Selalu Berpindah, Haruskah Membeli Rumah?

[Artikel ini pertama kali diternitkan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 29 Nov 2011]

 

HALO, Pak Jaka. Salam kenal. Saya selalu meluangkan waktu untuk membaca kolom konsultasi keuangan yang bapak asuh. Nama saya Bimo, saya seorang manajer area sebuah perusahaan.

Sejak tujuh tahun lalu, saya menjadi manajer area. Saya selalu dipindahkan ke berbagai kota provinsi di Tanah Air. Saya pernah tinggal di Banjarmasin, Palembang, dan sekarang di Tangerang. By the way, usia saya 32 tahun.

Yang saya ingin tanyakan adalah :

1. Perlukah saya membeli rumah? Saya mendapatkan fasilitas mobil dan rumah dari kantor.

2. Apa saya cukup menabung dalam bentuk deposito atau berinvestasi dalam bentuk lain?

3. Kalau saya perlu membeli rumah, apa sebaiknya saya membeli rumah di kota kelahiran saya di Surabaya atau kota kelahiran istri saya di Malang?

Maturnuwun lho, Pak, atas jawabannya.

Bimo, Tangerang

Mas Bimo, terima kasih atas suratnya.

Dari surat Anda, saya menyimpulkan bahwa secara finansial Anda sudah mampu membeli rumah. Kalau Anda ingin menetap atau paling tidak ingin menghuninya untuk jangka waktu lama, membeli rumah sendiri adalah langkah yang sangat dianjurkan. Pasalnya, selain kepuasan pribadi, Anda bisa memetik banyak manfaat finansial dari rumah yang Anda miliki. Saah satunya, harga rumah cenderung meningkat. Data statistik menunjukkan bahwa harga rumah terus meningkat sejalan dengan laju inflasi.

Namun, bagi banyak orang tertentu, termasuk Anda yang sering berpindah tempat kerja, membeli rumah mungkin bukan langkah yang tepat. Menyewa barangkali lebih menguntungkan secara finansial.

Sebagai ilustrasi saya ingin mencontohkan kisah teman saya. Selepas dari bangku kuliah ia mendapat pekerjaan di Jakarta. Setelah kos dan mengontrak rumah selama dua tahun, dia kemudian membeli sebuah rumah di kawasan Bogor. Setahun kemudian dia merenovasi rumah tersebut.

Namun ia tidak lama menghuni rumah tersebut karena mendapat pekerjaan yang lebih bagus di sebuah kota di Jawa Timur. Rumahnya pun kemudian kosong selama setahun lebih sebelum akhirnya terjual. Karena waktu membeli dan menjual tidak terlalu lama, maka ia mendapatkan harga sama sebesar harga beli dan biaya renovasi.

Teman saya kemudian menggunakan uang hasil penjualan rumah, ditambah uang simpanan, membeli rumah di tempat kerjanya yang baru. Namun, ketika kemudian perusahaan tempat kerjanya kolaps, ia harus kembali ke Jakarta untuk mencari pekerjaan baru. Dan sekali lagi ia menjual rumahnya di Jawa Timur tersebut. Karena harus segera menjual rumahnya, ia tidak bisa memperoleh untung dari rumah. Apalagi jarak antara membeli dan menjual tidak terlalu lama.

Dari paparan di atas saya ingin menunjukkan bahwa membeli rumah untuk dimiliki beberapa tahun saja tidak memberi manfaat finansial yang maksimal. Kenaikan harga rumah masih terbatas karena periode kepemilikan yang relatif pendek. Itu belum lagi berbagai biaya untuk membeli dan menjual rumah tersebut. Artinya, manfaat yang ia dapatkan dengan membeli rumah adalah menempatinya saja.

Nah, kalau saat ini Anda tinggal di Tangerang hanya selama dua atau tiga tahun saja karena tuntutan pekerjaan, maka pertimbangkan untuk menyewa saja. Dengan menyewa rumah, Anda dapat menikmati berbagai keuntungan.

Salah satu keuntungan utama adalah fleksibilitas untuk pindah. Sebagai profesional dan masih muda, karier Anda masih terbuka lebar. Dalam kaitan ini, tidak seharusnyalah rumah Anda menjadi penghambat karier, yang menuntut Anda pindah ke kota lain. Memang, Anda bisa pindah kapan saja dan menyewakan rumah. Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ketika menyewakan rumah, Anda memikul beban sebagai induk semang. Beban yang tampak jelas adalah bagaimana Anda mengelola rumah Anda di Tangerang selagi Anda bekerja dan tinggal di kota lain.

Karena kerepotan inilah banyak orang kemudian memilih tinggal di properti sewaan, apakah rumah atau apartemen. Selain aksesibilitas, alasan yang masuk akal adalah demi kenyamanan dan fasilitas baik di hunian yang ada atau fasilitas umum di sekitarnya. Pilihan ini masuk akal khususnya di kota kota besar, di mana harga rumah sulit dijangkau dan transportasi menjadi kendala.

Keuntungan kedua adalah kemampuan memanfaatkan peluang investasi lain. Dengan menyewa, Anda memiliki banyak kelebihan cash, yang sedianya digunakan untuk membeli rumah. Kelebihan kas ini dapat Anda putar di instrumen investasi yang aksesibel dan menjanjikan. Langkah ini lebih masuk akal kalau tujuan Anda membeli rumah adalah untuk investasi murni. Pasalnya, seperti pernah saya kemukakan dalam rubrik ini beberapa waktu lalu, secara rata-rata hasil investasi dari rumah (seperti terlihat dari kenaikan harga rumah) sedikit di bawah laju inflasi umum.

Pertanyaannya kemudian, ke mana harus memutar uang? Dari rubrik ini edisi yang lalu dan edisi sebelumnya saya memaparkan bahwa menyimpan di deposito akan menurunkan daya beli. Karena hasil bunga secara rata-rata di Indonesia lebih rendah dengan laju inflasi dalam sepuluh tahun terakhir ini. Kondisi seperti ini abnormal, dan menunjukkan ada persoalan serius dalam perekonomian kita. Dalam kondisi normal, bunga bank lebih tinggi daripada laju inflasi sehingga ada dorongan bagi masyarakat untuk menabung.

Maka, Anda harus memutar uang Anda di instrumen investasi lain yang ada, seperti membeli surat berharga apakah saham atau obligasi atau emas yang kilaunya akhir-akhir ini tampak jelas terlihat.

Apapun intrumen investasi yang Anda pilih, pastikan bahwa Anda mampu memahami cara kerja investasi tersebut dan Anda juga mampu mengelolanya untuk meminimalkan risiko, dan dengan demikian, memaksimisasi imbal hasilnya. Memiliki rumah di luar kota tempat tinggal Anda sekarang jelas lebih sulit dan lebih mahal daripada kalau Anda memiliki rumah (sebagai sarana investasi) di dekat tempat tinggal Anda. Ketika berinvestasi, jangan tergiur sarana investasi yang menawarkan hasil besar. Harapkan hasil investasi yang rasional, beberapa percentage point (persen poin) di atas laju inflasi. Kalau Anda saat ini ditawari sarana investasi yang menawarkan hasil 2-3 persen sebulan, jelas itu tampak too good too be true. Kalau tidak berisiko sangat besar, sarana investasi tersebut adalah mengandung unsur penipuan. Kalau Anda tidak bisa mengontrol risiko investasi, percayakan kepada ahlinya, yakni orang pekerjaan sehari-harinya adalah mengelola investasi.

Mengenai gagasan Anda untuk memiliki rumah untuk hunian hari tua di kampung halaman, saya kira itu gagasan yang sangat masuk akal. Berani bertaruh, Anda tidak nyaman untuk pensiun di Tangerang. Selain kondisi lingkungan yang tidak nyaman, biaya hidup bisa jadi terlalu mahal bagi pensiunan. Dengan uang yang sama untuk membeli rumah di Tangerang, Anda bisa mendapatkan rumah yang lebih nyaman dan lebih luas di kampung halaman.

Saran saya, jika ingin membangun rumah hari tua di kampung, mulailah saat ini dengan membeli tanah dulu dan mulai dibangun jika Anda sudah mendekati pensiun. Bayangkan membeli rumah mahal dan hanya dihuni saat hari libur apakah Natal atau Lebaran. Akan mubazir meskipun ada kenikmatan psikologis memiliki rumah.

Kalau saat ini Anda sudah memiliki dana lebih yang bisa digunakan untuk membangun rumah, gunakan untuk diversifikasi investasi Anda. Pada saatnya nanti, uang tersebut berikut hasil-hasilnya dapat Anda gunakan untuk membangun rumah impian.

Selamat berinvestasi

Salam

Jaka Cahyono

0 Responses to “Selalu Berpindah, Haruskah Membeli Rumah?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: