Verifikasi Peluang Investasi

[Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional | Selasa, 17 Jul 2012]

Halo Jaka, Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat selalu.

Aku mau nanya nih. Aku ditawari investasi oleh orang dari BNI Sekuritas untuk berinvestasi di luar bank dengan mekanisme sebagai berikut: jika mendepositokan uang di Golden Traders Indonesia sebesar Rp. 60 juta, investor akan mendapat bunga 1,5%/bulan untuk tiga bulan. Makin lama tenor deposito, makin besar bunganya. Bahkan untuk deposito satu tahun, per bulan bunganya 4,5%. Jadi, kalau kita ambil menginvestasikan dana selama setahun, maka bunganya alaihim gedhenya: 4,5 x 12 = 54%. Sepertinya kok too good to be true.
Investor tadi mendapatkan jaminan emas seberat 100gr (dengan asumsi 1 gram emas dihargai Rp 600 ribu. Ketika deposito jatuh tempo, investor punya 3 pilihan: rollover, mengembalikan emas dan mendapatkan kembali uangnya atau menjual emas ke toko lain. Ini aku sertakan websitenya: http://www.goldentradersinternational.com/index.php. Bagaimana pandanganmu soal ini? OK, trims sebelumnya.

Salam,
Ny. Ani S ‘“ Jakarta Barat

Halo juga An. Kabar saya baik. Terima kasih atas doanya.

Begini An, emas memang menjadi komoditi hot dalam 10 tahun terakhir. Meskipun saat ini sedang menurun, namun banyak alasan untuk percaya bahwa harga emas akan kembali naik. Ini sejalan dengan pandangan profesional saya. Pandangan ini independen dan tidak ada motif tersembunyi maupun insentif apapun.

Pandangan saya berbeda dengan pandangan para eksekutif di bidang investasi. Mereka sering mengalami konflik kepentingan: antara melayani kepentingan nasabah dan kepentingan diri mereka dan perusahaan tempat mereka bekerja.
Gampangnya, mereka mengutamakan untuk menjual, karena dengan menjual mereka memperoleh penghasilan. Mereka menempatkan kepentingan nasabah di urutan belakang. Padahal mereka memiliki apa yang disebut fiduciary responsibility, yang intinya adalah mengutamakan kepentingan nasabah.

Nah, sekarang kita analisis kasus Anda. Pertama, orang yang mendekati Anda adalah dari BNI Sekuritas. Dalam hal ini Anda perlu mencermati apakah dia karyawan tetap atau lepas. Banyak tenaga penjualan di bidang jasa keuangan bukan karyawan tetap. Mereka menerima penghasilan kalau kalau mereka bisa mendapatkan nasabah dan nasabah tersebut transaksi. Maka mereka terdorong untuk mengutamakan kepentingan mereka: mengejar komisi penjualan.

Sekarang mengenai BNI Sekuritas yang Anda sebut. Mungkin yang Anda maksud adalah konglomerat keuangan yang secara legal formal bernama PT BNI Securities (Tbk). Ini penting karena banyak perusahaan menyamarkan nama dengan nama yang sudah mapan dan bereputasi tinggi.

Bisnis utama BNI Securities adalah menjalankan usaha di bidang perdagagan dan penerbitan efek. Perusahaan anak PT Bank BNI ini juga mempunyai divisi yang bergerak di bidang pengelolaan asset, yang bisa menerbitkan dan mengelola reksa dana dan produk investasi yang biasa disebut kontrak pengelolaan dana (KPD).

KPD ini semacam reksa dana tetapi kepada sejumlah kecil pemodal kakap. Sejalan dengan ini, pengelolaan KPD tidak tunduk kepada peraturan yang berlaku untuk reksa dana. Misalnya, reksa dana harus terdaftar di otoritas, yakni Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaha Keuangan (Bapepam-LK), sedangkan KPD tidak.

Perbedaan kedua adalah bahwa kebijakan investasi dan sarana investasi yang digunakan oleh reksa dana dibatasi dengan peraturan oleh Bapepam-LK. Kebijakan investasi KPD bisa dibuat sekehendak hati pengelolanya dan pemodal harus meneyetujui sejak awal. Sarana investasi KPD juga lebih bebas, bisa menggunakan instrumen alternatif, termasuk derivatif.

Produk investasi ini perlu dicermati. Kemungkinan besar kebijakan investasi mereka termasuk kategori kedua. Secara teknis, KPD bisa dikelola secara leluasa dan tidak terikat pada aturan-aturan yang berlaku untuk reksa dana. Dari sini secara teknis KPD bisa memperoleh return jauh di atas bunga bank. Meskipun tentu saja berisiko lebih besar.

Masalahnya kemudian, seperti Anda paparkan, dana pemodal akan dikelola oleh Golden Traders Indonesia. Dalam hal ini Anda harus cermati status hukumnya: apakah berbentuk perseroan terbatas (PT) atau dalam bahasa Inggris privately limited liability (Pty). Apakah perusahaan tersebut terdaftar di Indonesia. Selain itu, cek juga apakah izin usahanya di bidang investasi dan perdagangan.

Verifikasi soal ini penting untuk jaga-jaga kalau investasi Anda berbuah masam. Kesimpulan sementara saya adalah bahwa Golden Traders adalah unit bisnis dari GTIS Gold Signature & Priority Jewellery. Seperti yang tertera dalam situs tersebut, GTIS dibentuk untuk mengambil manfaat dari perubahan harga emas di pasar dunia. Caranya adalah dengan membeli dan menjual emas 24 karat, dalam bentuk batangan atau koin.

Situs yang Anda berikan tidak memberikan jawaban atas banyak pertanyaan. Misalnya apakah pengelola perusahaan ‘“ yang notabene nama Malaysia ‘‘ memiliki izin perseorangan untuk menjalankan usaha di bidang investasi atau tidak. Izin ini mewakili keterampilan dasar untuk berprofesi di bidang investasi.

An, setelah Anda mengecek semua persoalan di atas dan Anda ingin berinvestasi di dalamnya, cek juga keberadaan emas secara fisik, bukan hanya sertifikatnya saja. Ini penting juga. Salah satu hal yang membuat harga emas melambung sekitar dua tahun lalu adalah kecurigaan bahwa cadangan emas di Amerika Serikat jauh lebih kecil daripada yang diklaim oleh pemerintah. Sekitar setahun lalu ada calon presiden dalam pemilu di AS mendatang yang mengajukan petisi untuk mengaudit cadangan emas tersebut. Petisi tersebut tidak dilakukan karena mengaudit emas akan memerlukan dana besar. Bayangkan, menghitung batangan emas dalam jumlah hampir 1 juta ton!

Sekarang soal janji return. Bagini An, di dunia ini, apalagi di bidang investasi, tiada yang pasti. Kalau Anda dijanjikan hasil pasti dalam jumlah tetap, itu perlu dipertanyakan. Kalau selisih janji return dengan return bebas risiko (misalnya diskonto SBI atau kupon obligasi) hanya satu atau paling banter 2% setahun, ada kemungkinan besar bisa tercapai. Ini karena strategi pengelolaan dana yang menggunakan berbagai sarana investasi, termasuk derivatif. Kalau hasil investasi meleset, mungkin perusahaan mempunyai kebijakan dan mampu menutup kekurangannya kalau hasil investasi tidak sebagus harapan. Namun kalau selisihnya begitu besar, benar pernyataanmu: it may too good to be true. Di Indonesia reksa dana dilarang menjanjikan return.

Namun ada keanehan di antara orang Indonesia. Banyak orang di Indonesia berinvestasi di sarana yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk melakukan verifikasi atas tawaran tersebut.Tergiur janji return tinggi mereka langsung secara gegabah masuk ke sarana investasi tersebut. Bahkan, beberapa tawaran investasi tersebut diberikan oleh perusahaan atau orang di luar negeri yang tidak mereka kenal. Jelas, mereka tidak akan mampu memperjuangkan hak kalau ada persoalan dengan investasi mereka. Dengan kata lain orang kita mudah mempercayai orang asing. Budaya berprasangka baik terhadap orang asing masih mengakar.

Kondisi ini berkebalikan kalau mereka berhubungan dengan sesama anak bangsa. Di antara sesama anak bangsa ada rasa saling curiga. Ini juga terlihat dalam bidang bisnis. Salah satu indikasinya adalah dalam hal usaha kecil dan menengah (UKM). Di satu sisi, banyak UKM kesulitan permodalan dan di sisi lain banyak orang kaya yang kelebihan modal dan ingin menginvestasikannya agar modalnya berkembang. Mengapa tidak memodali UKM, dengan menjadi angle investor misalnya?

Antara lain karena rasa tidak percaya inilah, maka pemodal individu dan UKM berjalan sendiri-sendiri. Padahal, peluang investasi di UKM mudah dipahami dan tidak kalah menjanjikan. Dengan memodali UKM, maka ekonomi nasional bisa berkembang lebih bagus sehingga penduduk semakin makmur. Kemakmuran akan mengurangi potensi masalah sosial. Semua senang.

Namun begitulah, paham individualisme, yang menjadi dasar kapitalisme, tampaknya tertanam secara mendalam di benak kita. Barangkali ini juga menjelaskan mengapa cabang olahraga kita yang maju adalah olahraga individual seperti badminton dan tennis. Prestasi olahraga yang melibatkan tim, seperti sepakbola, tidak begitu membanggakan.

Selamat berinvestasi!

0 Responses to “Verifikasi Peluang Investasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,486 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: