Mengelola Harta Warisan

[Artikel ini petama kali dimuat di Harian Jurnal Nasional 25 Oktober 2011]

Pak Jaka yang saya hormati. Saya ibu dari dua anak perempuan (15 dan 13 tahun) dan satu laki-laki 11 tahun). Sekitar dua bulan lalu suami saya meninggal dunia setelah sakit beberapa waktu. Sambil mengenang hari-hari bahagia bersama suami, saya sedang menata kehidupan kami sekeluarga. Perlu pak Jaka ketahui, dari almarhum suami saya mewarisi dua rumah dan sepetak tanah di Banten, sejumlah simpanan di bank dan hasil klaim asuransi jiwa serta jaminan sosial. Selain itu suami saya juga memiliki harta warisan dari orangtuanya berupa sepetak sawah dan rumah di tanah kelahiran almarhum di Jawa Tengah. Dulu sebelum memiliki anak, saya pernah bekerja di sebuah perusahaan di Tangerang, tetapi saya kemudian berhenti atas usulan almarhum suami agar bisa mengurus keluarga. Sekarang ini tampaknya sulit bagi saya untuk bekerja kembali untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Oleh karena itu saya ingin menggunakan harta warisan untuk membuka usaha guna menambah uang belanja atau menambah biaya pendidikan anak-anak saya sampai Perguruan Tinggi. Saya juga berencana untuk menjual tanah warisan almarhum suami untuk menunjang biaya pendidikan anak. Menurut pak Jaka, baikkah rencana saya tersebut? Atau, harus bagaimana sebaiknya langkah saya agar saya bisa menyekolahkan anak-anak saya sampai PT?

Terima kasih atas perhatian dan saran-sarannya.

Salam Hartati, Tangerang, Banten

Ibu Hartati, dari pertanyaan Anda tampaknya almarhum suami Anda tidak meninggalkan surat wasiat. Tanpa ada wasiat, maka secara otomatis Anda dan anak-anak adalah pewaris sah dari kekayaan almarhum suami Anda. Dalam hal ini ada dua kewajiban penting Anda yakni mengelola harta warisan dan membesarkan anak. Ini pekerjaan berat dan membutuhkan dua jenis ketrampilan yang berbeda. Gagasan Anda untuk menjual beberapa warisan adalah masuk akal. Bukankan warisan harus memberikan manfaat bagi ahli warisnya. Apalagi menjual aktiva adalah langkah mudah dan cepat. Namun menjual aktiva tidak selalu menjadi langkah terbaik. Di atas kertas, Anda bisa membuat kalkulasi bahwa sebagian uang hasil penjualan bisa digunakan untuk usaha dan selebihnya diputar agar bisa memberikan hasil tambahan. Namun terlepas dari semangat Anda, mengelola usaha memerlukan ketrampilan khusus agar bisa sukses. Juga, uang tunai memiliki perangkap tersendiri: Apakah Anda mampu menahan diri, misalnya, untuk membeli barang-barang baru yang kurang begitu penting? Langkah pertama yang banyak dianjurkan dalam pengelolaan harta warisan adalah membuat daftar lengkap kekayaan keluarga Anda. Maka, sambil menemani anak belajar, Anda bisa mengeluarkan laptop atau buku catatan untuk memulai membuat daftar harta yang Anda dan suami akumulasi selama ini. Agar harta lebih mudah dikelola, pisahkah harta yang kasat mata dan tidak kasat mata. Harta fisik mencakup rumah dan tanah, perhiasan, benda seni, kendaraan, dan alat-alat elektronika yang harganya cukup signifikan, katakanlah di atas Rp 100 ribu. Setelah tercatat, taksir nilai atau harga harta tersebut. Lengkapi catatan Anda dengan dokumen pendukung untuk harta tersebut, seperti STNK, Sertifikat, dan dokumen pembelian barang. Kumpulkan dan simpan dokumen ini di tempat aman dan mudah dijangkau. Barang tak kasat mata termasuk rekening simpanan di bank, nilai tunai polis asuransi atau program pensiun dan mungkin rekening investasi apakah di surat berharga dan kepemilikan di perusahaan. Dengan memiliki catatannya, Anda dengan segera dapat mengerti nilai dari harta tak tampak ini. Dari semua aktiva yang kasat mata dan tak kasat mata pilah mana yang menghasilkan uang dan mana yang tidak. Dari aktiva yang memberikan hasil, catat berapa persen hasilnya. Misalnya tabungan menghasilkan 3%, deposito menghasilkan 6%, dari rumah yang disewakan 4%. Sebagai pelengkap dari catatan aktiva adalah catatan utang dan beban. Dalam banyak kasus, kredit kepemilikan rumah menjadi utang terbesar. Setelah itu, kalau ada, kredit kepemilikan mobil, utang bank, dan utang kartu kredit. Himpun dokumen terkait utang tersebut seperti nomor rekening pinjaman, suku bunga dan persyaratan. Dalam kaitam dengan utang ini, sangat sangat direkomendasikan untuk untuk melunasi utang sehingga yang ada kemudian adalah kekayaan bersih. Setelah mengetahui dengan tepat nilai kekayaan bersih, saatnya bagi Anda mulai berorientasi ke depan. Langkah awalnya adalah menghitung biaya bulanan mulai dari biaya rutin, baik tetap dan variabel, seperti tagihan listrik, TV kabel, air, biaya sekolah anak. Pikirkan juga kebutuhan jangka panjang seperti membiayai pernikahan anak. Satu poin penting pada tahap ini adalah asuransi kesehatan. Ketika suami masih ada, asuransi kesehatan ditanggung oleh perusahaan tempat suami bekerja, kini Anda mengeluarkan dana sendiri untuk pos tersebut. Pertimbangkan untuk menjadi peserta dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional di PT Jamsostek yang saat tersedia bagi individu. Dengan membandingkan rencana pengeluaran ini dengan arus kas masuk dari aktiva yang ada, Anda akan memperoleh gambaran apakah arus kas positif atau negatif. Arus kas positif berarti bahwa uang masuk lebih banyak daripada arus kas keluar. Kalau arus kas negatif, Anda hendaknya menjadi positif dengan, antara lain, mengurangi konsumsi. Alangkah baiknya jika Anda melibatkan anak-anak untuk melakukan penghematan bersama. Cara lain untuk memperbaiki arus kas Anda adalah dengan memaksimalkan aktiva. Anda misalnya bisa menyewakan rumah atau kamar kosong. Atau, Anda memaksimalkan aktiva tak tampak dengan mengubah tabungan menjadi investasi yang memungkinkan Anda memperoleh hasil lebih besar. Rubrik ini edisi sebelum ini membahas topik ini. Pilihan lain untuk memperbaiki arus kas adalah dengan melikuidasi aktiva yang ada. Rumah atau tanah yang menganggur sangat masuk akal kalau dijual. Dana hasil penjualan bisa diputar agar bisa memberikan hasil. Namun, hati-hatilah jika ingin menggunakan untuk memulai usaha. Berbisnis sangat berisiko dan bukti menunjukkan bahwa jauh lebih banyak usaha yang gagal daripada yang berhasil. Selain itu, selalu ingat perangkap uang tunai yang mudah memuai. Satu langkah yang saya rekomendasikan untuk Anda lakukan adalah memuat wasiat, yang intinya berisi keinginan Anda untuk distribusi aset Anda untuk jaga-jaga kalau Anda dipanggil pencipta. Memang, tidak ada dari kita senang berpikir tentang kematian, tetapi itu adalah salah satu hal yang tak terelakkan dalam hidup dan oleh karena itu harus dipertimbangkan ketika mengelola harta Anda. Adanya wasiat bisa mencegah perselisihan keluarga. Wasiat bisa dibuat secara tertulis agar memiliki kekuatan hukum, tetapi bisa secara lisan dibicarakan dengan anak-anak. Terakhir yang ingin saya kemukakan adalah cara Anda melakukan langkah-langkah di atas. Kalau Anda mau melakukan langkah-langkah di atas, lakukan sendiri. Kalau merasa tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk melakukannya, Anda bisa mendidik diri sendiri tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan harta. Banyak buku, situs, artikel di media massa bisa menjadi sumber pengetahuan. Jika mengelola harta warisan sendiri terlalu berat, Anda bisa berpaling ke perencana keuangan, wealth manager atau profesional lain dengan nama apa saja yang menawarkan jasa pengelolaan kekaaan (walth management). Anda bisa menggunakan jasa mereka untuk konsultasi saja atau mempercayakan pengelolaan harta kepada mereka. Dengan mempekerjakan financial planner, Anda dapat fokus membesarkan anak. Jika Anda memilih mempekerjakan perencana keuangan, Anda perlu memahami biayanya. Untuk sekadar konsultasi, perencana keuangan biasanya akan memungut uang jasa yang dihitung per jam. Untuk perencana keuangan yang Anda serahi wewenang mengelola harta, Anda akan dikenai biaya manajemen. Dengan keahlian mereka dan akses mereka ke lembaga penyedia jasa keuangan dan informasi ke sarana investasi, perencana keuangan akan mampu mengalokasikan harta atau aset Anda lebih efektif sehingga Anda secara financial layak untuk mempekerjakan mereka.

0 Responses to “Mengelola Harta Warisan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: