Investment Policy Statement

Artikel ini Pertama ditetbitkan diHarian Jurnal Nasional | Selasa, 13 Sep 2011

Kepada Yth Pak Jaka.

Pak Jaka, nama saya Wahyu (34) dan sekarang bekerja di organisasi non-pemerintah dan istri saya adalah pegawai negeri sipil. Kami dikaruniai satu putera. Setelah memiliki rumah, mobil dan sejumlah simpanan di bank, saya mulai tertarik untuk berinvestasi. Instrumen apa yang paling baik saat ini, apakah emas atau saham?

Hormat kami,

Wahyu, Depok

Beri saya enam jam untuk menebang pohon, dan saya akan menghabiskan empat jam pertama mengasah kapak. – Abraham Lincoln

Pak Wahyu, saya mengawali jawaban atas pertanyaan Anda dengan kutipan di atas untuk menunjukkan makna persiapan. Ilustrasi ini penting karena Anda tampak seperti banyak pemodal lain yakni ingin mengawali investasi dengan seleksi investasi. Pilihan mereka adalah instrumen yang menampilkan kinerja terbaik dan mendapat pemberitaan luas. Sebagai contoh saat ini banyak orang berminat membeli emas karena melihat lonjakan harga emas.

Kasus yang sama juga terjadi di industri reksa dana, yang telah lama saya amati. Ketika kondisi pasar lagi mendukung, banyak pemodal masuk ke pasar. Pilihan mereka adalah reksa dana yang menampilkan kinerja terbaik. Mereka tidak sadar bahwa mereka bisa jadi terlambat masuk ke pasar, yakni ketika harga sudah tinggi. Mereka juga cenderung melakukan strategi hit and run. Beli dan, kalau melihat ada potensi untung, mereka merealisasikan keuntungan. Mereka tampak tidak menyadari bahwa sebagian (besar) gain habis untuk biaya (sebagian karena mereka bermain untuk jangka pendek). Hal yang sama juga akan terjadi jika berinvestasi di emas.

Saudara Wahyu, sifat alami investasi adalah jangka panjang. Biarkan waktu memberikan manfaat maksimal pada investasi Anda. Dus, berinvestasi ibarat menempuh perjalanan panjang. Dan langkah pertama dalam perjalanan investasi Anda adalah membuat strategi investasi.

Pemodal lembaga umumnya memiliki strategi tertulis yang disebut Investment Policy Statement (IPS). Tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak melakukannya. IPS adalah peta jalan Anda. Tanpa peta jalan, Anda dapat tersesat, atau terlambat sampai ke tujuan investasi. Dengan memiliki IPS tertulis Anda tidak mudah terbawa emosi untuk bereaksi pada pasar, yakni menjadi overoptimistic saat pasar bagus dan menjadi sangat pesimistis ketika pasar sedang menurun.

IPS dapat dibuat sederhana atau detil. IPS sedikitnya berisi poin-poin berikut: sasaran, time horizon, filosofi investasi, alokasi aktiva, target alokasi, dan prosedur pemantauan dan kendali. Poin alokasi aktiva sudah memperhitungkan level risiko yang Anda siap pikul dalam seleksi investasi.

Poin pertimbangan lain menyiratkan bahwa IPS sifatnya dinamis, karena dievaluasi setiap tahun dan bilamana perlu dilakukan penyesuaian. Penyesuaian dilakukan kalau ada perubahan signifikan kondisi Anda. Banyak peristiwa tidak terduga dapat menimpa sepanjang jalan sampai cakrawala waktu Anda habis. Kondisi pasar yang buruk dalam satu atau dua tahun bukan alasan mengubah IPS.

Sasaran: Memperoleh return 5 persen di atas bunga deposito

Time Horizon: 20 Tahun

Filosofi Investasi: Berinvestasi jangka panjang dengan cara membeIi dan memegang. Transaksi dengan biaya minimal

Alokasi aktiva: 20 persen di aktiva kasat mata (emas, properti dan benda seni), dan 80% di portofolio yang diversifikasi ke berbagai kelas aktiva seperti saham, obligasi dan instrument pasar uang.

Target alokasi portofolio: 40 persen di obligasi, 50 persen saham dan 10 persen kas dan setara kas.

Pertimbangan lain: Berinvestasi secara berkala bila mungkin. Melakukan evaluasi dan rebalancing setiap tatun.

Paparan di atas menunjukkan bahwa memilih instrumen investasi hanyalah bagian kecil, yang umumnya menyenangkan, dari proses investasi. Menetapkan alokasi aktiva adalah bagian sulit namun paling penting. Alokasi aktiva adalah jumlah uang yang Anda investasikan di setiap kelas aktiva, seperti saham, obligasi, real estate, dan kas. Riset menunjukkan bahwa alokasi aktiva menentukan return sebuah portfolio, yang diartikan sebagai kumpulan kelas aktiva.

Alokasi aktiva adalah teknik investasi untuk menyeimbangkanrisiko dengan return. Untuk melakukan alokasi aktiva agar dapat membentuk portofolio bagus Anda harus melakukan divesifikasi, yakni teknik manajemen risiko yang mencampurkan berbagai istrumen investasi dalam portofolio untuk meminimisasi dampak negatif satu kelas aktiva pada kinerja portofolio. Diversifikasi menurunkan risiko portofolio. Hal ini penting karena setiap kelas aktiva memiliki potensi return dan risiko berbeda dan berperilaku berbeda dari waktu ke waktu. Ketika satu aktiva meningkat nilainya, aktiva lain mungkin menurun atau tidak naik banyak.

Menentukan adonan investasi dalam portfolio Anda sangat penting. Memutuskan berapa persen dana Anda di saham, reksa dana, dan instrumen berisiko rendah seperti obligasi tidak sederhana. Salah satu cara menentukan alokasi aktiva adalah dengan menggunakan usia. Dalam usia 35 tahun, Anda dapat mengalokasikan 35 persen dari dana investasi di obligasi. Cara lain 110 minus usia di ekuiti. Dalam kasus Anda, 110-35 atau 75 persen di saham. Mengutip kata bijak John C. Bogle, tokoh reksa dana dunia, jika ada banyak solusi, pilih yang paling sederhana.

Level risiko berkaitan dengan potensi return sebuah portofolio. Maka, alokasi aktiva hendaknya mempertimbangkan kesediaan Anda memikul risiko, antara lain terlihat dari kesanggupan Anda bertahan menghadapi fluktuasi pasar. Intinya, toleransi Anda pada gejolak pasar tanpa panik. Dus, toleransi risiko adalah komponen kunci dalam berinvestasi. Toleransi risiko umumnya berkairan dengan profil risiko pemodal. Profil risiko berkaitan dengan latar belakang pendidikan, pengalaman hidup, sifat bawaan, jenis pekerjaan pemodal. Profil risiko juga ditentukan oleh usia, cakrawala waktu investasi dan kondisi finansial pemodal.

Perlu saya tambahkan sedikit mengenai cakrawala waktu, yang berarti seberapa lama sebelum Anda perlu menyentuh uang. Kalau tujuan keuangan Anda adalah pensiun pada usia 55 tahun, maka Anda memiliki cakrawala waktu 20 tahun. Dari sini adalah masuk akal kalau Anda memasukkan saham ke dalam portofolio. Memang, return pasar saham lebih fluktuatif, namun lebih menjanjikan dibandingkan dengan kelas aset lain untuk cakrawala waktu 20 tahun, yang masuk kategori jangka panjang.

Kalau boleh disimpulkan, dalam membuat alokasi aktiva pemodal perlu mengenali diri sendiri dan profil risikonya.Pemodal mandiri juga perlu mengukur waktu dan usaha untuk mengelola investasinya. Semakin banyak porsi saham yang Anda pegang, semakin besar komitmen waktu. Ada pandangan bahwa kalau memasukkan saham dalam portofolio Anda sedikitnya Anda mencurahkan 4-5 jam per minggu.

Saudara Wahyu, jika ingin menjadi pemodal portofolio Anda harus belajar tentang banyak hal seperti mengenali berbagai kelas aktiva dan karakteristiknya. Jika belum paham dan ingin memulai berinvestasi maka Anda pilih saja reksa dana. Berinvestasi di reksa dana berarti Anda mempekerjakan profesional untuk mengelola investasi Anda. Tentu lebih baik jika Anda juga mempelajari seluk beluk reksa dana. Yakinlah bahwa belajar tentang investasi akan memberikan dividen besar.

Selamat Berinvestasi

Jaka Cahyono

0 Responses to “Investment Policy Statement”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: