Investing versus Gambling

Kepada Pak Jaka, saya (34) seorang entrepreneur yang menjalankan usaha di bidang event organizer di Medan. Sekarang ini saya memiliki dana yang belum saya gunakan sedikitnya dalam lima tahun ke depan dan saya tertarik untuk berinvestasi ke saham. Saya sudah beberapa kali mendengarkan presentasi tentang cara berinvestasi saham. Dapatkah bapak menunjukkan saham-saham apa yang harus saya beli. Benarkah bahwa bermain saham adalah berjudi.

Terima kasih atas perhatian dan jawaban pak Jaka.

Tertanda, Nina, Medan

Ibu Nina, terima kasih atas pertanyaannya. Saya akan menanggapi pertanyan terakhir Anda terlebih dahulu. Sebenarnya, pertanyaan apakah berinvesasi di saham sama dengan berjudi adalah salah satu isu klasik di bidang investasi. Dalam beberapa hal, kedua aktivitas tersebut menyebabkan hasil yang tidak pasti. Namun ada perbedaan utama: investor lebih mampu mengelola risiko dibandingkan dengan penjudi. Isu ini mengingatkan saya pada film berjudul 21 yang belum lama diputar, kalau tidak salah satu di RCTI. Film ini, dirilis di US pada 2008, adalah film drama dengan inspirasi kisah sejati tim Blackjack Massachussetts Institute of Technology (UK) yang tertuang dalam buku Bringing Down the House, buku best seller karya Ben Mezrich. Film 21 mengisahkan mahasiswa Matematika MIT Ben Campbell (Jim Sturgess) yang diterima di Harvard Medical School tetapi tidak mampu membayar seluruh biaya kuliah sebesar USD300.000. Campbell kemudian diajak seorang professor matematika untuk bergabung dalam tim blackjack beranggotakan enam masa mahasiswa MIT. Dengan enggan Campbell bergabung dan menyatakan akan berhenti setelah berhasil mengumpulkan uang untuk menutup biaya sekolah. Blackjack, juga disebut Duapuluh-satu adalah salah satu permainan yang banyak digelar di banyak kasino di dunia. Intinya, dengan lecerdasan dan kepribadiannya Campbell menang besar dalam blackjack. Dengan kemenangannya ia hidup mewah di Las Vegas, pusat perjudian dunia, dan sudah mendapat bagian kemenangan lebih besar daripada biaya kuliah yang dia butuhkan. Tetapi ia menjadi serakah. Dengan harapan menang lebih besar dia bertaruh besar-besaran meskipun anggota timnya sudah memperingatkan bahwa Campbell sudah tidak lagi rasional, tetapi emosional. Campbell kalah besar dalam permaianan besar ini sehingga membuat professor yang merekrutnya marah dan menuntut Campbell mengganti kekalahan tersebut dengan hasil kemenangan yang diperoleh. Bringing Down, adalah salah satu buku tentang cardcounting, cara memenangkan permainan blackjack yang pada hahikatnya adalah permainan probabilitas. Dalam permainan ini, dan permainan lain, Bandar memiliki peluang lebih besar untuk menang. Namun dengan kalkulasi, pemain cerdas yang ingat angka dan mampu menghitung cepar mampu meningkatkan peluang untuk menang. Cardcounting sendiri dilakukan oleh para ahli matematika di US dan telah menghasilkan banyak buku sejak 1960an. Teknik ini legal dan telah membuat banyak pengelola casino rugi besar sejak itu. Untuk mengatasi hal ini pengelola casino menolak para cardcounter. Jika ketahuan ada cardcounter di meja, pengelola akan mengusirnya. Salah satu matematikus adalah Edward O. Thorp, pengarang buku best seller Beat the Dealer terbitan 1960an. Thorp, yang kemudian dikenal sebagai bapak Card counting, adalah professor matematika MIT yang kemudian menjadi hedge fund manager, dan blackjack player dan mendapat gelar professor di bidang finance. Thorp menggunakan pengetahuannya tentang probabilitas dan statistic di pasar modal dan sukses juga. Investasinya di pasar modal menghasilkan return 20% selama hamper 29 tahun. Hedge fund yang dikelolanya selama 43 tahun, mencatat return bagus selama 42 tahun. Orang memandang blackjack sebagai sebuah judi, tetapi di mata para cardcounter, yang mampu memitigasi risiko, blackjack adalah sebuah investasi. Penjelasan yang senada pernah saya dengar dari Lin Che Wei, analis saham yang pernah menjadi Direktur Utama PT Danareksa Persero. Dalam sebuah diskusi, ia menyatakan bahwa bertaruh di pertandingan bola di Liga Eropa bukan berjudi, kalau petaruh mampu meminimalisasi risiko, misalnya dengan meriset data pemain dan dari sini membuat keputusan untuk bertaruh. Jadi bukan bertaruh secara asal karena alasan emosional. Di sisi lain, ada teknik bermain saham yang menurut hukum Islam adalah sesuai syariah dan oleh karena itu bukan judi, yang dilarang Islam. Ada beberapa jenis transaksi yang memang tidak sesuai syariah. Dari paparan di atas saya bias menyimpulkan bahwa bermain saham, yang secara umum bukan judi, bisa disebut judi kalau pemain tidak bisa memitigasi risiko. Dan kenyataannya, banyak orang bermain saham karena hal itu dapat memacu adrenalin yang membuat badan merasa nyaman. Banyak orang senang berjudi karena aktivitas ini mampu memicu adrenalin dalam tubuh. Ibu Nina, dana Anda, yang tidak akan digunakan dalam lima tahun ke depan, layak diputar di saham menurut kebijakan konvensional. Tetapi, tanpa kemampuan memitigasi risiko yang memadai, menurut saya, Anda telah berjudi. Nah, kalau memang berniat untuk memutar dana di saham pertama belilah saham-saham yang aman seperti PT Telkom dan saham blue chip lain yang tidak akan bangkrut dalam 5 tahun ke depan dan sebaliknya memiliki prospek bagus. Bertransaksilah sedikit demi sedikit sambil belajar lebih banyak mengenai saham dan teknik bertransaksi sehingga nantinya Anda bisa mengelola risiko lebih baik. Hal ini penting karena, terlepas dari persoalan berjudi atau berinvestasi, pemodal saham akan terdorong untuk melakukan banyak transaksi. Ada dua sebab, pialang Anda dengan berbagai upaya akan mendorong Anda akif bertransaksi. Tujuannya bukan agar keuntungan Anda lebih banyak, tetapi agar Anda membayar komisi transaksi lebih banyak. Praktik pialang tersebut disebut churning dan secara legal dilarang di US. Ada kalanya pemodal sendiri yang ingin aktif bertransaksi karena hal itu, sekali lagi, memacu adrenalin. Praktik ini umum disebut scalping. Hasil dari churning dan scalping sama: lebih banyak komisi untuk pialang. Komisi ini akan menggerogoti gain yang mungkin Anda dapat. Strategi paling baik ketika membeli saham, dan saya yakin para pialang juga tahu, adalah buy dan hold untuk jangka panjang dan bertransaksi hanya kalau ada alasan bagus untuk melakukannya, bukan karena dorongan hati. Mengingat kesibukan Anda, mengapa Anda tidak berinvestasi di saham secara tidak langsung, yakni melalui reksa dana? Ibu Nina, perlu saya tambahkan satu hal untuk bahan pertimbangan ketika berinvestasi di pasar modal. Menurut hasil riset Bapepam-LK tentang profil pemodal reksa dana di Indonesoa. Jumlah pemodal reksa dana yang menjadi responden dalam riset Bapepam-LK, jumlah pemodal yang beragama Islam adalah 24,8%. Di sisi lain, pemodal beragama Katholik menyumbang 25,9% dan pemodal beragama Protestan 25,8%. Ini data menarik dan perlu jawaban lebih lanjut sebab kita tahu bahwa hampir 90% persen penduduk Indonsia adalah Muslim. Sejauh ini, memang ada pandangan di kalangan Muslim, khususnya di mahzab tertentu, yang mempertanyakan halal tidaknya bertransaksi di pasar modal di Indonesia. Unsur Indonesia menjadi penting di sini karena kondisi pasar modal di Indonesia yang masih dangkal (Shallow) yang membuat saham di Indonesia menjadi lebih berisiko daripada bursa saham lain yang sudah maju.

Selamat berinvestasi Jaka Cahyono

1 Response to “Investing versus Gambling”


  1. 1 Kambing Aqiqah July 2, 2013 at 9:37 pm

    Hi, every time i used to check webpage posts here in the early hours in the daylight, for the reason
    that i like to gain knowledge of more and more.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: