Leeson’s Lesson (Bagian 1)

 Karena pemusatan kekuasaan di tangan Nick Leeson yang tanpa kontrol, Barings Bank yang berusia 233 tahun bangkrut dan dijual ke Bank ING (Belanda) seharga GBP1, ya satu poundsterling saja. Apa yang telah Leeson lakukan?  

Menghancurkan jauh lebih mudah daripada membangun. Kalimat bijak ini belaku di mana-mana dan di bidang apa saja. Di bidang jasa keuangan, bukti kebenaran kalimat bijak tersebut terdapat pada kasus ambruknya Barings Bank yang berbasis di London, UK. Hanya perlu waktu tiga tahun untuk menghancurkan reputasi dan bisnis Barings Bank yang dibangun selama 233 tahun.

Barings Bank didirikan oleh ini Sir Francis Baring pada tahun 1762 dan menjadi bank dagang (merchant bank) paling tua di Inggris.  Karena usianya, tak heran kalau bank yang ini mendapat reputasi bagus. Tetapi pada tahun 1995 bank ini kolaps akibat menanggung kerugian senilai USD1,4 miliar di bisnis, jauh di atas modalnya yang sekitar USD900 miliar. ketidakmampuannya memenuhi banyak kewajiban trading, yang dibuka Leeson atas nama bank tersebut. Ambruknya Barings menjadi catatan sejarah penting industri perbankan dan menjadi contoh studi kasus di bidang keuangan dan manajemen keuangan.

Kehancuran dimulai ketika Nicholas William Leeson, yang populer dikenal dengan sebutan Nick Leeson Leeson melakukan transaksi gelap (transaksi yang sebetulnya di luar kewewenangannya) pada tahun 1992, segera setelah dia diperkenankan melakukan trading derivatif di Barings Futures Singapore (BFS), unit bisnis Baring Bank yang menjalankan aktivitas bank tersebut di Simex (Singapore International Monetary Exchange).

Sebagai trader Leeson bertugas mengambil posisi proprietary (transaksi untuk akun sendiri) baik di kontrak opsi maupun kontrak berjangka di SIMEX. Menurut mandat yang dia terima dari kantor pusat di London, dia diizinkan mengambil posisi jika posisi tersebut menjadi bagian dari akun ‘switching’ dan mengeksekusi order nasabah. Dia tidak diizinkan menjual opsi. Namun dia melakukan transaksi di luar wewenangnya. Aktivitas gelap ini semakin menjad-jadi setelah ia menjadi menduduki posisi general manager di BFS. Catatan yang terungkap kemudian dia menderita rugi sejak hari pertama melakukan transaksi gelap.

Namun dia dipandang di London sebagai anak ajaib (wonder boy) dan turbo-arbitrageur yang single-handedly menyumbang setengah dari laba BFS pada tahun 1993 dan setengah dari laba Barings pada tahun 1994. Hal ini karena ia memanipulasi laporan ke london. Bukti menunjukkan bahwa pada 1994 saja, Leeson menyebabkan Barings rugi USd296 juta. Tetapi ia melaporkan bahwa dia untung USd46 juta, sehingga bosnya di london mengusulkan pemberian bonus sebesar USD720.000 kepada Leeson.

The cross-trade

Bagaimana Leeson mampu mengelabuhi orang-orang di sekitarnya? Bagaimana dia mampu membukukan laba pada aktivitas ‘switching‘ yang dilakukannya saat sebenarnya ia menderita rugi? Bagaimana ia bisa menunjukkan bahwa pembukuannya selalu flat ketika dia mengambil posisi long di indeks Nikkei dan posisi short di kontrak suku bunga berjangka di Jepang?

Dewan Pengawasan Bank (BoBS), badan yang dbentuk bank sentral UK, Bank of England, yang melakukan investigasi hancurnya Barings percaya bahwa alat yang digunakan Leeson adalah cross trade. Cross trade adalah transaksi jual beli efek atau kontrak derivatif yang dilakukan di lantai bursa oleh satu pihak saja. Transaksi ini bisa dan boleh dilakukan jika satu anggota bursa (AB) menerima order beberapa nasabah untuk membeli dan menjual efek atau kontrak yang sama pada harga yang sama. Syaratnya, AB tersebut telah memasang harga bid dan offer secara terbuka dan tidak ada anggota bursa lain yang mengambil harga tersebut. Di SIMEX, AB harus memasang bid dan offer price tiga kali sebelum melakukan cross trade dan harus dieksekusi pada harga pasar.

Dalam melakukan cross trade Leeson menggunakan akun rahasia bernomor 88888 yang umum disebut “five-eights account”, akun bernomor 92000 yang disebut akun switching (atas nama Barings Securities Japan, BSJ), dan akun bernomor ‘98007’ (atas nama Barings London) dan akun bernomor 98008 (atas nama Barings London untuk transaksi arbitrase Euroyen).

Setelah mengeksekusi cross-trade, Leeson memerintah staf di bagian settlement merinci semua kontrak ke dalam beberapa transaksi dan mengubah harga transaksi sehingga hasil akhirnya menjadi sangat berbeda. Transaksi yang rugi bisa jadi untung dan sebaliknya. Leeson membukukan keuntungan di akun switching dan membukukan kerugian di akun ‘88888′. Maka jika cross trade di bursa asli terjadi, pembukuan dan catatan Barings berbeda dengan yang ada di bursa. Perubahan harga perlu dilakukan untuk mengelabuhi BSJ bahwa laba yang tercatat di akun 92000 adalah hasil aktivitas arbitrage yang sah. Dampak dari manipulasi ini adalah penggelembungan laba di akun 92000 atas biaya kerugian di akun 88888, yang juga menanggung kerugian besar dari transaksi gelap yang diambil Leeson.

Selain melakukan cross trade di SIMEX antara akun 88888 dan akun switching, Leeson juga melakukan transaksi fiktif antarakun tersebut yang   sebenarnya tidak terjadi di bursa. Dampak dari transaksi di luar bursa ini, yang dilarang di SIMEX, sekali lagi menghasilkan laba di akun switching tetapi rugi di akun 88888.

Intinya, dalam cross-trade ini Barings melakukan transaksi dengan diri sendiri. Artinya, Barings tidak melakukan arbitrase untuk memanfaatkan perbedaan harga di SIMEX dan bursa  berjangka di Jepang, tetapi mengambil posisi terbuka yang nilainya sangat besar dan dikubur di akun 88888. Pernyataan laba dan rugi dari akun 88888 inilah yang sebenarnya mencerminkan dengan benar apakah posisi Leeson laba atau rugi. Hebatnya, detil akun ini tidak dikirim ke kantor treasury atau risk control di London, kelalaian yang akhirnya menimbulkan bencana bagi pemegang saham dan obligasi Barings.  

Leeson mulai membangun posisi di Nikkei setelah gempa bumi Kobe 17 Januari 1995. Posisi Leeson bergerak berlawanan dengan arah Nikkei. Ketika bursa saham Jepang anjlok, posisi Leeson meningkat. Sebelum gempa bumi Kobe, ketika indeks Nikkei bergerak di kisaran 19.000 ke 19.500, Leeson ambil posisi kontrak long sebanyak 3.000 kontrak di Osaka Stock Exchange (OSE). Ini setara dengan 6.000 kontrak di SIMEX karena nilai kontrak di SIMEX hanya setengah dari ukuran kontrak di OSE. Beberapa hari setelah gempa bumi Leeson mulai secara agresif melakukan pebelian kontrak sehingga jumlahnya  menjadi 19,094 kontrak yang dicapai pada Februari 17 1995.

Posisi Leeson di OSE diketahui publik karena memang OSE mengumumkannya setiap minggu oleh OSE. Namun transaksi di OSE hanya mencerminkan setengah transaksi yang dilakukan Leeson. Jika ia ambil posisi long di OSE, dia harus short dua kali lipat jumlah kontrak di SIMEX agar posisinya netral. Ini mengingat strategi perdagangan Leeson adalah arbritage untuk ambil keuntungan dari perbedaan harga antara SIMEX and kontrak Nikkei 225 di OSE. Transaksi arbitrage ini, yang disebut ‘switching’ oleh Barings, mensyaratkan Leeson membeli kontrak yang lebih murah dan menjual sekaligus pada harga tinggi di pasar yang lain. Aktivitas arbitrage ini berisiko kecil karena posisi akhirnya selalu matched.

Masalahnya, Leeson tidak melakukan short di SIMEX sebagaimna seharusnya. Sebaliknya, ia juga mengambil posisi long dengan nilai yang sama di SIMEX. Ada transaksi gelap yang dia sembunyikan di apa yang disebut Akun Error (error acount) bernomor 88888. Dia belakangan juga diketahui menggunakan akun ini untuk mengeksekusi transaksi gelap lain di kontrak berjangka obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bond/JGB) dan transaksi opsi indeks Nikkei 225. Transaksi-transaksi tersebut begitu besar sehingga akhirnya menghancurkan Barings.

Tidak itu saja. Leeson juga melakukan transaksi gelap lain yang tidak kalah berisiko. Pada akhir Januari 1994, Leeson mulai menjual opsi put dan call di Nikkei 225 equity index. Pada November dan Desember 1994 dia menjual 37.000 kontrak opsi opsi put dan opsi call pada harga strike dan tenor yang sama. Sebagai penjual opsi Leeson menerima pembayaran yang disebut premi opsi. Dia membukukan premi penjualan opsi di akun error bernomor 88888.

Strategi ini, dikenal dengan nama straddle, pada intinya adalah berspekulasi pada stabilitas harga pasar. Strategi straddle sangat menguntungkan sepanjang Nikkei 225 diperdagangkan pada harga strike pada saat jatuh tempo karena baik opsi call dan opsi put menjadi tidak ada nilainya. Artinya, penjual opsi menerima premi penuh dan tidak membayar kewajiban. Jika indeks Nikkei berada di dekat harga strike saat jatuh tempo, Leeson masih untung karena premi yang diterima lebih besar dari kewajiban yang dialami baik jika opsi call (jika indeks naik) atau opsi put (jika indeks turun).

      Harga strike kebanyakan posisi straddle Leeson berkisar dari 18.500 ke 20.000. Maka dia berharap bahwa indeks Nikkei 225 terus berkisar di kisaran 19,000 – 20,000 agar nilai premi lebih besar dari kewajiban yang harus dibayarkan kepada pembeli premi. Tetapi gempa bumi Kobe menghancurkan strategi opsi Leeson. Pada hari gempa terjadi, 17 January 1995, indeks Nikkei 225 ditutup pada 19.350 poin. Seminggu kemudian indeks turun menjadi 18.950 sehingga posisi straddle Leeson mulai guncang. Opsi call yang dijual Leeson mulai menurun nilainya sehingga opsi tidak ada nilainya, dan ini berarti keuntungan bagi Leeson. Tetapi opsi put yang dia jual menjadi sangat bernilai bagi pembelinya. Apalagi ketika Nikkei terus turun. Kerugian Leeson di opsi put ini menjadi tidak terbatas, dan sepenuhnya bergantung pada level Nikkei saat jatuh tempo. Sebaliknya, laba dari opsi call terbatas pada nilai premi yang diterima.

      Ketika Nikkei turun 1.000 poin menjadi 17.950 pada Senin 23 Januari 1995, Leeson mencatat kerugian dari posisinya di kontrak berjangka dan berpotensi merugi besar dari menjual opsi put. Tak bisa balik lagi, Leeson, mencoba secara sendirian membalik arah sentimen negatif setelah Kobe yang menakan harga saham Jepang. Pada hari Jumat 20 Januari 1995, tiga hari setelah gempa bumi, Leeson membeli 10.814 kontrak berjangka yang akan jatuh tempo Maret 1995. Tak ada yang tahu apakah dia membeli kontrak tersebut karena dia mengira pasar telah bereaksi berlebihan atas gemba buni Kobe atau karena dia ingin mendongkrak Nikkei untuk melindungi posisi long di dalam strategi straddle. (Leeson tidak melakukan hedge atas posisi opsinya sebelum gempa bumi. Pembelian kontrak berjangka indeks Nikkei 225 setelah gempa tidak dapat ditafsirkan sebagai bagian dari program hedging karena kalau hedging dia akan menjual kontrak berjangka bukan membeli.)

Pada 27 Januari, di akun ‘88888′ tercatat posisi long sebanyak 27.158 kontrrak yang akan jatuh tempo Maret 1995. Selama tiga minggu kemudian, Leeson menggandakan posisi long nya sehingga mencapai 55.206 March 1995 kontrak dan 5640 June 1995 kontrak on 22nd Februari.

Ketika kemudian terkuak pada 27 Februari 1995, Barings, via Leeson, memiliki posisi berjangka di saham dan suku bunga Jepang dengan nilai notional USD27 miliar: USD7 miliar di kontrak berjangka indeks Nikkei 225 dan USD20 miliar di kontrak berjangka Japanese government bond (JGB) dan Euroyen. Leeson juga menjual 70.892 opsi call dan opsi put atas indeks Nikkei dengan nilai nominal USD6,68 miliar. Nilai posisi ini mencengangkan mengingat modal bank tersebut hanya $615 juta.

Nilai posisi Leeson juga terlihat dari fakta bahwa pada Januari dan Februari 1995, Barings Tokyo dan London mentransfer USD835 juta ke BFS agar BFS mampu memenuhi kewajiban marjin di SIMEX.

Terkuak

Ulah Leeson mulaiu terkuak pada Kamis, 23 Februari 1995 ketika ia pergi ke Kuala Lumpur. Pada hari itu, auditor Barings Bank akhirnya menemukan penipuan yang dilakukan Leeson. Hari itu juga chairman Barings, Peter Barings, menerima catatan pengakuan dari Leeson. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. The Bank of England pada akhir pekan itu mencoba mem-bailout tetapi tidak berhasil. Barings dinyatakan insolvent pada Minggu, 26 Februari 1995 dan administrator yang ditunjuk mulai mengambil alih kendali Barings Group dan anak perusahaanya. Setelah dikalkulasi, aktivitas Leeson mengakibatkan kerugian sebesar USD1,4 miliarm dua kali lipat dari modal dagang bank tersebut.

      Akhirnya, ING Banks (Belanda) membeli Barings Bank pada tahun 1995 dengan nilai transaksi tunai GBP1 tetapi ING memikul semua kewajiban Barings, dan terbentuklah ING Barings sebagai anak perusahaan ING. Pada 2001, ING menjual operasi ING Baring ke ABN Amro seharga usd275 juta dan menjadikan ING Barings sisanya menjadi divisi perbankan Eropa s ehingga hanya tersisa divisi manajemen aset saja, yakni Baring Asset Management (BAM). Pada Maret 2005, BAM dipecah dan dijual oleh ING ke MassMutual, yang membeli aktivitas manajemen investasi BAM dan hak menggunakan nama Baring Asset Management name) dan ke Northern Trust (yang membeli aktivitas layanan finansial. Dengan demikian Barings Bank tidak lagi menjadi perusahaan terpisah, meskipun nama Barings masih ada di anak perusahaan MassMutual, yakni Baring Asset Management. (Bersambung ke bagian II tentang kondisi Barings yang memungkingkan terjadinya penggelapan oleh Leeson).

1 Response to “Leeson’s Lesson (Bagian 1)”


  1. 1 Immanuel Dachi March 21, 2011 at 10:02 am

    terima kasih pak atas sharingnya pak…..
    membangtu tugas saya menganalisa kasus BAnk BArings…
    Tidak sabar menunggu pelajaran berikutnya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: