain yang lebih murah.

Perang hanya memiliki dua pemenang: perusahaan minyak dan kontraktor pertahanan. Harga saham Halliburton, perusahaan lama milik wakil presiden Dick Cheney, telah membubung. Bahkan ketika semakin sering berpaling ke kontraktor, pemerintah mengurangi pengawasannya. Biaya terbesar dari perang yang salah kelola ini ditanggung Irak. Setengah dari dokter di Irak terbunuh atau meninggalkan negeri itu, pengangguran mencapai 25%, dan lima tahun setelah perang dimulai, listrik di Baghdad hanya tersedia delapan jam sehari. Dari  total populasi Irak sekitar 28 juta, empat juta kehilangan rumah dan dua juta meninggalkan negeri itu.

           Ribuan kematian akibat kekerasan, termasuk orang Barat, terus terjadi. Sebuah ledakan bim yang membunuh 25 jiwa tampaknya tidak bernilai berita lagi. Tetapi statistis angka kematian sebelum dan setelah invasi menyatakan kenyataan suram. Diperkirakan 450.000 jiwa hilang dalam 40 bulan pertama perang.

Degan begitu banyaknya orang Irak menderita begitu hebat, tampaknya tidak berperasaan untuk membahas biaya economi.

0 Responses to “Ekonomi Perang Amerika”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: