Ulasan Ekonomi Semester I 2011

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik signifikan pada Semester I 2011, mencapai puncak pada level 3.888,6, atau naik 10,14% dalam Dollar Amerika Serikat, dan mengalahkan MSCI Asia Pasiifik ex-Japan (+0,5%).  Hal ini dipicu oleh kenaikan nilai tukar Rupiah terhadap USD sebesar 4,6% dengan nilai tukar mencapai IDR8.579.

Menurut BNP Paribas Investment Partners, pasar modal Indonesia diuntungkan dari rendahnya ekspektasi inflasi dan pendapatan korporasi yang cukup baik. Lebih awal dari negara lain di kawasan, inflasi Indonesia mencapai puncak pada Januari 2011 hingga 7,02%, kemudian menurun pada Juni ke 5,54% YoY, didukung oleh hasil panen yang lebih baik dari perkiraan serta apresiasi Rupiah, yang memungkinkan Bank Indonesia membatasi kenaikan suku bunga hanya 0,25%. Tren rendahnya inflasi di pasar Asia dan siklus moneter yang lebih baik menyebabkan terus berlanjutnya arus modal asing ke Indonesia.

Perbaikan Struktural

Daya tarik Indonesia ditunjang oleh foreign direct investment (FDI) yang mencapai level tertingginya pada 2011, hingga mencapai angka pra-krisis-Asia, yaitu di level 32,2% dan menyebabkan angka pengangguran turun ke level terendah secara historis sebesar 6,8% pada Februari 2011. Pendapatan kelas menengah-atas yang meningkat empat kali lipat sejak 2003, melebarnya perbedaan upah dengan Cina, dan kebijakan ramah-investor, mendukung untuk terus berlanjutnya FDI yang besar.

Pengesahan Rancangan Undang-undang Pembebasan Lahan atau Land Acquisition Bill mendatang dan potensi peningkatan peringkat kredit Indonesia untuk menjadi investment grade seharusnya akan mendukung outlook pasar pada 2012. Pemerintah telah mendesak Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengesahkan Undang-undang Pembebasan Lahan  tersebut di semester II tahun ini, dan seluruh fraksi di parlemen kelihatannya telah sepakat untuk merealisasikannya di kuartal IV 2011.

 

Beberapa rasio kunci, seperti posisi utang dan kecukupan cadangan Indonesia sudah dapat dibandingkan dengan Negara dengan peringkat kredit A. Direktorat Jenderal Pengelolaan utang memproyeksikan Indonesia mencapai rasio utang publik terhadap PDB di level 25% dan defisit anggaran sebesar 2,1% dari PDB pada akhir  2011. Selain itu, arus FDI yang cukup kuat dan surplus perdagangan berhasil menunjang cadangan devisa hingga mencapai USD120 miliar di Semester I 2011 dari semula USD96 miliar pada di akhir 2010. Akibatnya rasio cadangan devisa terhadap PDB telah mencapai 16%, setara dengan Negara-negara investment grade.

 

Berdasarkan IMF, ekonomi Indonesia yang tumbuh menjadi dua kali lipat selama lima tahun terakhir dan telah  menjadi ekonomi terbesar ke-18 pada 2010 dengan PDB USD707 miliar, menjadikan Indonesia Negara ke-3 (tiga) dengan pertumbuhan tercepat setelah Cina dan India. Perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didorong oleh tingkat utang yang relatif rendah, ndala rasio Utang-Publik terhadap PDB yang hanya 25-26%,  adalah mirip dengan India dan Brazil 5 tahun yang lalu. Faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang resilien, seperti jumlah tenaga kerja yang besar, meningkatnya populasi kelas menengah dan urbanisasi, diharapkan dapat mendorong PDB Indonesia untuk kembali tumbuh dua kali lipat dalam 5 lima tahun kedepan.

 

Tren Urbanisasi dan Demografi I

Berdasarkan konsensus nasional, pada 2010 penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta atau negara berpenduduk terpadat keempat terbesar di dunia. Pada 2020 PBB memperkirakan penduduk Indonesia mencapai 262 juta dimana 62% nya akan tinggal di perkotaan. Struktur populasi juga diperkirakan akan berubah dimana umur produktif akan meningkat, sehingga pada 2020 Indonesia dapat mempunyai pertumbuhan angkatan kerja tercepat ketiga di dunia.

 

Antara 2020 dan 2030, rasio ketergantungan (porsi populasi angkatan kerja) seharusnya mencapai angka terendah, sehingga menjadikan jumlah tenaga kerjanya yang terbesar di kawasan regional. Indonesia juga mengalami tingkat urbanisasi yang tinggi. Pada 2010, 53% dari populasi Indonesia tinggal di perkotaan, dan PBB memperkirakan angka tersebut untuk naik 65% pada 2025.  Oleh sebab itu daya beli populasi kelas menengah akan tumbuh secara eksponensial, dan akan menjadikan pendorong ekonomi Indonesia hingga beberapa dekade ke depan.

 

Tetap Positif pada Semester II

Dengan kondisi politik domestik yang stabil untuk pemilu 2014, risiko pasar internal dapat dating dari inflasi, yang hingga saat ini masih terkendali. Ditunjang dengan efek high base di tahun lalu, inflasi diperkirakan stabil di Semester II 2011 dan kami berharap tolok ukur suku bunga tetap berada di 6,75% sampai akhir tahun ini. Tidak seperti Negara lainnya di kawasan

regional, dengan tidak adanya tekanan peningkatan tingkat suku bunga, saham Indonesia diperkirakan dapat mempertahankan momentum positifnya hingga Semester II tahun ini.  Kami memperkirakan pasar Indonesia akan mampu mengalahkan pasar negara-negara maju, dengan asumsi tekanan inflasi dan peningkatan tingkat suku bunga di Negara-negara Asia memuncak di kuartal ke-3 2011 sehingga memberikan sentimen global yang positif terhadap kawasan Asia.

 

Bursa Efek Indonesia saat ini mempunyai PE 15,3x, dengan estimasi pertumbuhan pendapatan 30% dalam USD. Kuatnya kinerja saham Indonesia dipicu oleh pertumbuhan laba korporasi. Kami tetap optimis bahwa pertumbuhan profit akan tetap tinggi sehingga akan dapat menunjang kenaikan level indeks. Untuk kedepannya, Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi organik dan pertumbuhan tingkat produksi dengan tingkat utang yang relatif rendah; kondisi yang ideal untuk investasi. Tinjauan positif kami di Semester II 2011 ditunjang oleh katalis seperti : konsumsi yang kuat, ekspansi pinjaman bank, apresiasi nilai tukar dan tingginya harga komoditas. Faktor-faktor tersebut menunjang valuasi pasar untuk tetap menarik. Tahun depan pemerintah akan menetapkan tingkat pembayaran dividen yang lebih rendah, yaitu sebesar 15% untuk BUMN (gabungan BUMN merupakan 25% dari bobot pasar) agar dapat memfokuskan diri pada ekspansi perusahaan. Hal ini akan memperkuat proyeksi pertumbuhan pendapatan 22% dalam USD, dengan PE 12,9x pada 2012.   (Jaka Eko Cahyono)

0 Responses to “Ulasan Ekonomi Semester I 2011”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: