Mudik dan Tujuan Keuangan Lain

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 6 Sep 2011.

HALO Pak Jaka. Setelah menikah dua tahun lalu, oleh perusahaan saya ditempatkan di Jakarta. Mau tidak mau sejak dua tahun lalu saya harus mudik ke kampung halaman saya dan istri yang sama-sama berasal dari Jawa Timur. Pulang mudik dengan angkutan umum entah itu kereta api, bus, atau pesawat, tentu menguras pengeluaran karena kenaikan tarif.

1. Bagaimana agar kami berdua bisa mudik nyaman tanpa terlalu memikirkan biaya mudik? Apakah kami harus menyisihkan penghasilan setiap bulan untuk biaya mudik?

2. Kami ingin mencoba mencicil rumah tahun depan, maka kami berdua tidak mau uang habis hanya untuk mudik.

Harjono, Margonda, Depok

Saudara Harjono, gagasan Anda untuk menyisihkan penghasilan setiap bulan untuk biaya mudik adalah langkah yang rasional. Dalam bahasa keuangan, Anda membuat rencana keuangan jangka pendek. Untuk individu dengan keuangan ketat, seperti dialami kebanyakan pasangan muda dan sedang merintis karier, rencana tersebut terasa lebih urgent.

Sedikitnya ada manfaat dari rencana keuangan jangka pendek. Pertama, rencana tersebut dapat menjamin Anda tetap bisa berlebaran, tetapi dapat mencegah diri sendiri terbawa emosi massal untuk hidup boros selama Ramadan. Seperti paparan di rubrik ini sebelumnya, bangsa Indonesia cenderung berpesta dalam bulan yang seharusnya ditandai dengan keprihatinan. Orang juga cenderung berbelanja secara emosional selama Lebaran. Indikasinya adalah kenaikan harga bahan makanan, sandang dan kendaraan bermotor menjelang dan selama Lebaran.

Manfaat kedua adalah tidak mengabaikan tujuan keuangan penting lain. Dengan berlebaran secara hemat Anda bisa menyisakan lebih banyak uang untuk mewujudkan keinginan memiliki rumah impian di Jakarta. Nah, untuk seterusnya saya akan mengomentari keinginan Anda untuk membeli rumah.

Memang memiliki rumah dapat memberikan kepuasan emosional. Banyak orang merasa sukses di perantauan jika memiliki rumah sendiri. Membeli rumah juga merupakan langkah bijaksana dan menguntungkan untuk jangka panjang. Namun membeli rumah atau rencana apa pun dapat gagal kalau tidak direncanakan dengan baik. Banyak sekali orang harus kehilangan rumah yang sudah dibelinya dengan susah payah. Sebagai contoh, menyusul krisis moneter pada 1998, puluhan ribu debitur kredit kepemilikan rumah (KPR) yang tidak mampu memenuhi kewajibannya sehingga mereka harus menjual kembali rumah yang mereka beli. Bahkan banyak di antaranya yang disita kreditur.

Membeli rumah tanpa pertimbangan saksama dapat menimbulkan gejala yang disebut poor house. Kondisi ini terjadi ketika pembeli rumah harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan rumah yang mereka beli. Agar dapat membayar cicilan KPR dan biaya-biaya lain terkait dengan kepemilikan rumah, mereka harus mengorbankan tujuan keuangan lain. Paling tidak pembelian rumah, yang umumnya menjadi transaksi keuangan terbesar bagi banyak individu, akan mendiktekan masa depan keuangan dan pola pengeluaran mereka. Mereka hidup seadanya hanya untuk mempertahankan rumah.

Berbagai kasus di atas menunjukkan perlunya persiapan dan pertimbangan cermat sebelum memutuskan membeli rumah. Ada dua faktor yang harus dipertimbangkan ketika ingin membeli rumah, yakni faktor finansial dan faktor personal.

Aspek finansial mencakup kemampuan menutup pengeluaran awal, termasuk uang muka sekitar 10 persen hingga 20 persen dari harga rumah plus berbagai biaya pembelian seperti uang tanda jadi, biaya aplikasi kredit dan provisi bank, biaya valuasi properti, pajak pembelian, premi asuransi dan lain-lain.

Memiliki cukup uang untuk pengeluaran awal dalam pembelian rumah baru setengah dari pertempuran sebab membeli rumah membawa konsekuensi baru. Untuk menempati rumah baru, Anda akan mengeluarkan biaya pindah. Setelah menempati rumah baru, Anda akan mempunyai pos pengeluaran baru seperti listrik, Pajak Bumi dan Bangunan, dan kebutuhan rumah tangga lain. Kalau Anda membeli rumah yang jauh dari tempat kerja, Anda harus mengeluarkan biaya transportasi setiap hari kerja.

Bayangkan kalau kondisi ini berlangsung sepanjang tenor KPR Anda, yang bisa berkisar 10 sampai 15 tahun. Selama periode ini kemungkinan besar penghasilan Anda akan meningkat sejalan dengan meningkatnya masa kerja Anda. Namun perkembangan lain bisa saja menimpa Anda, seperti kena PHK atau risiko lain terkait pekerjaan. Selama itu kondisi keuangan dan kebutuhan Anda juga bisa berubah.

Satu poin penting dari semua ini adalah bahwa Anda hendaknya membeli rumah sesuai kemampuan Anda. Aturan umumnya adalah jumlah pinjaman rumah hendaknya tidak lebih dari 30 kali penghasilan yang dapat dibelanjakan (disposable income). Kalau disposable income Anda Rp10 juta, maka hendaknya tidak meminjam KPR lebih dari Rp300 juta.

Selanjutnya, jumlah biaya untuk rumah (cicilan pokok, bunga pinjaman, dan asuransi) hendaknya sekitar 1 persen dari pinjaman. Dengan pinjaman Rp300 juta, maka cicilan bulanan adalah Rp3 juta, atau 30 persen dari disposable pendapatan.

Demi keamanan, Anda dapat meminjam lebih rendah dari angka maksimal. Dengan begitu Anda memiliki ketahanan yang lebih baik jika ada gangguan finansial yang sifatnya temporer seperti kehilangan pekerjaan.

Ketika memutuskan membeli rumah, pastikan bahwa Anda akan menempati sedikitnya lima tahun. Jangan sampai Anda membeli rumah, tetapi dua tahun kemudian Anda ditugaskan ke kota lain. Memang Anda dapat menjual rumah tersebut untuk kemudian membeli rumah baru di kota yang baru.

Namun, menjual rumah secara mendadak akan sulit memperoleh harga jual yang bagus. Kalau jarak antara waktu membeli dan menjual hanya dua atau tiga tahun maka harga rumah belum meningkat secara signifikan. Bahkan bisa jadi, Anda akan merugi karena biaya pembelian dan biaya penjualan kembali rumah itu lebih besar daripada kenaikan harga rumah. Selain itu, menjual dan membeli rumah adalah proses yang menyita banyak waktu.

Oleh karena itu, kalau belum ada kepastian akan tinggal di sebuah kota secara permanen, akan lebih baik kalau Anda mengontrak rumah. Dengan mengontrak, Anda memiliki fleksibilitas lebih besar untuk pindah. Sebagai profesional dan masih muda, peluang karier Anda masih terbuka lebar. Anda mungkin saja pindah kerja atau dipindahkan ke atau wilayah lain kapan saja. Dalam kaitan ini, tidak seharusnya kepemilikan rumah menjadi penghambat untuk pindah ke kota lain.

Kalau kondisi keuangan Anda semakin kuat, Anda bisa pindah kapan saja dan membeli rumah di kota yang baru tanpa harus menjual rumah yang ada. Selanjutnya, Anda bisa menyewakan rumah. Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ketika menyewakan rumah, Anda akan memikul beban tambahan sebagai induk semang yakni mengelola rumah Anda. Anda bisa mempekerjakan orang untuk mengurus rumah tersebut, tetapi Anda harus membayar komisi pengurus rumah.

Dengan menyewa, maka kelebihan cash yang sedianya untuk uang muka dan biaya pembelian rumah dapat Anda putar ke instrumen investasi yang menjanjikan return tinggi dan bisa dikelola dari mana saja. Nantinya, kalau sudah pasti menetap di sebuah kota barulah Anda membeli rumah. Siapa tahu, setelah Anda settled nantinya, kebutuhan akan rumah sudah berbeda misalnya Anda sudah dikaruniai anak. Dengan adanya anak, Anda mungkin akan membutuhkan kamar anak dan mungkin kamar pembantu.

0 Responses to “Mudik dan Tujuan Keuangan Lain”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: