Berinvestasi di Obligasi (Bagian Pertama)

[Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional, Selasa, 5 Jun 2012]
Ahmad Thonthowi Djauhari
Ketika browsing mencari artikel tentang investasi portofolio, saya menemukan blog Anda. Saya kaget menemukan teman kuliah menjadi pakar finansial. Kebetulan jadinya. Begini, sekarang saya di rumah saja mengurus rumah tangga sambil mengelola investasi keluarga. Saat ini ingin memutar uang saya untuk jangka panjang agar memberikan return di atas bunga deposito. Saya ingin mengalokasikan sekitar Rp250 juta untuk diinvestasikan di obligasi tetapi belum tahu caranya? Bagaimana caranya berinvestasi di obligasi?

Ny. Wina S

Ciledug, Tengerang

Halo Wina, senang sekali mengetahui bahwa Anda menjadi pemodal portofolio. Terima kasih atas pertanyaannya. Begini Wina. Dari sudut pandang cakrawala waktu (time horizon) gagasan Anda berinvestasi di obligasi sangat masuk akal. Obligasi memang merupakan sarana investasi yang cocok untuk tujuan investasi jangka menengah dan panjang apakah menghimpun dana pendidikan anak atau menghimpun simpanan pensiun. Berinvestasi di obligasi lebih pas dibandingkan deposito karena obligasi memberikan imbalan lebih tinggi daripada deposito. Selain itu, imbalan obligasi berupa bunga dan pelunasan pokok dapat diketahui di depan.

Namun, berinvestasi di obligasi tidak sesederhana menempatkan dana di deposito. Untuk berinvestasi di obligasi Anda tidak bisa melakukan transaksi sendiri, tetapi melalui perantara, yakni bank atau perusahaan efek. Teknisnya, Anda harus membuka rekening di bank atau perusahaan efek. Selanjutnya, Anda memasukkan dana investasi ke rekening tersebut. Baru setelah itu Anda memberikan order untuk membeli obligasi yang Anda inginkan, apakah obligasi korporat maupun obligasi negara. Prosedur ini berlaku juga ketika Anda berinvestasi di saham.

Anda bisa membeli obigasi baik di pasar perdana maupun pasar sekunder. Di pasar perdana Anda membeli obligasi umumnya dari penerbit apakah perusahaan atau pemerintah. Namun ada mekanisme penawaran perdana di mana emiten menjual efek hanya ke pada pihak tertentu (bisa bank atau perusahaan efek), yang kemudian menjual kembali efek tersebut ke pemodal. Prosedur pembelian di pasar perdana tertera dalam prospektus yang dapat Anda peroleh dari media massa atau pihak yang terlibat dalam proses penawaran perdana.

Kelebihan membeli di pasar perdana adalah semua pemodal mempunyai titik permulaan yang sama dengan pemodal lain, yang tidak terlibat dalam proses penjaminan atau pihak yang terkait dengan emiten, dalam menganalisa kualitas kredit emiten dan potensi hasilnya. Sumber informasi tentang kualitas kredit dan obligasi tersebut tersedia dalam pernyataan penawaran atau prospektus, yakni dokumen resmi yang menjelaskan persyaratan dan ketentuan penerbitan obligasi. Persoalannya adalah soal waktu. Pasar perdana terjadi hanya insidental.

Kalau waktu Anda ingin membeli obligasi tidak ada penawaran perdana, Anda bisa membeli obligasi di pasar sekunder. Ini dapat Anda lakukan kapan saja pada hari transaksi. Di pasar sekunder, selalu ada penjual apakah bank atau perusahaan efek yang bertindak sebagai dealer atau pemodal lain. Bank atau perusahaan efek tempat Anda membuka rekening mungkin bertindak sebagai dealer yang mempunyai persediaan obligasi yang bisa dijual kapan saja. Kalau mereka tidak mempunyai obligasi yang Anda inginkan, ia akan mencarikan untuk Anda. Jika broker atau dealer harus mencari pesanan, maka komisi ditambahkan sebagai kompensasi untuk biaya dan upaya memenuhi kebutuhan pemodal tersebut.

Setiap perusahaan menentukan harga obligasi sendiri-sendiri, yang tergantung nilai transaksi, tipe obligasi yang dibeli dan jumlah layanan yang diberikan. Harga obligasi umumnya sudah mencakup biaya transaksi dan laba bagi mereka. Kebanyakan obligasi individual diperdagangkan di luar bursa, atau yang umum disebut secara over-the-counter (OTC), meskipun banyak obligasi korporat juga tercatat di bursa efek.

Persoalan Anda kemudian adalah menemukan ‘barang’ yang tepat. Perlu Anda tahu ada sejumlah fitur di obligasi: tenor obligasi, fitur penebusan, kualitas kredit, kupon bunga, harga, status yield dan pajak. Faktor-faktor ini akan menentukan nilai obligasi dan derajat kesesuaian investasi tersebut dengan tujuan investasi Anda. Maka pelajari dan pilihlah obligasi yang memiliki fitur dan struktur yang paling cocok. Di luar itu, Anda perlu mempelajari kinerja obligasi di pasar, seperti seberapa sering ditransaksikan dan bagaimana perubahan harganya. Di luar kalkulasi di atas, harga obligasi yang sama bisa berbeda. Ini seperti harga mi instan yang bisa berbeda antara di warung dan di supermarket.

Meskipun obligasi dipandang sebagai instrumen yang aman, Anda sebaiknya mempertimbangkan juga cara untuk meminimisasi risiko. Risiko berinvestasi di obligasi bisa berupa risiko kredit, risiko suku bunga, risiko likuiditas dan risiko inflasi. Nah, salah satu cara untuk menurunkan risiko adalah dengan diversifikasi. Dengan alokasi sebesar Rp250 juta, maka agak sulit untuk melakukan diversifikasi karena umumnya obligasi (khususnya) korporat dijual dengan denominasi tinggi, bisa Rp50 juta. Dulu ada obligasi dengan denominasi Rp10 juta, tetapi kini tidak ada lagi. Kecuali obligasi pemerintah yang dijual dengan satuan transaksi relatif kecil. Dengan demikian, paling banyak Anda bisa membeli 5 jenis obligasi.

Memang persoalan denominasi ini adalah kendala utama pemodal ritel membeli obligasi. Dan solusi untuk ini adalah membeli obligasi secara tidak langsung, yakni melalui reksa dana. Dengan dana Rp50 juta, atau bahkan lebih kecil lagi, Anda bisa berinvestasi di sekitar 10-15 jenis obligasi, jumlah yang lazim dipegang oleh sebuah reksa dana.

Kalau Anda bersikukuh untuk berinvestasi di obligasi secara langsung, sebaiknya Anda menjawab pertanyaan berikut. Daftar pertanyaan ini saya sadur dari http://www.bondmarketasssociation.com.

1. Apakah obligasi ini dapat mendukung tujuan investasi Anda?

2. Apakah obligasi ini dapat memenuhi kebutuhan akan likuiditas, persyaratan arus kas, keragaman dan struktur obligasi?

3. Berapa banyak yield tambahan yang Anda terima dari sebuah obligasi jenis ini dan apa premi risikonya?

4. Apa skenario suku bunga terbaik untuk produk ini? Bagaimana kinerjanya jika suku bunga bergerak ke arah yang berlawanan?

5. Adakah fitur tambahan dalam obligasi ini? Jika ada, bagaimana skenario terbaik dan terburuknya?

6. Jika berbunga mengambang, apakah obligasi tersebut mempunyai batas atas (cap), floor atau collar?

7. Bagaimana jika sewaktu-waktu Anda perlu menjual obligasi tersebut? Adakah pembeli efek ini pada harga pasar jika Anda harus menjualnya lebih awal daripada rencana?

8. Adakah denominasi dari unit obligasi yang Anda pegang mudah dijual? Pemodal lembaga mungkin berminat membeli obligasi dengan denominasi Rp 1 miliar, tetapi karena efisiensi tidak tertarik pada obligasi yang sama tetapi berdenominasi Rp10 juta.

9. Apakah Anda sudah melihat semua dokumentasi yang relevan tentang obligasi ini?

10. Bagaimana Anda dapat mendapatkan harga dan analisis atas obligasi tersebut?

11. Apakah Anda memahami struktur obligasi dan bisnis penerbitnya?

 

Okay Wina, itu dulu yang bisa saya kemukakan. Untuk edisi mendatang saya masih akan menulis untuk Anda dan pembaca tentang strategi berinvestasi di obligasi yang lazim digunakan oleh para profesional di pasar modal.

 

0 Responses to “Berinvestasi di Obligasi (Bagian Pertama)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: