Kenapa Jadi Franchisee, Kalau Bisa Jadi Franchisor

Tulisan ini muncul pertama kali di Jurnal Nasional | Selasa, 19 Jul 2011

PERKENALKAN nama saya Eko. Dalam waktu tidak lama lagi, saya ingin berbisnis dengan rekan-rekan saya waktu kuliah. Tentunya untuk menambah pendapatan selain menjadi karyawan swasta.

Kami banyak menggali informasi dan berdiskusi dengan banyak orang. Kami bimbang akan dua pilihan yaitu membeli franchise atau malah membangun merek dagang sendiri. Kebetulan kami ingin membuat gerai makanan, resto, café, dan sejenisnya.

Pertanyaan kami adalah

Menurut bapak, mana yang jauh lebih menguntungkan secara perhitungan bisnis, membeli franchise merek ternama atau membangun merek sesuai keinginan kami? Dalam bisnis saat ini, seberapa penting merek dalam pembangunan sebuah usaha makanan?

Terima kasih banyak untuk jawaban bapak

Eko, Kalimalang, Jakarta Timur

Saudara Eko, terima kasih atas suratnya. Biarkan saya mengawali jawaban saya pertanyaan Anda dengan mengutip pernyataan Pendiri Grup Saratoga dan Recapital Sandiaga Uno bahwa sikap mental adalah modal utama calon pengusaha. Menurut orang terkaya nomor 29 di Indonesia versi Majalah Forbes tersebut, wirausahawan harus memiliki pola pikir pengusaha.

Sandi menilai untuk memulai usaha, modal bukan hal terpenting. Kuncinya adalah kemauan dan keberanian mengambil risiko. Dengan dukungan ide, rencana kerja, kemampuan berjejaring dan kepercayaan kolega, bukan pengusaha yang mencari modal melainkan modal yang akan menghampiri. Sandiaga menekankan bahwa kesuksesan tak pernah instan, tetapi harus dicapai dengan kerja keras dan pantang menyerah. “Pengusaha bisa jatuh bangun karena bisnis memang penuh risiko,” kata Sandiaga seperti dikutip sebuah media.

Saya tidak meragukan sedikitpun pernyataan Sandiaga. Pengalaman pribadi saya mengajarkan bahwa kejatuhan bisnis terjadi karena pengusaha tidak bisa menguasai semua aspek bisnis seketika dan sekaligus. Selalu ada kondisi tertentu yang diluar kalkulasi, betapapin kita cemat merencanakannya. Bahkan franchise yang sudah terbukti sukses di banyak tempat, bisa gagal di tempat lain. Memang banyak bukti menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan usaha dengan model bisnis waralaba lebih besar daripada model bisnis biasa.

Saudara Eko, model bisnis waralaba memang berkembang di seluruh dunia. Hal ini antara lain karena keyakinan bahwa franchise adalah cara yang lebih pasti untuk menjadi kaya. Namun kenyataannya, franchisee (terwaralaba) tidak selalu sukses. Sebuah media di Tanah air melaporkan bahwa tingkat kegagalan franchisee di Indonesia sangat beragam mulai dari 2 persen sampai 30 persen, tergantung dari jenis bisnis. Namun angka ini hanya taksiran kasar karena belum ada riset tentang masalah ini.

Selain itu, banyak waralaba berjalan bagus, tetapi hal ini tidak berarti keuntungan gemuk bagi terwaralaba. Pasalnya, banyak dari dari laba usaha mengalir ke rekening franchisor dalam bentuk start-up fee dan royalti yang dihitung menurut prosentasi dari penjualan atau laba usaha.Sebelum itu, penjualan yang tinggi juga terpotong oleh biaya bahan baku yang harus dibeli dari franchisor atau dari pemasok yang ditunjuk franchisor. Harga bahan baku tersebut biayanya lebih tinggi daripada barang yang sama di tempat lain.Padahal, bahan adalah bahan, kan?

Kecuali beberapa, kebanyakan franchisor tidak memberikan pembiayaan.Ini berarti bahwa franchisee harus mamakai tabungan mereka atau dana mereka dari sumber lain untuk modal usaha. Kalau kemudian usaha gagal, franchise menderita kerugian usaha dan kehilangan biaya yang dibayar dimula.

Model bisnis waralaba membatasi gerak franchisee. Kebanyakan waralaba membatasi jumlah outlet di satu kawasan untuk menghindari kejenuhan pasar. Bahkan banyak franchisor menetapkan persyaratan tertentu salam hal lokasi usaha. Beberapa franchisor memberikan pesyarakan lokasi prima, yang berarti modal awal yang tinggi juga.

Franchisee juga cenderung tidak kreatif karena franchisor membutuhkan keseragaman. Banyak hal mulai dari desain outlet, dekorasi interior, produk yang ditawarkan dan seragam karyawan ditentukan oleh waralaba.Dari sini, jika Anda ingin menjadi bos sendiri, waralaba mungkin bukan pilihan paling baik untuk Anda.Kalau outlet Anda berjalan lancar, paling banter Anda hanya dapat memperpanjang hak waralaba.

Menjadi waralaba menyediakan keahlian instan.Semua sistem dan proses yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis sudah tersedia.Selain itu franchisor akan menjaga brand name tetap berkibar melalui branding secara konsisten, antara lain melalui iklan. Namun, menjalankan waralaba tidak secara otomatis menjadi mudah.Anda harus bekerja keras agar dapat berhasil, dan meskipun ada manfaat dari waralaba, beberapa bisnis gagal.

Oleh karena itu, saudara Eko, menjalankan waralaba adalah keputusan serius yang harus dibuat dengan hati-hati. Jika Anda ingin waralaba, belajar sebanyak mungkin tentang franchisor dan produk-produknya. Sebelum mengeluarkan uang tunai untuk menjadi franchisee, pastikan untuk melakukan penelitian yang luas.Bicaralah dengan setidaknya beberapa waralaba yang membeli hak waralaba dari franchisor yang Anda pertimbangkan.Pastikan juga bahwa Anda benar-benar memahami biaya awal, royalti dan bandingkan dengan jumlah uang yang Anda ingin perolehdari waralaba untuk membuat kalkulasi bahwa bisnis ini membawa keuntungan seperti yang Anda inginkan.

Akhirnya, Anda hendaknya juga memiliki exit plan, yakni cara untuk menjual bisnis ketika Anda siap untuk berhenti.Memiliki strategi keluar yang solid selalu penting untuk orang bisnis yang bijak.di seluruh dunia waralaba berjalan.

Jika Anda bukan tipe orang yang akan punya mimpi besar, tetapi ingin menjalankan bisnis sendiri, waralaba cocok untuk Anda. Kalau punya ide original dan optimistis akan berkembang, tentu Anha hendaknya mempunyai keberanian untuk memilih membangun merek sendiri. Tentu ini membutuhkan kualifikasi yang jauh lebih banyak daripada seperti yang dikemukakan Sandiaga di atas. Kalau sudah berkembang, nantinya Anda bisa menjadi franchisor.

Paparan di atas menggambarkan secara umum kelebihan dan kelemahan model bisnis waralaba. Menurut hemat saya, untuk memilih apakah menggunakan model bisnis waralaba atau membangun merek sendiri, pertama adalah menyesuaikan dengan tujuan Anda. Kalau hanya ingin aliran pendapatan tambahan maka waralaba lebih sesuai. Apalagi, membangun merek sendiri jelas memerlukan komitmen dan kerja keras, yang mungkin tidak bisa Anda berikan kalau Anda masih menjadi orang gajian.

Kalau kita amati usaha-usaha yang menggunakan model bisnis franchise adalah usaha konsumen. Franchise ini umumnya produk konsumen tetapi memiliki keunikan tertentu, entah karena produknya atau lokasinya. Keunikan inilah yang memberi nilai lebih pada sebuah produk dan dapat dikembangkan menjadi merek. Kalau Anda menggarap produk makanan yang memiliki keunikan ini, Anda perlu mengembangkan merek. Kalau produk Anda memiliki merek kuat, Anda bisa menjualnya dengan harga premi. Akhirnya Anda bisa menjadi franchisor.

Sekian jawaban saya dan salam,

Jaka Cahyono

 

0 Responses to “Kenapa Jadi Franchisee, Kalau Bisa Jadi Franchisor”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: