Bulan Puasa, Bulan Pesta

Artikel ini pertama kali muncul di http://www.jurnas.com pada 16 Agustus 2011 dan di edisi cetak pada 23 Agustus 2011.

Assalamualaikum Wr. Wb. Pak Jaka.

Setiap bulan Ramadhan, saya selalu dipusingkan dengan bagaimana mengelola keuangan. Seolah gaji dan THR (Tunjangan Hari Raya) saya dan istri tidak cukup untuk menutupi kebutuhan. Kebutuhan sepertinya berkali-kali lipat. Saya bingung bagaimana untuk mencukupinya agar tidak perlu lagi menguras tabungan. Saya tahu kalau bulan Ramadhan memang bulan istimewa, tetapi tentunya tidak harus membuat keuangan kami kebobolan juga kan?

 

Pertama, saya mesti membayarkan gaji, THR, dan bonus untuk satu pembantu dan satu baby sitter. Kedua, ongkos mudik, termasuk oleh-oleh dan angpau untuk keponakan yang jumlahnya banyak. Ketiga, pengeluaran makanan dan minuman selama bulan puasa yang ternyata bisa tiga empat kali lipat dari biasanya.

Pertanyaan saya adalah

1. Perencanaan keuangan seperti apa yang mesti dilakukan agar saya bisa bersiap menghadapi bulan puasa?

2. Mohon tips dan trik dari bapak.

Andrianto, Cawang, Jakarta Timur

Pak Andrianto, terima kasih atas suratnya. Saya bisa memahami kepusingan Anda karena persoalan Anda sebenarnya adalah masalah klasik yang dihadapi oleh hampir seluruh bangsa Indonesia secara regular selama bulan pesta. Siapa yang tidak pusing? Petani atau pekerja informal, yang merupakan mayoritas penduduk, pasti lebih pusing lagi karena tidak mendapat THR dan harga naik. Piye jal? Kalau Anda juragan, percayalah Anda tidak kalah pusing. Anda akan harus membayar THR.

Banyak pejabat pemerintah juga tidak kalah pusing. Mereka berusaha keras agar dapat menyediakan barang-barang lebih banyak daripada kebutuhan normal selama Ramadan. Selain memenuhi kebutuhan, mereka juga mencegah lonjakan harga bahan makanan.  Kenyataannya, harga selalu melonjak setiap Ramadan. Lonjakan harga ini terjadi karena permintaan akan barang konsumsi selama Ramadan selalu lebih tinggi daripada bulan-bulan lain. Akibatnya, laju inflasi lebih kencang. Dalam bahasa teknis, ada demand-pull inflation. Laju inflasi karena lonjakan permintaan melebihi persediaan.

 

Ini jelas ironi. Selama Ramadan umat Islam, mayoritas penduduk Indonesia, diwajibkan puasa. Saya sering mendengar ceramah tentang manfaat puasa. Selain hikmah ruhiyah, puasa juga mengajarkan hikah sosial.  Dengan berpuasa, orang yang kesehariannya berkecukupan dapat merasakan lapar sehingga dapat menimbulkan empati kepada kaum dhuafa’ dan kemudian tergeraklah hati untuk menyantuni mereka. Dengan demikian, kebutuhan akan bahan makanan akan berkurang.

 

Kenyataannya? Bulan Ramadan telah berubah menjadi pesta. Konsumsi meningkat. Budaya buka puasa bersama di luar bersama teman dan kerabat membuat kue-kue dan makanan dalam jumlah berlimpah menjadi marak. Karena budaya ini berkembang ketika harga bahan pokok naik, maka tidak dapat dielakkan lagi belanja keluarga menjadi meningkat. Tampak di sini bahwa selama Ramadan orang cenderung melonggarkan pertimbangan rasional selama puasa. Orang yang terbiasa hemat dan mengetatkan ikat pinggang pada hari biasa, seringkali menjadi longgar selama Ramadan.

 

Dengan kata lain puasa telah gagal mengajarkan hidup sederhana. Menurut teman saya yang paham agama, orang Islam berpuasa masih dalam tataran memenuhi rukun puasa. Tidak makan dan minum sejak subuh hingga mangga. Belum menyentuh makna hakiki puasa. Puasa mereka hanya selama fajar hingga maghrip. Setelah itu mereka melampiaskan penderitaan selama berpuasa dengan mengonsumsi makanan secara berlebihan, kalau tidak dari segi kuantitas ya dari kualitas.

 

Selain permintaan riel, lonjakan permintaan barang selama Ramadan sering kali juga terjadi karena faktor psikologis. Selama puasa banyak orang cenderung berbelanja berlebihan untuk cadangan karena khawatir akan kehabisan barang. Padahal, setiap kali Ramadan pasti pemerintah mengumumkan bahwa persediaan barag sudah memadai. Dalam kasus-kasus tertentu, beberapa kalangan melakukan spekulasi dengan menyimpan bahan makanan dalam jumlah besar. Ketika pasokan di pasar menipis, mereka mengeluarkan barang simpanannya dengan harga tinggi.

 

Tampaknya pemerintah turut mendukung gelar bulan pesta ini dengan mewajibkan perusahaan membayar THR.  Sekarang, bayangkan pekerja informal, yang umumnya hanya membayar THR ala kadarnya, ingin turut berpesta. Mereka menawarkan barang kepada para pekerja formal, yang mereka tahu memiliki uang lebih dalam bentuk THR. Agar laku, maka yang mereka jual adalah barang-barang yang tidak ada dalam bulan-bulan lain. Lihat saja, pada bulan ini jumlah pedagang bertambah. Di pinggir jalan dan di dekat masjid bermunculan pedagang musiman. Mereka jual makanan, parcel, dan barang konsumsi lain. Itu sah saja. Mereka melihat peluang.

 

Ini menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa konsumtif. Tidak percaya? Lihat selama ini pertumbuhan ekokomi didukung oleh konsumsi. Apa artinya? Mereka menghabiskan penghasilan untuk konsumsi. Menurut statistik Badan Pusat Statistik, rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan lebih dari penghasilannya untuk bahan makanan. Dengan asumsi pengeluaran untuk rumah sekitar 30% dari penghasilan, maka pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lain tinggal 20%. Saya memiliki hipotesa bahwa mereka menjadi semakin miskin dari hari ke hari karena tingginya laju inflasi.

 

Orang sering terkecoh bahwa dengan pertumbujan ekonomi yang relative tinggi, tinggi sekitar 6%. Tapi coba lihat berapa pertumbuhan rielnya (pertumbuhan ekonomi dikurangi laju inflasi). Hanya sekitar 1%. Pada saat yang sama laju pertumbuhan penduduk sekitar 2%. Jadi artinya apa? Pendapatan perkapita kita turun.

Saudara Andrianto, dengan paparan di atas saya ingin menunjukkan bahwa ekonomi Ramadan telah menjadi persoalan nasional, dengan demikian telah menjadi risiko sistematik bagi penduduknya. Artinya, risiko inflasi selama Ramadan tidak bisa dihindari. Untuk menyiasatinya, saya kira, adalah dengan bersikap sebagai muslim yang baik, yakni berpuasa seperti sebagaimana seharusnya, yakni mengurangi konsumsi dengan niat ibadah. Dengan mengurangi konsumsi mungkin pengeluaran Anda tidak akan bertambah karena lonjakan harga. Yang tidak kalah penting, jangan terlarut dalam irama pesta. Kalau tetangga Anda membeli mobil baru untuk lebaran, beri saja selamat dan jangan panas hati dan kemudian ikut-ikutan.

 

Kalau mudik adalah petristiwa rutin yang tidak bisa Anda lewatkan, buat simpanan lebaran. Kalau Anda butuh IDR10 juta untuk mudik tahun ini, rencanakan simpanan lebaran untuk tahun depan sebesar IDR11 juta untuk mudik tahun depan.  Kelebihan IDR1 juta ini adalah untuk menghadapi laju inflasi. Bagaimanapun mudik dapat mendatangkan banyak manfaat. Anda bisa ketemu saudara atau kerabat, yang mungkin hanya sekali setahun dapat Anda temui, dan memperkuat ikatan kekerabatan.

 

Selamat berpuasa. Jangan berpesta

 

 

 

Jaka Eko Cahyono

2 Responses to “Bulan Puasa, Bulan Pesta”


  1. 1 vera August 27, 2011 at 3:11 pm

    Waduh…prihatin juga, kenapa bulan puasa justru ada peningkatakan pengeluaran makanan dan minuman selama bulan puasa yang ternyata bisa tiga empat kali lipat dari biasanya.

    Benar kata Pak Joko, yang bisa “diketatkan” adalah biaya makan dan minum selama puasa.

    Menurut saya, pilihan lain yang cukup ekstrim adalah kesepakatan menghapuskan pemberian angpau di antara para saudara. 🙂

    • 2 jec September 5, 2011 at 5:23 am

      Terima kasih mbak Vera atas commentnya. Menurut saya, pemberian angpau adalah sarana redistribusi pendapatan. dalam kondisi kesenjangan pendapatan yang sangat lebar ini, angpau atau pitrah dalam bahasa jawa ada manfaatnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: