Kehidupan Ganda Entrepreneur

[Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 10 Jul 2012]

Mas Jaka, saya ingin minta saran nih. Saya dan suami mempunyai usaha masing-masing. Selama ini hasilnya selalu habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami kekurangan modal agar usaha dapat berkembang semakin besar. Tetapi kami masih takut mencari pinjaman. Bagaimana saran Mas Jaka?

Siti R, cchemplux@yahoo.com


Mbak Siti, terima kasih atas suratnya. Memang Mbak Siti, hidup sebagai entrepreneur tidak mudah karena beberapa hal. Pertama, entrepreneur harus mampu melakukan banyak fungsi dalam bisnis. Mulai dari memilih ide usaha yang ingin digarap, membiayai bisnis (baik dengan modal sendiri atau mencari pemodal), mengelola (dengan menangani produksi, penjualan dan layanan pelanggan dan pembukuan).

Dengan berbagai macam hal yang harus dilakukan maka sering kali para entrepreneur harus bekerja 16-20 jam sehari dan 7 kali seminggu. Jam kerja ini jauh lebih berat daripada karyawan yang hanya bekerja sekitar delapan jam sehari dan lima hari seminggu.

Selain itu, para entrepreneur juga harus menghadapi tantangan yang tidak kalah beratnya. Mereka harus menjalani kehidupan ganda. Selain mengembangkan usaha, entrepreneur harus menjalani hidup sebagai manusia biasa yang memiliki banyak kebutuhan. Ada persoalan abadi dalam hal ini. Entrepreneur, seperti manusia lain, memiliki kebutuhan yang tidak terbatas tetapi sumber daya mereka terbatas. Persoalan kelangkaan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan inilah yang menjadi basis dari ilmu ekonomi.

Mbak Siti, perekonomian dunia membutuhkan entrepreneur. Oleh karena itu semua negara saat ini berupaya mendorong dan membantu dengan berbagai cara untuk menumbuhkembangkan entrepreneur. Sebab, keberhasilan entrepreneur dalam mengatasi masalah kelangkaan sumber daya berujung pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Dari sini maka entrepreneur yang sukses tentulah orang yang hebat. Selain dapat mencapai kepentingan pribadinya, entrepreneur juga berarti membantu mengatasi persoalan dunia. Nah, sekarang kita ke persoalan Mbak Siti.

Jika laba dari usaha Anda habis untuk memenuhi kebutuhan, maka itu bisa berarti dua kemungkinan. Pertama, laba dari usaha Anda masih kecil dan hanya memadai untuk memenuhi kebutuhan. Kedua, laba cukup tetapi pengeluaran Anda yang terlalu besar. Akibatnya, Anda tidak sempat mengakumulasi modal. Padahal, untuk mengembangkan usaha, mestinya Anda menyisihkan laba, yang nantinya akan digunakan sebagai tambahan modal untuk pengembangan usaha.

Dari sini solusi yang masuk akal adalah meningkatkan laba dengan meningkatkan usaha yang ada atau masuk ke usaha baru. Istilah kerennya diversifikasi usaha. Solusi kedua adalah mengurangi pengeluaran, sehingga Anda bisa menahan sebagian laba. Trik terbaik dalam hal ini adalah dengan menyisihkan sebagian laba terlebih dahulu dan baru menggunakan sisa laba untuk konsumsi.

Selain dari laba ditahan, secara teori dan praktis, Anda bisa memperoleh modal tambahan dari luar baik dalam bentuk pinjaman atau penyertaan. Masing-masing pilihan ini akan membawa konsekuensi tersendiri. Dengan meminjam, Anda harus membayarnya dengan jumlah yang ditetapkan di depan tidak peduli apakah usaha sukses atau gagal. Kalau usaha gagal, mungkin Anda harus kehilangan aktiva (yang menjadi agunan pinjaman). Namun kalau usaha sukses dan untung meningkat 10 kali lipat, kewajiban Anda tetap sama.

Karena takut meminjam, Anda bisa memperoleh suntikan modal dalam bentuk penyertaan (ekuiti). Langkah ini akan membawa konsekuensi berbeda. Jika usaha gagal, Anda tidak harus mengembalikan ke pemasok dana. Namun, jika laba membubung, maka hak pemasok modal juga meningkat. Artinya dengan mengundang pemodal Anda berbagi risiko dan potensi keuntungan.

Saran saya, kalau Anda menggunakan modal dari dana pinjaman, sebaiknya Anda menggunakan untuk mengembangkan usaha yang sudah jalan dan menguntungkan. Sebab, Anda terikat oleh kewajiban untuk membayar pokok dan bunga. Dengan demikian, ada kepastian sumber dana untuk membayarnya. Sedangkan untuk memulai usaha baru, Anda, kalau bisa, menggalang modal dalam bentuk penyertaan.

Masalahnya adalah bahwa tidak mudah memperoleh modal dalam bentuk penyertaan. Kredibilitas, rekam jejak (track record), dan kemampuan berkomunikasi akan menentukan berhasil tidaknya Anda mendapat kepercayaan dari pemodal. Selain itu calon pemodal tentu akan mempertimbangkan kelayakan usaha Anda.

Sebenarnya, modal utama untuk memulai bisnis adalah sebuah ide bagus. Maksud ide bagus di sini adalah ide bisnis yang memberikan nilai tambah dari bisnis yang sudah ada.

Mbak Siti, ada satu hal lagi yang akan menentukan keberhasilan Anda dalam mengembangkan usaha, yakni kualitas pribadi dan cara Anda menjalankan bisnis. Tentang masalah ini saya pernah menuliskan di rubrik ini (Selas, 1 Mei 2012), yang kemudian saya unggah ke dalam blog saya, https://jecahyono.wordpress.com/2012/05/02/bootstrapping. Inti dari tulisan ini adalah membedakan antara entrepreuner dengan wiraswasta.

Kebanyakan pengusaha adalah wiraswasta. Namun kebanyakan wiraswasta tidak pernah menjadi pengusaha. Banyak pengangguran tidak kentara menyebut dirinya wiraswasta. Oleh karena itu saya menggunakan istilah entreprepeur.

Ada beberapa karakteristik entrepreneur yang membedakannya dengan wiraswasta. Perbedaan pertama adalah bahwa entrepreneur memiliki visi dan strategi jangka panjang dan luas. Wiraswasta hanya terus bekerja kalau ingin terus memperoleh penghasilan. Meskipun entrepreneur dan pewiraswasta mengejar tujuan yang sama, — yakni kebebasan finansial dan kekayaan — tapi hanya orang bertipe entrepreneur yang akan mencapai tujuan tersebut.

Kebanyakan entrepreneur adalah (dan benar-benar masih) pewiraswasta, tetapi entrepenerneur adalah hasil transformasi dari wiraswasta. Bagi entrepreneur, berwiraswasta hanya menjadi sarana bukan tujuan. Terus menjual adalah tujuan utama pewiraswasta, membangun sebuah perusahaan dan memimpin timnya menjadi fokus entrepreneur.

Kadang-kadang pengusaha jatuh kembali menjadi pewiraswasta, namun itu hanya kondisi temporer. Jika jatuh, entrepreneur akan belajar dari kejatuhannya, memperbaiki sistem yang ada, menangani isu-isu mendesak dan kemudian bangkit lagi.

Perbedaan lain antara wiraswasta versus entrepreneur adalah wiraswasta fokus pada diri sendiri, sementara entrepreneur pada orang lain. Bagi entrepreneur, reputasi lebih penting daripada uang atau komisi cepat. Ketika mendapat order lebih besar atau harga lebih baik, wiraswasta meninggalkan pelanggan lama dalam kondisi kecewa. Wiraswasta mengutamakan uang daripada pelanggan. Dengan kata lain wiraswasta mengejar kepentingan jangka pendek, bukan reputasi.

Nah, cobalah introspeksi untuk menilai apakah selama ini Mbak Siti berada bertipe wiraswasta atau entrepeneur?
close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: