Keuangan untuk Bujangan

[Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnas Nasional pada Selasa, 15 May 2012]

Pak Jaka, saya karyawan swasta yang masih membujang di usia hampir 40 tahun. Penghasilan saya lumayan bagus. Namun sering kali belum lagi habis bulan, saya harus menarik dana simpanan sehingga nilai simpanan saya tidak cukup banyak untuk membeli rumah sendiri di Jakarta. Kondisi ini sering melemahkan niat saya untuk berumah tangga. Saat ini saya kos dan pulang ke rumah orang tua di Bandung sedikitnya dua kali sebulan. Bagaimana saya harus memperbaiki kondisi ini?

Wardaya, Jakarta Selatan

Hidup membujang tampaknya menyenangkan. Seperti lirik lagu yang sangat populer Bujangan: hati senang walaupun tidak punya uang dan suka pergi kemana-mana (karena tidak ada yang melarang). Syair lagu ini menyiratkan bahwa membujang adalah gaya hidup boros dan mahal.

Saudara Wardoyo, berlawanan dengan keyakinan Anda, hidup berumah tangga bisa memperbaiki kondisi keuangan Anda. Ini tidak berarti bahwa Anda harus menikah dengan wanita kaya, tetapi hidup berpasangan bisa lebih hemat daripada membujang. Tentu saja, kalau pasangan hidup Anda tidak sepenuhnya bergantung kepada Anda.

Kalau Anda menikah dengan perempuan yang juga memiliki penghasilan, maka Anda dan istri bisa berhemat. Sebagai contoh, Anda bisa tinggal di satu rumah atau kamar yang bisa dipakai berdua. Sebagai bujangan, baik Anda dan pasangan harus menyewa dua rumah atau kamar. Banyak pengeluaran lain yang bisa dihemat kalau hidup berdua di bawah satu atap. Anda dan istri hanya membutuhkan satu peralatan rumah tangga.

Dengan menikah, Anda juga memiliki peluang lebih besar untuk membeli rumah idaman. Sepanjang sama-sama bekerja, Anda dan istri dapat memperoleh pinjaman lebih besar untuk membeli rumah daripada kalau Anda mengajukan kredit kepemilikan rumah (KPR) sendirian.

Saya juga yakin bahwa dengan menikah maka Anda akan semakin hati-hati dalam mengelola keuangan pribadi. Hal ini karena pernikahan dapat menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap keluarga. Pernikahan juga mendorong Anda untuk memiliki tujuan jangka panjang, misalnya memiliki anak dan menyekolahkan sampai perguruan tinggi. Tanpa tanggung jawab dan kewajiban jangka panjang, orang cenderung teledor dalam masalah keuangan dengan membelanjakan uang untuk barang-barang sekunder yang sebenarnya kurang dibutuhkan. Jika Ada dorongan hati untuk membeli barang-barang seperti ini, coba tundalah sehari atau dua hari. Jika Anda berubah pikiran atau lupa akan barang uang ingin Anda beli selama masa tunggu, Anda telah melakukan penghematan.

Kalau sudah menikah, maka kemungkinan besar pengeluaran acara untuk hangout dengan teman-teman sangat berkurang karena sedikitnya waktu Anda akan digunakan bersama pasangan. Anda juga akan mampu menekan “biaya” untuk pendekatan ke calon pasangan.

Selain menikah, jawaban standar untuk persoalan Anda adalah mengontrol pengeluaran dan menambah pemasukan agar dapat menabung lebih sering dan lebih banyak. Salah satu alat bantu untuk mencapai tujuan ini adalah dengan membuat rencana anggaran pendapatan dan belanja pribadi, yang pernah saya tulis di rubrik ini.Rencana Anggaran tersebut berlaku untuk semua orang – bujangan, menikah atau bercerai.Bedanya adalah soal detil pengeluaran.

Beberapa pemborosan sering kali tidak kita sadari. Misalnya ketika membeli gadget. Banyak orang membeli gadget dengan spesifikasi yang jauh di atas kebutuhan. Untuk menghemat, belilah gadget dan aksesorinya yang Anda benar-benar butuhkan.

Lakukan penghematan untuk konsumsi sehari-hari. Meskipun kecil, tetapi kalau setiap hari maka penghematan menjadi signifikan. Sering kali kita membeli barang kebutuhan sehari-hari secara berlebihan dan akhirnya hanya membusuk di tempat penyimpanan. Hal ini sering terjadi ketika sedang tidak ada aktivitas penting, dan kemudian waktu digunakan untuk jalan-jalan ke mal untuk refreshing. Pada saat seperti ini mudah sekali orang tergoda membeli barang yang kurang begitu dibutuhkan.

Salah satu cara lain untuk menambah pundi-pundi uang Anda adalah dengan mengurangi alokasi anggaran belanja. Teknisnya, sisihkan 10 persen dari setiap penghasilan untuk simpanan untuk dua tujuan. Pertama adalah dana darurat yang nilainya sedikitnya sekitar enam bulan penghasilan bulanan. Fungsi dari dana cadangan adalah untuk jaga-jaga kalau karena alasan apapun Anda berhenti bekerja. Enam bulan adalah waktu yang memadai untuk mencari pekerjaan baru.

Kalau jumlah tersebut sudah terlampaui, maka buat akun simpanan lain. Agar dapat rutin terus menyimpan Anda bisa melakukan permainan pikiran. Misalnya ingin memiliki simpanan sebesar Rp 100 juta. Tidak masalah jika itu adalah ribuan, sepuluh ribu, 50 ribu atau ratusan ribu, pokoknya simpan. Nah kalau target sudah tercapai, tetapkan target baru, misalnya Rp 200 juta.

Simpanan ini dapat digunakan kalau untuk jaga-jaga kalau ada pengeluaran mendadak atau tidak terduga, misalnya untuk biaya pengobatan atau pengeluaran besar lain seperti membeli kendaraan yang lebih bagus. Simpanan seperti ini bisa digunakan untuk membantu teman atau kerabat yang sedang mengalami kesulitan. Dengan demikian, bantuan Anda tidak akan mengganggu kondisi keuangan secara keseluruhan. Selain untuk menutupi keadaan darurat atau biaya tidak terduga, tabungan ini juga memungkinkan Anda untuk membayar hal menyenangkan misalnya berlibur.

Dengan memiliki simpanan tidak perlu menggesek kartu kredit untuk belanja dengan nilai yang agak besar, apalagi kalau sampai menumpuk dan tidak bisa melunasi semua tagihan. Dengan memiliki cukup simpanan, maka dapat memanfaatkan peluang bisnis yang muncul kapan saja.

Namun simpanan uang memiliki kelemahan, yakni sangat likuid. Karena bisa diambil dan digunakan setiap saat, maka godaan untuk menggunakan simpanan tersebut sangat besar. Maka, akan bijaksana kalau simpanan ini digunakan untuk membeli rumah.Dalam ujud rumah, simpanan Anda akan aman dari penarikan. Perlu berbulan-bulan atau bahkan tahunan untuk melikuidasi (mengubah menjadi uang) sebuah rumah. Rumah juga menjadi sarana investasi yang menguntungkan karena harganya cenderung naik. Dari sudut pandang ini, Anda tidak harus berkomitmen untuk hidup di rumah tersebut untuk sisa kehidupan Anda.Bahkan kalau Anda menggunakan fasilitas KPR, maka membeli rumah adalah “alat paksa” Anda untuk meningkatkan kekayaan. Sebagai debitur KPR Anda harus setiap bulan membayar cicilan. Dari cicilan ini, sebagian adalah untuk membayar pinjaman dan bunganya, dan ada bagian adalah modal (ekuitas) Anda.

Keamanan finansial tidak hanya berkaitan dengan tujuan jangka pendek, tetapi juga menyangkut kepentingan jangka panjang. Isu penting kepentingan jangka panjang adalah pendapatan pensiun. Baik Anda nanti akhirnya akan menikah atau tetap hidup membujang, Anda harus memastikan bisa mengurus diri Anda di masa pensiun Anda. Hal ini penting meskipun Anda sudah menjadi peserta jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek). Pasalnya, manfaat yang diberikan oleh program jamsostek di Tanah Air bernilai kecil. Hal ini karena iuran Anda dalam kontribusi tersebut juga relatif kecil. Besaran kontribusi jamsostek di Indonesia sangat rendah, hanya sekitar 7,5 persen dari pendapatan pekerja. Iuran dibayar oleh peserta dan pemberi kerja. Di Malaysia kontribusi karyawan dan pemberi kerja untuk Employees Provident Fund (EPF),program yang sejenis dengan jamsostek adalah 24 persen gaji bagi karyawan dengan penghasilan kurang dari MYR5.000 sebulan dan 23 persen bagi yang berpenghasilan di atas MYR5.000. Sementara itu nilai kontribusi pekerja di Singapura untuk program central provident fund adalah 35,5 persen. Di luar itu standar gaji di kedua negeri jiran ini jauh lebih besar sehingga manfaat yang akan diterima peserta program di negeri jiran akan jauh lebih besar dari pada peserta program sejenis di Indonesia.

Paparan di atas menyiratkan bahwa selain dari manfaat program jamsostek, Anda harus memperoleh pendapatan pensiun tambahan agar bisa hidup layak setelah pensiun. Pada saat itu, rumah dan tabungan Anda akan memberi manfaat.n

0 Responses to “Keuangan untuk Bujangan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: