Meminjam untuk Membangun Bisnis

[Artikel ini Pertama kali terbit di Haruan Umum Jurnal Nasional | Selasa, 24 Jan 2012]

MAS Jaka, saat ini saya merasa bersalah kepada teman yang telah banyak berkorban dan membantu saya. Dia telah menyediakan dua sertifikat tanah/rumah sebagai jaminan pinjaman untuk modal usaha saya. Seharusnya saya sudah menebus sertifikat tersebut awal bulan ini, tetapi saya gagal karena usaha saya tidak selancar yang saya harapkan. Jumlah pinjaman yang harus segera melunasi kekurangan sebesar Rp57 juta dan saya sekarang bingung mengupayakannya. Andalan saya adalah tabungan pendidikan anak saya senilai Rp60 juta yang dapat dicairkan tiga bulan lagi. Apa saran mas Jaka agar saya bisa menyelesaikan kewajiban saya?

Terima kasih.

Siswanto, Cikarang

Saudara Siswanto, saya bisa memahami mengapa Anda sampai menggunakan sertifikat teman untuk mencari pinjaman. Tentu waktu itu Anda merasa memiliki ide bagus dan antusiasme tinggi untuk membuka bisnis. Semangat inilah yang membuat mereka berani melangkah menjadi wiraswasta.

Namun, karena tidak memiliki modal awal yang memadai, maka Anda kemudian menggalang modal dengan mencari pinjaman. Langkah ini banyak diambil oleh orang yang memulai usaha.

Nah, sumber utang konvensional adalah bank. Masalahnya adalah bahwa bank hanya memberikan pinjaman kepada debitur yang dia kira akan mampu melunasi utangnya. Dari sini bank enggan memberikan pinjaman bagi bisnis baru karena besarnya risiko atau terlaku kecilnya skala usaha. Apalagi karena masih baru, usaha Anda kemungkinan besar dinilai kurang mampu dalam melunasi pinjaman karena belum ada rekam jejaknya dan atau tidak memiliki aktiva yang bisa diagunkan. Sikap bank ini rasional, mengingat sebagian besar dana yang mereka salurkan adalah milik deposan.

Nah, satu hal yang paling mungkin terjadi adalah bank menyalurkan pinjaman kepada pemilik usaha kecil sebagai individu. Dari surat Anda saya menyimpulkan bahwa Anda memiliki masalah dengan kolateral sehingga Anda kemudian berpaling ke teman, yang memberi pinjaman tidak langsung kepada Anda dengan menyerahkan sertifikatnya untuk menjadi agunan bank. Banyak kasus seperti ini.

Saudara Siswanto, meminjam uang untuk modal usaha memang lazim. Bahkan perusahaan besar sekalipun melakukannya. Langkah ini sangat masuk akal kalau dilakukan dalam kondisi tertentu, seperti:

Pertama, jika biaya dana lebih murah daripada memperoleh penyertaan modal (ekuiti). Sebagai contoh, jika bunga pinjaman sekitar 10 persen maka pemodal mencari return jauh di atasnya. Kalau kemudian usaha sukses, biaya modal (dalam bentuk dividen) bisa lebih tinggi dari biaya pinjaman.

Kedua, jika sebuah usaha menemukan peluang investasi yang menjanjikan. Misalnya, ada lonjakan permintaan akan produknya karena produk itu sedang ngretren atau karena pesaing menutup usaha. Untuk memanfaatkan peluang tersebut tetapi tidak memiliki modal kerja tambahan, maka mencari pinjaman adalah langkah yang jitu.

Contoh lain dari kondisi kedua adalah jika sebuah badan usaha mendapat order atau proyek sangat besar. Untuk melaksanakan proyek itu badan usaha tersebut perlu membeli material dan peralatan atau merekrut karyawan baru. Kalau tidak memperoleh cukup uang muka dari pemberi proyek atau modal sendiri, maka dana pinjaman adalah solusinya.

Ketiga, ada kesenjangan arus kas. Menumbuhkan bisnis sering menimbulkan arus kas sangat timpang. Misalnya Anda telah bertransaksi dan akan memberikan keuntungan besar katakanlah 3 bulan mendatang, tetapi badan usaha itu membayar biaya tetap setiap bulan. Di sinilah pinjaman akan membantu menyelesaikan masalah.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa membiayai usaha dengan utang (debt financing) merupakan pilihan yang masuk akal. Namun, kalau berutang untuk modal awal sebuah usaha, situasinya agak berbeda. Usaha belum pasti berhasil, tetapi beban utang jelas terjadi. Beban utang inilah yang sering membuat ide bisnis besar gagal di tengah jalan. Di sisi lain, banyak usaha sukses besar dengan menggunakan strategi bootstrapping, yakni menggunakan sarana kerja yang ada dan mendanai pertumbuhan dari pendapatan usaha.

Nah sekarang tentang cara mengatasi persoalan Anda. Di Amerika Serikat ada solusi bagi wiraswasta bahkan individu yang terperangkap utang, yakni mengajukan permohonan bangkrut secara sukarela. Mekanisme ini tidak ada di Idonesia dan menurut saya Anda harus menyelesaikan kewajiban demi menjaga reputasi. Dalam bisnis reputasi sangat penting. Bahkan ada pepatah bahwa reputation is more valuable than money.

Satu langkah awal untuk mengatasi persoalan Anda adalah membuat neraca keuangan pribadi dan neraca keuangan usaha yang Anda kembangkan. Seperti yang pernah saya tulis di rubrik ini beberapa waktu lalu, neraca berisi daftar aktiva dan kewajiban. Aktiva Anda bisa berupa simpanan di bank, ekuiti di real estate dan mobil, atau benda berharga.

Selanjutnya, untuk semua kewajiban yang ada, khususnya pinjaman yang jatuh tempo, usahakan diperpanjang. Datangi bank dan minta waktu untuk tenggang, taruhlah sampai tabungan pendidikan Anda jatuh tempo. Bank pasti mau memberikannya, meskipun untuk aksi tersebut Anda akan dikenai denda keterlambatan.

Pada saat yang sama gunakan aktiva yang ada untuk melunasi kewajiban. Tabungan pendidikan anak misalnya, meskipun belum jatuh tempo tetapi memiliki nilai tunai, bisa ditarik segera. Anda akan dikenai penalti penarikan dini. Langkah yang sama bisa dilakukan jika Anda memiliki polis asuransi jiwa atau dana pensiun.

Anda dapat menjual aset tetap yang ada untuk membayar utang. Atau menggunakan aset tetap tersebut untuk jaminan pinjaman baru. Namun strategi gali lubang tutup lubang ini hanya dilakukan dalam kondisi darurat dan tidak dalam jangka panjang. Pasalnya, utang yang belakangan akan lebih mahal. Kalau terus dilakukan maka utang akan semakin kuat mencekik Anda. Bahkan kalau perlu menggunakan utang panas, misalnya kepada lintah darat atau menggunakan kartu kredit. Itu kalau sangat terpaksa.

Di neraca perusahaan Anda, cari aktiva yang bisa dicairkan segera. Perusahaan umumnya memiliki tagihan kepada mitra usaha atau nasabah. Minta tagihan ini segera dibayar. Dalam dunia bisnis, lazim ada penjualan tagihan. Anda menyerahkan tagihan kepada pihak lain, umumnya perusahaan pembiayaan. Ini disebut factoring.

Langkah lain yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah utang Anda adalah dengan menjual sebagian bisnis Anda, antara lain kepada kreditur. Dalam dunia bisnis, ada transaksi debt equity swap, yakni mengubah utang menjadi ekuiti. Dengan transaksi ini, kreditur berubah menjadi pemodal. Anda juga bisa mencari suntikan modal kepada angle investor atau perusahaan modal ventura.

Mencari pemodal baru memiliki plus dan minus. Kelemahan utama adalah bahwa Anda menyerahkan sebagian pemilikan dan oleh karena itu akan berbagi risiko dan hasil. Anda mungkin juga harus mengikuti aturan yang ditetapkan pemodal.

Terakhir saya akan menanggapi transaksi Anda dengan teman. Semestinya transaksi seperti ini dengan teman atau saudara dilakukan dengan perjanjian tertulis. Isi perjanjian hendaknya mencakup cara mengembalikan, kompensasi kepada pemberi pinjaman dan apa yang akan dilakukan jika Anda default pinjaman. Selain itu transaksi dengan teman atau kerabat hendaknya dilakukan sebagaimana sebuah transaksi bisnis seolah-olah tidak ada hubungan personal. Hal ini untuk menjaga agar hubungan kekeluargaan atau pertemanan tetap bagus. Pinjaman bisnis dari keluarga dan teman dapat menjadi rumit karena selalu melibatkan emosi.

Selamat berjuang dan wassalam.

Jaka Cahyono

0 Responses to “Meminjam untuk Membangun Bisnis”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: