Jebakan Utang

[Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Jurnal Nasional edisi  | Selasa, 31 Jul 2012]

Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari dua tulisan tentang perencanaan keuangan bagi pekerja yang dimulai edisi yang lalu.


Nyonya Indah, sebenarnya jalan menuju kemakmuran hanya satu, yakni menghasilkan pendapatan yang lebih banyak dari pengeluaran. Dengan demikian, ada sisa pendapatan yang bisa disimpan, baik untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang atau jaga-jaga kalau ada gangguan penghasilan misalnya karena kena pemutusan hubungan kerja (PHK), atau karena ada lonjakan pengeluaran, misalnya untuk biaya pengobatan atau pengeluaran mendadak lain. Tidak peduli berapa pun penghasilan Anda, tetapi kalau Anda membelanjakan lebih besar daripada pendapatan maka  Anda sedang menuju ke kemiskinan.

Tidak mudah untuk memperoleh surplus penghasilan. Ini berangkat dari fakta manusiawi bahwa kebutuhan dan keinginan manusia selalu lebih tinggi daripada kemampuannya untuk memenuhi. Okay, orang biasanya selalu berusaha untuk meningkatkan penghasilan, namun jika mereka kemudian mampu menambah penghasilan, maka mereka akan mengalami gejala yang disebut inflasi gaya hidup. Gejala tersebut ditandai dengan peningkatan pengeluaran jika penghasilan seseorang naik.

Selain itu ada jebakan utang yang akan menghambat perjalanan seseorang untuk menuju ke kemakmuran. Ketika seseorang mencari pinjaman, maka berarti bahwa ia membelanjakan untuk kebutuhan yang sebetulnya di luar kemampuan keuangannya. Kalau pinjaman tersebut untuk kebutuhan yang sangat mendesak, seperti biaya berobat, maka hal itu memang tidak bisa dielakkan lagi. Masalahnya, orang sering kali meminjam untuk membiayai keinginannya.

Agar bisa sama seperti tetangga, banyak orang membeli motor atau bahkan mobil. Padahal tidak ada kebutuhan mendesak untuk membeli kendaraan, misalnya untuk sarana transportasi agar bisa lebih cepat atau lebih murah ke tempat kerja.

Apa yang terjadi ketika orang tersebut membeli kendaraan dengan menggunakan dana pinjaman maupun secara kredit. Arus kas orang tersebut akan berubah. Kalau sebelumnya ia memiliki dana cadangan, yang menghasilkan bunga, maka setelah menggunakan uang tersebut ia tidak lagi memperoleh bunga. Sebaliknya, ia harus segera membayar bunga pinjaman.

Dalam kondisi normal mungkin orang tersebut bisa memenuhi kewajibannya. Namun skenarionya tidak selalu seperti itu. Kadang kala ada gangguan. Masalah yang sering dihadapi pekerja adalah kena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan sementara.

Karena kondisi keuangan sudah pas-pasan, maka masalah yang sifatnya temporer ini dapat mengakibatkannya jatuh ke persoalan yang lebih besar. Seperti yang dipaparkan sebelumnya, kondisi temporer ini mendorong banyak pekerja mencari pinjaman tambahan lain. Artinya, ini beban tambahan juga. Bahkan tidak jarang, kendaraan yang mereka  beli secara kredit pun ditarik oleh kreditur.

Dari paparan ini maka saya merekomendasikan agar tidak meminjam, apalagi kalau dana pinjaman akan digunakan untuk membeli barang yang sebenarnya belum merupakan kebutuhan mendesak. Secara finansial, mencari  pinjaman menjadi masuk akal kalau dana pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai aktivitas produktif, yang akan membawa hasil lima persen sedangkan beban bunga hanya dua persen. Karena alasan ini, dalam tulisan lain mengenai kewirausahawan saya merekomendasikan entrepreneur untuk mencari pinjaman hanya untuk ekspansi usaha yang sudah jelas-jelas menguntungkan.

Kekecualian lain mencari dana pinjaman adalah jika dananya digunakan untuk membeli rumah. Alasannya sangat mendasar. Tidak seperti motor yang nilainya mengalami depresiasi, harga rumah dalam kondisi normal dan atau jangka panjang akan meningkat. Riset saya menunjukkan bahwa harga rumah dalam 40 tahun terakhir meningkat dengan laju beberapa basis poin ( satu persen sama dengan 100 basis poin) di bawah laju inflasi.

Meskipun meminjam merupakan dapat menjadi pilihan pembiayaan dalam transaksi-transaksi tertentu, namun orang hendaknya meminjam secara konservatif. Nilai utang hendaknya disesuaikan dengan kapasitas ekonomi seseorang, kemampuannya membayar dan atau kemampuannya mengelola utang. Sebagai contoh, meskipun Anda bisa memperoleh kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar Rp500 juta, tetapi kalau Anda hanya membutuhkan rumah seharga Rp300 juta, maka tidak seyogianya Anda meminjam sebesar Rp500 juta.

Jika Anda, setelah melakukan gerakan ikat pinggang, sanggup membayar cicilan Rp2 juta sebulan, namun pilihkan tenor pinjaman lebih panjang sehingga cicilan menjadi, katakanlah, Rp 1,6 juta. Gunakan sisa Rp400 ribu (yang mestinya bisa digunakan untuk membayar cicilan) untuk dana cadangan. Dana cadangan ini mungkin akan digunakan juga untuk membayar cicilan pinjaman jika penghasilan Anda terhenti atau berkurang karena satu dan lain hal.

Bu Indah, persoalan pekerja dalam kaitannya dengan utang mengingatkan saya tentang seorang novelis klasik dunia Charles Dickens. Pada 1849, Dickens menulis novel berjudul David Coperfield, di mana ia menganjurkan agar orang tidak hidup lebih besar pasak daripada tiang, dan menutupi kebutuhan dengan berutang karena keyakinan bahwa suatu ketika akan dapat melunasi utang-utang tersebut.

Novel ini berkisah tentang tokoh bernama David Coperfield, buruh pabrik yang bercita-cita menjadi novelis.  Sebenarnya David Coperfield menggambarkan perjalanan hidup Charles Dickens sendiri yang menjadi korban situasi. Charles Dickens lahir di Landport, Hampshire, Inggris ketika revolusi industri sedang memperoleh momentumnya.

Ayah Charles, John Dickens, adalah juru tulis di kantor bendahara Angkatan Laut United Kingdom dengan gaji cukup bagus. Akan tetapi, John sering mempunyai masalah keuangan karena ia hidup lebih besar pasak daripada tiang. Karena kebiasaan ini John ditahan di penjara khusus pengutang. Utang John belum lunas, bahkan ketika ia menggunakan uang warisan yang ia terima dari ibunya untuk membayar sebagian utang. Ibu John mati saat John masih dalam penjara. Utang John bahkan belum melunasi utangnya ketika ia kemudian mati.

Masalah yang dihadapi John berdampak kepada  Charles, yang pada 1824, saat Charles berusia 12 tahun, dipaksa bekerja  sebagai buruh pabrik selama John di penjara. Penderitaanlebih besar lagi ketika ibunya yang menjanda kemudian kawin dengan Murstone yang sangat kejam. Namun dengan susah payah, Charles akhirnya bisa sekolah sampai akademi, menjadi juru tulis dan kemudian menjadi wartawan sebelum akhirnya menjadi novelis.

Pengalaman Dickens soal keuangan banyak mempengaruhi karya-karyanya. Ia banyak menciptakan karakter novel yang ditampilkan sebagai sosok homo economicus. Salah satu tokoh ciptaannya adalah Ebenezer Scrooge dalam novelnya A Christmas Carol. Karakter ini digambarkan sebagai sosok yang pelit, serakah, dan suka menumpuk harta. Nama ini kemudian digunakan dalam cerita kartun Donald Duck. Di Indonesia karakter Scrooge disebut sebagai Paman Gober. n
close

0 Responses to “Jebakan Utang”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Situs Ini Telah Dikunjungi

  • 80,405 Tamu

Rubrik

Tulis alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan setiap ada unggahan baru.

Join 27 other followers


%d bloggers like this: