Seri Klasik Kegagalan Manajemen Risiko: Daiwa Bank (1)

“Bukan tradernya yang menjadi apel busuk, tetapi lembaganya. Sumitomo, Barings, dan Daiwa adalah apel-apel busuk,” tulis Toshihide Iguchi, trader yang secara legal bertanggung jawab atas kerugian sebesar USUSD1,1 miliar pada Daiwa Bank cabang New York. Bagaimana ia membela diri?

Pada 1995 sebuah pengadilan federal di Manhattan, New York, AS, memutuskan Toshihide Iguchi bersalah atas tuduhan melakukan pemalsuen dokumen dan membuat laporan palsu selama bekerja sebagai trader di Daiwa Bank cabang New York. Aksi ini menurut pernyataan resmi Daiwa menelan kerugian USD1,1 miliar.

Atas kesalahan tersebut Iguchi dihukum penjara selama empat tahun dan didenda USD2,6 juta, jumlah yang dipandang mustahil dipenuhi oleh Iguchi. Dia dipenjara di Manhattan’s Metropolitan Correction Center dan kemudian dipindahkan ke Allenwood Federal Prison Camp, fasitas agak mewah dengan keamanan minimum di Pennsylvania.

Selama di penjara trader yang tidak suka dipublikasikan itu menulus buku yang kemudian diberi judul My Billion Dollar Education. Buku ini diterbitkan tahun 2001 hanya dalam bahasa Jepang. Namun dia mengizinkan epilog bukunya dipublikasikan dalam bahasa English. (Lihat http://www.projects.ex.ac.uk/RDavies/arian/scandals/iguchi.html).

Di epilog tersebut Iguchi mengatakan bahwa tujuannya menulis buku, selain berbagi pengalaman, adalah ingin menghancurkan kesan tentang mitos yang beredar luas tentang trader nakal (rogue trader). Ia ingin meluruskan persepsi soal trader nakal.

Iguchi keberatan ketika media menyebut rogue trader sebagai satu apel busuk dari ribuan apel dan bahwa Daiwa hanya sial bahwa salah satu trader busuk itu bekerja untuknya. “Ini masih persepsi public dan makin jauh dari kebenaran,” tulisnya, seraya menambahkan bahwa dirinya, seperti banyak trader lain, telah masuk ke dalam perangkap.

Ia menyatakan, orang tidak harus memiliki ambisi berlebihan dan rakus untuk masuk ke jebakan tersebut. Kebanyakan penjahat finansial terobsesi oleh kerakusannya dan sering tidak peduli pada derajad kerusakan yang mereka timbulkan. “Rogue trader dapat memiliki motif yang berlawanan. Bukan didorong oleh kerakusan, dia mungkin hanya mencoba meminimalisasi kerugian.”

Ironisnya, tambah Iguchi, kerugian dapat menjadi lebih besar, karena trader beroperasi di wilayah di mana prosedur pemantauan telah hancur. Ini, menurut Iguchi, yang juga dilakukan Nick Leeson di barings Bank (1995) dan Hamanaka (Sumitomo Bank) pada 1996. Jumlah uang yang dihilangkan oleh Iguchi, Leeson dan Hamanaka berjumlah total USD5,4 miliar. Ketiganya, sedang berusaha secara sebaik-baiknya tidak untuk menderita rugi sama sekali ketika ternyata langkahnya malah membuat kerugian menjadi berlipat ganda.

“Jika Hamanaka, Leeson, dan saya bekerja di lembaga lain, apakah Anda mengira bahwa kami akan melakukan hal yang sama? Hampir tidak,” tambahnya.

Menurut Iguchi, kalau tidak bekerja di Daiwa mungkin dia tidak melakukan pelanggaran itu. Pertama-tama, jelasnya, tidak ada lembaga keuangan prudent akan membiarkan seseorang seperti dirinya bertanggungjawab pada operasi custodian, back office, dan trading sekaligus. Karena itu, tamnahnya, argumen lainlah yang lebih dekat ke kebenaran. “Sumitomo, Barings, dan Daiwa adalah apel-apel busuknya. Mereka adalah bank nakal, terlalu tertarik untuk memperoleh laba cepat,” tegasnya.

Penjelasan Iguchi sejalan temuan jaksa di pengadilan bahwa ia tidak bertindak untuk kepentingan pribadi. Pengadilan atas Leeson juga menunjukkan bahwa aksinya yang membuat Barings Bank bangkrut juga tidak dilandasi oleh keserakahan pribadi. Keduanya melakukan transaksi ilegal dalam upaya mereka untuk menutup kerugian yang tidak dilaporkan. Menurut Iguchi, itulah jebakan yang menelan korban banyak trader.

Iguchi memaparkan, beberapa aksi untuk menutup kerugian dapat terdeteksi pada tahap awal dengan kerugian ratusan ribu dolar, tetapi beberapa trader bisa menderita rugi USD10 juta, USD100 juta, atau bahkan miliaran dolar. “Perbedaan jumlah kerugian berkorelasi bukan dengan level kerakusan si trader, tetapi dengan seberapa lemah kontrol internal lembaga tersebut,” tambah Iguchi.

Meskipun bank banyak dikritik karena kegagalan mereka memiliki kontrol internal yang memadai, tulis Iguchi, para traderlah yang melakukan transaksi dan menyebabkan kerugian. Di mata publik, rogue trader adalah satu-satunya pelaku kejahatan. Ketika dia dikirim ke penjara, kasus ditutup. Si trader nakal dihukum sehingga dia tidak dapat melakukannya lagi. “Masalahnya, tidak ada rogue trader yang mengira ia akan menderita rugi miliaran dollar, karena semua berawal dari kerugian kecil, biasanya kurang dari seratus ribu dollar,” ungkapnya.

Menurut Iguchi, jika seorang trader menderita rugi lebih besar daripada batas yang diizinkan, dia mungkin melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan agar dapat keluar dari kesulitan. Pasalnya jika mengakui kerugian itu, maka ia kehilangan muka dan bisa kehilangan pekerjaan. Namun, jika bank memiliki kontrol yang bagus, Iguchi yakin trader nakal tidak akan melakukan transaksi di luar kewenangannya.

“Lembaga harus memikul tanggung jawab untuk mencegahnya jika mereka terlibat dalam bisnis proprietary trading,” ungkapnya. “Manajemen harus menerima kerugian akibat transaksi ilegal dan tidak bisa menyebut dirinya sebagai korban,” papar Iguchi seraya menambahkan bahwa orang yang membaca bukunya di Jepang akan berpendapat bahwa trader seperti saya adalah korban dari Daiwa yang tidak memiliki kontrol efektif.

Trading, tulis Iguchi, adalah bisnis yang keras. “Ini adalah dunia yang tidak mengenal belas kasihan.” Karena sifat bisnisnya, trader sering berada dalam tekanan psikologis. Untuk bisa bertransaksi dengan baik, orang sering harus melawan sifat manusiawi. Sering kali, trader harus mengabaikan peringatan dari lubuk hati dan melakukan tindakan yang disadarinya bisa menghancurkan diri sendiri. Oleh karena itu Iguchi memandang agar bank sedikitnya tidak memberi tradernya kesempatan untuk melakukan transaksi di luar kewenangannya. “Memberikan hukuman berat tidak akan mencegah trader untuk mengocok dadu sekali lagi jika mereka bisa, terutma jika itu dikaitkan dengan kehilangan pekerjaan.”

Iguchi menambahkan, traders sebenarnya secara konstan tergoda untuk terus berada di sisi aman. Namun ketika melakukan bisnis, semua trader pernah melakukan kesalahan dan menderita rugi. Banyak trader junior masuk ke perangkap yang dipasang oleh trader lain yang lebih besar dan lebih bijaksana. “Jika bank memiliki kontrol internal yang ketat, maka banyak trader akan kehilangan pekerkaan ereka”.

Pengadilan atas diri Iguchi merupakan pengadilan pertama di bidang transaksi ilegal yang dilakukan di AS. Oleh karena itu hakim bersikap tegas karena besarnya kerugian dan publisitas atas kasus terebut. Hakim juga perlu menetapkan preseden untuk mencegah kasus yag sama berulang di masa depan. Menyadari ini, Iguchi menulis, “Saya senang dapat melayani masyarakat jika hukuman keras kepada saya mengirimkanpesan yang dapat mencegah aktivitas serupa,” tulisnya.

Toshihide Iguchi, warga Negara AS kelahiran Kobe, Jepang. Ia beremigrasi ke AS ketika berusia 20 tahun untuk kuliah bidang psikologi di Universitas Negeri Baratdaya Missouri, Springfield, sekolah yang terkenal karena program drama. Ia bergabung dengan Daiwa cabang New York tahun 1977 untuk bekerja di bagian back office. Di sana dia belajar cara menjalankan bagian administrasi kecil dari bisnis transaksi efek. Kemudian dia dipromosikan menjadi trader obligasi. Belum lama menjalankan tugas baruya ini ia menderita rugi USD200.000. Dalam upaya untuk menyembunyikan dan menutup merugian inilah kemudian yang mendorong Iguchi melakukan transaksi dengan nilai di luar kewenangan yang ditetapkan oleh perusahaannya. (Bersambung)

0 Responses to “Seri Klasik Kegagalan Manajemen Risiko: Daiwa Bank (1)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: