Memilih Investasi Portofolio selama Resesi

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional edisi 9 Agustus 2011)

Pak Jaka, saya mendapati bahwa apa yang tersirat dari tulisan Anda minggu lalu terbukti. Bukannya naik seperti prediksi kebanyakan analis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun. Baru-baru ini saya membaca di media massa prediksi bahwa IHSG akan turun lagi banyak. Kira-kira sampai mana ya pak penurunannya? Dan saham atau instrument investasi apa saja yang bagus dalam kondisi penurunan ini. Itu saja pak pertanyaan saya dan terima kasih atas jawabannya.

Antonius, Jakarta Pusat.

Benar rata-rata harga saham di BEI, seperti tercermin dari IHSG, minggu lalu menurun sejalan dengan penurunan harga saham di seluruh dunia. Reuter memperkirakan nilai penurunan harga saham di seluruh dunia sepanjang minggu lalu sebesar USD2,5 triliun, hampir empat kali PDB Indonesia pada 2010 sebesar USD700 miliar.

 

Untuk ke depan, harga saham di BEI bisa pulih atau bisa terus turun. Tetapi logika saya mengatakan akan turun lagi. Memang kita tidak dapat memprediksi masa depan, tetapi kita dapat menggunakan tanda-tanda yang ada untuk melihat arah harga saham.

 

Salah satu tanda tersebut adalah gempa susulan, yang sekali lagi berpusat di US, dan dapat menimbulkan tsunami besar ke seluruh pasar financial dunia. Gempa susulan itu terjadi setelah pasar modal US tutup Jumat lalu, yakni pengumuan lembaga pemeringkat global Standard and Poor’s yang  menurunkan peringkat utang US menjadi AA+ dengan outlook negatif.

 

Selain itu, ada tanda-tanda lain yang mengindikasikan bahwa dampak gempa kali ini akan lebih besar daripada tsunami akibat gempa deficit anggaran US.

 

Mari kita lihat tanda-tandanya. Penurunan peringkat utang US, yang pertama kali terjadi dalam sejarah, telah menimbulkan tsunami di Eropa. Reuters melaporkan bahwa penurunan peringkat kredit US akan menimbulkan persoalan serius di Italia, Yunani, Portugal dan Spanyol. Pelaku pasar khawatir kalau bank sentral Eropa ECB) tidak mengintervensi pasar, maka harga obligasi keempat negara tersebut akan turun tajam.

Untuk membahas dampak penurunan peringkat utang AS, menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara maju yang tergabung dalam kelompok G7 diberitakan akan menggelar conference call hari Minggu (7 Agustus). Pada saat yang sama wakil-wakil Negara anggota kelompok G20 juga diberitakan akan melakukan hal yang sama.

Langkah para pemimpin G7 da G20 jelas menunjukkan bahwa penurunan peringkat utang US adalah persoalan serius. Ini wajar sebab selama ini, surat utang US menjadi heaven (tempat berlindung) karena berperingkat AAA dan dianggap bebas risiko oleh pelaku pasar dunia. Ketika peringkatnya ternoda, pasar kini mempertanyakan peran USD sebagai mata uang utama dunia.

Selain menekan harga efek (baik saham maupun), penurunan peringkat utang US akan menekan kurs USD. Martin Feldstein, seorang profesor ekonomi di Harvard University dan emeritus presiden Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER), baru menerbitkan paper yang salah satu isinya adalah prediksi bahwa kurs USD terus melemah dalam beberapa tahun ke depan. Dalam makalahnya tersebut, yang sebagian dikutip Wall Street Journal, Feldstein menyatakan bahwa nilai riil tertimbang dolar turun 11%  terhadap mata uang utama dunia selama 12 bulan sampai Mei 2011 dan 31% selama 10 tahun terakhir.

Menurut Feldstein ada empat hal yang cenderung mendorong penurunan kurs USD lebih lanjut selama beberapa tahun ke depan: rebalancing portofolio oleh investor yang kelebihan bobot USD atau efek utang USD dalam portofolio mereka, defisit US yang membesar, kebijakan China untuk meningkatkan konsumsi, dan penurunan permintaan akan USD.
Di sisi lain, tulis Feldstein, penurunan USD bisa memiliki efek positif kuat pada kinerja jangka pendek dari ekonomi US, yakni meningkatkan ekspor dan mendorong konsumen Amerika bergeser dari barang impor ke produksi dalam negeri.

Beberapa komentator menyatakan bahwa dampak penurunan peringkat utang akan sangat terasa di sector riel US, karena penurunan tersebut terjadi pada saat ekonomi US sedang dalam kondisi mengkhawatirkan.  Beberapa ekonom, termasuk Robert Shiller Juni lalu melihat tanda-tanda bahwa ekonomi US sekali lagi masuk ke resesi. Meskipun batas utang dinaikkan tetapi daya beli masyarakat US tetap rendah. Lemahnya ekonomi US akan membuat ekonomi dunia juga akan lamban.  Bank sentral UK sejauh ini sudah mengumumkan kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

 

Persoalan ekonomi US akan berdampak negative pada pasar  modal Indonesia. Seperti yang terjadi pada 2008, mungkin akan banyak fund manager global akan menarik uang panas mereka dari Indonesia untuk diinvestasikan di instrument yang aman (gejala yang disebut flight to safety) atau untuk merealisasi keuntungan guna menutupi kerugian dari investasinya di US dan negara maju. Karena kondisi modal Indonesia yang masih dangkal (shallow), aksi tersebut sangat mungkin akan menekan harga instrument investasi di Indonesia.

 

Saudara Antonius, dengan mempertimbangkan itu semua, pertanyaan kemudian adalah ke mana harus berinvestasi?

Emas. Penurunan kurs USD serta prospek buram perekonomian dunia akan menekan kebanyakan harga efek, baik utang dan saham. Sebaliknya, emas akan kembali semakin berkilau. Selain negara yang sudah mulai mengoleksi emas, kini investor lembaga raksasa juga turut melakukannya.  Sebuah laporan menyataan kalau pemodal lembaga akan menambah porsi emas dari 1% dari total aktiva mereka menjadi 5%. Jika ini terjadi,  maka aka nada tambahan demand emas sebanyak 1.000 MT. Tambahan permintaan ini tidak diragukan lagi mendorong harga emas, meskipun harganya baru saja mencapai rekor baru-baru ini. Perak juga menjadi pilihan, tetapi komoditi ini tidak sepopuler emas.  Kedua logam mulia akan  berguna ketika ekonomi secara umum sedang dalam kondisi kurang menguntungkan.

 

Saham. Meskipun sebagian besar saham akan mengalami tekanan, saham masih menyisakan pilihan. Melemahnya harga akan mendorong masuknya kontrarian ke pasar. Mereka ini menjadi greedy ketika kebanyakan pemodal sedang takut. Bagi mereka berita buruk di atas adalah teman terbaik karena berita buruk akan memungkinkan mereka membeli saham pada harga yang sangat murah. Tentu saja, saham tersebut harus memiliki fundamental kuat.

Lalu saham apa? Untuk pemodal di Indonesia, pilihannya adalah saham perusahaan yang menikmati manfaat dari kondisi saat ini, yakni yang mengimpor barang dari US dan menikmati manfaat dari penurunan kurs US. Perusahaan yang mengekspor dan menjual produknya dalam USD akan mengalami penurunan penjualan sebanyak penurunan nilai USD.

Saham lain yang layak menjadi incaran adalah saham perusahaan yang tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi yang ada, yakni saham perusahaan farmasi dan barang konsumsi.

Itu jawaban saya dan salam investasi

Jaka E. Cahyono

 

0 Responses to “Memilih Investasi Portofolio selama Resesi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: