Allfirst Financial Dikibuli Opsi Palsu (Bagian Pertama dari dua tulisan)

Trader Nakal John M Rusnak menyebabkan Allfirst Financial menanggung kerugian ratusan juta dollar. Kasus ini menegaskan risiko besar dalam bisnis proprietary trading dengan manajemen risiko yang lemah.

 

Dublin sekitar pukul 9 malam pada 4 Februari 2002. Michael Buckley, CEO Allied Irish Bank (AIB), menerima panggilan telefon internasional, jenis dan waktu panggilan yang ditakuti para bankir. Dia diberitahu bahwa trader karensi bernama John M. Rusnak di Allfirst Financial (AF), anak perusahaan AIB di Baltimore, AS, telah menumpuk kerugian sebesar USD750 juta dollar. 

Berita tersebut diterima Buckley, yang baru sembilan bulan memimpin bank terbesar kedua di Irlandia, ketika dia akan mengumumkan laporan keuangan AIB tahun buku 2001. ”Derajad guncangan yang saya rasakan sama skalanya dengan berita kematian angota keluarga,” kata Buckley seperti dilaporkan Brian Lavery dari New York Times pada 21 April 2002.

Buckley, 57, segera menawarkan pengunduran diri, tetapi dewan direksi AIB meyakinkan dia untuk bertahan. Mereka percaya bahwa kehilangan Buckley akan membuat AIB leaderless pada saat genting terutama dari ancaman corporate raider yang berniat mengakuisisi AIB seperti  Royal Bank of Scotland dan Barclays Bank. Bank of Ireland, rival AIB di Irlandia, telah menyatakan minatnya untuk merger dengan AIB.

                Sejak itu Buckley berjuang mengatasi krisis AF, yang kemudian menyebabkan kerugian total USD691,2 juta. Kerugian dagang AIB waktu itu menjadi terbesar sejak trader nakal Nicholas W. Leeson menyebabkan Barings Bank bangkrut pada 1995. Buckley melakukan perjalanan ke Washington, Baltimore dan New York untuk berbicara dengan para regulator, mengawasi reorganisasi di AF dan menenangkan pemodal yang gugup, banyak di antara mereka mengira AIB hendaknya menjual AF dan juga keluar dari pasar Amerika.

                Analis perbankan di Dublin dan London mengatakan, bank yang menurut ukuran Eropa relatif kecil seperti AIB tidak memiliki tempat di pasar perbankan ritel yang sangat kompetitif di Amerika. Namun Buckley mengatakan AIB akan mempertahankan AF, yang sudah dimiliki hampir selama 20 tahun. Bahkan Buckley mengatakan akan mengembangkan AF melalui akuisisi dengan target jangka pendek menangani skandal.

                Untuk mengatasi krisis, AIB mengumumkan kerugian pada 6 Februari 2008, memecat Rusnak dan mempekerjakan Eugene A. Ludwig, seorang mantan regulator karensi terkemuka Amerika melalui perusahaan konsultingnya, Promontory Financial Group, untuk menyelidiki kasus itu dan melaporkan ke BOD pada 9 Maret, sebulan setelah penugasan. Aksi Rusnak juga diselidiki oleh petugas pengadilan Maryland dan Biro Penyelidik Federal (FBI). 

                Dengan menunjuk seorang tokoh keuangan Amerika senior untuk mengepalai penyelidikan terhadap dugaan pembobolan di AF, AIB berharap menjawab dua pertanyaan utama. Pertama, bagaimana bisa John Rusnak, trader karensi dengan batasan transaksi USD2,5 juta, menumpuk posisi sampai sebesar USD750 juta tanpa diperhatikan dan dihentikan. Kedua, mengapa manajemen puncak AIB tidak menyadari hal itu sampai atasan langsung Rusnak curiga dan menelfon FBI.

Penyelidikan Ludwig, yang dikenal dengan Laporan Ludwig, menghasilkan kesimpulan yang tajam dan tidak menyenangkan tentang berbagai kegagalan manajemen risiko di AF. Misalnya, Laporan itu menemukan cacat dalam arsitektur operasi transaksi proprietary di AF, yang membuat potensi risiko jauh lebih besar dari potensi hasil. Laporan itu mencatat bahwa Rusnak bertransaksi dengan gaya yang umum digunakan hedge fund, yakni bertaruh di arah pasar bukan menjalankan  transaksi atas nama nasabah. Tetapi trader di bank regional yang tidak memiliki akses ke informasi, skala ekonomi dan keahlian yang memadai sebagaimana dimiliki money manager di sebuah hedge fund atau bank besar, akan sulit mengelola risiko transaksi valas secara efektif. “Sifat dasar operasi valas di AF secara fundamental cacat: sebuah risiko bisnis strategis.”

Kasus AIB memberi pelajaran yang sama diberikan oleh kasus rogue trader lain seperti Barings: kurangnya garis laporan, kurangnya supervisi karyawan dan kegagalan induk perusahaan mengontrol sepenuhnya bisnis anak perusahaan di luar negeri. Beberapa pelajaran penting dari sisi manajemen risiko dari kasus tersebut mencakup: Proprietary trading adalah bisnis berisiko tinggi dan risikonya tidak terbatas pada risiko pasar. Potensi risiko operasional bisa melampaui potensi return pasar. Risiko operasional ini bisa mengubah potensi risiko pasar yang sangat tinggi menjadi kerugian besar.

Hubungan antara perusahaan induk dengan anak usaha di negara lain harus jelas, tulis Laporan Ludwig. “Kami memandang penting adanya akuntabilitas yang jelas,” tulis Laporan itu, seraya menambahkan di beberapa bidang tidak jelas siapa yang bertanggung jawab kepada siapa, dan garis laporan dalam AF dan ke AIB kabur.

Laporan Ludwig juga memandang perlu kontrol yang kuat dan efektif dari bagian back-office. Tidak seperti unit Barings di Singapura yang tidak memiliki unit back-office yang independent, ada unit back-office independen yang mengawasi aktivitas Rusnak. Masalahnya, tulis Laporan Ludwig, Rusnak sangat pandai, licin dan mampu mengambil keuntungan dari kurang dan lemahnya pengalaman staf di bagian back-office. Ia mampu membujuk staf back-office untuk membiarkan pelanggaran prosedur normal. “Back-office harus diberdayakan jika mereka peduli soal aktivitas transaksi valas.”  

                Menurut Laporan itu, manajemen senior di Dublin dan Baltimore tidak memberi cukup atensi pada operasi proprietary trading AF, yang bukan bisnis intinya. Kelemahan manajemen Treasury ini ditambah fakta bahwa pihak luar dihambat memperoleh informasi tentang transaksi Rusnak; dan manajemen senior  AIB dan AF hanya berasumsi bahwa sudah ada kontrol kuat atas aktivitas AF di pasar valas.

                Dalam penjelasan awal, eksekutif AF dan AIB menyatakan bahwa Rusnak melakukan transaksi karensi, sering dengan membeli yen Jepang, tetapi ia tidak melakukan hedging normal untuk menutupi risiko kerugian besar. Dalam bisnis karensi, trader umumnya melakukan transaksi untuk nasabah, maka hedging menjadi kewajiban. Tetapi, Rusnak tidak hanya melaksanakan amanat nasabah tetapi juga menjadi proprietary trader, bertransaksi dengan mempertaruhkan uang bank. Dalam hal ini, Rusnak juga tidak melakukan hedging. Sebagai gantinya, ia melakukan hedging fiktif (dengan menulis opsi karensi palsu) untuk menunjukkan bahwa ia seolah-olah sudah melindungi posisinya. Maka, ketika pasar bergerak berlawanan dengan posisinya, Rusnak rugi besar dan berupaya menutupinya. Langkahnya untuk menutup kerugian, justru membuat kerugiannya semakin menumpuk. Eksekutif AIB curiga ulah Rusnak dibantu orang dalam dan orang luar, tetapi mereka mengatakan tidak memiliki bukti.

Yang cukup mengagetkan para pelaku pasar waktu itu, eksekutif di AF menegaskan bahwa Rusnak sebenarnya telah menyembunyikan kerugian sejak 1997. Kerugian pada tahun pertama setelah dihitung kembali adalah USD29,1 juta, tetapi pada waktu itu AF menyatakan dalam laporan tahunan mencetak laba dari transaksi valas sebesar USD3,5 juta. Penghitungan ulang menunjukkan bahwa pada tahun 2000 kerugian AF karena transaksi karensi melonjak menjadi USD211 juta (sebelumnya AF melaporkan laba transaksi sebesar USD13,6 juta). Tahun 2001, kerugian meningkat menjadi USD373,3 juta. Pada saat pembobolan terungkap potensi kerugian mencapai USD750 juta. Tetapi total kerugian turun menjadi USD691,2 juta setelah AIB menutup semua posisi rugi Rusnak pada 8 Feb. ”Kami mengetahui ada beberapa posisi opsi yang harus segera kami tutup,” ujar Gary Kennedy, direktur keuangan dan risiko AIB. ”Dan kami melakukannya dengan sedikit lebih murah daripada yang kami antisipasi sebelumnya.”

                Penemuan terpenting dari penyelidikan internal yang diketuai Ludwig adalah bahwa skandal ini bermula ketika rogue trader AIB dengan sengaja telah menumpuk kerugian menjual opsi fiktif dan membukukan premi fiktif sebagai pendapatan. Menurut laporan Ludwig, langkah Rusnik didasari keinginan Rusnak untuk menutupi kerugiannya dari strategi transaksi proprietary sejak tahun 1997.

Akibat Skandal

Menyusul adanya Laporan Ludwig, AIB merombak struktur organisasional AE dengan menunjuk John Heimann, mantan pengawas karensi dan bankir berpengalaman mengawasi manajemen risiko seluruh grup. AIB juga kemudian memusatkan manajemen dan kendali aktivitas treasury langsung di Dublin, dan mengakhiri aktivitas proprietary di AF dan di unit usahanya di Polandia.  

Pada saat yang sama AIB memecat enam eksekutif AF karena dinilai gagal mengawasi aktivitas Rusnak. Dua eksekutif lain — Frank Bramble, tetua AF, dan Pat Ryan, bendahara AIB – mengundurkan diri. Setelah penyelidikan internal di AF, yang selesai Maret 2002, enam karyawan AIB dipecat, termasuk David Cronin, bendahara AF, dan Robert Ray, kepala treasury AF. Keduanya dituding lemah control sehingga mempermudah Rusnak menyembunyikan kerugiannya. Tetua AF, Frank Bramble, pension dini dan bendahara group AIB, Patrick Ryan, pensiun. AIB menyatakan kepergian kedua eksekutif ini tidak terkait dengan trading skandal.  Penyelidikan internal  of Rusnak concluded that he was ”unusually clever and devious” and bold. AS attorney, agreed, adding that Rusnak juga knew how to defeat and evade the sistem kontrolat AF. .

Prosedur manajemen risiko dan transaksi valas kini diawasi langsung dari Dublin. AIB tidak akan menunjuk lagi HargawaterhouseCoopers sebagai auditor eksternal. Perubahan ini adalah upaya untuk membangun kembali kepercayaan terhadap AIB.

Dalam rapat umum tahunan AIB memutuskan untuk menutup kerugian dengan laba tahun buku 2001, yang mengakibatkan labanya turun sekitar USD523 juta setelah pajak menjadi USD351 juta. Dampak ikutannya, pada 9 Mei 2002, eksekutif AIB tidak menerima bonus untuk tahun buku 2001. Misalnya, komite remunerasi AIB tidak memberi bonus ke Michael Buckley, yang berhak menerima USD226,000, atau ke Frank P. Bramble, kepala operasi AIB di Amerika, yang berhak atas USD1,18 juta, dan tentu saja ke Rusnak yang sedianya akan menerima bonus USD220,456, hampir dua kali dari nilai bonus yang diterima Rusnak tahun 1997. Atas kerugian USD691,2 juta, AIB akan menutupinya sekaligus dengan laba bersih tahun buku buku 2001. Akibatnya, laba bersih AIB tahun itu  menurun 60%.

Sementara itu, dalam penyelidikannya para penegak hukum di AS menemukan indikasi, yang tercatat dalam surat dakwaan, bahwa Rusnak melakukan tujuh pelanggaran yang melibatkan pembobolan bank melalui transaksi opsi palsu dan memasukkan data transaksi. Pembobolan adalah tindakan curang untuk memperoleh uang, aktiva, atau hak milik lain yang dipegang atau dimiliki sebuah lembaha keuangan. Istilah pembobolan bank berlaku untuk aksi yang menggunakan sebuah skim atau tipudaya, jika dibedakan dengan perampokan atau pencurian bank. Namun pelanggaran Rusnak tidak sampai ke pengadilan karena Rusnak bersedia bernegosiasi dengan jaksa melalui mekanisme plea bargain (plea agreement), kesepakatan dalam kasus kriminal di mana jaksa menawari tertuduh peluang mengaku bersalah, biasanya demi tuduhan atau hukuman yang lebih ringan. Banyak kasus kriminal di AS diselesaikan dengan cara ini bukan di pengadilan dengan tujuan mengurangi waktu dan biaya sidang, mengurangi risiko dan ketidakpastian pengadilan.

Melalui pengacaranya, Rusnak menolak telah mencuri atau mengambil untung secara tidak wajar dari aktivitas perdagangannya untuk bank. Jaksa mengakui bahwa Rusnak tidak langsung menerima manfaat dari transaksi yang menimbulkan kerugian besar, tetapi jaksa percaya bahwa dia menerima bonus paling sedikit USD650,000 dengan menampilkan kesan seolah-olah AF untung besar dari bisnis valas selama periode 1997 sampai 2001. Menurut Jaksa, Rusnak menerima bonus sebesar USD433,000 sebelum diketahui membobol AF.

Pada akhirnya kepada jaksa penuntut, Ruskin mengaku bersalah.  Untuk itu Rusnak pada tanggal 18 Januari 2003, dijatuhi hukuman penjara selama tujuh tahun enam bulan penjara.Hukuman ini jauh dari tuntutan awal jaksa sebesar 30 tahun penjara. Rusnak juga diperintah membayar USD1.000 sebulan selama lima tahun setelah pembebasannya, tetapi jaksa mengatakan jumlah denda akan tergantung berapa banyak penghasilannya setelah ia keluar dari penjara.

Rusnak, 37, dibesarkan di daerah pinggiran Philadelphia, tempat ayahnya bekerja di US Steel. Setelah lulus dari Universitas Bucknell pada 1986, dia bekerja untuk beberapa bank, termasuk Chemical Bank. Pada 1993, dia menerima pekerjaan sebagai trader karensi pada perusahaan yang bernama First Maryland Bancorp dengan gaji dan bonus sekitar USD200.000 per tahun.

Menurut Buckley, John Rusnak bukan seorang star trader. Digambarkan sebagai seorang ‘family man’ dengan dua anak dan anjing Labrador bernama Barney, Rusnak jauh dari sosok yang sering diidentifikasi sebagai ‘master of the universe’ oleh komunitas Wall Street. Tetapi aktivitas si pasar karensi menempatkannya sejajar dengan rogue trader lain seperti Nick Leeson atau Toshihide Iguchi dari Daiwa Bank. Apalagi, aksi Rusnak yang menimbulkan kerugian besar (seperti Leeson dan Iguchi) dimulai dari upaya untuk menutupi kerugian yang dilakukan sebelumnya. Rusnak telah menolak berbicara dengan orang yang melakukan investigasi resmi sehingga motif sejatinya tetap tidak pasti.  

                Kasus Rusnak didokumentasikan dalam buku berjudul Panic at the Bank: How John Rusnak Lost AIB $700 Million. Berbeda dengan Iguchi dan Leeson yang menulis sendiri buku tentang skandal yang ditimbulkan, Panic at the Bank ditulis oleh dua jurnalis finansial top di The Irish Times, Conor O’Clery dan Siobahn Creaton), yang meliput kasus ini dari hari pertama. Panic at the Bank menceritakan cara John Rusnak melakukannya. Buku ini merunut, langkah-demi-langkah, kegagalan manajemen yang memungkinkan Rusnak mempertaruhkan uang bank tetapi seolah-oleh menangguk laba besar. Buku ini juga mengaitkan drama kemanusiaan yang dimainkan di dalam bank, dan bagaimana akuisisi AIB di Amerika diganggu oleh pertentangan budaya Irlandia dan Amerika dan oleh perjuangan memperoleh kekuasaan di AIB Group. Conor O’Cleary menampilkan keterampilannya yang tidak tertandingi tentang sisi Amerika dari skandal Rusnak ketika dia merunut perkembangan skandal. Siobhan Creaton menceritakan akhir cerita yang berlangsung di Irlandia, termasuk di dalamnya bagaimana AIB mengatasi krisis.  

AIB, semula bernama Allied Irish Banks Limited, merupakan perusahaan hasil merger tiga bank tua di Irlandia yang berlangsung pada September 1966. Sejak itu AIB tumbuh pesat dan menjadi kelompok usaha dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Irlandia pada Desember 31, 2006. AIB beroperasi utamanya di Irlandia, Britain, AS dan Polandia. Di AS kini AIB memiliki 24,3% sahan beredar M&T’ Bank yang memiliki aktiva sebesar USD65,9 miliar pada 30 Juni 2008.  (Bersambung)

Timeline

1983: AIB mengakuisisi First Maryland Bancorp

1993: John Rusnak bergabung dengan First Maryland Bancorp sebagai trader valas.  

1999: First Maryland merger dengan Dauphin Deposit Corporasi (yang diakuisisi AIB pada 1997) menjadi Allfirst Financial.  

June 2001: John Rusnak dipromosikan menjadi managing director yang menangani transaksi valas di divisi transaksi global.

December, 2001: AF mulai curiga tentang jumlah dana yang diminta Rusnak untuk menutupi kerugiannya.  

4 Februari, 2002: Rusnak tidak masuk kantor pada Senin pagi.

6 February 2002: AIB mengumumkan sedang menyelidiki dugaan pembobolan senilai USD750 juta di kantor pusat AF, Baltimore, dan akan menutup kerugian yang semula diperkirakan USD520 juta.  

8 Februari 2002: AIB mempekerjakan Eugene Ludwig untuk melakukan penyelidikan internal tentang skandal Rusnak.

19 Februari 2002: Michael Buckley menyatakan asal usul skandal adalah kerugian Rusnak pada tahun 1997 dan mengumumkan total kerugian adalah USD691 juta. 

12 Maret 2002: Buckley dan tetua AIB Lochlann Quinn mengajukan pengunduran diri tetapi ditolak dewan direksi AIB.  

13 Maret 2002: Laporan Ludwig dipublikasikan oleh Promontory Financial Group and law firm Wachtell, Lipton, Rosen & Katz.

14 Maret 2002: AF dan AIB memecat enam eksekutif karena lalai mengawasi transaksi Rusnak dan mengumumkan regorganisai.

Juni 2003: AIB menjual AF ke  M&T Bank, sebagian dibayar uang tunai dan sebagian dengan 23% saham M&T Bank.

0 Responses to “Allfirst Financial Dikibuli Opsi Palsu (Bagian Pertama dari dua tulisan)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: