Mengapa Bukan ke Pasar Modal?

[Artikel ini pertama kali diterbitkan di Jurnal Nasional | Selasa, 8 Nov 2011]

Pak Jaka yang saya hormati,

Saya adalah pembaca setia rubrik bapak di Harian Jurnal Nasional. Setelah membaca salah satu tulisan bapak pada rubrik ini beberapa bulan lalu saya membeli emas seperti yang bapak rekomendasikan waktu itu. Hasilnya sangat bagus, dalam tempo dua bulan nilai emas saya meningkat 20 persen.

Pak Jaka, baru-baru ini saya menjual rumah. Setengah dari uang hasil penjualan sudah saya gunakan untuk uang muka rumah yang akan saya huni dan sisanya tersimpan di bank. Di kolom bapak pula saya menjadi paham bahwa simpanan di bank ternyata tidak menguntungkan sama sekali akibat laju inflasi. Ke mana sebaiknya mengoptimalkan uang saat ini? Apakah saya harus menambah emas saya?

Selama ini istri saya, yang bekerja sebagai agen asuransi, kadang melakukan transaksi jual beli yang sifatnya insidental. Istri saya membeli barang pada harga di bawah harga pasar dan menjualnya pada harga pasar. Transaksi ini memberikan laba yang bagus namun peluang seperti ini tidak selalu ada.

Itu saja pertanyaan saya dan terima kasih.

Yudi, Jakarta Selatan

Pak Yudi, terima kasih atas pertanyaannya. Dengan kondisi keuangan Anda dan situasi keluarga Anda, serta dana idle yang tersedia dalam jumlah sembilan digit, sebenarnya Anda dalam posisi yang bagus untuk mulai masuk ke pasar modal. Apalagi Anda sudah terbiasa mengunyah tulisan-tulisan keuangan di media massa. Lingkungan kerja istri Anda pasti akan meningkatkan peluang untuk sukses di pasar modal.

Berinvestasi di pasar modal, yang saya yakin Anda memahaminya dengan baik, menawarkan peluang untuk mendulang gain yang tidak terhingga. Anda tentu juga paham bahwa pasar modal mengandung potensi risiko yang besar juga.

Nah, kunci sukses di pasar modal adalah mengendalikan risiko. Aksi ini membedakannya dengan judi, di mana Anda tidak dapat mengontrol sama sekali risiko. Adapun langkah pertama untuk memitigasi risiko adalah dengan membuat alokasi aset. Secara garis besar membuat alokasi aset berarti mengikuti peribahasa yang sangat populer: jangan menempatkan semua telur di satu keranjang.

Tetapi sebenarnya lebih dari itu. Keranjang investasi tidak boleh sejenis. Dalam bahasa teknis, alokasi aset berarti menyebar dana di beberapa kelas aset, yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Menempatkan semua uang di 10 atau 20 saham bukan alokasi aset yang sesungguhnya.

Dalam portofolio investasi, kelas aset yang ada antara lain saham, efek pendapatan tetap seperti obligasi, dan instrumen pasar uang seperti Sertifikat Bank Indonesia. Secara umum, alokasi aset bisa melibatkan aset fisik seperti emas atau properti, selain instrumen portofolio.

Alokasi aset yang benar adalah proteksi untuk menghadapi masalah di satu kelas aktiva tertentu, yang terjadi dari waktu ke waktu. Misalnya, pada 2005 harga obligasi di Tanah Air rontok bersamaan dengan terjadinya krisis reksa dana. Pada waktu itu, harga saham secara keseluruhan justru meningkat. Dalam kondisi normal, obligasi, apalagi obligasi negara, merupakan instrumen yang sangat aman.

Nah, dengan dana menganggur tersebut Anda bisa menyusun alokasi aset yang baik. Pada umur 40 tahun sekarang ini, Anda bisa menginvestasikan 40 persen di obligasi, dan dalam jumlah yang sama di saham. Dengan adanya platform perdagangan online, Anda bisa masuk ke bursa saham dengan investasi serendah Rp5 juta, meskipun pada umumnya perusahaan efek mensyaratkan investasi minimum Rp25 juta. Dengan dana nganggur Anda saat ini, ORI dan SPN berada dalam jangkauan Anda.

Ke mana sisa 20 persen dari dana idle Anda diputar? Anda bisa memarkir di instrumen pasar uang yang sewaktu-waktu bisa diinvestasikan di tempat lain kalau ada peluang bisnis bagus. Cara aman dan menguntungkan adalah dengan membeli reksa dana pasar uang (RDPU), yang mengutamakan keamanan pokok. Investasi Anda di RDPU bisa turun, tetapi hanya dalam kondisi sangat langka dan penurunannya sangat kecil dan sifatnya temporer saja.

Ketika membuat alokasi aset, tetapkan target return yang rasional, misalnya lima persen di atas return instrumen bebas risiko, yang diwakili oleh diskonto SBI. Jika diskonto SBI sekarang 7 persen, maka target investasi Anda lebih 12 persen setahun dari seluruh investasi.

Nah, bagaimana kalau Anda ingin berinvestasi di saham saat ini? Dalam bidang ekonomi, sering ada sisi bagus dari situasi buruk bahkan yang sangat mengkhawatirkan seperti sekarang, yakni krisis keuangan global yang berakar pada krisis utang yang terjadi di Amerika dan Eropa Selatan. Dalam kondisi seperti ini maka saham yang banyak menjadi pilihan adalah saham yang menjadi perusahaan di sektor konsumsi, yang di mana-mana dianggap menjadi safe haven (tempat berlindung).

Contoh terkini adalah apa yang terjadi di Amerika Serikat. Ketika di sana ada persoalan keuangan sangat serius, yakni utang yang di luar kemampuannya membayar sehingga peringkatnya turun, namun harga saham tidak turun seperti banyak diduga semula. Pasalnya, banyak reksa dana dan hedge fund membeli saham perusahaan rumah tangga seperti Kraft dan Johnson and Johnson yang harganya tumbuh sebanyak double digit justru ketika banyak pemodal khawatir akan terjadinya krisis keuangan.

Kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia. Ketika krisis ekonomi terjadi pada 2008, maka saham-saham konsumen akan menjadi pilihan banyak reksa dana saham, yang memiliki kebijakan investasi untuk menginvestasikan semua atau hampir semua dana kelolaannya ke saham. Akibatnya, banyak saham sektor konsumsi naik jauh melampaui daya dukung faktor fundamentalnya.

Dalam hal ini investor individu memiliki kelebihan dibanding reksa dana. Dengan dana ratusan juta, dibandingkan miliaran atau bahkan puluhan miliar dana kelolaan reksa dana, pemodal individu bisa bergerak lebih leluasa dan cepat. Ketika membeli atau menjual mereka tidak akan dapat segera melakukannya. Saham yang bisa menjadi pilihan adalah saham-saham telekomunikasi, khususnya yang dikontrol negara. Peluang perusahaan ini untuk bangkit jelas sangat kecil.

Satu langkah untuk menurunkan risiko investasi di saham adalah memiliki cakrawala jangka panjang, misalnya selama 10 tahun atau lebih. Intinya di sini adalah bahwa Anda tidak harus menjual selama periode tersebut, khususnya ketika harganya turun. Namun hendaknya investasi Anda di saham terus dipantau secara reguler. Kalau dalam beberapa bulan harga saham naik 20 persen, sesuatu yang mungkin terjadi, maka Anda bisa mengurangi porsi saham dalam portofolio dan menginvestasikan gain di obligasi yang aman meskipun dengan potensi return yang lebih kecil.

Cara lain menghindari risiko di saham adalah tidak terserang penyakit rakus, yakni ingin return yang sangat besar. Penyakit kedua yang harus Anda hindari adalah membuat keputusan investasi dengan informasi yang tidak memadai dan terlalu memercayai pialang. Penyakit lain adalah terlalu percaya pada diri sendiri sehingga melakukan market timing. Penyakit-penyakit ini akan mendorong Anda melakukan terlalu banyak transaksi, yang biayanya akan menggerogoti gain Anda.

Salah satu safe haven ketika ekonomi dan pasar modal mengkhawatirkan adalah emas. Meskipun kondisi pasar keuangan masih relatif stabil saat ini, namun kekhawatiran akan terjadinya krisis keuangan belum hilang. Selain itu ada satu faktor yang membuat emas menjadi pilihan investasi yang menarik. Krisis keuangan telah mendorong banyak negara semakin besar untuk kembali ke standar emas.

Dalam standar emas, maka pencetakan uang akan disesuaikan dengan ketersediaan emas. Artinya dengan standar emas, maka setiap negara tidak bisa lagi mencetak uang seenaknya, seperti Amerika Serikat selama ini. Kalau standar emas berlaku, maka permintaan akan emas akan melonjak luar biasa.

Seorang kontak saya di sebuah perusahaan berjangka di Jakarta mengatakan bahwa minat untuk berinvestasi emas melalui bursa berjangka semakin besar akhir-akhir ini. Sementara itu, minat orang membeli emas untuk hiasan juga terus meningkat.

Selamat Berinvestasi,

Jaka Cahyono

0 Responses to “Mengapa Bukan ke Pasar Modal?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: