Ekonomi Makro Bagi Pemodal (3): Inflasi, Inflasi, Inflasi

Inflasi! Inflasi! Inflasi!

Banyak investor, khususnya mereka yang berinvestasi di efek pendapatan tetap, peduli tentang inflasi. Hal ini karena laju inflasi terkini dan prakiraan inflasi di masa depan menentukan suku bunga yang berlaku dan pada gilirannya return mereka. Mereka juga menggunakan laju inflasi, umumnya, untuk menghitung daya beli uang mereka di masa depan. Bagi konsumen, inflasi menyebabkan pendapatan riil masyarakat menurun. Kalau pendapatan mereka tidak meningkat maka standar hidup mereka menurun.

Bagi investor saham, laju inflasi menjadi pertimbangan mereka dalam menyusun portofolio dengan harapan menghasilkan tingkat pengembalian riel tertinggi. Real return adalah return investasi yang tersisa setelah komisi, pajak, inflasi dan semua biaya lain.  Selama inflasi moderat, pasar saham memberikan peluang terbaik kalau dibandingkan dengan instrument pendapatan tetap dan pasar uang.

Apa sebenarnya inflasi? Secara sederhana inflasi diartikan sebagai gejala kenaikan level harga secara umum, bukan kenaikan harga dari satu atau dua barang/jasa saja. Gejala umum penurunan penurunan harga disebut deflasi.

Inflasi dapat berarti peningkatan jumlah uang beredar atau kenaikan tingkat harga. Umumnya, ketika kita mendengar tentang inflasi, kita mendengar tentang kenaikan harga dibandingkan dengan harga patokan. Kenaikan jumlah uang beredar pada akhirnya akan mengarah ke kenaikan harga barang dan jasa.

Laju inflasi dihitung dengan dua sarana: melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) dan deflator PDB. IHK memberikan harga saat ini sekeranjang barang dan jasa yang kemudian diperbandingkan dengan yang dihitung pada tahun dasar perhitungan. Deflator PDB adalah rasio dari GDP nominal terhadap GDP riil.  Selisih IHK saat ini dibandingkan dengan IHK tahun dasar menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) pada 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.

Indikator inflasi lain berdasarkan international best practice adalah:

  1. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas.
  2. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.

Pengelompokan Inflasi

Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose – COICOP), yaitu :

1.         Kelompok Bahan Makanan

2.         Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau

3.         Kelompok Perumahan

4.         Kelompok Sandang

5.         Kelompok Kesehatan

6.         Kelompok Pendidikan dan Olah Raga

7.         Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

Disamping pengelompokan berdasarkan COICOP, BPS saat ini juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan lain yang dinamakan disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi ini dilakukan untuk menghasilkan suatu indikator inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.

Di Indonesia, disagegasi inflasi IHK tersebut dikelompokan menjadi:

  1. Inflasi Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti: Interaksi permintaan-penawaran, Lingkungan eksternal(seperti nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang), dan Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen.
  2. Inflasi non Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung fluktuatif karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non inti  terdiri dari :
    1. Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food) :Inflasi akibat perubahan mendadak dalam ketersediaan barang seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional.
    2. Inflasi Komponen Harga yang diatur Pemerintah (Administered Prices): Inflasi terutama akibat kebijakan Pemerintah, seperti menaikkan harga BBM, tarif listrik, atau tarif angkutan.

Penentu Inflasi

Inflasi bisa timbul karena tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi mata uang, inflasi di Negara mitra dagang utama, harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.

Demand pull inflation terjadi jika permintaan barang/jasa lebih tinggi daripada ketersediaannya. Misalnya permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian.

Faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam membuat keputusan ekonomi. Ekspektasi inflasi tercermin dari terbentuknya harga di tingkat produsen dan pedagang, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan dan penentuan upah minimum regional (UMR). Meskipun persediaan barang dapat memenuhi kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada cenderung meningkat. Pada saat penentuan UMR, pedagang ikut meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tidak terlalu signifikan mendorong peningkatan permintaan.

Pengendalian Inflasi

Pemerintah berkepentingan mengendalikan laju inflasi pada level yang tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi dan memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, inflasi yang tinggi dan tidak stabil berdampak negatif pada kondisi sosial ekonomi masyarakat, yakni menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Inflasi yang tidak stabil menyulitkan masyarakat dalam mengambi keputusan dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menganggu pertumbuhan ekonomi. Jika laju  inflasi domestik lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara lain menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah. Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah berkoordinasi dan Bank Indonesia membentuk Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat sejak 2005. Anggota TPI, terdiri dari Bank Indonesia dan departmen teknis terkait di Pemerintah seperti Departemen Keuangan, Kantor Menko Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan, dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Menyadari pentingnya koordinasi tersebut, sejak tahun 2008 pembentukan TPI diperluas hingga ke level daerah.

0 Responses to “Ekonomi Makro Bagi Pemodal (3): Inflasi, Inflasi, Inflasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: