Tips Memilih Reksa Dana

[Atikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 6 Mar 2012]

Pengantar:

TULISAN ini adalah jawaban atas pertanyaan kedua dari saudara Triyanto yang ingin membeli menambah portofolionya di reksa dana. Pertanyaannya adalah: reksadana mana yang bagus untuk saat ini?

Berdasar aturan umum investasi, reksadana yang baik tentu saja adalah reksadana yang sesuai dengan profil risiko Anda. Saya tidak tahu kapan Anda pertama kali membeli reksa dana, tetapi menyusul crash reksadana pada 2005, otoritas pasar modal telah mewajibkan agen penjual reksadana untuk mengenali profil risiko pemodal.

Dari sudut pandang ini, Anda mestinya akan diarahkan untuk membeli reksadana yang sesuai dengan profil risiko. Misalnya, jika Anda dinilai berprofil pengambil risiko (risk taker), Anda bisa memilih reksadana saham (RDS) dan kalau Anda cenderung menghindari risiko (risk-averter) maka reksadana pasar uang (RDU) akan pas untuk Anda. Jika profil risiko Anda berada di antaranya, maka Anda sebaiknya berinvestasi di reksadana pendapatan tetap (RDPT) dan reksadana campuran (RDC).

Kedua, reksadana yang baik adalah yang sesuai dengan tujuan investasi Anda. Kalau tujuan Anda adalah memperoleh pendapatan reguler dari investasi Anda, maka pilihlah RDPT atau RDU. Kalau tujuan Anda adalah untuk mengejar pertumbuhan modal, maka RDS dan RDC adalah pilihannya.

Satu kriteria lain dari reksadana yang baik adalah yang reksadana sesuai dengan time horizon Anda. Meskipun Anda masuk kategori risk taker, tetapi kalau Anda hanya ingin memutar uang dalam 0 sampai 5 tahun, sebaiknya Anda tidak berinvestasi di RDS atau RDC. Hal ini untuk menghindari penurunan nilai investasi pada saat Anda menarik kembali uang Anda.

Persoalannya kemudian, bagaimana Anda memilih satu atau dua atau tiga dari jenis RDS, RDC, RDPT atau RDU? Langkah ini agak rumit dan memerlukan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah siapa manajer investasinya sebagaimana saya paparkan dalam edisi lalu. Masalahnya kemudian, Manajer Investasi pada umumnya memiliki satu keunggulan di satu jenis reksadana saja. Ada Manajer Investasi jago dalam mengelola RDS dan Manajer Investasi lain hebat dalam mengelola RDPT.

Dengan demikian untuk menetapkan pilihan reksa dana, pada akhirnya, adalah melakukan evaluasi terhadap masing-masing reksa dana. Evaluasi ini memerlukan beberapa informasi, antara lain:

Pertama, kinerja historis reksa dana. Reksadana yang bagus tentu reksadana yang telah teruji menunjukkan kinerja bagus. Ukuran kinerjanya adalah pertumbuhan nilai aktiva bersih per saham per unit penyertaan (NAB/UP). Data ini tersedia secara bebas di berbagai meria massa. Namun, menilai sebuah reksadana hanya dari return semata merupakan contoh klasik kesalahan pemodal. Pasalnya, pertumbuhan NAB/UP tidak mempertimbangkan potensi risiko reksadana tersebut. Potensi risiko sebuah reksadana tercermin dari penyimpangan kinerja sebuah reksadana dari return rata-rata.

Penyimpangan ini, yang dalam bahasa teknisnya standar deviasi, mencerminkan kemungkinan kisaran return di masa mendatang. Semakin kecil return sebuah reksadana menyimpang dari return rata-rata, semakin kecil risiko reksadana tersebut. Standar deviasi dihitung dengan membandingkan return harian reksadana dengan rata-rata kinerja reksadana dalam satu periode tertentu.

Intinya di sini adalah menentukan tingkat return optimal sebuah reksa dana, dengan menyesuaikan kinerja dengan potensi risiko yang tercermin dari standar deviasi. Tingkat return optimal ini sering disebut risk-adjusted return (RAR). Angka RAR diperoleh dengan membagi return dengan standar deviasi. Semakin tinggi RAR, semakin tinggi hasil yang dicapai untuk setiap risiko yang siap diambil reksadana tersebut. Dengan demikian, RAR adalah indikator untuk mengukur konsistensi kinerja sebuah reksa dana. Konsistensi kinerja ini menunjukkan keterampilan Manajer Investasi bukan keberuntungan ketika menyusun portofolio. Keberuntungan hanya bisa terjadi sesekali.

RAR adalah ukuran kinerja absolut sebuah reksa dana. Ada satu ukuran lain yang digunakan untuk memilih reksa dana, yang umum disebut information ratio (IR) yang sifatnya relatif. IR diperoleh dengan membandingkan kinerja absolut atau RAR dengan tolok ukur tertentu.

Salah satu IR yang paling banyak digunakan adalah Sharpe ratio, yang mengolah return absolut reksadana, standar deviasi, dan hasil investasi bebas risiko (risk-free return), yakni instrumen investasi yang dianggap tidak berisiko seperti Sertifikat Bank Indonesia. Sharpe ratio membandingkan selisih return suatu reksadana (dari return instrumen bebas risiko) dengan standar deviasi.

Secara teori, Sharpe ratio dapat digunakan untuk melihat keuntungan dan keoptimalan suatu reksadana. Sebuah reksadana disebut bagus jika returnnya lebih tinggi dari return SBI. Sehingga bila ada reksadana yang return-nya lebih rendah dari SBI maka otomatis rasio sharp-nya menjadi negatif. Jelas ini bukan pilihan investasi yang baik.

Pelaku industri reksadana juga mengembangkan konsep yang disebut beta (), yang menjawab pertanyaan, “seberapa besar return sebuah reksadana menyimpang dari kinerja tolok ukur?” Jika kinerja sebuah reksadana bergerak sesuai tolok ukur, maka reksadana tersebut memiliki angka = 1. Reksadana yang memperoleh return lebih tinggi dari indeks pasar akan memiliki tinggi.

Jika dari catatan historis menunjukkan bahwa sebuah reksadana memiliki sebesar 1, maka ke depan reksadana diprediksi akan naik 1 persen jika indeks pasar juga naik 1 persen. Sebuah reksadana dengan beta 2, bila tolok ukur turun 1 persen maka reksadana tersebut akan turun 2 persen. Dengan konsep ini maka reksadana dengan beta lebih dari 1 dianggap lebih berisiko dari pada reksadana dengan beta kurang dari 1.

Nah, saudara Triyanto, angka RAR, beta, standar deviasi dan Sharpe ratio adalah konsep-konsep yang paling banyak digunakan untuk mengevaluasi reksadana dan hasilnya adalah panduan untuk menentukan apakah sebuah reksadana akan bagus bagi pemodal atau tidak. Bagi pemodal, konsep-konsep terlalu rumit dan hampir mustahil dapat dilakukan oleh individu. Agar konsep-konsep tersebut bisa dipraktikkan kemudian beberapa perusahaan menggunakannya untuk membuat pemeringkatan reksa dana.

Jika Anda bertanya reksadana mana yang bagus sekarang, dan kapan saja, sebaiknya Anda menggunakan hasil pemeringkatan reksa dana. Ada dua lembaga di Indonesia yang saat ini melakukan pemeringkatan reksa dana. Tentu saja informasi tersebut bukan makan siang gratis. Bagaimanapun juga lembaga tersebut telah bekerja keras mengumpulkan banyak sekali data dan mengolahnya.

Namun sebagai catatan, pemeringkatan reksadana tersebut memiliki limitasi. Hasil pemeringkatan dibuat dari data historis dan kita tahu kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan. Maka dari itu, sebaiknya pemeringkatan tersebut paling baik digunakan sebagai sebuah saringan awal untuk mengidentifikasi reksa dana. Selanjutnya Anda masih perlu melakukan riset tambahan atas reksadana tersebut. Misalnya, Anda perlu mengecek apakah ada perubahan anggota pengelola investasinya, kebijakan investasinya atau biayanya. Perubahan ini jelas akan membuat data yang lalu menjadi tidak relevan lagi.

Rumit dan merepotkan? Memang, untuk sukses berinvestasi di pasar modal memerlukan kerja keras.

Selamat berinvestasi.

0 Responses to “Tips Memilih Reksa Dana”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: