Bootstrapping

[Tulisan ini pertama dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 1 May 2012]
Suhartono
PENGANTAR. Mulai awal Mei 2012 Suhartono, redaktur yang menangani sisipan Uang dan Bank mengundurkan diri dari Jurnal Nasional. Dalam surat elektronik akhir pekan lalu Tono (begitu dia biasa dipanggil) sudah pamitan. Dalam suratnya, Tono akan memenuhi obsesinya untuk menjadi pengusaha. Untuk itu dia saran agar usahanya sukses sehingga dia bisa menolong orang lain. Tulisan ini akan menyemangatinya.

Pembaca, beberapa bulan sebetulnya sudah lama Tono rasan-rasan dengan saya untuk mengundurkan diri. Waktu itu saya berusaha mencegahnya dengan berbagai alasan. Misalnya, dia akan kehilangan biaya peluang (opportunity cost) untuk menjadi orang gajian dengan penghasilan pasti setiap bulan. Ketika tetap berkarya di Jurnal Nasional saya menduga dia batal mundur. Namun surel darinya akhir pekan lalu menunjukkan bahwa obsesinya untuk menjadi pengusaha tidak terbendung. Inilah modal dasar terpenting baginya untuk sukses.

Menjadi pengusaha tampaknya terlalu bombastis, tetapi saya tidak menggunakan wiraswasta (kata yang dia pakai) untuk menekankan bahwa kedua kata ini ada bedanya meskipun memiliki banyak kesamaan. Kebanyakan pengusaha adalah wiraswasta, namun kebanyakan wiraswasta tidak pernah menjadi pengusaha. Wiraswasta tidak memiliki beberapa hal yang menjadi karakteristik pengusaha.

Pertama, pengusaha memiliki visi jangka panjang dan luas. Makelar mobil adalah wiraswasta, diler mobil adalah pengusaha. Makelar real estate adalah wiraswasta, agen real estate adalah pengusaha. Peternak lele adalah wiraswasta, tetapi peternak lele terpadu adalah pengusaha.

Wiraswasta harus terus bergegas kalau ingin terus memperoleh penghasilan. Pengusaha, selain berwiraswasta, juga menyusun strategi jangka panjang. Keduanya mengejar tujuan yang sama, kebebasan finansial dan kekayaan, tapi sayangnya hanya satu benar-benar akan mencapai itu.

Bagi pengusaha, berwiraswasta hanya menjadi sarana bukan tujuan. Kebanyakan pengusaha adalah (dan benar-benar masih) wiraswasta, tetapi pengusaha adalah hasil transformasi dari wiraswasta. Pengusaha dapat menarik wiraswasta lain bekerja untuk mereka. Terus menjual adalah tujuan utama pewiraswasta, membangun sebuah perusahaan dan memimpin timnya menjadi fokus pengusaha.

Kadang-kadang pengusaha jatuh kembali menjadi wiraswasta, namun itu hanya kondisi temporer. Jika ini terjadi, pengusaha akan belajar dari kejatuhannya, memperbaiki sistem yang ada, menangani isu-isu mendesak dan kemudian bangkit menjadi pengusaha lagi dengan fokus pada visi jangka panjang. Pengusaha tahu bahwa ia harus berwiraswasta demi membangun sistem agar ia bisa mempekerjakan wiraswasta lain.

Perbedaan utama antara wiraswasta versus pengusaha adalah bahwa wiraswasta berfokus pada diri sendiri, sementara pengusaha berfokus pada orang lain. Bagi pengusaha, reputasi lebih penting daripada uang atau komisi cepat. Ketika mendapat order lebih besar atau harga lebih baik, wiraswasta meninggalkan pelanggan lama dalam kondisi kecewa. Wiraswasta mengutamakan uang daripada pelanggan. Dengan kata lain wiraswasta mengejar kepentingan jangka pendek, bukan reputasi.

Pengusaha mungkin memperoleh laba lebih kecil dari pelanggan yang mereka upayakan tetap puas, tapi mereka mengesampingkan hal ini karena mereka tahu itu akan ada manfaatnya di masa depan. Tentu wiraswasta dapat membuat hidup lebih baik, tetapi pengusaha dapat menyisihkan waktunya selain menghasilkan uang HARI INI untuk membangun sistem sendiri.

Dalam surat elektroniknya Tono juga menyebut mengenai perlunya suntikan dana untuk mengembangkan bisnis. Namun sebenarnya, dia tidak harus buru-buru mengundang pemodal. Memang, banyak orang yang ingin membuka usaha langsung membutuhkan suntikan modal. Alasan mereka, tanpa modal mana bisnis bisa jalan?

Benar, tetapi pendanaan terlalu dini akan terlalu mahal. Begini. Praktik yang lazim berlaku di dunia internasional, ketika entrepreneur memerlukan suntikan modal baik dari angel investor maupun venture capitalist, pemodal akan memegang sepertiga saham perusahaan. Dua pertiga saham tetap menjadi milik pendiri yang memiliki gagasan bisnis dan telah memulai bekerja untuk mewujudkan. Kepemilikan perintis ini disebut sweat equity, yang berarti modal keringat. Nah, kalau saat ini nilai perusahaan adalah Rp100 juta, maka injeksi modal untuk sepertiga saham perusahaan adalah Rp33,33 juta. Nah, kalau pendiri perusahaan bekerja dengan pikiran dan keringat sendiri mampu membangun perusahaan sehingga bernilai Rp200 juta, maka nilai dari suntikan modal adalah Rp66,66 juta.

Lalu bagaimana mengembangkan perusahaan pada tahap awal tanpa suntikan modal. Jawabannya adalah bootstrapping, yakni membangun sebuah perusahaan dari bawah ke atas menggunakan dana sendiri yang terbatas dan sarana yang ada. Hal ini dimungkinkan karena pada tahap sangat awal, persoalan belum terlalu rumit dan menyita waktu. Untuk peralatannya bisa menggunakan apa adanya dan tidak mengeluarkan uang kas. Banyak usaha besar global bermula dari garasi rumah.

Sayangnya, selain biaya yang bisa dihindari, ada pengeluaran dana yang tidak dapat hindari. Salah satunya adalah tenaga kerja. Kalau menggunakan jasa orang, tidak usah menggunakan pekerja tetap, tetapi outsourcing ke freelancer bagus. Dengan begini, Anda menggunakan mereka hanya jika dibutuhkan sehingga pendiri masih dapat menghemat biaya. Untuk menghemat pengeluaran, gunakan teknologi untuk mencapai efisiensi. Sekarang ini usaha apapun tampaknya memerlukan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.

Sebenarnya, modal utama untuk memulai bisnis adalah sebuah Ide Bagus. Maksud ide bagus di sini adalah bahwa ide bisnis yang memberikan nilai tambah dari bisnis yang sudah ada. Ide bagus tidak akan membawa hasil kalau tidak dijalankan degan benar oleh tim bagus. Tim bagus ini juga akan menjadi daya tarik bagi pemodal, kalau sebuah usaha memerlukan suntikan modal.

Apakah pemilik ide bisnis berencana untuk memulai solo atau mempekerjakan karyawan dari awal, ada beberapa kemampuan penting untuk memulai sebuah bisnis. Pada tahap awal, jika mungkin membentuk tim sementara yang terdiri dari para freelancer, namun kalau ide bisnis memerlukan tenaga tetap maka sebaiknya si pemilik ide mencari mitra pemegang saham untuk secara bersama-sama mengembangkan ide.

Memiliki tim solid lebih baik daripada mengambil tenaga murah tetapi asal-asalan kerjanya. Maka, jangan mempekerjakan orang dengan alasan semata-mata karena menolong. Pilihlah mereka yang mampu memenuhi kebutuhan bisnis Anda. Kalau menolong orang menjadi pertimbangan utama, maka pilihkah bisnis yang sesuai dengan kemampuannya. Alasan yang salah bisa membuat bisnis berjalan lamban atau bahkan gagal.

0 Responses to “Bootstrapping”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: