Dinamika Standard Emas

Dalam kondisi keuangan global saat ini, standard emas tampak merupakan solusi yang menarik. Namun, standard emas memiliki kendala dan kelemahannya sendiri.

Revolusi industri, proses pemanfaatan mesin untuk prduksi barang secara massive yang dimulai diUKpada akhir abad ke-18, mengubah banyak wajah dunia, termasuk penggunaan jenis uang. Peningkatan produksi secara besar-besaran telah memperluas basis perdagangan dunia dan mendorong banyak negara menerapkan standard emas. Sedikitnya ada tiga tujuan pokok penerapan standard emas: (1) memfasilitasi penyelesaian transaksi keuangan dan komersial internasional; (2) membangun stabilitas kurs valuta asing; dan (3) menjaga stabilitas moneter domestik.

Standard emas adalah sebuah sistem moneter di mana semua bentuk alat tukar resmi adalah uang kertas yang secara bebas bisa dikonversikan, atas permintaan, menjadi sejumlah emas yang sudah ditetapkan di depan. Uang beredar di suatu negara, dan uang dalam bentuk lain seperti (simpanan dan kredit bank) dapat secara bebas dikonvensi ke dalam emas pada harga yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sebuah negara yang menggunakan standard emas akan menetapkan satu harga untuk emas, katakanlah USD100 per ons dan akan menjual atau membeli emas pada harga itu. Ini secara efektif menetapkan nilai bagi karensi.

Standard emas menggantikan standard koin-emas, yang berlaku sebelumnya. Dalam standard koin emas, kois emas berlaku sebagai alat pembayaran, setidaknya untuk membayar pajak. Sebenarnya, sampai abad ke-19, kebanyakan negara menggunakan sistem moneter bimetallic, yakni kombinasi standard emas dan perak, meskipun sejatinya hanya menerapkan standard emas karena hanya sedikit perak yang diperdagangkan.

Dalam sistem standard emas internasional, sebuah negara bisa menggunakan standard emas untuk pembayaran international tetapi tidak memberlakukan standard emas secara internal. Dalam system seperti itu, ketika kurs mata uang sebuah negara naik di atas atau turun di bawah biaya pengapalan emas dari satu negara ke negara lain, maka akan terjadi perpindahan besar-besaran sampai kurs kembali ke level resmi. Standard emas internasional sering membatasi entitas mana yang memiliki hak untuk menebus emas dengan emas. Di bawah sistem Bretton Woods hak tersebut disebut Special Drawing Rights (SDR).

Jika otoritas moneter memegang cukup emas untuk menarik semua uang beredar, maka ini dikenal dengan nama standard emas penuh. Dalam banyak kasus standard emas dikenal dengan nama Gold Specie Standard, yang memudahkan dalam membedakannya dari bentuk lain standard emas yang ada sebelumnya. Standard emas penuh umumnya tidak efektif karena kuantiti emas di dunia terlalu sedikit untuk mendukung aktiviti ekonomi dunia yang terus berkembang. Jumlah emas yang ada sekarang ini diperkirakan sebanyak 142.000 ton. Dengan asumsi harga emas USD1.000 per ounce, oatau USD32.500 per kilogram, nilai total emas adalah USD4,5 triliun. Ini jauh lebih sedikit daripada uang yang beredar di AS saja, yakni sekitar USD7,6 triliun. Maka kalau kembali ke standard emas, maka nilai emas akan membubung tinggi, yang mungkin melampaui kegunaanya. Pada saat yang sama, jumlah uang yang “pas” (yakni yang mencegah inflasi atau deflasi) tidak konstan, tetapi terus berubah sesuai dengan level aktiviti komersil.

Standard emas membatasi kekuasaan pemerintah menerbitkan uang kertas yang dapat memicu inflasi. Hal ini cenderung menciptakan kepastian dalam perdagangan internasional dengan memberikan pola kurs tetap. Di bawah standard emas internasional klasik, gangguan pada level harga di satu negara akan sepenuhnya atau diimbangi dengan mekanisme penyesuaian neraca pembayaran otomatis yang disebut “price specie flow mechanism.”

Stabilitas yang disebabkan oleh standard emas juga menjadi kelemahan terbesar. Kurs tidak dibiarkan menanggapi perubahan yang terjadi di suatu negara. Standard emas dengan keras membatasi kebijakan stabilisasi dari bank sentral. Karena faktor ini, negara dengan standard emas cenderung memiliki guncangan ekonomi yang keras. Itu sebabnya beredar pandangan bahwa standard emas menyumbang terjadinya Great Depression karena sebelumnya Federal Reserve tidak memiliki keleluasaan (diskresi) atas kebijakan moneter, sehingga pengangguran di AS tinggi selama menerapkan standard emas. Pandangan lain menyatakan bahwa standard emas membuat sebuah negara rawan serangan spekulatif khususnya ketika posisi finansial pemerintahs tampak lemah.

 

Negara pertama yang menerapkan standard emas adalah UK. Pada 1816 dengan berlakunya Bank Charter Act, bank sentralUK, Bank of England, mencetak uang yang sepenuhnya didukung dengan emas. Pada waktu itu satu GBP memiliki nilai setara dengan 7,32 gram emas. Langkah ini diikuti AS pada 1873, dan kebanyakan negara-negara lain mengikuti jejak menjelang tahun 1900.

Karena cenderung menciptakan periode deflationary maka standard emas mulai ditinggalkan, termasuk oleh Presiden AS Franklin Delano Rosevelt(FDR)  selama Great Depression pada awal 1930an. Di bawah UU Cadangan Emas tertanggal 30 Januari 1934, AS mulai meninggalkan standard emas penuh dan lebih suka menggunakan “standard emas termodifikasi.” Di bawah system ini, sirkulasi koin emas dilarang oleh hukum, tetapi emas masih digunakan dalam menentukan nilai dollar, waktu itu ditetapkan pada 1/35 ounce emas. Pada waktu itu FDR melarang swasta memiliki emas (kecuali untuk perhiasan) dan  melarang ekspor emas kecuali dengan izin pemerintah, dan menarik semua emas dan sertifikat emas dari peredaran, yang berarti mengakiri standard emas. UU tersebut memberi presiden wewenang untuk menurunkan bobot emas dollar menjadi antara 50 dan 60 % dari kandungan emas sebelumnya. Sehari berikutnya FDR menerbitkan dekrit untuk menurunkan kandungan emas dalam dollar menjadi 59 % dari yang ditetapkan oleh UU Standard Emas tahun 1900, yakni dari 23,22 menjadi 13,71 grain emas.

Antara 1931 dan 1934, pemerintah hampir semua negara merasa menguntungkan atau perlu meninggalkan standard emas penuh. Sebenarnya penghentian konvertabilitas mata uang ke emas, pernah dilakukan pemerintah British pada 1914 karena banyak cadangan emasnya digunakan untuk membiayai operasi militer selama PD I. Pada akhir perang PD I Britain sempat menggunakan uang fiat sebelum akhirnya kembali ke standard emas pada 1925. Dengan agak enggan PM Britain Winston Churchill menebus uang kertas dengan emas pada harga sebelum perang meskipun pada tahun itu harga emas dan inflasi menjadi tinggi akibat perang. Hasilnya, selama lima tahun sebelum tahun 1925 harga emas diarahkan ke harga sebelum perang, sehingga menciptakan deflasi di seluruh negara dalam kekaisaran British dan Commonwealth yang menggunakan Pound Sterling. Karena penurunan harga dan potensi depresi ekonomi pada waktu itu membuat pemerintah British akhirnya, sekali lagi, meninggalkan standard emas pada 20 September 1931. Sweden meninggalkan standard emas pada 31 Oktober 1931; dan negara-negara Eropa lain segere mengikuti. bahkan pemerintah AS, yang memiliki cadangan emas paling banyak di dunia, mencoba mengatasi dampak Great Depression dengan menaikkan harga resmi emas (dari sekitar USD20 menjadi USD35 per ounce). Kebijakan ini sebagian karena termotivasi oleh kepercayaan bahwa ekspor suatu negara dapat dirangsang dengan mendevaluasikan karensinya terhadap valuta asing.

Sistem Bretton Woods

Menjelang berakhirnya PD II (1939-1945) kebanyakan negara Sekutu bergabung dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan di Bretton Woods, New Hampshire, untuk membentuk sebuah sistem moneter international baru, untuk menggantikan standard emas internasional yang telah ambruk selama Great Depression. Hasil konferensi mencakup pembentukan International Monetary Fund (IMF), dan akhirnya menjadikan Dollar AS sebagai karensi dunia. Ini benar, pertama, karena semua anggota IMF mengaitkan karensi mereka dengan USD dan, kedua, karena AS sepakat mengonversi semua dollars yang dipegang pemerintah asing menjadi emas dengan kurs yang sudah disepakti bersamaan dengan pembentukan IMF, yakni USD35/ounce. Secara resmi, ini berarti bahwa dunia kembali menggunakan standard kurs emas karena pemerintah manapun dapat mengubah karensinya menjadi emas melaluiDollarAS.

Dengan Kesepakatan Bretton Woods yang berlaku sejak 1946, banyak negara  menetapkan kurs mata uang mereka dengan dollar AS. AS berjanji untuk menetapkan harga emas pada USD35 per ounce. Secara implisit, maka, semua karensi yang dipatok ke dollar juga dipatok dengan nilai emas. Namun demikian, di bawah tekanan fiskal Perang Vietnam, Presiden Richard Nixon menghapus harga emas in 1971, causing the system to break down. Tanpa standard emas, pemerintah dapat mencetak uang sebanyak yang mereka inginkan. Ini menghancurkan kekayaan melalui inflasi.

Selagi AS memiliki pasokan kebanyakan emas dunia, seperti terjadi setelah PD II, sistem ini berjalan cukup bagus. Ketika kuantitas dollars yang dipegang pemerintah asing mulai melampaui jumlah cadangan emas AS, system mulai goyang. Menjelang awal 1970an jumlah dollar yang dipegang pemerintah asing lebih dari limakali lebih besar daripada cadangan emasnya. Pada 15 Agustus 1971 Presiden Richard M. Nixon membatalkan penukaran USD dengan emas, langkah yang secara efektif mengakhiri hubungan natara emas dan dollar. Kemudian Presiden Nixon juga mendevaluasikan dollar menjadi 1/38 dan pada 1973 menjadi 1/42,22 ounce emas. Pada 31 Desember 1974, pemerintah federal AS mencabut larangan berusia 41-tahun kepemilikan emas oleh swasta. Kongres secara resmi mencabut AS dari standard emas pada 1978 sejalan dengan reformasi yang dilakukan International Monetary Fund. Hasilnya, USD dan karensi utama dunia tidak lagi bisa ditukarkan dengan emas, yang kemudian berubah menjadi komditi biasa yang harganya berfluktuasi sesuai hukum permintaan dan penawaran.

Apa yang kita gunakan sekarang? Hampir setiap negara, termasuk AS, menggunakan sistem uang fiat, yang secara literer berarti “uang yang secara intrinsik tidak berguna; uang itu hanya digunakan sebagai medium pertukaran.” Tujuan utama pemerintah menggunakan sistem uang fiat secara historis adalah memberikan seigniorage, manfaat menciptakan uang. Sebagai contoh, pemerintah menciptakan uang kertas senilai IDR100.000, dengan biaya hanya kertas dan tinta tetapi uang itu memiliki daya beli tinggi. Penerima manfaat seigniorage ini umumnya para pemimpin pemerintah agar dapat memiliki daya beli selama masa darurat, khususnya para pemimpin yang secara legislatif terkendala dan tidak mampu menarik pajak agar dapat melaksanakan komitmen pertahanan yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan negara mereka.

Kebanyakan uang fiat dimulai sebagai uang kredit atau kertas bukti utang. Contohnya adalah uang kertas AS yang dikenal dengan sebutan greenback dan diterbitkan selama Perang Saudara di Amerika. Kebanyakan uang koin berdenominasi kecil juga merupakan satu bentuk uang fiat, karena nilai bahannya lebih rendah darupada nilainya sebagai uang. Baik uang fiat dan uang kredit umumnya diedarkan melalui dekrit pemerintah bahwa semua kreditur harus menerima uang tersebut dalam penyelesaian utang. Jika pasokan uang fiat tidak berlebihan dalam kaitannya dengan kebutuhan perdagangan dan industri dan orang merasa yakin bahwa situasi akan tetap seperti iti, karensi tersebut akan banyak digubnakan dan nilainya relatif stabil. Namun jika karensi itu dicetak secara berlebihan untuk membiayai kebutuhan pemerintah, keyakinan masyarakat akan berkurang dan dengan demikian nilai uang itu akan kehilangan nilai. Depresiasi karensi seperti ini sering diikuti dengan devaluasi formal, atau penurunan nilai resmi karensi melalui dekrit pemerintah.

Seperti semua masyarakat industri modern, persoalan moneter AS dikelola oleh sebuah bank sentral, yang bertindak sebagai banknya bank dan memiliki monopoli atas penerbitan uang kertas dan sering bertindak sebagai bank bagi pemerintah. Sampai 1890, hanya ada 20 bank sentral di dunia, tetapi saat ini jumlah bank sentral ada 160. Di AS Federal Reserve System adalah bank yang mengelola karensi USD. Saat ini USD merupakan karensi dominant dunia dan karensi paling sering digunakan untuk melakukan transaksi internasional. Pada 1998 USD menyumbang lebih darti 50 % dari semua simpanan karensi asing di seluruh dunia. Uniknya, 10 bank terbesar di dunia berkantor pusat di luar AS.

Dengan lepasnya ikatan resmi antara dollar dan emas, sistem moneter global sekarang bertumpu pada US dollar sebagai karensi utama dan digunakan untuk mengukur harga komoditi, termasuk emas. Belakangan di bawah system uang fiat ini, karensi global  menjadi tidak stabil dan menimbulkan guncangan ekonomi termasuk krisis keuangan global yang berlaku sekarang. Ini mengundang kritik terhadap system uang fiat. Berbagai pilihan dikemukakan, termasuk karensi yang didukung energi, sekeranjang komoditi dan, sekali lagi, emas.

Kembalinya standard emas mendapat dukungan banyak kalangan, seperti pengikut Austrian School of Economics, Objectivist dan Libertarian yang keberatan dengan peran pemerintah dalam menerbitkan fiat karensi melalui bank sentral. Termasuk ke dalam kubu ini adalah mantan US Federal Reserve Chairman Alan Greenspan, yang merupakan seorang Objectivist. Greenspan mengemukakan gagasannya untuk kembali ke standard emas dalam makalah pada 1966bertajuk Gold and Economic Freedom, di mana ia menggambarkan pendukung karensi fiat sebagai ‘welfare statists’ yang mengguakan mesin cetak untuk membiayai defisit belanja negara.

Pada 2001 PM Malaysia Mahathir bin Mohamad mengusulkan sebuah karensi baru yang akan digunakan pada awalnya untuk perdagangan internasional antara negara-negara Islam. Karensi yang dia usulkan disebut islamic emas dinar dan didefinisikan sebagai 4,25 gram emas 24 carat (100%). Mahathir Mohamad mempromosikan konsep itu atas dasar manfaat ekonomisnya sebagai sebuah alat ukur yang stabil dan juga sebagai simbol politik untuk menciptakan persatuan yang lebih erat antara bangsa-bangsa Islam. Inti dari tujuan gerakan tersebut adalah untuk mengurangi ketergantungan pada  dollar AS sebagai karensi cadangan, dan untuk membangun karensi yang tidak didukung oleh utang yang tidak sesuai dengan Hukum Islam yang mengharamkan riba.[21] Sejauh ini, karensi emas-dinas yang diusulkan Mahathir belum menjadi kenyataan.

 

Side bar: Tipe-Tipe uang

Uang, suatu alat tukar yang diterima secara luas duntuk membayar barang dan jasa dan penyelesaian utang. Uang juga berfungsi sebagai standard nilai untguk mengukur nilai relative barang dan jasa yang berbeda. Jumlah uang yang diperlukan untuk membeli sebuah komoditi adalah harga komoditi itu. Unit moneter sebagai penentu nilai barang tidak selalu digunakan sebagai alat tukar. Selama periode kolonial di AS, sebagai contoh, mata uang Spanish adalah alat tukar utama sedangkan GBP berfungsi sebagai standard nilai. Fungsi uang sebagai sarana pertukaran dan sebuah ukuran nilai sangat mempermudah pertukaran barang dan spesialisasi produksi. Tanpa uang, perdagangan berlangsung secara barter, yang sangat tidak praktis untuk masyarakat modern.

Sejarah uang mengenal tiga jenis uang: uang commodity, di mana barang bernilai dipertukarkan; kemudian uang representative, di mana uang kertas (sering disebut sertifikat) digunakan untuk mewakili komoditi riel yang disimpan di suatu tempat; dan akhirnya uang fiat, di mana uang kertas hanya didukung oleh kekuatan hukum negara, khususnya dapat diterima sebagai pembayaran utang ke pemerintah.

Nilai uang komoditi setara dengan nilai bahan yang dikandungnya. Koin emas yang beredar di AS sebelum tahun 1933 adalah contoh uang komoditi karena nilai uang yang dikandung dalam koin sama dengan nilai koin. Bahan yang umum digunakan untuk tipe uang ini adalah  emas, perak, dan tembaga. Pada zaman kuno, berbagai barang dari logam seperti besi dan perunggu, sedangkan masyarakat yang lebih primitrif lagi menggunakan kulit binatang, batu, belalai gajah dan barang-barang lain sebagai alat tukar.

Uang komoditi tidak nyaman disimpan dan dibawa dan mudah sekali ditimbun. Uang komoditi tidak memungkinkan pemerintah mengontrol atau mengatur arus perdagangan dalam wilayah mereka. Dengan demikian uang komoditi memberi jalan bagi uang representative. Emas menjadi komoditi yang digunakan untuk mendukung uang representative karena kelangkaannya, keawetannya, kemudahannya dipecah, kemudahannya dipertukarkan dan kemudahannya untuk diidentificasi.

(Disarikan dari berbagai sumber)

2 Responses to “Dinamika Standard Emas”


  1. 1 Lila March 30, 2013 at 3:08 pm

    Hi, i think that i saw you visited my web site thus i came to “return the favor”.
    I’m attempting to find things to improve my website!I suppose its ok to use some of your ideas!!

  2. 2 jec April 1, 2013 at 6:39 am

    Hi Lila. yes, you can use it


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: