Seri Kasik Manajemen Risiko: Daiwa Bank (2, Habis)

Daiwa Bank Tertekan Kerugian Transaksi

Obligasi negara AS adalah efek yang dipandang paling aman di dunia. Namun di tangan trader agresif seperti Iguchi, efek tersebut bisa menghancurkan Daiwa meski tidak secara langsung dan seketika. Bagaimana itu bisa terjadi?

Dibuka pada 1950-an, Daiwa cabangNew Yorkmulai mentransaksikansuratutangNegaraAS, baik untuk melayani dana pensiun yang menjadi nasabahnya dan untuk portofolio sendiri. Bisnis ini berjalan bagus sehingga selama 1980-an Daiwa cabangNew Yorkini menjadi kekuatan signifikan di pasar obligasi AS. Bahkan pada tahun 1984, Daiwa Bank ditunjuk menjadi salah satu primari dealer oleh pemerintah AS.

Pada tahun 1984 ini pula, Daiwa menunjuk Toshihide Iguchi sebagai penanggung jawab divisi trading ini. “Kami benar-benar mempercayainya,” kata Akira Fujita, presiden Daiwa dalam konferensi pers di kantor pusat,Osaka, Jepang, setelah kasus Iguchi terbuka ke masyarakat. “Dia menciptakan sebuah sistem di mana dia bertanggung jawab atas semuanya.”

Tetapi kepercayaan yang diberikan kepada Iguchi terlalu besar. Sambil bertanggung jawab atas divisi trading, Iguchi juga masih mengepalai bagian back-office, posisi yang telah dia pegang sejak 1977. Kurangnya pemisahan ini, satu gambaran yang relatif umum untuk desk trading kecil pada awal 1980-an tetapi sudah menjadi praktik yang diragukan pada awal 1990-an, mengarah ke kejatuhan Daiwa.

Dalam menjalankan bisnis trading dan custody, Daiwa CabangNew Yorkmenyimpan obligasi pemerintah AS yang dibelinya, dan yang dibeli atas nama nasabah, dalam sebuah sub-akun di Bankers Trust. Melalui sub akun ini, bunga atas obligasi dikoleksi dan diedarkan,  dan obligasi ditransfer atau dijual sesuai harapan baik nasabah atau manajer bank. Daiwa dan nasabahnya menyimpan catatan atas apa yang terjadi di akun ini melalui laporan transaksi dari Bankers Trust yang masuk ke Daiwa melalui Iguchi, dalam peranannya sebagai kepala back office.

Menggunakan sistem itu, Iguchi membangun reputasi sebagai trader lincah. Daiwa menyatakan Iguchi melakukan 30.000 kali transaksi illegal selama 11 tahun. Oleh mitra trader ia disebut sebagai ‘Big Foot’ karena memasang order dalam nilai besar dan sabar. Trader lain menyebut Iguchi sering berusaha untuk memanipulasi pasar. Misalnya, kata sumber tersebut, Iguchi dalam sehari bisa membeli obligasi pemerintah AS sebesar USD500 juta. Untuk itu, dia menelfon empat ataulimaperusahaan sekaligus dan membeli dari mereka obligasi masing-masing dengan nilai USD50 juta sampai USD100 juta. Ketika berita ini tersebar, harga efek akan naik. Pada saat inilah Iguchi mencoba memanfaatkan pasar dengan melepas apa yang dia beli demi laba cepat.

Anehnya, meski sudah berjalan 11 tahun transaksi illegal oleh Iguchi tidak pernah terdeteksi oleh kantor pusat. Baru pada pada 13 Juli 1995, kantor pusat Daiwa Banks baru tahu transaksi tersebut. Itupun setelah Iguchi mengakui, dalam sebuahsuratbertulisan tangan setebal 30 halaman kepada president banknya di Jepang, bahwa dia telah merugi sekitar USD1,1 miliar selama memperdagangkan obligasi pemerintah AS.

Pejabat Daiwa bank mengatakan Iguchi melakukan aksi tersebut bukan untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk melindungi reputasinya sebagai pedagang obligasi yang cerdas setelah dia menderita rugi sebesar USD200.000 yang dilakukan pada masa awal karirnya sebagai trader. Mary Jo White, JaksaPenuntut di Manhattan,AS, setuju pernyataan tersebut. “Itu adalah transaksi yang dilakukan atas nama dan demi kepentingan bank,” katanya.

Mengapa kerugian sampai sebesar itu, apakah Iguchi memperdagangkan efek lain? Tidak. Kepada Time Iguchi juga memaparkan bahwa efek yang diperdagangkan adalah obligasi yang sama. “Itu cukup sederhana bagi manajemen untuk memahami. Saya memiliki beberapa atasan yang seharusnya memahami hal itu juga,” kata Iguchi, seraya menambahkan bahwa ia terus melakukan aksi illegal tersebut karena Daiwa cabangNew Yorksangat bergantung pada divisi trading dalam memperoleh laba. “Kami menghasilkan lebih dari setengah laba diNew York(dan) mereka menutup mata dan tidak mau tahu apapun juga”. Karena itu Iguchi bahkan disambut bak anak emas di Daiwa.

Bagaimana Iguchi melakukannya. Metodenya sederhana: setiap menderita rugi, dia menjual obligasi dari akunnya sendiri atau milik nasabah dengan dokumen palsu yang membuat seolah-olah transkasi sah. Ketika Iguchi rugi beberapa ratus ribu dolar di awal kegiatan tradingnya, dia tergoda untuk menjual obligasi yang tercatat di sub-akun Bankers Trust untuk menutup kerugiannya. Kemudian, dengan kata-kata agen FBI yang meyelidiki kasus ini: dia menyembunyikan penjualan ilegalnya dari akun penyimpanan dengan memalsukan statemen akun Bankers Trust sehingga statemen yang keluar tidak menunjukkan bahwa dia sudah menjual efek di sub-akun.

Ketika nasabah kemudian memberikan order untuk menjual efek, yang Iguchi sebenarnya telah jual atas namanya sendiri, atau ketika nasabah perlu dibayar bunganya atas efek yang sudah dijual, Iguchi menyelesaikan masalah ini dengan menjual efek lebih banyak. Ini berarti ia juga harus mengubah banyak catatan. Pada akhirnya sekitar USD377 juta dana nasabah Daiwa sudah terjual oleh Iguchi dalam upayanya untuk menutup kerugian dagangnya.

Ketika dia mengalami kerugian lebih banyak uang dalam upayanya menutup kerugian. Maka makin sulitlah baginya untuk membuat rangkaian statemen palsu. Tetapi untung baginya, Daiwa dan auditor internal tidak pernah secara independen mengkonfirmasi pernyataan akun tersebut.  Selain itu, Iguchi bisa bertahan dengan catatan palsu tersebut karena ada perlindungan langsung dari atasan Iguchi. Dia bisa melakukan hal itu karena ada bantuan dari atasannya, antara lain dengan menyembunyikan kerugian USD97 juta melalui transfer ke sebuah perusahaan di Cayman Islands, yang dibentuk khusus untuk menggeser dan menutupi kerugian.

Tetapi kerugian yang dihimpunnya sampai pada awal 1990-an semakin besar dan semakin sulit untuk disembunyikan. Hal ini terasa sekali setelah 1993, ketika Daiwa melakukan upaya tidak serius untuk memisahkan fungsi trading dan back-office. Begitupun, Iguchi mampu memperpanjang penipuannya dua tahun lagi, sebelum dia akhirnya memutuskan sendiri hari pembalasannya. Pada musim 13 Juli 1995, dia membuatsuratpengakuan kepada presiden Daiwa bank di Jepang.

Sebenarnya wartawan majalah Times yang mewawancarainya ketika ia dalam masa tahanan penjara, Iguchi mengaku bahwa ia sudah merasa melakukan kejahatan sejak 1993, selama sebuah pemeriksaan oleh pejabat bank sentral AS. “Saya melihat bulletin Federal Reserve yang menyatakan bahwa membuat laporan palsu kepada pemeriksa federal adalah kejahatan federal,” katanya. Namun ia tidak segera melaporkankan kerugian karena ia mengaku pernah mendengar ada enam atau tujuh kasus transaksi illegal yang menyebabkan kerugian antara USD100 juta dan USD300 juta. Setelah itu kasus tersebut tidak terdengar perkembangannya. Karena itu ia tidak segera membuat pengakuan.

Sebenarnya pada November 1993, setelah pemberlakuan UU Peningkatan Pengawasan Bank Asing, Federal Reserve Bank ofNew Yorkmelakukan pemeriksaan atas Daiwa cabangNew York. Pada pemeriksaan itu pemeriksa New York Federal Reserve menemukan peran ganda Iguchi sebagai pejabat yang bertanggung jawab pada divisi penyimpanan dan transaksi efek sekaligus. Namun, ada pernyataan dari Daiwa setelah itu bahwa sudah ada pemisahan jabatan.

Pada September 1994, pejabat otoritas perbankan AS kembali memeriksa Daiwa dan, lagi, mereka diyakinkan bahwa Iguchi hanya bertanggung jawab pada divisi kustodi dan ada pejabat senior yang memeang tanggungjawab di divisi trading. Bahkan menurutsuratdakwaan oleh jaksa  AS, Daiwa telah merelokasi trader-trader tertentu dan bila mungkin menyamarkan trading room untuk mengelabuhi pejabat AS bahwa pemisahan tersebut telah dilakukan.

Namun, Iguchi akhirnya menyerah pada 13 Juli 1995 dengan mengirimkan surat pengakuan karena dia tidak dapat melihat orang lain selain dirinya yang bisa mengakhiri situasi tersebut. Ketika ditanya wartawan Time mengapa ia melaporkan ke presiden Daiwa bukan ke otoritas di AS, dia menjawab motivatinya sederhana. “Saya semumla menulissurat pengakuan ke presiden Daiwa agar mendapat perhatian dari bank. Saya masih mengira itu hal benar. Banyak orang, termasuk penegak peraturan di Daiwa, tidak memahami implikasi dari sesuatu seperti ini diketahui public. Dari sini akan terserah pada bank untuk mengungkapkan informasi tersebut ke otorits atau ke publik.”

Ternyata Daiwa memilih menunggu dan menutip-nutupi persoalan. Daiwa terlambat dua bulan dalam memaparkan laporan Iguchi ke pihak berwenang di AS. Baru pada 18 September 1995, Daiwa melaporkan kasus Iguchi ke bank sentral AS. Selama periode 13 Juli dan 18 September, beberapa manager Daiwa dan Iguchi berkonspirasi untuk mencegah kerugian terbuka. Selama periode tersebut, Iguchi dilaporkan berpura-pura sedang liburan sehingga audit yang dijadwalkan harus ditunda. Padahal dia sebenarnya di apartemen manager Daiwa di  New Yorkyang membantunya merekontruksi sejarah transaksi dari divide tradingDawaNY. Para manager Daiwa berharap dapat menstransfer kerugian keJapan, yang berada di luar pengawasan regulator perbankan dan pasar modal AS.

Pada tahun 1995, Daiwa adalah salah satu dari 10 bank terbesar Jepan dan satu dari 20 bank terbesar di dunia dalam hal ukuran aktiva. Seperti bank-bank Jepang dan beberapa bank Eropa lain, Daiwa menyimpan  laba bersar di luar neraca, langkah yang sak karena metode akunting yang digunakan. Itu memberi manajemen Daiwa banyak kebebasan untuk bertindak jika timbul masalah. Salah satu aksi Daiwa adalah memasukkan laba tersebut ke dalam akun untuk mengganti nilai efek milik nasabah yang telah dijual oleh Iguchi. Belakangan Daiwa mengklaim bahwa tidak ada satu nasabah pun yang kehilangan uangnya dari skandal itu.

After Daiwa memberitahu regulator tentang kerugiannya, Biro Investigasi Federal (FBI) menciduk Iguchi dan membawanya ke sebuah motel untuk ditanyai dan kemudian langsung menagannya. Pada waktu itu ia mengaku kepada agen-agen FBI tentang apa yang terjadi selama dua bulan sejak ia membuat pengakuan. Karena informasi ini, Daiwa mendapat tuduhan kejahatan kepada Daiwa berupa upaya konspirasi, penggelapan, pemalsuan catatan yang semuanya masuk kategori kejahatan federal. Pada 26 September Daiwa memecat Iguchi dan mengumumkan kerugiannya.

Namun hal itu tidak memuaskan Regulator AS, karena mendapati bahwa selama periode tersebut Daiwa telah memberitahu Menteri Keuangan Jepang, Masayoshi Takemura, pada awal Agustus soal skandal tersebut dan Menteri Keuangan Jepang juga tidak melanjutkan informasi tersebut ke Menteri Keuangan AS, Robert Rubin. Ini mendorong skandal Daiwa ke panggung politik dengan hasil akhir Menteri Keuangan Jepang diwajibkan meminta maaf keMenkeuAS.Pada saat itu banyak regulator internasional membawa skandal Iguchi sebagai tanda kurangnya keterbukaan bank Jepang dan system keuangan Jepang.

Pada titik ini beberapa pejabat senior bank Daiwa sudah mengundurkan diri atau menunjukkan gelagat akan pensiun dini. Manajemen puncak sudah menyatakan siap memotong gaji selama beberapa dan bonus sebagai tanda penyesalan. Pada Oktober 1995, Iguchi mencapai kesepakatan dengan jaksa AS dan mengakui telah melakukan kesalahan dalam mengelola dana bank, menunda data dan catatam bank, pencucian uang dan melakukan konspiras. Iguchi mengatakan kepada hakim hakim pada saat penyidikan awal bahwa kesalahannya: setelah 11 tahun gagal berusaha menutupi kerugian, hidupnya penuh denganrasa bersalah, ketakutan dan kepalsuan.

Kerugian dagang Daiwa Bank adalah salah satu yang terbesar dalam sejarah keuangan dunia. Tidak seperti Barings Bank, yang tertelan oleh kegagalan sejenis dalam manajemen risiko pada tahun yang sama, aktiva Daiwa pada waktu itu USD200 miliar dan USD8 miliar dalam cadangan. Itu membuat Daiwa Bank mampu bertahan, sedikitnya untuk sementara, dari pukulan itu. Tetapi hukuman oleh regulator AS dan hinaan publik memberikan pukulan keras bagi reputasi Daiwa. Pada November 1995, Federal Reserve memerintahkan Daiwa untuk mengakhiri operasinya di AS dalam hari. Atas putusan ini, pada akhir Januari 1996 Daiwa setuju menjual hampir semua aktivanya di AS yang nilainya USD3,3 miliar ke Sumitomo Corp dan pada February 1996 setuju membayar denda USD340 juta untuk menghindadi pertempuran legal mengenai peran Daiwa dalam skandal Iguchi.Adaidu akan merger dengan Sumitomo.

Skandal itu juga mengarahkan secara tidak langsung Standard & Poors untuk menurunkan peringkat kredit Daiwas dari A menjadi BBB. Menteri Keuangan Jepang kemudian juga mengenakan pembatasan aktivitas Daiwa Bank selama beberapa tahun. Sejalan dengan itu pada 1998, Presiden Daiwa, Takashi Kaiho, mengatakan dalam konferensi pers Daiwa menutup cabang-cabangnya di luar negeri dan akan fokus sebagai bank regional di Asia Tenggara. Di dalam negeri, Daiwa juga membatasi diri untukhanya melayani divisi ritel dan kustodian.

Pada Desember 1996 Iguchi diputuskan bersalah oleh pengadilan dan dihukum empat tahun dan denda USD2,6 juta, yang dikatakan Iguchi di luar kemampuannya membayar. Masahiro Tsuda, atasan Iguchi, general manager Daiwa cabang New York dihukum penjara dua bulan dan denda USD100,000 karena menutupi kerugian dan berkonspirasi untuk menyembunyikan kerugian. Tsuda mengakui bahwa dari 1986 to 1995, dia berpartisipasi dalam menyembunyikan kerugian sebesar USD97 juta dan menyatakan bahwa anak buahnya memalsukan catatan bank dan menjual efek order to make interest payments on missing securities.

Dalam jangka menengah skandal Iguchi menelan para atasan Iguchi. Pada 20 September 2000, pengadilan di Osaka, Jepang, memerintahkan 11 eksekutif yang bekerja selama zaman Iguchi, ada yang masih aktif maupun sudah pensiun, membayar ganti rugi sebesar USD775 juta kepada pemegang saham. Hakim Mitsuhiro Ikeda menjelaskan bahwa ganti rugi tersebut merupakan kompensasi kepada pemegang saham karena mekanisme manajemen risiko di cabang [New York] tidak berfungsi.

Beberapa pengamat terkejut dengan besaran denda tersebut. Eksekutif Daiwa segera menolak keputusan tersebut dan mengajukan banding untuk menunda setiap penyitaan aktiva mereka. Banyak pengamat mengatakan, keputusan pengadilan di Jepang itu menandai perubahan sikap tentang tanggung jawab eksekutif dan dewan pengawas. Di Jepang, dan di kebanyakan Negara maju lain, semakin besar kemungkinan bahwa manajemen senior yang bertanggung jawab pada bank atau perusahaan pada saat terjadi bencana akan dimintai pertanggungjawaban pribadi.

Pada 2001 Daiwa Bank merger dengan beberapa bank dan berubah menjadi Daiwa Bank Holdings. Setelah mengakuisi Asahi Bank pada 1 Maret, 2002, Daiwa berubah nama menjadi Resona Holdings, Inc. pada 1 Oktober, 2002. Salah satu unit usahanya adalah Resona Bank.

 

0 Responses to “Seri Kasik Manajemen Risiko: Daiwa Bank (2, Habis)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: