Transaksi Indeks Berjangka Bukan untuk Pemula

[Artikel ini pertama dipublikasikan di Jurnal Nasional | Selasa, 15 Nov 2011]

PAK Jaka, baru-baru ini saya pernah ditelepon orang yang tidak dikenal menawarkan sarana investasi berupa perdagangan indeks berjangka. Saya pernah menerima telepon seperti ini sebelumnya. Saat ini saya merasa karier saya sudah mentok dan saya ingin menjamin pendapatan di masa depan dari hasil investasi. Selain membuka gerai garmen di sebuah mal, saya juga telah berinvestasi di saham sebuah BUMN yang saya beli saat IPO dan reksadana. Saya kurang begitu paham soal indeks berjangka dan seberapa besar risiko dari sarana investasi ini?

Salam,

Bambang, Bekasi

Pak Bambang, cara memasarkan melalui telepon dikenal dengan nama cold call, cara yang banyak dilakukan untuk mengembangkan bisnisnya. Aksi ini akan disertai kunjungan untuk menjelaskan detailnya. Karena teknik pemasaran mereka, banyak orang yang tanpa sepenuhnya menyadari langkahnya, ikut dalam skim investasi yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Cara ini cenderung merugikan nasabah dan di Amerika Serikat mereka dilingkungi peraturan yang menetapkan adanya cooling period selama tiga hari. Selama periode ini nasabah bisa membatalkan kontrak tanpa kewajiban apa pun. Di sini belum ada peraturan seperti ini.

Dewasa ini ada cara lain untuk memasarkan instrumen investasi alternatif seperti kontrak indeks berjangka. Agen penjualan mereka, dengan nama konsultan investasi atau yang lain, menawarkan sebuah program pengenalan produk yang kadang mereka sebut seminar. Padahal yang terjadi adalah pemaparan seluk-beluk transaksi berjangka. Tujuan akhir mereka jelas: menjaring nasabah. Mereka umumnya menampilkan peluang dan potensi instrumen tersebut, namun kurang memadai membahas risikonya.

Untuk membantu Pak Bambang memahami apa itu kontrak indeks berjangka, maka secara sekilas saya akan memaparkan basis dari instrumen tersebut, yakni indeks. Indeks adalah gabungan data statistik yang mengukur perubahan, misalnya dalam perekonomian atau pasar keuangan. Indeks dinyatakan dalam angka dan perubahannya dinyatakan sebagai persentase perubahan dari tahun dasar penghitungan atau dari angka pada periode sebelumnya. Contoh indeks yang umum adalah indeks harga konsumen, indeks harga saham dan indeks obligasi.

Indeks yang menjadi basis kontrak berjangka di Indonesia kemungkinan besar adalah indeks harga saham. Di negara maju ada kontrak indeks berjangka yang memiliki aktiva induk(underlying securities) komoditi dan obligasi. Untuk memahami indeks saham, mari kita lihat apa yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini BEI, baik sendiri maupun bekerja dengan lembaga lain, menghitung dan menyebarluaskan 11 jenis indeks harga saham. Indeks utamanya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang berfungsi mencerminkan perkembangan harga semua saham di BEI. BEI juga menerbitkan indeks sektoral untuk melacak perubahan harga saham di sektor tertentu. Untuk melihat pergerakan harga saham yang paling sering diperdagangkan, BEI membuat indeks LQ 45 untuk melihat pergerakan 45 jenis saham yang memenuhi kriteria tertentu.

Pada mulanya indeks dihitung untuk memberikan jawaban bagi pelaku pasar yang ingin mengetahui dengan cepat apa yang terjadi di pasar. Dengan memberikan perubahan IHSG, misalnya, pelaku pasar mengetahui secara umum perubahan harga semua saham di BEI. Sebagai indikator perubahan harga, IHSG dapat disebarluaskan dengan mudah, singkat, dan cepat baik secara langsung maupun melalui media massa.

Dalam perkembangannya, banyak indeks harga saham juga digunakan untuk menjadi basis bagi produk instrumen investasi derivatif. Berdasar indeks LQ-45 misalnya, pelaku pasar menciptakan instrumen investasi yang disebut kontrak indeks berjangka (future index) LQ-45. Nama umum dari instrumen ini adalah Kontrak Berjangka Indeks Efek (KBIE).

Kontrak indeks berjangka masuk kategori instrumen derivatif karena harga sarana investasi ini berasal (derived) dari harga harga sesuatu yang lain. Contoh, harga kontrak berjangka LQ 45 berasal dari perubahan harga 45 saham yang masuk dalam indeks LQ 45. Dalam kontrak berjangka, pembeli membuat kontrak pada harga tertentu pada waktu tertentu di masa depan.

Kontrak berjangka pada mulanya digunakan sebagai proteksi melawan fluktuasi harga oleh pelaku di pasar komoditas. Misalnya, seorang petani yang menanam gandum pada Mei dapat menjual panenannya yang akan dilakukan September pada harga yang disepakati saat penandatanganan kontrak. Dengan cara ini, petani akan terlindungi jika harga gandum turun. Tentu, dia kehilangan kesempatan menikmati manfaat jika saat jatuh tempo harga gandum naik.

Perdagangan berjangka paling populer dewasa ini tidak ada hubungannya dengan produk fisik nyata, tetapi digunakan untuk berspekulasi pada arah suku bunga, kurs mata uang, dan indeks bursa saham. Kalau di BEI ada LQ-45, di luar negeri yang banyak digunakan adalah Indeks SP 500, indeks Hangseng dan Indeks Kospi, yang melacak 200 saham terbesar di bursa saham Korea.

Transaksi indeks berjangka diselenggarakan di bursa dan oleh karena itu diatur oleh pengelola bursa. Aturan mencakup waktu transaksi dan spesifikasi kontrak. Aturan ini lebih sebagai kesepakatan antarpelaku pasar. Perdagangan KBIE berlangsung seperti transaksi saham, di mana pemodal tidak bisa langsung melakukan transaksi tetapi melalui Anggota (AB) yang menawarkan layanan ini. Jadi, tidak semua anggota bursa melayani transaksi ini. Pada dasarnya, prosedur perdagangan KBIE juga sama dengan transaksi saham: nasabah membuka rekening KBIE yang memuat hak dan kewajibannya.

Kontrak indeks berjangka di Indonesia juga diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) melalui anggota bursa BBJ. Transaksi indeks berjangka tertentu bisa berlangsung di luar bursa, namun juga platform perdagangan seperti yang ada di bursa. Ada konvensi pasar yang disepakati oleh peserta.

Pada umumnya transaksi KBIE melibatkan fasilitas margin, di mana pemodal hanya memerlukan sebagian kecil dari nilai kontrak atau yang disebut Margin Awal. Besaran Margin Awal KBIE di BEI sekurang-kurangnya 3 persen dari nilai kontrak per transaksi. Margin Awal ditetapkan dalam bentuk satuan mata uang dengan besaran sekurang-kurangnya Rp1 juta per kontrak. Untuk memperluas basis pemodal, para pelaku memperkenalkan kontrak indeks berjangka mini, yang hanya mensyaratkan investasi awal beberapa juta rupiah saja.

Kontrak berjangka finansial memiliki fungsi praktis tersendiri. Kebanyakan korporasi yang melakukan bisnis di seberang lautan menggunakan perdagangan currency berjangka untuk melindungi diri melawan fluktuasi mata uang di negaranya. Pengelola reksa dana atau hedge fund sering menggunakan kontrak indeks berjangka, baik untuk mengelola risiko maupun untuk tujuan spekulasi.

Pemodal individu umumnya menggunakan kontrak berjangka untuk tujuan spekulasi pada arah perubahan indeks, currency, atau suku bunga. Namun berspekulasi di kontrak indeks berjangka, dan kontrak berjangka lain, bukan ide bagus bagi kebanyakan pemodal individu karena sejumlah alasan. Misalnya, kontrak berjangka sepenuhnya bersifat zero-sum game; setiap dari laba dari kontrak berjangka berasal dari kerugian mitra transaksinya. Itu berarti bahwa peluang nasabah kehilangan uang lebih besar daripada kalau bertransaksi di saham atau reksa dana, di mana semua pemodal bisa menikmati laba tanpa ada yang rugi. Namun, banyak transaksi saham di bursa juga bersifat zero sum game.

Potensi risiko kontrak berjangka bisa lebih besar lagi, kalau transaksinya melibatkan fasilitas margin. Dengan margin awal 3 persen, berarti nasabah bisa melakukan transaksi senilai Rp100 juta dengan hanya menggunakan dana sebesar 3 persen. Transaksi seperti ini memungkinkan pemodal mendapatkan gain sangat besar, tetapi juga membuat kerugian besar juga sama besarnya.

Ada satu hal yang tidak akan disampaikan oleh agen penjualan di perusahaan yang menawarkan transaksi kontrak berjangka. Penghasilan mereka dibayar menurut jumlah transaksi nasabah. Hal ini mendorong mereka untuk mendorong nasabah bertransaksi. Bahkan banyak sekali terjadi, mereka melakukan transaksi dengan uang nasabah di luar sepengetahuan si nasabah. Ini berkembang menjadi kasus jika si pialang mengalami kerugian, yang sayangnya harus ditanggung nasabah.

Paparan di atas secara implisit menunjukkan bahwa kontrak indeks berjangka tidak cocok untuk pemula. Selain itu, karena indeks berubah setiap saat maka kans untuk menang lebih besar bagi mereka yang mengamati pasar secara berkelanjutan. Selanjutnya, terserah Pak Bambang.

Selamat Berinvestasi

Jaka Cahyono

0 Responses to “Transaksi Indeks Berjangka Bukan untuk Pemula”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: