Mendorong Anak Melek Finansial

[Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Jurnal Nasional | Selasa, 4 Oct 2011]

BUNG Jaka yang baik. Nama saya Darius dan saya bapak dari empat anak. Saya sedang bingung perihal cara mengajarkan keterampilan mengelola keuangan baik bagi anak-anak.

Anak pertama saya, putri, yang sudah kuliah hidup boros. Diberi uang saku berapa pun pasti habis, lebih banyak untuk foya-foya. Sementara anak kedua saya dan satu-satunya laki-laki yang masih SMU juga begitu. Hanya saja uang sakunya habis untuk membeli gadget, entah itu laptop terbaru, BlackBerry, iPhone, dan benda elektronik lain.

Nah, di sisi lain adik-adiknya malah terkesan pelit. Dua putri saya terakhir doyan menabung. Walaupun sudah punya tabungan banyak untuk kategori anak SMP, tetapi jika ingin membeli sesuatu pasti langsung meminta kepada saya atau ibunya.

1. Bagaimana mengajari anak-anak saya agar bisa pandai mengelola keuangan?

2. Apakah sudah terlambat kalau saya mengajarkan kepada anak-anak saya tentang pentingnya menabung?

Salam

Darius, Cawang, Jakarta Timur

Pak Darius, menilik perbedaan perilaku keuangan anak-anak Anda tampaknya Anda belum banyak mengajari mereka soal uang. Dugaan saya berdasar pada fakta sederhana. Pengetahuan keuangan bukan bagian dari DNA, tetapi harus dipelajari. Karena keuangan pribadi tidak diajarkan di sekolah, maka perilaku mereka pastilah meniru perilaku ayah atau ibunya.

Kalau dugaan saya benar, maka Anda tidak sendirian. Orang tua cenderung memenuhi kebutuhan dan keinginan anak, tetapi menjauhkan anak-anak kalau membahas masalah keuangan. Diamnya orang tua soal keuangan dapat menimbulkan kesan negatif: uang tidak penting dan atau menakutkan. Dampaknya, anak menjadi kurang bertanggung jawab soal keuangan.

Pak Darius, adalah alami kalau orang tua memberikan uang kepada anak-anak agar mereka menikmati masa kanak-kanak dan sukses secara finansial setelah dewasa. Namun kebijakan uang mudah sering berdampak negatif bagi anak. Dengan demikian, agar uang memberi manfaat bagi anak, maka perlu bagi orang tua mengajari anak mengelola uang.

Karena kesuksesan keuangan juga berkaitan dengan masalah kebiasaan, maka orang tua juga perlu mendidik kebiasaan baik soal keuangan kepada anak-anaknya.

Salah satu sarana untuk mengajari anak soal keuangan adalah uang saku. Beri anak Anda uang saku setiap bulan dalam jumlah tetap. Anda bisa menambah uang saku, misalnya jika anak mengerjakan tugas rumah tangga tambahan, seperti mencuci mobil, mengecat rumah, dan memotong rumput. Agar tidak selalu meminta uang setiap kali ingin membeli sesuatu, Anda harus membuat aturan, misalnya hanya memberi kalau uang digunakan untuk membeli barang bagi keperluan pendidikan. Kalau anak membutuhkan barang untuk hiburan, seperti gadget atau video game biarkan anak menggunakan uang sakunya.

Uang saku juga berguna juga untuk mengajari anak kebiasaan baik dan keterampilan dalam bidang keuangan seperti:

Menabung. Untuk anak usia sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama, tanamkan kebiasaan menabung. Caranya bisa seperti ini. Anda memberi kebebasan pada anak untuk menggunakan uang saku. Namun dorong mereka menyisihkan sebagian untuk ditabung, misalnya untuk membeli barang bernilai tinggi seperti gadget terbaru atau untuk pengeluaran besar lain. Pada tahap ini menumbuhkan kebiasaan menabung pada anak Anda lebih penting daripada kemajuan moneter.

Untuk mendukung kebiasaan menabung ini bukakan akun simpanan di bank atas nama anak dan libatkan dia dalam proses menabung, misalnya ke bank bersama-sama. Pada saat yang sama Anda, atau melalui teller bank, bisa mengajari anak tentang konsep suku bunga sehingga mereka memahami mengapa uangnya di bank bisa berkembang.

Setelah memiliki akun simpanan, dorong anak meningkatkan tabungan dengan hidup hemat. Misalnya dengan hanya membeli barang yang dibutuhkan dan pada harga murah. Kalau simpanan anak sudah mencukupi untuk membeli barang mahal, tetapkan waktu bersama untuk pembelian. Agar memperoleh harga bagus, ajak dia berbelanja ke berbagai toko untuk membandingkan harga.

Tabungan Pensiun. Kebanyakan orang mulai memikirkan dana pensiun setelah bekerja. Itu pun karena banyak program pensiun wajib dan atau program pensiun yang difasilitasi oleh juragan (employer). Terbukti, banyak pekerja swasta dan informal tidak memiliki jaminan pensiun. Sebenarnya, tabungan pensiun penting pada semua usia. Semakin dini memulai semakin mudah mencapai target dana pensiun. Ke depan peluang mengikuti program pensiun difasilitasi oleh program Jaminan Sosial Nasional yang teknisnya sedang dirancang pemerintah.

Dalam kaitan dengan pensiun, akan bijaksana bagi orang tua untuk mendorong anaknya untuk membuat akun simpanan pensiun selain akun simpanan untuk tujuan tertentu. Tabungan pensiun harus diperlakukan sebagai beban, sehingga termasuk pengeluaran rutin. Nanti setelah anak bekerja, kebiasaan ini akan berlanjut.

Berinvestasi. Ketika usia meningkat, anak perlu diajari soal berinvestasi agar uang simpanan berkembang lebih cepat. Untuk itu perkenalkan anak Anda dengan instrumen investasi yang ada mulai dari real estate, kepemilikan usaha, saham, obligasi, reksa dana, dan sebagainya.Kapan anak mulai diajari untuk berinvstasi? Semakin dini semakin baik. Seorang teman saya mengajari anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) berinvestasi di saham. Saat ini orang bisa membuka rekening saham di perusahaan yang memberikan layanan perdagangan online hanya dengan deposit serendah Rp5 juta.

Pada tahap ini, tujuan utama investasi adalah membawa anak bersentuhan dengan pasar modal dan masuk ke dunia profesional. Namun sebelum masuk ke pasar modal, persenjatai mereka dengan berbagai pengetahuan seperti konsep risiko dan manfaat investasi, alokasi aset, dan menyusun portofolio. Kalau mungkin jadikan investasi aktivitas keluarga. Penting bagi anak mengalami fluktuasi pasar agar nantinya siap menghadapi naik turunnya pasar tanpa panik. Bagian dari latihan ini adalah belajar bahwa investasi apa pun memiliki kelebihan dan kekurangan dan merasakan pengalaman memperoleh dan kehilangan uang.

Selain itu, dorong anak berinvestasi pada diri mereka sendiri. Ini bisa kuliah setiggi-tingginya dan mempelajari keterampilan yang mereka senangi. Pendidikan menyediakan return yang jauh lebih baik daripada sarana investasi lain. Lulusan perguruan tinggi memiliki kesempatan luas untuk menikmati gaya hidup nyaman sambil menyimpan dan berinvestasi.

Selain investasi, anak perlu diajari atau didorong belajar soal kredit. Dengan demikian ketika mereka membutuhkan kartu kredit, mencari pinjaman untuk membeli mobil atau rumah, mereka bisa mengambil langkah terbaik. Semua pilihan ini akan memiliki dampak pada keuangannya, dan akhirnya, jumlah yang dapat ditabung untuk pensiun. Kalau Anda memiliki program keuangan untuk anak, seperti tabungan perguruan tinggi, libatkan anak dan ajarkan pengetahuannya. Dalam jangka panjang, mengajari anak-anak tentang uang mungkin lebih berharga daripada memberi mereka uang tunai tanpa memberi arah penggunaannya.

Sampai kursus melek keuangan nasional dilembagakan, Anda adalah satu-satunya guru anak Anda akan memiliki di bidang keuangan pribadi. Ini adalah tanggung jawab besar. Kadang agar dapat mendidik anak Anda adalah dengan mendidik diri Anda terlebih dahulu. Dalam banyak hal, cara terbaik membantu anak Anda secara finansial adalah dengan memperbaiki kelemahan keuangan Anda. Jika Anda tersesat di rawa keuangan, bagi pengalaman Anda dengan anak agar ia dapat belajar dari kesalahan Anda.

Salam

Jaka Cahyono

0 Responses to “Mendorong Anak Melek Finansial”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: