Berinvestasi di Obligasi (Bagian Kedua)

[Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnas Nasional pada Selasa, 12 Jun 2012]

Berinvestasi di obligasi memang menjanjikan, tetapi bukan tanpa risiko. Risiko terbesar adalah jika emiten default. Contohnya banyak.

Sampai 1996 di Indonesia hanya ada dua penerbit obligasi gagal membayar kewajibannya. Setelah krisis moneter 1997/1998, banyak emiten default dan beberapa di antaranya diklaim pailit oleh pemegang obligasi. Risiko ini disebut dengan risiko kredit.

Ada risiko lain yang lebih sering, meskipun tidak separah risiko kredit, yakni risiko suku bunga. Risiko pasar muncul sebagai perubahan nilai obligasi karena perubahan suku bunga.

Suku bunga ini terus bergerak karena berbagai faktor termasuk perubahan pasokan/permintaan akan kredit, kebijakan bank sentral, kebijakan fiskal, kurs rupiah, kondisi ekonomi, psikologi pasar dan, di atas semua itu, perubahan ekspektasi inflasi. Ketika suku bunga berubah, nilai obligasi di pasar juga berubah.

Perubahan suku bunga mempengaruhi dua bagian dari nilai obligasi. Pertama adalah dampak harga, yakni perubahan harga obligasi ketika suku bunga berubah. Ketika suku bunga berarti naik, emisi obligasi baru akan menawarkan yield lebih tinggi, sehingga harga obligasi di pasar akan menyesuaikan, yakni menurun.

Fluktuasi suku bunga juga mempengaruhi risiko reinvestasi. Ketika suku bunga naik, kupon obligasi dapat diinvestasikan di obligasi baru yang menawarkan kupon lebih tinggi. Begitu juga sebaliknya.

Derajad pengaruh perubahan suku bunga pada harga obligasi berbeda-beda tergantung pada karakteristik obligasi, utamanya tenor dan kupon. Jika semua faktor sama, semakin panjang tenor semakin sensitif harga obligasi terhadap perubahan suku bunga.

Semakin rendah kupon semakin sensitif harga obligasi terhadap perubahan suku bunga. Dari sini, obligasi tanpa kupon mempunyai sensitivitas harga lebih besar terhadap perubahan suku bunga dibandingkan obligasi yang tenornya sama tetapi membawa kupon.

Ibu Wina, ada tiga skenario ketika Anda berinvestasi di obligasi, yaitu:

Skenario pertama, beli dan pegang. Anda membeli obligasi bertenor enam tahun berdenominasi Rp100 juta dengan kupon tetap 16,25 persen dibayar dua kali. Jika Anda memegang sampai jatuh tempo, Anda akan menerima ½ X 16,25% X Rp100 juta setiap setengah tahun selama lima tahun. Jika jatuh tempo, Anda menerima pokok investasi sebesar Rp 100 juta. Jika Anda menjual sebelum jatuh tempo, maka nilai obligasinya, dan dengan demikian yield yang akan Anda terima, bisa lebih besar atau lebih kecil daripada kalau Anda menahan sampai jatuh tempo.

Skenario kedua, Anda menjual sebelum jatuh tempo dan suku bunga naik. Kalau ini terjadi, kemungkinan besar Anda tidak bisa menjual obligasi pada nilai nominal. Ini karena pembeli akan memasukkan kenaikan bunga dalam menentukan nilai obligasi Anda. Dengan kata lain, harga obligasi akan turun.

Skenario ketiga, anda menjual obligasi sebelum jatuh tempo dan saat itu suku bunga turun. Berbeda dengan skenario kedua, Anda bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi tergantung tingkat penurunan suku bunga. Tenor obligasi juga mempengaruhi besaran kenaikan harga jika ada perubahan tingkat bunga.

Umumnya, semakin lama tenor obligasi, semakin besar pengaruh oleh perubahan suku bunga. Besaran kupon juga mempengaruhi dampak penurunan suku bunga. Semakin rendah besaran kupon bunga, semakin sensitif harga obligasi itu terhadap perubahan suku bunga.

Setelah mengenali risikonya, Anda dapat mengelola risiko tersebut dengan menghindari, mencegah, mengurangi, dan mengendalikan risiko. Untuk menurunkan risiko kredit, Anda harus melakukan seleksi lebih ketat penerbit obligasi.

Untuk tidak kehilangan arah investasi, jadikan obligasi sebagai bagian dari portofolio investasi Anda. Dengan kata lain, obligasi hendaknya juga menjadi sarana diversifikasi investasi Anda, selain saham, dan kas atau setara kas.

Di luar itu, porsi investasi Anda di obligasi hendaknya juga didiversifikasikan. Misalnya, sebagian dana diinvestasikan di obligasi kategori grada investasi (investment grade) danhigh-yield. Anda memilih efek high-yield demi hasil yang lebih besar.

Obligasi grada investasi memang menghasilkan yield yang lebih rendah, tetapi lebih stabil dan mampu menahan penurunan ekonomi sehingga dapat menutupi persoalan kualitas kredit obligasi high yield yang dapat mempengaruhi nilai portofolio. Begitu juga, Anda mungkin ingin menyeimbangkan obligasi korporat dengan obligasi pemerintah.

Satu strategi diversifikasi lain di obligasi adalah laddering, yakni membeli efek dengan berbagai tenor. Jika Anda berinvestasi hanya di obligasi jangka pendek, jenis yang paling tidak sensitif terhadap perubahan suku bunga, Anda akan mempunyai derajat stabilitas, tetapi mungkin menyerahkan peluang memperoleh yield lebih besar.

Sebaliknya, berinvestasi hanya di efek jangka panjang menjanjikan yield lebih besar tetapi memiliki potensi risiko lebih besar. Obligasi jangka panjang harganya fluktuatif, yang bisa mengakibatkan Anda rugi kalau harus menjual sebelum jatuh tempo.

Membangun sebuah portofolio yang berjenjang dilakukan dengan membeli kumpulan obligasi dengan waktu jatuh tempo beragam. Sebagai contoh, Anda menginvestasikan dalam jumlah yang sama efek yang akan jatuh tempo dalam dua, empat, enam, delapan dan 10 tahun. Nantinya, setelah dua tahun, ketika obligasi pertama jatuh tempo, Anda dapat mereinvestasikan uangnya ke dalam obligasi bertenor 10 tahun untuk menjaga jenjang.

Dan risiko Anda akan lebih kecil daripada kalau hanya berinvestasi di efek jangka panjang saja. Anda akan lebih terlindungi terhadap risiko perubahan suku bunga daripada kalau membeli hanya satu tenor. Jika suku bunga turun, anda harus mereinvestasikan efek yang jatuh tempo dalam dua tahun, tetapi akan menerima hasil investasi yang di atas pasar dari efek lain.

Teknis diversifikasi Barbell.

Teknik ini merupakan variasi dari strategi berjenjang, yakni membeli serangkaian efek dengan lebih dari satu tenor untuk membatasi risiko terhadap perubahan harga. Bedanya dengan strategi laddering, yang membagi investasi sama rata untuk masing-masing tenor, di sini Anda memberi porsi besar di dua ujung, jangka pandang dan jangka pendek. Sebagai contoh, Anda mengalokasikan 40 persen dana di obligasi yang tinggal satu tahun tenornya, dan 40 persen  di efek dengan tenor terpanjang. Sisa 20 persen disebar ke efek di antara tenor tersebut.

Tukar  Obligasi

Anda dapat menggunakan strategi tukar obligasi demi serangkaian manfaat. Pertukaran, penjualan dan pembelian efek yang dilakukan secara serentak, mungkin dilakukan untuk mengubah tenor yang paling menguntungkan menurut kondisi pasar, meningkatkan kualitas kredit portofolio dan atau meningkatkan pendapatan atau arus kas.

Anda dapat juga menurunkan risiko suku bunga dengan melakukan imunisasi terhadap portofolio obligasi Anda. Strategi ini, disebut imunisasi obligasi (bond immunization), dibangun di atas sebuah konsep yang disebut durasi.

Konsep durasi, sebuah cara untuk memperkirakan sensitivitas harga sebuah obligasi terhadap perubahan suku bunga pasar. Atau lebih spesifik lagi, durasi sebuah obligasi adalah perkiraan perubahan harga (dalam prosentase) jika suku bunga berubah.

Sebagai contoh, jika suku bunga naik satu persen, obligasi dengan durasi dua tahun akan menurun nilainya sekitar dua persen. Inti dari strategi imunisasi obligasi adalah menyesuaikan durasi portofolio obligasi dengan time horizon investasi.

Time horizon adalah waktu ketika Anda membutuhkan dana dan perlu melikuidasi investasi. Jika obligasi sudah immuned, maka perubahan suku bunga pasar tidak akan mempengaruhi hasil investasi Anda di obligasi.

Sebagai contoh, Anda berinvestasi di obligasi dengan tujuan menghimpun Rp500 juta dalam 10 tahun untuk pendidikan anak. Anda dapat melakulan imunisasi portofolio obligasi dengan memilih obligasi yang akan bernilai sebesar Rp500 juta dalam 10 tahun bagaimanapun suku bunga bergerak. Caranya adalah dengan membeli beberapa obligasi yang akan bernilai Rp500 juta dengan durasi rata-rata 10 tahun.

Menghitung durasi cukup rumit karena menggunakan kalkulasi matematis, namun pemodal tidak harus memberlakukan. Data ini tersedia di perusahaan sekuritas tempat Anda menjadi nasabah.

Selamat Berinvestasi

 

0 Responses to “Berinvestasi di Obligasi (Bagian Kedua)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: