Prospek Pemodal: 2012

[Artikel ini dipublikasikan pertama kali di Jurnal Nasional | Selasa, 27 Dec 2011]

RAMALAN suku Maya tentang kiamat pada 2012, yang divisualisiasikan dalam film 2012, mendekati kebenaran, atau sedikitnya ada unsur benarnya. Ketika meneropong 2012, semua kalangan sekarang ini melihat meteorid ekonomi yang sekarang sedang terlihat meluncur cepat akan mulai membentur bumi. Pada tahap awal metorid itu, yang berujud krisis utang, akan membentur Eropa dan Amerika Serikat dan mengakibatkan resesi ekonomi. Resesi tersebut kemudian merembet ke seluruh dunia.

Banyak komentator dunia percaya bahwa krisis ekonomi global tahun depan akan lebih parah daripada krisis keuangan global 2008. Bahkan Direktur Pengelola IMF Christine Lagarde khawatir bahwa krisis mendatang akan menyerupai depresi ekonomi yang terjadi pada 1930an. “Semua negara, baik yang terbelakang, berkembang dan super maju, yang akan kebal dari krisis yang sekarang tidak hanya terlihat tetapi mengalami eskalasi,” kata Lagarde seperti dikutip Bloomberg (15/12/2011).

Pemerintah kita juga melihat meteorid ekonomi di atas. Mereka percaya bahwa jika meteorid itu sudah membentur Eropa dan kemudian Amerika Serikat, maka perekonomian Indonesia akan melamban antara lain karena penurunan laju pertumbuhan ekspor sebagai implikasi melemahnya permintaan dari Eropa dan Amerika Serikat. Benturan itu juga akan mampu mengeringkan likuiditas di pasar keuangan di Indonesia karena banyak dana asing yang ditarik ke tempat asalnya.

Untuk meminimisasi dampak negatif dari benturan meteorid tersebut pemerintah Indonesia sudah mengantisipasinya dengan berbagai langkah antisipatif. Tekad ini terlihat dalam Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN) 2012, yang memberi wewenang pemerintah untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

Sebagai contoh, Kementerian Keuangan menyiapkan beberapa langkah antisipatif yang akan dilakukan secara berberlapis untuk menghadapi gejolak ekonomi dunia. Inti dari kebijakan pemerintah adalah siap membuka kantung uang untuk berbagai keperluan, termasuk untuk memanipulasi permintaan agregat dengan menjaga daya beli masyarakat. Harapannya adalah meningkatkan konsumsi domestik, yang disertai dengan peningkatan investasi pemerintah, akhirnya akan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Untuk tujuan tersebut, pemerintah juga bertekad untuk menggunakan Sisa Anggaran Lebih (SAL) untuk stabilisasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik, dan tentu saja dengan persetujuan DPR. Pemerintah juga sudah menyiapkan pinjaman siaga (contingencyloan) untuk ketahanan pangan serta pengeluaran yang mungkin melebihi pagu jika terjadi keadaan darurat. Bahkan pemerintah juga siap menggunakan cadangan devisa yang ada, sebesar US$114,5 miliar, untuk memitigasi dampak negatif krisis. Tentu saja semua langkah antisipatis tersebut tunduk pada persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

Bagaimana seharusnya investor bertindak menghadapi kondisi di atas agar dapat memenuhi hasrat naluriahnya untuk lebih kaya dan lebih baik kondisi hidup mereka? Nasihat lama yang banyak dianut karena terbukti kebenarannya, the trend is your friend, dapat menjadi pegangan. Maka jika ingin tambah kaya dianjurkan untuk tidak bergerak melawan tren.

Melihat apa yang akan terjadi di dunia dan di Indonesia, bagi pemegang saham yang berorientasi jangka pendek, maka saham sektor konsumsi bisa menjadi andalan karena pemerintah akan memanipulasi permintaan agregat. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah saham-saham perusahaan penghasil barang konsumsi seperti rokok, makanan, obat-obatan. Masukkan juga saham perusahaan pembiayaan ke dalam portofolio merupakan taruhan yang baik.

Sementara itu, saham-saham perusahaan yang dikendalikan pemerintah juga merupakan pilihan yang bagus. Selain karena fundamentalnya yang bagus, seperti dikemukakan di atas, akan ada intervensi pemerintah jika seperti terlihat dari tekadnya untuk untuk melakukan stabilisasi pasar, jika tekanan jual saham di bursa terlalu kuat. Pemerintah melakukan aksi ini selama krisis keuangan global 2008.

Pemodal saham dengan orientasi jangka panjang, bisa menggunakan strategi investasi kontrarian, khususnya jika harga saham sudah tertekan. Strategi ini dilakukan dengan masuk ke pasar ketika kebanyakan pemodal mengalami ketakutan. Atau, keluar pasar ketika kerakusan menguasai kebanyakan pemodal. Langkah ini masuk akal mengingat, tren bahwa ekonomi dunia dan pasar modal akan terus tumbuh dalam jangka panjang. Bagaimanapun parahnya resesi atau bahkan depresi ekonomi, hal itu akan tampak sebagai sebuah koreksi pasar dalam tren jangka panjang. Dengan demikian, koreksi tahun depan bisa diihat sebagai peluang bukannya alasan untuk keluar pasar.

Peluang investasi bagi pemodal yang mengharapkan income regular adalah membeli obligasi pemerintah yang ada di pasar, baik langsung atau melalui reksa dana. Hal ini ada kaitannya dengan langkah Fitch Rating yang menaikkan peringkat utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB-, yang sebetulnya menimbulkan tanda tanya mengingat kenaikan peringkat itu diberikan ketika kondisi ekonomi memburuk, atau setidaknya tidak lebih.

Bagaimanapun juga, dengan peringkat BBB minus, maka Indonesia masuk kategori investment grade yang berarti bahwa Indonesia akan mampu membayar semua utangnya. Normalnya, kenaikan peringkat ini akan membuat Indonesia mampu menerbitkan obligasi negara atau surat perbendaharaan negara dengan kupon lebih murah. Akibatnya, secara teoritis harga obligasi outstanding (yang ada di pasar) akan naik sehingga yield obligasi baru dan obligasi outstanding akan sebanding.

Di luar pertimbangan teknis pasar obligasi di atas, sekali lagi ada tekad pemerintah untuk melakukan stabilisasi pasar. Artinya, jika harga obligasi negara tertekan, misalnya karena pemodal asing keluar pasar dan membawa uangnya ke negeri asal mereka, pemerintah akan melakukan intervensi pasar dengan membeli surat utang negara tersebut.

Jika pemodal asing menarik dana mereka dari Indonesia, maka bisa dipastikan bahwa nilai rupiah turun. Pasalnya, mereka akan menukarkan rupiah hasil penjualan efek ke valuta asing khususnya dolar AS. Artinya, nilai rupiah kemungkinan akan turun. Dengan demikian, penempatan dana dalam bentuk valuta asing akan menjanjikan keuntungan.

Jika krisis utang berkembang menjadi krisis ekonomi maka kemungkinan besar minat akan emas di seluruh dunia akan meningkat lagi sehingga harganya naik. Emas yang beberapa bulan terakhir mengalami koreksi akan kembali berbalik arah menuju wilayah positif. Prediksi paling konservatif menyebutkan bahwa emas akan naik mencapai US$2.000 per troy ounce, naik dari level saat ini US$1.500 dan dari level tertinggi selama ini sekitar US$1.800. Banyak analis global yang memproyeksikan bahwa harga emas akan mencapai US$5.000.

Selamat berinvestasi

0 Responses to “Prospek Pemodal: 2012”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: