Skim Ponzi dan MLM

[Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 10 Apr 2012]

MAS Jaka, saya baru-baru ini dihubungi saudara saya yang menawari sebuah peluang investasi yang menggunakan model bisnis multilevel marketing. Saya diminta menjadi member dan memasarkan produk mereka. Meskipun saudara saya memaparkan berbagai iming-iming, tetapi saya tidak tertarik untuk masuk. Masalahnya adalah bahwa saya mempunyai niat untuk membantu saudara karena saya merasa kasihan sama saudara saya. Bagaimana sebaiknya Mas Jaka? Terima kasih atas perhatiannya.

Nora, Jakarta Timur

Mbak Nora, kalau dilihat dari model bisnisnya, tampak bahwa tawaran investasi tersebut adalah apa yang disebut dengan Skim Ponzi (Ponzi Scheme). Beberapa bulan lalu saya juga dihubungi teman, yang saya kenal di jaringan sosial lewat internet, yang menawarkan produk serupa.

Teman saya itu menjelaskan bahwa kalau saya menjadi member di sebuah usaha di bidang pariwisata yang menggunakan metode MLM, bisa sukses secara finansial. Kalau bisa mengembangkan jaringan, katanya, saya kelak bisa menjadi member pasif. Dengan duduk diam, maka penghasilan akan datang sendiri. Untuk meyakinkan agar saya bersedia menjadi member, dia mengajak sama ke kantornya dan memberikan brosur yang berisi sedikit profil perusahaan dan bisnis yang dilakukannya.

Waktu itu saya secara tegas menjawab tidak mau karena saya menyimpulkan bahwa usulan bisnisnya adalah Skim Ponzi belaka. Kesimpulan saya berasal dari fakta bahwa izin usaha perusahaan tersebut dari Kementerian Perdagangan. Padahal saya tahu bahwa perusahaan yang menggalang dana masyarakat harus memperoleh izin dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan atau dari Bank Indonesia. Selain itu dia tidak bisa menjawab satu pertanyaan saya: dari mana asal uang yang akan saya terima nanti. Apakah laba dari usaha yang dijalankan? Dia hanya akan mengajak saya ketemu dengan temannya yang sudah sukses. Sukses di sini berarti sudah menerima aliran dana tanpa harus bekerja.

Jawaban ini menegaskan bahwa usaha seperti itu adalah Skim Ponzi, yang hanya akan merugikan member. Bisnis yang benar adalah saling menguntungkan. Bahkan idealnya, bisnis tersebut juga memberikan keuntungan bagi masyarakat lain. Misalnya, perdagangan. Kalau saya menjadi pedagang saya bisa menjual barang kepada konsumen yang membutuhkan dengan harga yang lebih ringan daripada kalau pelanggan saya membeli dari pedagang lain. Perdagangan tersebut akan memberikan manfaat kepada produsen. Begitulah kira-kira.

Nah, dalam Skim Ponzi, keuntungan yang diterima seorang member adalah dari derita atau kerugian member lain. Secara hukum, memang Skim Ponzi tidak ilegal. Bisnis seperti ini berada dalam wilayah abu-abu, dalam arti tidak ada hukum yang melarang atau membolehkannya. Paparan berikut mungkin akan memberi informasi tambahan yang berguna bagi Anda untuk mengambil keputusan akan menjadi member atau tidak.

Kita mulai dari apa itu Skim Ponzi. Frasa ini iambil dari Carles Ponzi, nama pria kelahiran Italia yang tercatat sebagai salah satu penipu terbesar di Amerika Serikat. Skim Ponzi sendiri mengacu pada sebuah gejala investasi di mana pemodal yang masuk lebih awal menikmati hasil tinggi dengan menggunakan dana dari investor yang masuk belakangan. Skim ini memiliki struktur Piramida, yang digunakan dalam money game.

Cara kerja Skim Ponzi adalah sebagai berikut. Sosok atau kelompok, A, sebagai puncak piramida menarik dua anggota, B dan C, yang masing-masing menyetor sejumlah uang yang tidak harus sama. Setelah menyetor, katakankanlah Rp1 juta, B menarik dua anggota lain, H dan I, yang masing-masing juga menyetor Rp1 juta. Perolehan Rp2 juta ini (dari H dan I) sebagian diambil B sebagai komisi, bonus atau bagi hasil, dan sebagian ke disetorkan ke A.

A mengambil sebagian setoran dari B untuk dirinya sendiri dan sebagian yang lain dihimpun sebagai semacam dana bersama. Nantinya, kalau H menarik dua anggota baru, X dan Z, H akan menerima sebagian dana tersebut dan menyetor sebagian ke B. Setelah mengambil bagian (dari setoran H), B menyerahkan sisanya ke A.

Karena ada bagian yang harus disetor ke level yang lebih tinggi, maka jika X menarik dana dari orang lain, maka sebagian dari dana tersebut akan masuk ke H, sebagian ke B dan sebagian ke A. begitu seterusnya sehingga semakin jauh anggota dari puncak (A) akan semakin banyak baginya harus merekrut anggota baru agar dapat memperoleh hasil yang sama dengan yang diperoleh kelompok yang ada di puncak. Jika anggota tidak memperoleh anggota baru, peluangnya besar kalau ia akan kehilangan uangnya.

Kuncinya di sini adalah arus kas masuk. Secara keseluruhan, ketika arus kas terhenti karena tidak ada anggota baru, skim ini juga akan berhenti dengan sendirinya. Karena kegiatan ini beroperasi di wilayah abu-abu dalam arti tidak ada aturan yang melarang atau membolehkannya, maka terhentinya sebuah Skim Ponzi akan berupa skandal. Pada akhirnya, anggota terakhir mengalami kerugian karena tidak menarik anggota baru.

Saudari Nora, saya sudah bicara dengan banyak korban skim ini, membaca literatur dan menulis tentang skandal seperti ini. Umumnya korban adalah orang yang mempunyai uang tetapi pengetahuannya tentang dunia keuangan sangat dangkal. Namun mereka ini greedy: sudah memiliki uang dan ingin memperoleh uang lebih banyak dengan cara mudah. Sebagian korban adalah orang yang mempunyai uang tetapi membutuhkan pekerjaan untuk memperbaiki status sosialnya. Maka dari itu karyawan di perusahaan yang menawarkan Ponzi Skim adalah anggota juga.

Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam Skim Ponzi? Kebanyakan dari teman dekat atau kerabatnya. Untuk lebih meyakinkan calon anggota, maka pengelola perusahaan seperti ini berbadan hukum sah, berkantor di kawasan bisnis primer, mengeluarkan brosur dan majalah mewah, memasang iklan secara gencar di koran, tabloid, dan televisi. Salah satu iklannya menampilkan pemodal yang sudah menikmati manfaat (yang pasti dari kelompok yang masuk paling awal), dan memanfaatkan tokoh masyarakat.

Skim Ponzi memiliki bisnis tertentu sebagai pijakannya. Sebagian antaranya berbasis di bisnis jasa keuangan, apakah bank atau koperasi. Dalam hal ini, dana dari nasabah — bisa disebut anggota atau pemodal – dianggap sebagai simpanan. Ponzi Skim yang dianggap bernilai paling besar terjadi di AS dengan dasar bisnis fund management, yakni yang dilakukan oleh Bernard Maddoff, yang melibatkan uang sebesar US$50 miliar, yang waktu itu setara dengan cadangan devisa Indonesia.

Sebagian Skim Ponzi berpijak pada bisnis di sector ritel. Charles Ponzi misalnya membangun skimnya atas dasar peluang bisnis di bidang perangko. Ia melihat peluang ini dari perbedaan tarif pos di Eropa dan AS. Dia membeli perangko di Eropa yang lebih murah dan menjualnya di AS. Dalam dunia investasi ini disebut transaksi arbitrase. Ponzi mengklaim laba bersih dari arbitrase, atau mencari untung dengan membeli aset yang sama dengan harga yang lebih murah di satu pasar dan segera menjual di pasar lain pada harga lebih besar, bisa mencapai 400 persen. Transaksi ini sah. Dengan peluang ini Ponzi mampu menghimpun dana sampai puluhan juta dolar AS, yang jauh dari nilai bisnis sebenarnya. Untuk mencapai omset tersebut Ponzi harus memperdagangkan 160 juta lembar kupon pos, padahal hanya ada sekitar 27.000 kupon pos yang beredar.

Nah, basis bisnis ini sangat beragam, seperti peternakan lele di Ciseeng pada 1960-an, perkebunan sayur di Sukabumi oleh PT Qurnia Segar Alam Raya (QSAR) pada 2002, pemasaran alat elektronik oleh PT Gee Cosmos Indonesia, dan banyak Skim Ponzi di atas bisnis multilevel marketing. Intinya sama, nilai bisnis jauh lebih kecil dibandingkan dengan dana yang dikumpulkan.

Banyak pelaku Skim Ponzi berlindung di belakang pejabat publik atau menggunakan pejabat tersebut untuk meyakinkan calon pemodal. Di Indonesia pejabat yang pernah diberitakan menggunakan pernah kapolri, ketua DPR, dan ketua partai politik. Beberapa di antara mereka menjadi anggota juga, tetapi dengan hak istimewa. Ketika bisnis mereka macet dan menjadi skandal, para pejabat ini akan mendapatkan prioritas untuk memperoleh dana mereka. Perusahaan yang menjalankan Skim Ponzi ini menyumbang ke lembaga tersebut. Ini pernah terjadi di negara mana saja.

Nah saudari Nora, semoga paparan di atas berguna sebagai dasar Anda membuat keputusan. Kalau saran saya, jangan mau menjadi member. Kalau ada niat ingin membantu saudara, bantulah dengan cara lain. Misalnya memberi atau meminjami dia uang untuk modal usaha, yang tidak hanya memberi manfaat kepadanya, tetapi juga kepada pelanggan dan kepada masyarakat umum.

Salam Investasi

0 Responses to “Skim Ponzi dan MLM”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: