Antara Hobi, Pekerjaan dan Profesi

[Artikel ini pertama kali dimuatdi Harian Jurnal Nasional | Selasa, 27 Sep 2011]

 

Halo Pak Jaka. Nama saya Angga dan saya baru lulus kuliah. Meski saya sarjana elektro tetapi saya doyan memotret. Saat kuliah saya menjadi fotografer dan desainer grafis freelance.

Saya mendapatkan tawaran pekerjaan di beberapa perusahaan multinasional. Ibu saya meminta saya bekerja sesuai gelar saya. Ayah saya meminta saya untuk sekolah S2, lantas baru bekerja. Tetapi saya ingin bekerja menjadi fotografer, entah itu di media cetak atau membuka usaha sendiri.

1. Sebaiknya saya menjadi fotografer freelance, bekerja di media atau perusahaan sesuai ijazah saya sebagai sarjana teknik, atau membuka usaha sendiri?

2. Kalau menjadi freelance tentu pendapatan saya tidak tetap, sedangkan kalau bekerja di perusahaan maka pendapatan saya tetap. Apa keuntungan dan kerugiannya?

Terima kasih atas jawabannya.

Angga, Pancoran, Jakarta Selatan

Saudara Angga, pertama-tama saya memberi dua ucapan selamat. Pertama, karena lulus kuliah. Kedua, karena memiliki banyak pilihan kerja. Sebelum menjawab pertanyaan Anda, saya ingin memaparkan pengalaman pribadi saya sebagai ilustrasi dengan harapan Anda dapat belajar dari kesalahan saya.

Saya — menggunakan istilah Anda — doyan menulis. Saya lebih suka menggunakan istilah hobi, yang secara harfiah berarti selingan dari aktivitas dan berorientasi terutama pada minat dan kesenangan, bukan imbalan finansial. Semasa kuliah saya menulis artikel di media kampus dan media umum.

Setelah lulus saya bertekad mengubah hobi saya menjadi profesi. Alhamdulillah tekad saya tercapai. Beberapa bulan setelah lulus saya mendapatkan pekerjaan sebagai wartawan di mingguan ekonomi berbahasa English, di mana saya bisa belajar menulis, menguasai bahasa Inggris dan materi yang kemudian menjadi spesialisasi, yakni bisnis dan keuangan.

Bagi saya, wartawan bukan sekadar pekerjaan, tetapi profesi: tipe pekerjaan yang memerlukan pendidikan, pelatihan dan keterampilan khusus. Maka, selain terus belajar tentang teknis menulis, saya mengikuti berbagai pelatihan tentang ekonomi dan pasar modal. Saya membeli semua buku tentang pasar modal yang ada di toko buku, termasuk buku impor, waktu itu. Langkah impulsif saya ini, menurut The Richest Man in Babylon (George S. Clason, 2008) adalah salah satu dari tujuh langkah untuk menjadi kaya.

Selain di majalah mingguan berbahasa English tersebut, saya pernah bekerja di beberapa media mulai dari newswire, harian, mingguan, dwimingguan dan bulanan yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan English. Namun semua tidak berlangsung secara berkelanjutan. Di sela-sela karier saya sebagai wartawan secara sporadis saya menjadi freelancer, dengan menulis artikel di media, menjadi penerjemah dan mewujudkan obsesi saya menulis buku. Saya menjadifreelancer sekitar setahun selama periode 1985-1996, periode 1998-2003 dan 2010-sekarang. Selama periode 1998-2003, saya sempat mendirikan perusahaan penerbitan yang ternyata mati muda.

Dari pengalaman ini saya pernah merasakan pengalaman sebagai professional dalam arti sebagai orang gajian, sebagai freelancer, dan sebagai entrepreuner. Semuanya terkait dengan bidang yang saya sukai: tulis-menulis.

Nah cukup pengalaman saya sebagai ilustrasi dan saya ingin menjawab pertanyaan Anda sekarang.

Pertanyaan pertama Anda saya kira melibatkan tiga konsep: hobi, pekerjaan dan profesi. Kalau Anda menggunakan ijazah kesarjanaan untuk mencari penghidupan, artinya Anda mencari pekerjaan. Kalau Anda mencari penghasilan dengan menggunakan ketrampilan dan pengetahuan khusus, maka Anda memiliki profesi. Dalam hal ini Anda ingin mengembangkan hobi menjadi profesi.

Pekerjaan memberikan imbalan finansial, yang umumnya sifatnya regular dan stabil. Hanya saja dengan pekerjaan, Anda akan menjadi bagian dari mesin industri yang sifatnya impersonal. Dengan profesi, Anda mungkin tidak menikmati imbalan keuangan yang regular dan fluktuatif, dalam arti kadang bisa banyak dan kadang kecil. Profesi umumnya melibatkan tanggung jawab pribadi lebih besar dan kepuasan batin. Profesi juga bisa digunakan sebagai sarana aktualisasi diri.

Dengan profesi Anda mempunyai tiga jalur pilihan: menjadi freelancerentrepreneur dan orang gajian. Ketika mengubah hobi menjadi profesi, maka Anda akan terpaksa mengubah perspektif. Sebagai hobi Anda bisa memotret kapan saja Anda inginkan, tetapi ketika sudah menjadi profesi, Anda harus memotret kapan saja klien atau juragan inginkan. Dengan demikian memotret akan menjadi rutinitas sehingga unsur “kesenangan” mungkin akan berkurang. Kalau sudah berprofesi sebagai fotografer, mungkin Anda perlu mengembangkan hobi lain.

Kalau Anda sukses sebagai freelancer, Anda bisa melembagakan dengan membentuk usaha sendiri di bidang fotografi. Dengan status legal, usaha Anda akan memiliki peluang bisbis yang lebih besar, misalnya mengikuti tender untuk mendapatkan proyek-proyek di perusahaan atau lembaga lain.

Benar seperti pernyataan Anda bahwa menjadi freelancer, pendapatan Anda akan tidak regular dan berfluktuasi, sedangkan kalau bekerja di perusahaan maka pendapatan Anda regular dan tidak stabil. Namun kalau bekerja di perusahaan, maka Anda harus menaati berbagai peraturan yang akan membatasi gerak Anda.

Saudara Angga, selama periode pertama dan periode kedua menjadi freelancer penghasilan saya jauh lebih kecil daripada ketika menjadi wartawan. Akibatnya, uang tabungan saya menipis. Untuk menekan pengeluaran saya membawa keluarga ke kampung halaman, di mana biaya hidup dan biaya sekolah anak lebih murah. Namun langkah ini tidak banyak membantu sehingga saya kemudian memutuskan untuk menjual tenaga lagi ke perusahaan penerbitan.

Pada bulan ini saya hampir dua tahun menjadi freelancer lagi. Selama periode ketiga sebagaifreelancer ini penghasilan saya bisa dikatakan sebanding dengan kalau saya bekerja sebagai wartawan. Hal ini terjadi karena frekuensi job saya jauh lebih tinggi daripada dua periode sebelumnya. Hal ini antara lain portofolio saya lebih panjang dan jaringan saya lebih luas. Selama periode ini saya mendapat pekerjaan menerjemahkan buku, menjadi ghostwriter,menulis artikel termasuk untuk mengisi rubrik ini dan menulis buku. Saya menulis berbagai dokumen bisnis seperti laporan riset dan laporan tahunan. Bahkan saya pernah mendapat order untuk menulis naskah pidato.

Di luar aspek finansial, saya menikmati kenyamanan sebagai freelancer seperti tidak harus pergi dan pulang ke kentor setiap hari. Selama beberapa hari bisa hanya memakai kain sarung saja dan bersandal jepit. Dengan teknologi komunikasi yang ada, saya bekerja kapan saja dan di mana saja. Di atas semua itu saya mencintai apa yang saya lakukan untuk hidup, dan saya merasa jauh lebih bahagia daripada jika saya menjadi orang gajian. Saya juga merasa bisa memenuhi misi suci saya untuk mencerdaskan masyarakat dengan terus menulis, menulis dan menulis.

Dari sini saya merekomendasikan Anda –kalau menginginkan profesi (bukan pekerjaan) — untuk berkarya di perusahaan dulu sambil meningkatkan ketrampilan dan membangun reputasi danbrand name serta memperluas jaringan. Nanti kalau sudah memiliki banyak pengalaman dan jaringan barulah memutuskan mencari freelancer. Kemudian kalau Anda sudah memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengelola usaha, barulah Anda bisa melembagakan bisnis Anda.

Selamat bekerja dan berkarya,

Jaka Cahyono

0 Responses to “Antara Hobi, Pekerjaan dan Profesi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: