Manipulasi Harga Tembaga Sumitomo

Tiada Yang Abadi (1)  

 Selama 10 tahun Yasuo Hamanaka melakukan cornering harga tembaga dunia, aksi yang berujung kerugian USD2,4 miliar bagi Sumitomo Corporation. Skandal ini menempatkan Hanamaka dalam daftar rouge trader besar dunia. 

 Almarhum John Kenneth Galbraith, yang semasa hidupnya menjadi ekonom terkemuka di AS, pernah menulis bahwa pembobolan di bidang bisnis dan keuangan selalu ada dan hanya sedikit yang terungkap. Dalam masa booming  dan likuiditas tersedia memadai, pembobolan marak dan sebaliknya, dalam masa depresi, berkurang. Ketika sistem finansial mengalami gangguan, modal besar yang menutupi penggelapan pun musnah. Atau dengan kata-kata yang pernah Warren Buffett kemukakan: “hanya jika gelombang surut, Anda akan mengetahui siapa yang berenang telanjang.”

Hal di atas benar dalam kasus manipulasi harga tembaga yang sempat mengguncang pasar komoditi pada 1996. Selama 10 tahun sampai 1995, Yasuo Hamanaka, kepala divisi perdagangan logam Sumitomo Corporation, sukses memanipulasi pasar. Karena itu ia mendapat julukan Mr Copper.

Beberapa factor mendukung kesuksesan Hamanaka dalam memanipulasi harga tembaga dunia. Pertama, jumlah persediaan tembaga milik Sumitomo Corp, yang menurut beberapa laporan mencapai 5% pasar tembaga dunia. Laporan lain menyatakan bahwa jumlah tembaga yang dikendalikan Hamanaka pada suatu waktu tertentu mewakili 5% dari pasokan tembaga dunia.

Jumlah ini kedengaran kecil, mengingat 95% sisanya ada di tangan lain. Namun tembaga adalah komoditi illiquid yang tidak mudah ditransfer ke seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan. Sebagai contoh, kenaikan harga tembaga karena kekurangan pasokan di sebuah negara tidak akan segera diatasi dengan pengiriman dari negara lain yang berkelebihan tembaga. Hal ini karena memindahkan tembaga dari gudang memerlukan biaya, dan biaya ini dapat menegasikan selisih harga. Tantangan dalam memindahkan tembaga dan fakta bahwa bahkan pemain terbesar hanya memegang porsi kecil pasar membuat kendali Hamanaka atas 5% pasar dunia sangat signifikan.

Kedua, Hamanaka meningkatkan penguasaan atas pasar tembaga dengan bermain di pasar derivatif, dengan membangun banyak posisi long di banyak kontrak berjangka. Tidak itu saja, dengan dukungan kas yang besar dari Sumitomo Corp, Hamanaka dapat mempertahankan posisinya ini tidak goyah, jika ada pemain lain yang berusaha menggoyang posisinya.

Menurut Asiaweek.com., Sumitomo telah memberi Hamanaka kebebasan yang tidak biasa atas aktivitas di bagian transaksi logam yang diketuai Hamanaka karena dia dinilai sebagai seorang pemain yang tajam. Kontrol Hamanaka atas transaksi dan manajemen mengizinkannya Hamanaka memisahkan transaksi unauthorized yang dilakukannya dengan transaksi yang tercatat secare resmi. Kedua jenis transaksi ini tercatat atas nama Sumitomo.

            Ketiga, Hamanaka sangat terbantu oleh fakta bahwa London Metal Exchange (LME), bursa logam terbesar di dunia tempat Hamanaka banyak bermain, menjadi acuan bagi harga tembaga dunia. Dan tidak seperti bursa komoditi AS, LME tidak mewajibkan pelaporan posisi sehingga tidak ada statistik yang menunjukkan berapa besar open interest.

Dengan ketiga hal tersebut, Hamanaka mampu memojokkan harga tembaga tetap tinggi secara artifisial selama hampir selama satu dekade sampai pada 1995, sehingga mendapat laba besar. Selain dapat memperoleh harga tinggi untuk tembaga yang dijualnya, Sumitomo menerima manfaat dalam bentuk komisi atas transaksi tembaga yang dia tangani.

Banyak spekulator dan hedge fund menyadari manipulasi harga oleh Hamanaka. Beberapa di antara mereka mencoba menggoyang aksi tersebut dengan melakukan short selling untuk memaksa harga dapat turun ke level yang wajar untuk kemudian menutup posisi dengan mengantongi gain. Tetapi usaha mereka gagal katena Hamanaka mampu mengeluarkan lebih banyak dana untuk mempertahankan posisinya. Pendek kata, posisi long Hamanaka memaksa pemain yang melakukan shorting tembaga menutup posisi segera dengan menderita rugi atau menyerahkan barang.

            Tetapi tidak ada yang abadi. Begitu juga dengan upaya Hamanaka memanipulasi pasar tembaga. Kondisi pasar berubah pada 1995, sebagian karena kebangkitan sektor pertambangan di China yang mendongkrak produksi. Kenaikan pasokan membuat harga tembaga yang lebih mahal daripada seharusnya, akhirnya mengalami koreksi.

Menaggapi Skandal Tembaga, Steve Strongin, direktur riset komoditi di Goldman, Sachs & Co. di New York, waktu itu menyatakan bahwa ketika seorang trader dengan dukungan keuangan yang kuat mencoba mendistorsi pasar komoditi, langkah tersebut akan memberi hasil untuk sementara, tetapi aksi itu akhirnya akan berakhir. Dia mencontohkan, pada akhir 1970an keluarga Hunt mencoba melakukan cornering di pasar perak, tetapi gagal. Pada waktu itu ia menimbun perak sehingga harga kemudian bergerak naik. Kemudian, pasokan perak yang sebelumnya tersembunyi kemudian masuk ke pasar sehingga harga kemudian turun tajam.

Sumitomo telah menghasilkan banyak uang dari aksi manipulasi, tetapi mereka tertinggal terikat dalam posisi long atas tembaga ketika harga mengarah ke penurunan tajam. Akibatnya, posisi long Hamanaka menimbulkan potential loss besar. Untuk mengatasi masalah ini, Hamanaka sempat melakukan hedging dengan melakukan short selling, dengan harapan memperoleh gain yang dapat menutupi kerugiannya di posisi long kontrak berjangka, yang nilainya semakin besar.

Namun, selagi Hamanaka berjuang untuk memperoleh  gain dari transaksi short selling-nya, LME dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), otoritas bursa komoditi Amerika Serikat, mulai menyelidiki adanya dugaan manipulasi pasar tembaga. Penggelapan ini menyebabkan harga tembaga  tumbang.

            Sumitomo menanggapi penyelidikan itu dengan memindahkan Hamanaka dari posisinya. Pemindahan Mr Copper ini kemudian diikuti dengan penutupan posisi long yang dilakukan oleh Hamanaka. Karena penutupan posisi dilakukan pada saat yang tidak pas, posisi long yang dinuat Hamanaka menghasilkan kerugian besar. Pada awalnya Sumitomo mengumumkan kerugian sebesar antara USD1.8 miliar dan USD5 miliar. Belakangan, Sumitomo mengumumkan bahwa kerugian finansialnya mencapai USD2,6 miliar.

Pejabat Sumitomo juga menyatakan bahwa Hamanaka adalah seorang rogue trader dan aksinya sepenuhnya tanpa sepengetahuan manajemen. Hamanaka didakwa telah memalsukan tanda tangan atasannya dalam berbagai domuken yang memberiknya otoritas penuh memperdagangkan  tembaga dan mentransfer dana. Eksekutif Sumotomo menekankan bahwa penyelia Hamanaka tidak mengetahui transkai illegal yang Hamanaka lakukan.

Hamanaka mengaku bersalah atas tuduhan tersebut dan kemudian dia dihukum penjara selama delapan tahun pada 1988. Dia dibebaskan secara bersyarat pada Juli 2005, setahun lebih awal dari masa hukuman.

Reputasi Sumitomo cacat karena banyak orang percaya bahwa perusahaan tersebut mestinya tidak dapat mengabaikan posisi Hamanaka di pasar tembaga, khususnya karena mereka telah menerima manfaat selama bertahun-tahun. Para trader berpandangan bahwa Sumitomo pasti telah mengetahui karena perusahaan ini telah menyalurkan lebih banyak dana ke Hamanaka setiap kali ada spekulator yang mencoba mengguncang posisinya.

1 Response to “Manipulasi Harga Tembaga Sumitomo”


  1. 1 Andaru February 23, 2011 at 5:34 pm

    Ok, mas trims tulisannya memperkaya pemahaman kami dalam dunia bisnis
    selamat bekerja

    trims

    andaru


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: