Kebiasaan Menabung

[Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 20 Mar 2012]

PAK Jaka, saya secara kebetulan membaca tulisan bapak yang menganjurkan kita menyisihkan 10 persen dari gaji setiap bulan. Wah pasti hasilnya akan besar sekali setelah beberapa tahun. Tetapi tampaknya sulit bagi saya untuk mengikuti anjuran itu. Kebetulan saya agak boros. Saya suka ke mal bersama anak wayang saya, kadang hanya untuk sekadar makan. Saya juga sering menggesek kartu kredit saya kalau ada diskon besar untuk barang-barang kebutuhan wanita. Bagaimana solusinya? Apa bapak juga mempraktikkan anjuran bapak sendiri?

Hany, XXXXX_17@yahoo.co.id

Ibu Hany terima kasih atas suratnya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Bu Hany, perkenankan saya membuat sebuah ilustrasi nyata. Mulai tahun ajaran 2011/2012 Kementerian Pendidikan Nasional memulai sebuah proyek percontohan untuk memasukkan materi pengelolaan keuangan ke dalam kurikulum pendidikan formal pada pada Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tujuannya adalah mengenalkan pendidikan keuangan sejak dini dan untuk menumbuhkembangkan budaya menabung.

Saat ini langkah tersebut dilakukan di enak kota, masing-masing melibatkan 12 sekolah. Rencananya, proyek ini akan diperluas ke lebih banyak di keenam kota tersebut dan baru akan diperluas ke kota-kota lain.

Proyek percontohan tersebut diprakarsai oleh Bank Indonesia dan merupakan tindak lanjut dari Gerakan Indonesia Menabung (GIM) yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Februari 2010. Untuk menunjang gerakan ini 70 bank umum dan sejumlah BPR telah bersepakat mengeluarkan produk tabungan dengan nama “TabunganKu” yang per posisi Juli 2011 telah mencapai 1,8 juta rekening dengan total nominal tabungan sebesar Rp1,8 triliun. Tabungan ini berbiaya sangat rendah sehingga nilai tabungan tidak berkurang oleh biaya dan tetap memperoleh bunga.

Sebenarnya, beberapa bank swasta telah meluncurkan produk seperti ini, tetapi diperuntungkan penabung usia sekolah. Tetapi, ketika presiden menjadikan produk tabungan tersebut sebagai gerakan nasional, adalah luar biasa dan perlu mendapat dukungan. Sebab bangsa Indonesia secara umum termasuk bangsa pemboros dengan nilai simpanan nasional kecil. Akibatnya ada kesenjangan investasi (kebutuhan investasi tidak dapat dipenuhi dari simpanan masyarakat) sehingga bangsa Indonesia harus mengandalkan pinjaman asing. Indikasinya, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi selama beberapa tahun terakhir ini.

Mengapa perlu pendidikan keuangan sejak dini? Karena aktivitas menabung sangat berkaitan dengan kebiasaan. Semakin dini diajari kebiasaan ini, murid-murid sekarang akan semakin kuat kebiasaan menabung mereka. Kita berharap nantinya, bangsa Indonesia tidak lagi mengandalkan investasi asing untuk membiayai pembangunan sehingga setiap nilai tambah (added value) dari aktivitas ekonomi di Indonesia akan dinikmati oleh bangsa Indonesia. Kalau ini terjadi, maka ekonomi kita akan maju sebagaimana bangsa China, yang dipuji di seluruh dunia karena kebiasaan mereka menabung. Kita tahu bahwa China telah menjadi lokomotif ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Bu Hany, soal anjuran untuk menabung sebesar 10 persen dari penghasilan, saya ketahui dengan membaca. Angka 10 persen ini bisa dikatakan sebagai sebuah magical number, angka ajaib yang tidak ketahuan asal usulnya. Namun angka 10 persen ini dapat dijumpai di tulisan para penasihat keuangan pribadi dunia. Belakangan saya membaca bahwa anjuran ini sudah ada sejak 1926 (lihat artikel saya bertajuk Tujuh Kiat Menjadi Kaya Gaya Babilonia, Jurnal Nasional, Selasa, 10 Jan 2012). Nah, kalau kita ikuti anjuran ini, maka dalam tempo 10 bulan, kita akan memiliki simpanan sekali gaji. Itu belum lagi bunga, dan bunga dari bunga.

Kalau bu Heny mau mengikuti aturan 10 persen ini, maka ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, adalah melakukan penghematan. Teknisnya, pertanyakan semua pengeluaran Anda selama ini. Bisa jadi, tantangan Anda sejatinya adalah bagaimana bisa menghemat belanja. Banyak orang menabung apa yang tersisa setelah belanja. Kalau tidak ada sisa, maka tidak menabung. Cobalah untuk membalik arah, simpan 10 persen penghasilan dan gunakan sisanya untuk memenuhi kebutuhan.

Soal memakai kartu kredit untuk setiap transaksi di mal, itu bisa saja dilakukan dan tidak akan banyak mengganggu pengeluaran kalau belanja tersebut akan dibayar lunas saat tagihan kartu kredit datang. Sebab, setiap ada saldo pinjaman, maka pengeluaran Anda akan semakin banyak karena ada bunga di dalamnya.

Cara kedua untuk dapat mengikuti Aturan 10 Persen adalah dengan menyiasati dorongan untuk belanja dengan mengarahkan pikiran ke tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak di Perguruan Tinggi atau menghimpun simpanan pensiun yang memadai agar gaya hidup Anda tidak berubah setelah memasuki usia purnakarya.

Jika Anda mengikuti Aturan Menabung 10 persen, maka persoalan berikutnya adalah bagaimana mengelola simpanan tersebut. Ada kebijaksanaan konvensional yang dianjurkan oleh penasihat keuangan, yakni menyisihkan uang sebesar kebutuhan hidup selama enam bulan sebagai dana darurat (emergency fund). Dana ini hendaknya hanya digunakan hanya untuk keperluan darurat. Oleh karena itu, ada anjuran juga bahwa dana ini disimpan di bank dengan rekening tersendiri, yang terpisah dengan tabungan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rutin.

Namun ada informasi yang perlu Anda ketahui soal dana darurat ini. Sebuah riset di AS menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penduduk AS tidak memiliki simpanan darurat ini. Kemudian, dari sedikit yang memiliki, banyak di antara mereka kemudian menggunakan pada suatu waktu untuk kebutuhan nondarurat. Ini karena godaan likuiditas. Karena uang ditempatkan di rekening tabungan yang sangat likuid, sangat sulit melawan dorongan untuk tidak menggunakan dana ini. Oleh karena itu, sebaiknya dana ditempatkan ditempatkan di bank dalam rekening yang tidak terlalu mudah diambil seperti deposito berjangka atau sertifikat deposito, yang tidak selikuid tabungan. Bahkan Anda bisa menyimpannya di obligasi negara ritel, yang dijual di bank-bank. Dana di deposito berjangka, sertifikat deposito atau obligasi negara ritel bisa dicairkan kapan saja, tetapi Anda perlu berpikir beberapa kali untuk melakukannya.

Untuk pertanyaan Anda yang terakhir, saya mengakui bahwa kebiasaan menabung belum mengakar kuat dalam diri saya. Hal ini antara lain karena saya mempelajari masalah keuangan setelah saya dewasa dan bekerja. Saya hanya mempunyai kebiasaan menghemat sejak kecil karena dengan cara inilah saya bisa menyelesaikan sekolah. Saya menganjurkan kebiasaan menabung sedini mungkin agar Anda dan pembaca lain tidak mengalami ketidakberuntungan seperti saya. Tanpa bantuan “bunga berbunga”, simpanan tidak bisa bertahan lama, antara lain karena lonjakan kebutuhan untuk membiayai hidup dan sekolah anak-anak.

Saya tidak konsisten? Bandingkan dengan presiden kita. Beliau menganjurkan anak-anak menabung, tetapi tidak menerapkan anjuran ini dalam mengelola keuangan negara. Bukannya menabung dan berhemat, negara terus konsumtif dan membiayainya dengan pinjaman.

Selamat berinvestasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: